Antara Cinta Dan Mafia

Antara Cinta Dan Mafia
18. Wanita Jalang


__ADS_3

Bela sibuk merapikan sofa yang akan ia gunakan untuk tempat tidurnya. Dia melapisi sofa tersebut dengan selimut dan meletakkan beberapa bantal seperti sebuah kasur, akan tetapi lebih sempit dari ranjang aslinya.


"Lihatlah tuan, tempat tidurku tidak kalah indah bukan? " Bela menunjukkan dengan senyuman.


Dia mengubah sofa menjadi tempat tidurnya yang nyaman. Karena dia tau bahwa kasur Bara tidak cocok untuknya. Apalagi mereka menikah hanya karena sebuah perjanjian saja.


Dengan tenang Bela merebahkan dirinya di atas sofa. Benar-benar kehidupannya seperti tidak takut dengan kesusahan. Padahal hanya sofa tapi dia merebahkannya dengan kenyamanan.


"Hmm, tuan aku ingin berbicara" Ujar Bela memecah keheningan.


Doa duduk di sofa dan menatap ke arah Bara yang masih bermain ponsel di atas ranjangnya yang besar.


"Sekali lagi kau panggil tuan, maka akan ku potong mulitmu" Ketus Bara dengan bentakan.


Bela terkejut dengan hal itu, dia tidak habis fikir jika suaminya benar-benar sangat kejam. Bahkan mulut istrinya sendiri ingin dia potong.


"Ah baiklah, Bara. Aku ingin bersekolah" Ucapnya sambil tertunduk.


"Sekolah? " Tanya Bara.


Bela mengangguk.


"Bukankah itu janji anda untukku?" Bela ingin menagih janjinya.


Karena keinginan dia menikahi Bara yaitu mendapatkan tempat tinggal dan juga mendapatkan pendidikan. Karena dia belum sempat menyelesaikannya setelah keluar dari rumah neraka itu.


"Aku janji akan bersekolah sampai lulus SMA saja" Bela kembali meneruskan pembicaraannya yang terpotong.


Bara terdiam, lalu dirinya beranjak dari tempat tidur dan mengganti pakaiannya di kamar mandi dengan piyama tidur.


Pikiran Bela berlangsung bertanya-tanya, seakan terlihat dari wajah Bara bahwa tidak mendengarkan ucapan darinya. Pupus harapan sejenak karena tidka ada respon kepastian dari seorang Bara.


Lalu dia merebahkan diri dan terlelap di sofa dengan tenang. Saat Bara keluar dari kamar mandi, dia melihat jika Bela sudah terlelap.


"Gadis ini selalu menyusahkan ku" Gumamnya.


Lalu dia juga merebahkan dirinya dan ikut terlelap bersama gelapnya malam ini.


Pagi


"Semua sudah siap, dan sebentar lagi aku akan mengurusi oma dahulu" Makan di meja sudah siap tersedia.


Bela sengaja bangun pagi untuk membantu pelayan saat memasak di dapur. Dia juga ingin belajar memasak karena sekarang dia mengerti bahwa sudah menjadi istri dari seseorang.


*tok, tok tok*


"Oma" Seru Bela.


"Masuklah" Bela masuk dengan senyuman.


Dia segera melakukan kewajibannya yaitu mengurusi oma di pagi ini. Membantu oma membersihkan dirinya dan berpakaian rapi sebelum keluar untuk sarapan pagi.


"Nak, apakah suamimu sudah bangun? " Tanya oma dengan antusias.


"Bulum oma, dia masih terlelap" Sahut Bela dengan senyuman.


Sebenarnya Bela takut untuk membangunkan bara, karena dia takut jika saat dibangunkan maka harimau itu akan mengamuk.


"Apa tadi malam kalian lembur? " Pertanyaan yang konyol membuat Bela tidak mengerti apa maksud dari oma.


"Lembur? Aku tidak sedang bekerja oma" Jelas Bela dengan polosnya. Padahal bukan hal itu uang dia maksud.


Semua orang telah berkumpul di meja makan. Klara yang sudah berdandan rapi untuk ke tempat usahanya, Mario untuk sekolah dan oma Rose yang sudah segar dengan senyuman.


"Kemana Bara? " Tanya Klara saya mendapati anak dulunya tidak di meja makan.


"Hmmm, saya akan msmbangunkannya ma" Ujar Bela dan segera menuju ke kamar tidur.


Bela sedikit paham bahwa tugas seorang istri adalah membangunkan suaminya yang tertidur lalu menyiapkan baju. Lalu Bela menyiapkan pakaian yang akan digunakan Bara.


Sebenarnya Bela bingung untuk membangunkan tuan arogan itu. Tapi mau tidak mau harus dilakukan oleh seorang istri. Jadi Bela segera mengambil ancang-ancang agar bisa membangunkan Bara dengan tenang.


Sejenak Bela duduk bersimpuh di samping ranjang. Dia memandangi dengan senyuman saat melihat wajah Bara yang indah di pagi hari. Karena saat ini Bara tidur menghadapi ke kanan.


"Apakah kamu yang dikirm Tuhan untuk menjadi suamiku? Tapi mengapa kamu arogan. Tapi kamu masih lebih baik dibandingkan dengan ayah" Ucap Bela secara perlahan sambil melihat wajah Bara yang damai saat tertidur.


"Kau sedang apa" Bentak Bara saat melihat Bela duduk di depannya sambil menatap ke arah Bara.

__ADS_1


Spontan Bela terdiam dan tersontak kaget karena bentakan itu. Jantungnya kembali berdetak karena takut Bara mendengar ucapannya tadi.


"Aa... Aku, ah tuan aku sedang ingin membangunkanmu. Tapi aku melihat jika air liurmu sempat mengalir" Bara langsung bangun dan membersihkan wajahnya dengan tisu.


Padahal tidak ada air liur sedikitpun namun Bela melakukan hal itu agar bisa mengganti topik pembicaraan dan membuat Bara terdiam lalu pergi ke kamar mandi.


"Baguslah, caraku ampuh untuknya dan sekarang dia pergi ke kamar mandi" Ucap Bela dalam hati.


Bela segera keluar dan memberitahu bahwa Bara sudah bangun dan sebentar lagi akan keluar dari kamarnya.


Beberapa menit kemudian Bara turun dari kamar atas dan semuanya sudah lengkap untuk berkumpul di meja makan. Bela memberikan nasi pada Bara seperti seorang istri yang dilakukan. Selanjutnya mereka semua segera sarapan pagi. Dan Bela tetap duduk di samping oma untuk menyuapinya dengan kasih sayang.


Lalu sejenak Bela terdiam dan mengumpulkan keberanian agar bisa mengungkapkan pikirannya yang ada.


"Maaf sebelumnya, aku ingin meminta sesuatu" Ucapnya secara perlahan. Seketika semua mata memandang Bela dengan heran.


"Apa yang ingin kamu minta sayang? " Tanya oma dengan lembut.


"Aku ingin sekolah oma" Sahut Bela dengan mengumpulkan keberanian yang cukup besar.


"Uhukk,,, uhukk,,, uhuk,, " Bara terkejut mendengar hal itu sehingga membuat dirinya tersedak.


Sejenak semua terdiam dan terpaku, tatapan Bara yang tenang kini berubah menjadi tatapan siap memangsa. Bela langsung merasa bersalah lalu dia menundukkan kepala.


"Sekolah? " Ucap mereka secara bersamaan kecuali Bara.


"Aku ingin sekolah, walaupun sudah menikah tapi aku masih remaja yang ingin menikmati bangku sekolah" Jelas Bela dengan qajah tertunduk.


Bara geram mendengar hal itu.


Dia langsung menarik Bela dan masuk ke dalam kamarnya. Dia ingin memberikan pelajaran pada gadis itu yang telah merusak makan pagi hari ini.


Mereka yang ada di menjadi makan sempat menghentikan Bara namun tidak ada satu orangpun yang berhasil setelah melihat bahwa Bara marah besar. Bahkan dia juga tidak memperhatikan oma lagi.


*bruk* Bara melemparkan Bela dengan keras.


"Kenapa kau berkata seperti itu di meja makan? " Tutur kasar Bara membentak Bela dengan lantang.


"Aku ingin mereka tau bahwa diriku masih remaja dan ingin bersekolah" Sahut Bela secara perlahan .


*plak* tangan Bara ringan dan tidak segan-segan menampar Bela dengan keras. Namun Bela sudah terbiasa dengan hal itu lalu bibirnya tersenyum.


"Hanya sebuah permintaan untuk bersekolah saja kau marah seperti ini tuan. Padahal sebelum menikah kita sudah memiliki perjanjian dan kau sepakat dengan itu" Ucap Bela yang diselingi dengan senyuman kembali.


Bela tidak pernah takut dari apapun, andai saja dia tau letak tempat rumah ini. Maka dia akan keluar tanpa harus bergantung dari keluarga ini. Karena sekarang dia hanya membutuhkan tempat tinggal dan tidak ingin kembali pada ayahnya.


*plak*


"Pandai sekali kau berbicara. Sekarang berani membantah ku" Padahal dari kemarin Bara tidak ingin memukul gadis ini. Namun sekarang tangannya benar-benar sangat ringan.


Tapi menurutnya Bela sudah keterlaluan karena membicarakan tentang sekolah di meja makan yang seharusnya jadi tempat untuk makan dengan tenang.


Lalu kesalahan kedua Bela adalah berbicara untuk sekolah di depan oma padahal dia sudah menikah. Bara takut oma menjadi marah dan mengetahui kebohongan yang disembunyikan Bara setelah menikahi Bela.


"Aku tidak meminta apapun, hanya ingin bersekolah" Kali ini Bela mengangkat wajahnya.


Bela segera beranjak dari tempat duduknya dan tidak memperdulikan kemarahan Bara. Karena pikirannya hanya untuk bersekolah bukan untuk keributan.


"Mau kemana kau? " Tanya Bara saat melihat Bela beranjak pergi dari kamarnya.


"Mau membawa oma ke kamar" Bara terdiam.


Dia membiarkan Bela keluar dari kamar dan turun ke bawah. Lalu Bara segera menenangkan diri dan duduk di atas ranjangnya.


"Mengapa dia tenang saat aku tampar, tidak ada air mata yang mengalir. Apakah hatinya telah mati" Ketus Bara dengan kasar berbicara pda dirinya sendiri.


Dia meracau sendiri dengan rasa heran yang sangat tinggi setelah melihat Bela. Dirinya juga merasa bersalah karena setelah menampar gadis itu dengan keras.


Tapi yang sangat membuat Bara terkejut adalah, ekspresi Bela saat ditampar. Dia sangat tenang dan tidak menangis, bahkan bisa menahan rasa sakitnya.


"Aaaa, kenapa dia harus melakukan itu. Jika saja dia tidak berbicara hal tersebut maka aku tidak akan menamparnya" Kesal Bara pada dirinya sendiri. Menampar Bela sama saja dia mengingatkan kembali pada Denada. Seakan dia telah menampar adiknya sendiri.


Lalu dia bergegas untuk pergi dari rumah dan membutuhkan ketenangan. Dia juga ingin mengunjungi markasnya untuk melakukan pengecekan tentang senjata.


Saat melewati lantai bawah, dia melihat Bela tetap dengan tawanya yang menghibur oma di dalam kamar. Bahkan tidak ada raut wajah sedih walaupun wajah Bela sudah memerah karena tamparan Bara.


Kamar oma

__ADS_1


"Oma, katanya kalau malam melihat bintang jatuh maka akan dikabulkan permintaannya" Jelas Bela.


"Benarkah? " Tanya oma antusias dengan senyuman.


"Iya, aku pernah ingat ingin meminta sesuatu"


"Apa? "


"Ketenangan" Ucapnya dengan senyum khas yang dikeluarkan.


"Mengapa ketenangan? " seru oma ingin tau alasan tentang ketenangan Bela.


"Karena kegaduhan akan membuatku pusing saja"


"Hahahah" Oma kembali tertawa saya mendengar cerita Bela.


Seketika semua berubah, oma yang terlihat murung kini kembali dengan tawanya. Sekarang keadaan oma tidak pernah melamun lagi seperti dulu.


Sungguh gadis hebat, mampu membuat suasana hati yang terpuruk kini bangkit secara perlahan. Klara bahkan berharap jika Bela gadis yang dikirm Tuhan untuk kebahagian keluarganya.


Semantara itu saat Bara melajukan mobilnya, di lampu merah terdapat pemandangan yang tidak biasa bagi matanya.


"Wanita ******, mengapa dia ada di kota ini" Kesal bara saat melihat sebuah mobil putih dan terdapat wanita tidak asing.


Dia adalah Sisil yang pernah menghancurkan hatinya. Sosoknya memilih pergi hanya demi karirnya dan rela meninggalkan Bara begitu saja, walaupun saat itu kasih sayang Bara sangat tinggi untuknya.


Sudah 7 tahun mereka tidak berjumpa atau bahkan tidak bertegur sapa walau hanya melalui alat komunikasi. Bara sudah benar-benar menghapus nama Sisil dari ingatannya meski harus membutuhkan waktu yang tidak singkat.


"Jika saja aku ada waktu, maka akan aku habisi dirimu" Melihatnya saja sudah membuat Bara mendidih.


Jadi dia segera pergi ke markas dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sangat pas sekali, saat Sisil ingin menoleh ke arah kanan namun mobil Bara telah menghilang jadi mereka belum bertemu.


Di dalam mobil Sisil melihat suasana kota yang indah. Banyak tujuan dia datang ke kota ini. Bukan hanya untuk melakukan kerja sama tentang foto model melainkan ada hal lain.


Salah satunya yaitu ingin kembali pada Bara yang telah lama dia tinggalkan. Selama di Amerika dia selalu gagal menjalin kasih dengan seorang pria bahkan cintanya tidak semulus dengan Bara.


"Kota akan menjadi saksi, bahwa aku kembali untukmu" Sisil terlalu bersemangat untuk bertemu Bara.


Dia masih berfikir bahwa Bara akan kembali jatuh dalam pelukannya. Karena saat dia pergi ke Amerika, Bara rela bersujud di hadapannya agar dia mengurungkan niatnya ke Amerika.


"Aku sangat rindu padamu, aku akan mencari keberadaanmu dimanapun itu sayang" Dia lupa bahwa masa lalu tidak akan sama dengan masa sekarang.


Bara yang dulu sangat mencintainya dan bahkan merelakan hidupnya untuk Sisil, kini telah berubah menjadi seorang mafia kejam yang akan membunuh siapapun yang memgusik


Rencana Sisil sudah bulat, dia akan tinggal selama setahun disini. Dan tekadnya akan mengambil Bara untuk hidup dengannya, akan tetapi dia tidak tau jika semua itu akan mengancam kehidupannya.


Markas senjata


"Ada apa denganmu tuan, mengapa kau murung" Ejek Alex saat melihat sahabatnya murung.


"Apakah gadis itu tidak ingin tidur denganmu"? " Ejek Alex kembali.


"Diamlah, pikiranku sibuk dengan banyak hal" Bentak Bara.


"Apa itu? "


"Mengapa wanita ****** itu kembali datang ke kota ini" Ketus Bara dengan kesal.


Sejenak Alex terdiam dalam pikirannya sendiri. Dia berfikir keras siapakah wanita ****** yang Bara maksud.


"Sisil maksudmu? " Ujar Alex menebak.


"Benar" Alex menganga mendengarkannya.


Alex masih tidak percaya dengan hal tersebut. Karena bagaimana bisa seseorang yang telah lama pergi hampir 7 tahun lamanya dan sekarang kembali lagi ke kota ini.


Dia berfikir apakah sebuah kebetulan ataukah memang kesengajaan yang dibuat untuk merekayasa takdir.


"Mungkin kau salah melihat"


"Tidak, aku jelas melihat ****** itu. Wajahnya masih sama tidak berubah" Jelasnya.


"Lalu apakah kau kana jatuh cinta lagi dengannya" Tanya Alex


"Pertanyaan konyol apa itu" Bentaknya.


Setelah apa yang dibuat sisil pada Bara. Kini hatinya telah tertutup untuk wanita itu. Bahkan Bara ingin menghancurkan kehidupan Sisil dan membuatnya menderita.

__ADS_1


Dendam yang telah dia simpan saat ini kini telah kembali lagi dan mendapatkan kesempatan baru. Hanya dia yang tau, bahkan Alex saja tidak tau tentang dendam yang direncanakan oleh sahabatnya.



__ADS_2