Antara Cinta Dan Mafia

Antara Cinta Dan Mafia
60. Mencari Perhatian


__ADS_3

Dengan mengumpulkan keberanian yang cukup tinggi, akhirnya Mario mengungkapkan perasaannya yang menyatakan bahwa dia menyukai Bela. Akan tetapi Bela menolak itu, walupun di dalam hati Bela paling dalam juga memiliki perasaan pada Mario walaupun sedikit.


" Aku tidak tahu mengapa kau berbicara demikian, yang aku tahu saat ini adalah bahwa aku hanya menganggapmu sebagai sahabat saja tidak lebih" Sahut Bela, dia membohongi perasaannya sendiri karena dalam hatinya tau bahwa mereka tidak akan pernah bisa bersama.


Bela juga tidak ingin memberikan harapan lebih pada Mario. Jadi dia mengatakan bahwa dirinya hanya menganggap Mario sebagai iparnya dan juga sahabatnya di sekolah dan tidak ada kata lebih dari itu.


Kali ini Bela kembali mengatakan kebohongan, padahal dari lubuk hatinya juga memiliki rasa secara diam-diam pada Mario. Karena niat Bela hanya sebagai orang yang akan menyatukan adik dan kakak bukan sebagai pemisah persaudaraan mereka.


"Kata orang kalau cewek dan cowok berduaan di tengah-tengahnya tuh setan " Seru Beni yang tiba-tiba datang dan berada di tengah-tengah Bela dan juga Mario.


" Iya kau setannya" Ketus Bela. Beni hanya tersenyum sedangkan wajah Mario kembali datar dan dingin.


Untung saja Alex sudah datang untuk menjemput Bela dan Bela segera masuk ke dalam mobil tersebut meninggalkan Mario dan Beni. Tidak lupa Bela melambaikan tangan pada Mario dan juga Beni sebagai salam perpisahan.


Sedangkan wajah Mario terlihat begitu buruk karena hatinya juga buruk saat menerima penolakan dari Bela dan hanya mendengar kata sebagai sahabat saja.


" Apakah perang dunia sudah berakhir? " Seru Bela saat di dalam mobil setelah melihat Cintia dan Alex duduk di depan secara berdampingan. Sedangkan Bela yang menjadi penumpangnya di belakang atau bisa dibilang obat nyamuk mereka berdua.


" Sudah dong karena meriam kita sudah habis untuk ngebom" Sahut Cintia lalu wajahnya menoleh pada Bela dengan senyuman sebagai tanda bahwa mereka telah baikan.


"Syukurlah kalau begitu Jadi aku bisa tenang" Seru Bela memilih tidur di bangku belakang dengan ketenangan di luar tapi tidak dengan hatinya.


Bela mencoba untuk memejamkan mata sambil mengingat kembali ucapan Mario pada Bela yang menyatakan bahwa dia menyukai Bela. Dalam lubuk hatinya ingin menerima Mario sebagai kekasihnya tapi dia bingung di Lubuk hatinya juga dia menganggap Mario sebagai sahabat.


Apalagi mengingat bahwa Bela terikat dengan Tuan arogan yang hanya mementingkan status palsu untuk menyenangkan oma akan tetapi memeprlakukannya dengan semena-mena.


Bela merasa terbang diantara dua kebimbangan karena banyak ikatan yang menjerat hidupnya. Salah satunya masih terikat kontrak pernikahan dengan Bara. Apalagi Bela ingin mengenal cinta lebih jelas Bagaimana caranya dia menemukan seseorang yang tulus menyayanginya hingga akhir hayat Bela.


"Sungguh sial pikiranku" Bela menggerutu kecil di belakang mobil sambil memegang kepalanya. Sedangkan matanya masih saja terpejam.


Sesampainya di rumah Bela masih saja melihat Bara dengan wajah biasanya. Semenjak mereka berdua pindah di rumah yang baru Bela dan Bara jarang berbicara bahkan hampir tidak pernah dalam satu hari.


Karena Bara sibuk dengan pekerjaannya sendiri bahkan sibuk di kamarnya sendiri tanpa keluar dan duduk menemui Bela. Keramaian hanya diciptakan oleh suasana hati dan kegembiraan dari Alex serta Bela tanpa perantara.


" Kalian tidak turun? " tanya Bela saat melihat Alex dan Cintia masih berada di dalam mobil.


" Tidak adikku, Aku ingin jalan-jalan dengan Cintia karena hari ini adalah hari terakhir dirinya di sini dan besok dia harus kembali ke Amerika " jelas Alex.


"Bukankah Kak Cintia masih seminggu lagi di sini?" Ujar Bela dengan penuh penasaran karena Alex mengatakan bahwa kekasihnya akan tinggal seminggu lagi akan tetapi kenapa tiba-tiba tidak sampai seminggu dan Cintia harus pulang.


" Ya, karena dia ada kepentingan di Amerika" Sahut Alex. Bela hanya menggangguk dan pura-pura mengerti Walaupun dia tidak tahu kepentingan apa yang dikatakan oleh Alex yang menyebabkan Cintia harus pulang lebih cepat.

__ADS_1


Bela masuk ke dalam rumah dan melewati Bara yang duduk bersantai di teras rumah sambil menikmati kopi dan sibuk di hadapan laptopnya, rasanya tidak nyaman bila harus berdiam diri terus-menerus akhirnya Bela mencari suatu cara agar mereka kembali berbicara.


Bela segera mengganti baju lalu kembali keluar dan duduk di depan Bara sehingga mereka saling berhadapan.


" Tuan, Mengapa akhir-akhir ini kita jarang berbicara. Apakah aku punya salah padamumu?" Tanya Bela sambil memangku wajahnya dengan tangan kanan yang diletakkan di atas meja dan sorotan matanya menatap lekat ke wajah Bara yang sedang serius di depan laptop.


"Diamlah aku sedang sibuk" ketus Bara dengan wajah dinginnya. Bela mengerti sekarang dia harus melakukan suatu terobosan baru agar Bara kembali berbicara seperti kemarin.


Akhirnya Bela mengambil sapu dan alat pel lalu dia membersihkan halaman menyapu halaman kemudian menanam bunga dalam pot dan dia lakukan untuk mengambil alih perhatian Bara agar tidak terus menetap ke laptop.


Akan tetapi tetap saja rasa cuek dilemparkan dari wajah Bara dan juga perilakunya, bukan hanya tidak mendapatkan sapaan namun juga Bara pergi begitu saja dan kembali ke dalam kamar.


" Sia-sia pekerjaan aku, sungguh sial sudah capek-capek tapi dia tidak menghiraukan aku Awas saja akan kubalas nanti" gerutu Bela, dirinya sudah merasa panas-panasan dan capek-capek di sore hari menanam bunga dalam pot namun tidak mendapatkan perhatian juga dari Bara. Bibir Bella tersenyum dan cara terakhir ini pasti akan membuat Bara berbicara padanya.


Akhirnya Bela masuk ke dalam kamar lalu Mengunci pintu dan tertidur. Dia berencana akan tidur sampai malam dan tidak memasak agar Bara bisa mengetuk pintu dan memanggil dirinya untuk keluar. Bela yakin jika Bara masih memerlukan dirinya.


Sebenarnya bukan tanpa alasan Bela mencari perhatian tersebut karena dia merasa bahwa Bara berubah. Dulu saat berada di rumah Oma Bara banyak bicara pada dirinya walaupun itu hanya kepalsuan karena Bara takut bila semua orang di rumahnya saat itu mengetahui jika mereka memiliki status yang palsu.


Akan tetapi semenjak pindah ke rumah yang baru dan tidak ada oma rasanya Bara semakin diam dan tidak pernah memberikan tegur sapa. Apalagi bila mengingat terakhir kali Bara marah besar setelah Bela diantarkan oleh Beni. Bara juga hampir membunuh Bela, mungkin di saat itulah kerenggangan diantara mereka semakin membesar sehingga terasa sebagai orang asing.


"Aku akan tertidur dan bangun malam hari, Jika perlu aku akan bangun besok pagi agar dia mencariku dan bertanya apakah kau baik-baik saja Bella" Ujar Bela tanpa menghiraukan siapapun. Bahkan dia juga menghiraukan Cintia yang masih berada di luar.


Bela membayangkan bila Bara mencemaskan dirinya jikalau dia tidak keluar dari kamar tersebut . Dengan nyenyak dan ketenangan Bela terlelap di balik selimut yang tebal serta AC dengan suhu yang sesuai dengan diri Bela.


Sementara itu Alex dan Cintia sedang melakukan makan malam yang sangat romantis. Mereka berdua merayakan hari rujuk karena telah bertengkar kemarin. Sekaligus mereka akan merayakan perpisahan lagi karena Sintia akan kembali ke Amerika besok.


"Ada apa dengan kepalaku, wajahnya selalu membuat hatiku tidak baik-baik saja. Tidak, tidak, dia tetaplah mangsaku yang harus aku hancurkan" Kembali Bara meracau sednrii dalam kamar yang sunyi.


Bara merasa bosan karena kehidupannya terus dipenuhi oleh dendam, apalagi dendam tersebut tertuju pada satu orang yang saat ini sedang diperhitungkan dalam pikirannya yaitu Bela.


Karena dendam utama sudah terbalas pada Sisil tinggal dendam yang kedua dan mungkin yang terakhir pada dua orang penting yaitu Prabu dan Erik. Mereka bawahan dari ayahnya yang berkhianat dan membunuh Ayah Bara serta Denada.


" Aku akan membalas ke kejian kalian dan sebentar lagi anakmu akan menderita Prabu" ujar Bara sambil memegang foto keluarga Prabu serta ketiga putrinya dan salah satunya adalah Bela. Bara juga sudah mengunci tempat tinggal Erik saat ini.


Memang Erik tidak ada di Indonesia akan tetapi dia pindah ke Australia hanya untuk menyembunyikan identitasnya, hal itu sangat mudah bagi Bara untuk menemui Erik dan membalaskan kematian keluarganya dengan menyiksa keluarga Erik.


Dia hanya menunggu waktu saja untuk menghabisi keluarga Erik dan Prabu hingga ke akar-akarnya.


"Kau tahu Erik aku sudah mengunci dirimu dan keluargamu, tinggal selangkah lagi seluruh keluargamu akan terbang ke neraka" ujar Bara dengan wajah memerah menahan amarah.


Berkali-kali dirinya harus menghadapi foto kedua penghianat itu dengan kebencian yang tinggi. Berkali-kali pula foto itu selalu mengingatkan akan kepergian ayahnya dan Denada yang sangat malang. Kemarahan dalam hidupnya tidak akan pernah hilang bahkan walaupun dendam itu terbalas karena mereka seakan-akan telah merusak kebahagiaan Bara dan keluarganya.

__ADS_1


Di dunia ini tidak ada kata maaf yang sebenarnya, walaupun maaf itu telah diterima akan tetapi kejadian yang sebenarnya tidak akan pernah dilupakan sampai kapanpun hingga jiwanya sudah tak bernyawa.


Malam meresap menembus kulit-kulit Bara yang sedang duduk di atas balkon sambil menikmati angin malam yang terus berdesir lembut menusuk dalam telinganya.


Tidak ada yang pernah tahu jika bintang selalu membuat Bara tersenyum karena dia merasa bahwa Denada dan ayahnya akan melihatnya dari atas langit.


" Ayah aku akan membuatmu tenang di dalam surga, kau tunggulah di sana ayah karena dendammu akan segera terbalaskan " percakapan yang kosong di antara udara yang disampaikan oleh Bara dengan dendam yang sangat besar dalam hatinya.


Sang mafia yang kejam akan rela membunuh siapapun apalagi orang yang telah mengusik kehidupannya yang membuat dirinya menjadi hancur dengan kepedihan saat itu.


Akan dipastikan tidak ada seorangpun dari penghianat itu yang akan selamat dari amarah dalam dendam yang telah terbakar hebat.


" Denada apakah dirimu tidak rindu Untuk mengadukanku pada oma agar dia menjewerku lagi?" Lagi-lagi ucapannya berbisik pada langit yang tidak pernah menjawab separah katapun pada Bara.


Karena dia tahu Denada hanyalah hiasan langit yang paling indah diantara bintang-bintang yang terlihat. Terkadang pada suatu malam yang ingin Bara temui dalam sebuah kesunyian matanya tidak pernah menangis namun hatinya selalu teriris bila mengingat masa-masa bahagia di antara keluarga mereka.


Seakan-akan semua sudah lenyap ditelan oleh waktu yang tak pernah menentu dan tak pernah tanya apa yang dia inginkan.


Banyak yang berkata bahwa mafia adalah orang yang kuat namun tidak jika dia duduk dan termenung dalam kesunyian di gelap malam, air matanya akan mengalir dalam hatinya walaupun matanya terlihat tegar.


"Sungguh sial malam ini selalu saja membuat aku bersedih" Tutur kasar kembali Bara berikan pada dirinya sendiri. Lalu dia beranjak untuk turun makan malam di bawah.


Dirinya merasa aneh karena biasanya Bela mengetuk pintunya untuk mengajak Bara makan malam bersama. Akan tetapi saat dia sudah berada di bawah terlihat ruangan itu sangat sepi hanya ada penjaga yang ada di depan halaman rumah dan tidak ada orang lagi.


Alex dan Cintia juga tidak ada lalu pandangannya menuju ke arah ke kamar Bela dan terlihat pintu itu tertutup rapat. Saat Bara berjalan ke meja makan ternyata tidak ada makanan satupun yang membuatnya sangat kesal karena Bela tidak menyiapkan makan malam untuknya. Setelah itu Bara melangkah ke kamar Bela, namun saat membuka pintunya ternyata terkunci.


*tok, tok, tok*


Bara mengetuk pintu dengan keras akan tetapi tidak ada jawaban dari dalam dan pintu itu masih terkunci. Lalu dirinya teriak memanggil nama Bela namun tetap saja tidak ada jawaban dari dalam.


Padahal Bela sudah terbangun diketukan pertama akan tetapi dia memilih untuk pura-pura menutup telinga dan tidak dengar apapun Lalu kembali memejamkan mata seakan-akan dirinya menikmati lelap yang indah.


"Akhirnya kau mencariku juga tuan, teruslah berteriak karena aku ingin tertidur " Seru Bela terkekeh kecil sambil meringis dan pandangannya menatap pada pintu yang bergetar karena tangan Bara terus berusaha membuka pintu itu.


*Gubrak*


Dengan kekesalannya Bara menendang pintu itu hingga pintunya jebol dan rusak. Bela terkejut mendengar hal itu namun setelah merasakan amarah Bara, dia kembali memainkan perannya dan pura-pura tertidur dengan pulas.


Bara mendekat lalu tangannya menarik selimut Bela. Terlihat jelas ketegangan diri Bela yang bercampur dengan rasa takut. Namun mau tidak mau dia harus tetap pura-pura tertidur agar Bara tidak jadi berbicara padanya.


"Tamat riwayatku jika dia tahu bahwa aku pura-pura tertidur, Bela kau harus tertidur pulas dan jangan sampai ketahuan " batin Bela berseru ketakutan, dia menenangkan dirinya sendiri dan mendalami peran agar tidak terlihat Jika dia berpura-pura tertidur.

__ADS_1


Sementara itu tangan Bara memegang dahi Bela untuk mengecek suhu tubuhnya sedikit terlihat kekhawatiran dalam mata Bara karena dia takut jika gadis di depannya kembali sakit seperti pada waktu itu.



__ADS_2