Antara Cinta Dan Mafia

Antara Cinta Dan Mafia
44. Spiderman


__ADS_3

Memang cinta tidak akan pernah terjadi jika salah satu dari mereka masih berpegang teguh pada sifatnya yang angkuh. Tapi suatu saat sifat itu akan luluh juga dengan berjalannya waktu.


"Aku tidak tau dengan pikiranmu, kau terlihat sangat membencinya tapi kau juga terlihat tidak rela menyakiti atau bahkan membiarkan orang lain memilikinya" Ujar Alex berbicara sesuai dengan isi hatinya.


"Tenanglah, aku tidak akan jatuh cinta pada gadis kecil itu" Sahut Bara sambil melihat tipis ke arah Bela yang sibuk di dapur.


"Sungguh malang, jika kau menganggurkan dia maka lebih baik jika diberikan untukku saja" Alex tersenyum licik sambil memandangi Bela.


"Tidak akan aku berikan" Sahut Bara penuh penegasan.


Alex menatapnya sinis melihat kelakuan sahabatnya. Dia sangat tau pasti tentang sifat Bara, apabila Bara menyukai sesuatu maka tidak akan memberikan dengan mudah sesuatu itu pada orang lain.


Begitu sebaliknya, apabila Bara sangat membencinya maka dia akan memberikan dengan suka rela. Apalagi melihat barang yang buruk seakan matanya berkata untuk membenci dan menyingkirkan barang itu.



Hari menjelang sore, mereka berdua masih sibuk untuk berbicara empat mata di ruangan tengah. Sedangkan Bela sibuk di dalam kamarnya untuk belajar dan persiapan ujian yang akan dilaksanakan sebentar lagi.



Bela sekarang sudah berubah, dirinya selalu giat belajar untuk mendapatkan pendidikan yang baik. Kali ini pikirannya sudah matang, tidak akan menyia-nyiakan belajar yang dia jalani. Hitung-hitung biar tidak mudah di tipu orang.



"Sepertinya aku ingin bersantai, sudah dari tadi siang kita membahas ini dan masih ada yang perlu diperbaiki tentang pertahanan" Keluh Alex.



"Terserah" Sahut Bara pasrah.



Tidak lama kemudian Bela keluar dari kamarnya, dia menghampiri Alex dan juga Bara yang sedang bersantai di ruang tengah. Bela juga jenuh bila setiap malam dirinya selalu di dalam kamar, tapi kali ini kehadiran Alex merubahnya.



Sifat Alex yang lucu membuat Bela merasakan adanya seorang teman. Di setiap waktu luang pasti mereka akan bergurau layaknya adik dan kakak yang sangat akur.



Dan Alex tidak akan jatuh cinta pada gadis itu karena dirinya sudah memiliki kekasih walaupun sedang menjalani hubungan jarak jauh. Karena kekasihnya sedang menempuh pendidikan di Amerika.



"Kalian berdua ngobrol tapi tidak ada makanan, dan ini kue aku buat sendiri. Cobalah" Kue kering yang tertata rapi di dalam toples buatan Bela sendiri. Tidak banyak, tapi rasanya sangat enak.



"Wahhh asik, enak nih" Tanpa banyak kata lagi Alex langsung menyerbunya. Berbeda dengan Bara yang masih terdiam melihat Alex makan kue tersebut.



Sambil makan kue, Alex menyalakan televisi untuk mengetahui berita apa yang sedang terlintas hari ini. Sekaligus untuk menghilangkan sumpek yang ada.



Mata mereka bertiga langsung terbelalak saat melihat berita bahwa Sisil sedang berada di puncak kejayaannya menjadi model. Alex dan Bara tersenyum kecil, sedangkan Bela masih terpaku menatap berita itu.



"Akhirnya impianku terwujud secara perlahan" Ucap Bara dalam batinnya yang disertai dengan senyuman tipis.



Alex yang mengetahui hal itu langsung beradu tatap dengan Bara. Memberikan kode di setiap lekuk kecil dari senyuman yang dituangkan dalam bibir mereka.



Rasanya sangat senang karena telah membuat sosok wanita dalam televisi menjadi bintang model terkenal. Sebab itu adalah adalah satu rencana Bara dan Alex yang di buat untuk menjatuhkan gadis \*\*\*\*\*\* itu.



"Wanita itu, bukankah kita pernah bertemu dengannya tuan? " Tanya Bela pada Bara.



"Benar" Sahut Bara tenang, karena hatinya saat ini merasakan kegembiraan yang sulit untuk di ceritakan.



"Bela, dia adalah bintang model terkenal. Kau harus ingat bila bertemu dengannya, jangan menyapa dan lebih baik pura-pura tidak melihat" Alex sedikit memberitahu gadis polos itu untuk tidak saling menyapa dengan Sisil bila sednag bertemu dimanapun itu.



"Tidak bisa tuan, aku akan merasa senang untuk meminta tanda tangannya bila kami saling berpapasan" Sahut Bela dengan gembira dan matanya kembali fokus ke televisi.



"Ahhh anak ini, sungguh mudah ditipu" Gumam Alex yang sangat tidak setuju mendengar ucapan Bela.



Gadis polos itu belum mengerti siapa yang sedang dia tonton sekarang. Bukan bintang model terkenal, melainkan bintang penipu yang sangat handal untuk menarik lelaki agar bisa tidur dengannya dan menghasilkan uang untuk menjalani hidupnya.



Rahasia yang cukup detail, dan Bara mengetahui semuanya. Mungkin di pikiran Sisil sekarang berada di puncak ketenaran yang menjadi mimpinya. Namun dia lupa bahwa ketenarannya masih dalam genggaman Bara.

__ADS_1



Tinggal menunggu waktu yang tepat untuk membuatnya jatuh dan terpuruk. Bukan sekarang, karena Bara masih membiarkannya untuk berfoya-foya dengan statusnya saat ini. Tapi badai pasti akan datang tanpa dia undang.



"Aku mengidolakannya, tapi tidak berminat untuk menjadi model" Gumam Bela berbicara sendiri dan matanya masih saja fokus melihat tontonan yang menurutnya sangat seru.



"Lalu apa cita-citamu Bela? " Tanya Alex



"Aku ingin menjadi CEO kak, tapi bagaimana caranya ya? " Matanya menatap ke sembarang arah untuk mencari jawaban.



"Sepertinya wajahmu tidak akan cocok menjadi CEO Bela" Sahut Alex sambil meletakkan jari telunjuknya di dagu seperti sedang berfikir.



"Lalu aku jadi apa dong kak? " Bela penasaran cita-cita yang cocok untuk dirinya. Jadi dia dengan suara menunggu jawaban dari Alex.



"Jadi spiderman"


"Hahahhaha" Ucapan Alex membuat Bara tertawa keras.



Alex juga menjelaskan bahwa spiderman adalah cita-cita yang mulia, karena malalui jaringannya bisa membantu orang-orang di sekitar dan menjeratnya dalam kebaikan. Agar orang-orang itu tidak terjerumus ke lubang bahaya.



Ucapannya memang benar, tapi cita-citanya yang konyol. Karena Alex menyebutkan spiderman dan membuat Bela sangat tertawa kencang, begitu juga dengan Alex yang ikut tertawa karena suara tawa gadis itu mengudanngnya untuk bersenang-senang juga.



"Kalau aku spiderman, berarti kak Alex menjadi wonder women" Sambung Bela menambah suasana seru yang dibuat oleh dirinya dan Alex.



"Hahhahaha" Tawa Alex semakin kencang.



Sepertinya mereka ditakdirkan untuk menjadi teman konyol yang mengisi hari-hari agar tidak jenuh. Karena sedikit saja bicaranya, bisa membuat lawan bicara terus tertawa tanpa henti.




Bela juga meraskaan bahwa Alex dapat menjadi tempatnya untuk bahagia saat hatinya sedang jenuh. Titik-titik kebahagiaan tidak bisa diukur dengan uang, melainkan diukur dengan sikap yang memiliki karakter dalam porsi sama.



"Sudah kak, perutku sakit haha" Bela tertawa sangat keras sehingga membuat perutnya cukup sakit.



"Benar juga, bibirku capek tertawa terus" Bela tergeletak di sofa karena mereka tertawa terbahak-bahak hanya karena spiderman dan wonder women.



Begitu juga dengan Alex yang merasakan lelah tapi menyenangkan. Dirinya bisa berinteraksi dengan gadis kecil di sampingnya yang sangat asik bila diajak berbicara. Tidak ada kecanggungan diantara keduanya, selama memang ditakdirkan untuk menjadi kakak dan adik.



"Kalian memang sama-sama bodoh" Ketus Bara.



Lalu dia beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke dapur untuk mengambil air minum. Di Depan mereka Bara mengatakan tentang kebodohan, padahal hatinya juga ingin tertawa karena cerita garing yang membuat mereka benar-benar absurd.



Dia memilih pergi untuk menjaga dirinya agar tidak larut dalam tawa mereka walaupun dari lubuk hatinya paling dalam juga ingin mengikutinya.



Bara juga merasa kesal pada Alex, karena baru saja mereka berkumpul tapi sudah membuat dari suasana yang sunyi, gagu, menjadi suasana yang sangat senang.



"Sial, gadis itu sepertinya benar-benar gila. Dia tertawa hanya karena spiderman. Tapi lucu juga sih, hmmm tapi tidak terlalu lucu juga" Bara berdialog sendiri sambil berdiri di depan kulkas.



Dirinya merasa bodoh karena tidak masuk dalam pikiran mereka berdua yang tertawa hanya dengan kata spiderman. Bertanya-tanya cukup lama tapi tidak menemukan jawaban. Mungkin karena Bara terlalu kaku dari dulu.



"Hei sahabatku, kenapa kau berdiri di depan kulkas. Apakah kau ingin mengendalikan es? " Teriak Alex mengejek Bara yang masih bengong didepan kulkas.


__ADS_1


"Pengendali kulkas? Apakah dia..... Hahahaha" Bela kembali tertawa, pikirnya sudah mencapai puncak komedi yang mereka ciptakan sendiri.



"Iya, dia adalah.... " Sambung Alex. Bela belum mengatakan lengkap tapi pikran mereka berdua sama bahwa Bara berasa menjadi avatar pengendali es.



Memang pikiran yang sama terasa seperti sedang bertelepati. Bela dan Alex sangat cocok untuk menghadiri panggung komedi. Karena mereka benar-benar garing, menertawakan hal kecil yang diolah menjadi komedi oleh dirinya sendiri.



"Diamlah, kalian terlalu bersikk" Bentak Bara dengan keras, seketika membuat mereka berdua terdiam.



Bara segera pergi ke dalam kamarnya, lalu dia kembali termenung dan duduk di sisi ranjangnya sambil menatap ke jendela yang sudah mulai menampakkan kegelapan.



Lalu pikirannya kembali mengingat antara Bela dan Alex, tentang superhero yang mereka katakan. Tiba-tiba bibir Bara melentingkan senyum dan tiba-tiba senyum itu semakin lebar.



"Hahaha, kenapa mereka sangat lucu" Ucapnya sambil tertawa dan mengingat kejadian di bawah tadi.



Ternyata otaknya juga tidak kuat karena virus tawa yang diberikan oleh Bela dan Alex di bawah sana. Hingga akhirnya Bara ikut masuk dalam komedi kecil yang telah diciptakan.



Dalam kamar yang biasanya sunyi, kini tidak lagi karena Bara tertawa dengan sendirinya. Dia terus menggelengkan kepala seakan berkata sudah tidak kuat mengarungi komedi dalam dirinya sendiri.



"Ahh sial, aku tidak bisa tertawa terus" Ketusnya hingga dia melewati malam itu tidak seperti biasa karena di balut dengan tawa yang tersembunyi.



Alex dan Bela terlihat semakin dekat, apalagi saat ini Alex tinggal bersama mereka karena perintah dari sahabatnya. Bara meminta Alex untuk tinggal dirumahnya sementara waktu agar mereka dapat membahas hal-hal rahasia secara empat mata, karena kondisi Bara tidak memungkinkan jika membahasnya di luar rumah.



Pagi


"Heh gadis kecil, kau mau sekolah? " Tanya Alex saat melihat Bela sudah bersiap diri dengan seragam sekolahnya yang rapi.


"Tidak, aku mau ke pasar" Sahut Bela sambil memalingkan wajahnya.


"Ah kau ini bisa saja, setiap hari selalu membuatku ingin tertawa" Ujar Alex sambil memandangi gadis di depannya itu.


"Ayolah pergi bersamaku, tidak usah naik angkot lagi. Aku akan mengantarmu" Ajak Alex pada Bela.


"Apakah tuan Bara mengijinkan? " Bisik Bela mendekat pada telinga Alex.


"Tenang saja, dia urusanku" Ucapnya mencoba meyakinkan bahwa Bara tidak akan mempersalahkannya.


Tanpa mereka sadari Bara melihatnya dari atas. Pembicaraan mereka berdua memang kecil tapi telinga Bara masih dapat menjangkaunya.


Bara tidak cemburu dengan keberadaan Alex, tapi dia cemburu bila melihat Bela sangat nyaman di dekat Alex. Sedangkan jika Bela bersamanya, tidak pernah tertawa lepas seperti bersama Alex.


"Kenapa gadis itu sangat bahagia dengan sahabatku, apakah dia tidak tertarik denganku?" Tanpa sadar batinnya berseru tentang Bela.


Hingga saat ini Bara masih belum menyadari bila dia menyukai gadis kecil itu. Awalnya dia sangat membencinya, tapi semakin hari semakin merasakan bahwa gadis itu berpengaruh baik baginya.


Memang benar kata orang, jangan membenci seseorang terlalu dalam karena itu akan menimbulkan rasa cinta dan seakan menjilat ludahnya sendiri.


"Ahh tidak-tidak, apa yang sedang masuk dalam pikiranku ini. Aku tidak menginginkannya" Ketus Bara sambil memukul kecil kepalanya.


Wajahnya masih menatap pergi gadis itu, setelah hilang dari hadapannya Bara langsung masuk ke dalam kamar dan bersantai menikmati kehidupannya yang indah.


"Kak boleh aku bertanya? " Ujar Bela memecah kesunyian di dalam mobil.


"Apa? "


"Tentang Denada" Alex terdiam mendengarkan nama Denada yang disebutkan oleh Bela. Dia menarik nafas dalam-dalam.


"Memangnya kau mau tanya apa tentang Denada? " Sambung Alex


"Siapakah Denada itu? Aku ingin tau pasti tentang Denada"


Hati yang dipenuhi rasa penasaran tidak pernah hilang dalam diri Bela. Dia terus bertanya-tanya tentang kebenaran Denada karena hingga saat ini dia belum mengetahui keseluruhan tentang Denada.


Yang dia tau Denada adalah kembaran Mario dan adiknya Bara. Wajahnya memang terpampang jelas dalam foto yang terpajang di kamar oma, tapi dia tidak berani menanyakan itu pada oma.


"Denada, gadis cantik, lembut, ceria dan selalu memberikan tawa dalam rumah. Tapi Tuhan telah mencintainya sehingga dia sekarang terbaring abadi dalam persemayaman"


Alex juga menceritakan bahwa Bela meninggal akibat kecelakaan, tapi sebenarnya itu bukanlah kebenaran. Alex sengaja mengatakan hal itu untuk menyembunyikan kenyataan yang masih dalam genggaman rahasia sebelum dendam Denada terbalaskan.


Tidak terasa air mata Bela sedikit menetes mendengarkan cerita tentang Denada. Tangannya sibuk menyeka sambil memalingkan wajah.


"Sungguh malang kau Denada, padahal kau adalah gadis periang namun Tuhan telah memanggilmu untuk bersematam abadi di atas sana" gumam Bela dalam hatinya sambil memalingkan wakha dari Alex.


Dan sekarang dia mengerti mengapa Denada sangat di sayangi oleh keluarganya, karena dia gadis yang ceria dan selalu memberikan kebahagiaan di suasana yang sunyi.


Pikirnya beranggapan bahwa kepergian Denada membuat semua seperti asing, karena keceriaan dalam rumah keluarga Baratha sudah tidak ada lagi.

__ADS_1



__ADS_2