Antara Cinta Dan Mafia

Antara Cinta Dan Mafia
47. Rasa Bersalah


__ADS_3

*buk, buk, buk* bara membenturkan kepala Bela ke dinding dengan keras. Bela hanya terdiam dan meringis menahan rasa sakit itu, tapi mulutnya masih terdiam tidak mengeluarkan suara apapun.


*plak, plak, plak*


Tamparan bertubi-tubi mendarat dengan kasar di pipi lembutnya. Kemudian kembali dia mendapatkan hujan tamparan di seluruh wajahnya sehingga mengalir darah segar di ujung bibirnya.


Tubuh Bela hanya bisa menahan tamparan dan pukulan yang keras dari tangan kekar Bara. Bela sangat benci untuk berteriak walau dia mengalami kesakitan cukup parah. Dia hanya bisa menyeka darah yang mengalir di wajahnya.


"Aku bisa saja membunuhmu, jika kau terus menentang ku" Tidak puas hanya dengan pukulan, tapi Bara kembali menjambak rambut Bela dengan brutal.


"Cukup tuan, dia hanya menolongku untuk mengantar pulang, karena saat aku menunggu bus tidak ada satupun bus yang lewat" Jelas Bela sambil berteriak.


"Alasan" Teriak Bara.


*plak, plak, plak* Tamparan berulang kembali dia berikan.


Rasanya tulang di wajah Bela seakan remuk seketika karena tangan Bara sangat kuat bila menamparnya. Tangan Bela hanya bisa mengenggam untuk menahan rasa sakit itu.


Sakit itu berulang kali lebih parah dibandingkan rasa sakit yang didapatkan dari ayahnya. Dia hanya bisa tenang dan kembali mengikuti alur kekerasan itu.


"Kau terlalu banyak berbohong, apakah tidak puas dengan rumah ini dan uang yang aku berikan sehingga kau mendekati lelaki lain? Apakah kau ingin belajar menjadi j*lang lecil? " Tutur kasar membuat Bela semakin sakit hati. Bara merendahkan Bela hanya karena jalan dengan teman sekelasnya yang seorang lelaki.


Omongan Bara sangat kasar dan tidak dapat diterima oleh hati manapun. Dia mengatai Bela ingin menjadi j*lang lecil hanya karena kesalahpahaman yang dilihat oleh mata Bara secara langsung.


Emosinya terus melonjak saat matanya menatap Bela dengan sorotan yang tidak seperti biasanya. Kakinya kembali mengambil ancang-ancang untuk menendang tubuh gadis kecil yang terkapar di hadapannya.


"Kau j*lang kecil" Teriakkan yang penuh emosi.


*buk, buk,... *


"Bara berhenti" Teriak Alex dari belakang.


Untung saja Alex datang dan langsung memegangi Bara agar tidak menendang tubuh Bela lagi.


Bela sudah terlihat sangat lemah. Tubuhnya kembali tak berdaya setelah mendapatkan pukulan yang tiada henti. Kepalanya terbaring lemah dan menempel pada lantai bawah.


Alex segera menghentikan semua dengan menenangkan Bara. Dia tau jika sahabatnya marah maka semua yang ada di dekatnya akan musnah. Dan Alex tidak mau jika Bara harus membunuh Bela.


"Apa? Lepaskan aku, tanganku ini ingin memberikan hukuman padanya" Bentak Bara kembali meluapkan emosi.


"Tenanglah, apa kau tidak lihat jika dia hampir mati" Ujar Alex sambil sedikit membentak karena dia juga tidak tega melihat keadaan Bela.


Mata Bela masih bisa melihat jelas lelaki dengan tubuh kekar yang hampir merenggut nyawanya dengan siksaan yang di berikan tanpa ampun padanya.


Nafasnya masih normal, walau tubuhnya terasa hancur karena tendangan, tamparan dan pukulan yang diberikan tanpa dia duga.


"Tenanglah jangan seperti ini, karena jika dia mati maka kau akan bertanggungjawab pada oma" Ucap Alex mengingatkan tentang oma pada Bara.


Oma sangat menyayangi Bela dan tidak ingin gadis kecil itu terluka. Seketika emosi Bara mereda saat Alex menyebutkan oma. Kini kesadarannya mulai kembali dan menatap gadis itu dengan sendu.


Gadis malang yang terbaring lemah di hadapannya adalah mantu kesayangan keluarga Baratha. Bara menjernihkan otaknya dan menghilangkan semua amarah yang telah membakar dirinya tadi.


Bara mencoba membantu Bela untuk bangkit dan membawa gadis itu ke dalam kamarnya. Namun tangan Bela menepis tangan Bara yang akan membantunya berdiri.


"Lepaskan, aku bisa sendiri" Ujar Bela, dia mencoba bangun dan tubuhnya yang seperti habis di cincang oleh kebrutalan tanpa pikiran.

__ADS_1


"Sini biar aku bantu Bel" Ujar Alex menawarkan diri sambil memegang tangan Bela.


"Tidak kak, aku masih bisa berjalan" Bela kembali menolaknya.


Tubuhnya sempoyongan seperti ingin jatuh. Alex hanya bisa menatap langkah Bela dengan piku sambil mengikutinya dari belakang. Sedangkan Bara hanya bisa terdiam dan menatap menyedihkan dalam langkah gadis itu. Entah pikirannya merasa menyesal atau tidak, tapi kini otaknya sudah kembali normal.


Bela segera masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya dengan rapat. Bela juga menguncinya karena dia ingin sendiri dan tidak mau ada yang menganggu dirinya.


Bela segera mematikan ponsel, dia juga melepas pakaiannya satu per satu lalu masuk ke dalam kamar mandi dan berendam air hangat. Rasa sakit membekas bersama luka lebam yang terlihat sangat nyata.


"Ahhhsss, sepertinya di punggungku sangat parah" Ucapnya sambil meraba punggungnya saat dirinya berada di dalam bak mandi.


Bela mencoba menenangkan tubuhnya yang telah mengalami syok karena pukulan. Berendam dengan air hangat adalah caranya untuk meredam rasa sakit agar tidak berkelanjutan.


Setelah beberapa menit berendam, dia keluar dan segera mengganti pakaian baru lalu dirinya terlelap dalam kepiluan hidupnya yang dia rasakan saat ini.


Sementara itu Alex dan Bara sudah berada di dalam kamar Bara. Alex sangat tidak setuju jika Bara terus memukuli Bela tanpa alasan yang jelas.


"Kenapa kau melakukan ini? Dia masih kecil" Protes Alex pada sahabatnya.


"Lupakan saja, anggap saja sedikit demi sedikit dendam ku terbalas" Jelas Bara.


"Kau sangat salah, aku baru mengetahui hal yang sangat besar tentang bela dan Pras" Ujar Alex. Dia mengetahui sesuatu yang tidak Bara ketahui.


"Aku sudah tau, bahwa dia putri Pras. Orang yang telah berkhianat dan membunuh ayahku, bahkan aku juga yakin jika Pras adalah pembunuh Denada juga. Jadi apalagi yang harus ku ketahui, di pikiranku hanyalah balas dendam"


Tujuan utama bara adalah membalaskan dendamnya pada putri Pras yaitu bela. Dia sudah mengetahui bahwa Bela adalah putri Pras semenjak satu bulan yang lalu setelah bawahannya dan Alex melakukan pengintaian keluarga Pras.


Pantas saja setelah pindah rumah, wajah Bara terlihat sangat dingin dan jarang berbicara pada Bela. Entah hanya kebetulan ataukah takdir yang mempertemukan Bela deggan Bara walau hanya terikat dalam suatu dendam.


Pras sendiri adalah ayah Bela dan dia salah satu orang keji yang telah berkhianat dan bersekongkol untuk membunuh keluarga Baratha. Karena Pras juga salah satu mafia tapi dia menyembunyikan identitas aslinya.


"Bela memang putri Pras, tapi semasa hidupnya dia selalu di asingkan dan Pras hanya menyayangi kedua putrinya saja yaitu El dan Ana" Ujar Alex menjelaskan sebuah kebenaran.


"Maksudmu? Bela tidak dianggap anak oleh Pras? " Tanya Bara penasaran dengan ucapan Alex.


"Benar, dia tidak disayang oleh Pras seperti kedua putrinya yang lain" Lanjut Alex menjelaskan.


"Aku tidak peduli, yang penting dia darah daging Pras dan aku akan membuat hidup Pras menderita dengan kehilangan buah hatinya. Selanjutnya aku akan mengeksekusi kedua putrinya lagi" Ujar Bara dengan senyuman puas dalam rencananya.


Keputusan yang sangat bulat, tanpa sengaja Bara mendatangkan Bela dalam hidupnya dan menjadikan istrinya. Bara berfikir bahwa Tuhan telah memberikan jalan untuk menjadikan Bela sebagai alat balas dendamnya.


Kepuasan akan di dapatkan bila melihat hidup gadis itu sangat menderita. Bukan dengan melecehkannya melainkan membuatnya tersanjung dahulu dengan kemewahan lalu akan menjatuhkannya dengan siksaan baik itu fisik ataupun batin.


Yang ada dipikiran Bara hanyalah kesengsaraan Bela. Dia juga akan mencari cara agar suatu saat oma dapat melupakan Bela dan sangat membenci Bela. Karena saat ini Bela sangat disayang oleh omanya.


"Sudahlah, aku ingin keluar" Alex pergi dari kamar Bara. Dia tidak bisa mencegah keegoisan Bara yang sudah dibalut dengan dendam bertahun-tahun pada orang yang telah membunuh keluarganya.


Sementara itu di kediaman Pras......


"Dad kenapa para pelayan berkumpul di depan kamar Bela? " Tanya Ana saat melihat semua pelayan di rumahnya sedang berkumpul seperti ingin melakukan sesuatu.


"Mereka akan membersihkan kamar Bela dan membawa semua barang bela ke gudang" Jelas Pras dengan tutur lembutnya.


"Apa? Tidak, aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh barang saudaraku. Aku akan merawatnya dad" Ucap Ana dengan tatapan pilu.

__ADS_1


Semenjak kematian Bela, penyesalan selalu tumbuh dalam kehidupan Ana. Dia yang sangat membenci Bela kini merasa sangat kehilangan saudaranya itu.


Dia juga selalu menyalahkan dirinya karena pernah berkata sembarangan untuk menghilangkan Bela sehingga dia merasa bahwa Tuhan telah mengabulkan doanya dengan mengambil Bela dari bumi ini.


Sikap Ana kini sudah berbanding terbalik dari kemarin. Terkadang dalam kesunyian dia selalu menangis bila mengingat saudaranya. Nama Bela selalu melekat dalam benak Ana.


"Sudahlah, lagipula tidak ada yang menempati kamar itu lagi" jelas Daddynya.


"Tidak dad, aku berjanji akan membersihkan kamar Bela setiap hari. Dan aku akan merawat semua barang-barang Bela" Ana tetap memaksa agar dadynya tidak membuang barang-barang bela.


Selama ini tidak ada yang boleh memasuki kamar Bela, sehingga kamarnya berdebu dan semua barang-barang tidak terawat. Jadi Pras ingin menyingkirkan barang-barang itu.


Ana bersimpuh dan berlutut di kaki ayahnya. Dia berharap keinginannya untuk tidak membuang barang Bela dapat di kabulkan. Tangisnya tersedu-sedu dengan tatapan sendu untuk mendapatkan belas kasih dari snag ayah.


El melihat semua itu, rasanya dia juga ingin menangis karena tidka tega bila harus melihat kakaknya berlutut bagaikan orang gila hanya demi menyelamatkan barang-barang Bela.


"Baiklah, daddy tidak akan membuangnya ke gudang. Tapi kamu harus merawat kamar itu dengan baik" Ucapan terpaksa keluar dari mulut Pras. Karena dia tidak tega melihat anak kesayangannya bersimpuh dan berlutut hanya sebuah kamar dan barang-barang mendiang Bela.


"Terima kasih daddy" Ana memeluk Pras dengan erat. Dia sangat berterima kasih atas keputusan yang telah diambil oleh daddy nya.


Pras segera membubarkan semua pelayan dan tidak jadi membawa barang-barang Bela ke dalam gudang. Dia tetap mempertahankan semuanya karena permintaan Ana.


Ana langsung pergi ke kamar Bela, dia mencium aroma kesedihan. Selama hidupnya, baru kali ini Ana masuk ke kamar Bela karena mereka tidak pernah akur.


Berbeda dengan El yang selalu sering bermain ke kamar Ana begitu juga sebaliknya dengan ana yang snagat senang bermain atau tidur di kamar El. Dan sekarang Ana masuk ke kamar Bela tapi beda dengan suasana.


"Bel, aku akan merawat barang-barang mu. Aku janji tidka akan merusaknya seperti dulu" Gimamnya sambil meneteskan air mata.


Dia mengingat bahwa dulu sering sekali bertengkar dengan Bela hanya sebuah mainan dan selalu berebut. Padahal orang tua mereka mampu beli lagi, tapi rasanya tidak adil jika yang dibelikan hanya sepelihak.


Semua barang yang Bela miliki, Ana harus memilikinya juga. Sedangkan Bela tidak pernah meminta dibelikan barang yang dimiliki oleh Ana. Bela selalu mengalah dengan keadaan apapun, termasuk kasih sayang dari ayahnya.


"Ma, maafin ana karena tidka menjaga Bela dengan baik... Hiksss.... Hiksss" Tangannya memeluk sebingkai foto mamanya dan Sela.


Dia melihat senyum kebebasan dari dua insan dan kini sudah menjadi bintang di alam surga. Tangannya membelai lembut bingkai foto itu, dan merasakan kehadiran sosok yang telah pergi dan tak akan pernah kembali.


Lalu Ana kembali membuka laci, disana dia juga menemukan barang yang sangat berharga. Yaitu foto dirinya dan Bela saat kecil, lalu foto mereka bertiga saat kecil, dan yang terakhir foto satu keluarga utuh.


"Kau masih menyimpan ini Bela? Sungguh kau sangat bodoh. Aku sudah menyakitimu tapi kau selalu menyimpan foto masa kecil kita" Lagi-lagi air matanya tidak bisa dibendung.


Foto dengan wajah polos dan senyuman kebahagiaan tanpa harus mengetahui beban yang akan dialami di masa depan. Dan juga terlihat kasih sayang dari mamanya.


Ana sangat menyesal karena telah jahat pada saudaranya semasa hidupnya. Ana tidak pernah menyimpan foto Bela, jika dia melihat foto bertiga maka dia akan menyobek foto bela sehingga hanya tersisa foto dirinya dan El.


Dan sekarang dia baru menyadari bahwa Bela sangat menyayanginya walaupun tidak pernah terucap secara langsung dari mulut bela.


"Boneka kwcil ini, kenapa kau begitu baik padaku bel. Kenapa? " Teriaknya dengan kesal.


Dia melihat sebuah boneka kecil yang pernah dibelinya saat berumur 6 tahun. Dia membelikan khusus untuk Bela sebagai kenang-kenangan saya dia berkunjung ke luar kota bersama ayah dan El.


Ternyata Bela masih menyimpan barang-barang itu. Sungguh penyesalan akan hadir disaat orang yang kita sayangi telah tiada. Dan kenangannya membekas, tapi bukan tentang kebahagiaan melainkan tentang kehancuran.


"Maafkan aku, maafkan aku Bela" Foto Bela dalam pelukan Ana yang sangat erat. Dia menangis dalam pikiran yang memutar waktu di masa lalu.


El melihat semua itu, tapi dia hanya menutup pintu tanpa suara. Dia sengaja meninggalkan Ana sendir karena tidak ingin menganggunya. El berlari ke kamar dan juga menangis tentang apa yang telah dia lakukan pada Bela.

__ADS_1


El juga merasakan kekejaman dalam dirinya karena selalu mengucilkan kakak keduanya yaitu Bela. Dia mengunci pintu lalu memeluk guling dan mengais tersedu-sedu.



__ADS_2