Antara Cinta Dan Mafia

Antara Cinta Dan Mafia
30. Semangat Oma


__ADS_3

Bara mengalihkan pandangannya saat dia sejenak bersantai di ruang keluarga sambil memegang laptop. Suara Bela membuat Bara menghilangkan fokusnya dan seketika langsung menatap ke arah Bela dan Mario.


"Aku bisa mengajarimu" Ucap Bara sambil merampas buku Bela.


"Benarkah? Tapi ini cukup susah" Sahut Bela tidak percaya akan kemampuan Bara.


"Aku bisa membantumu menyelesaikan ini" Ucap Bara dengan tatapan percaya diri yang sangat tinggi.


"Baiklah, dah Mario. Nanti saja aku belajar denganmu ya" dalam sekejap saja Bela meninggalkan Mario lalu pergi duduk bersama Bara. Hal itu menyebabkan kekecewaan dalam diri Mario karena tidak bisa belajar dengan Bela.


Bela segera mengekori Bara duduk di sofa depan televisi. Dia memperhatikan Bara yang sibuk membaca soal matematika. Tatapan Bela menyelidik tidak percaya dengan Bara, karena dia daritadi hanya membolak balikkan buku saja.


Sedangkan Bara bergelut dengan otaknya, pikirnya terus bertanya-tanya untuk menyelesaikan matematika itu. Bagaimana dia bisa mengerjakannya padahal saat sekolah dulu dia sering bolos dan jarang masuk ke kelas matematika.


"Sial, kenapa matematika ini sangat susah. Tidak ada soal seperti ini di jamanku" Batin bara semakin bingung melihat soal di depannya.


Tidak ada satupun soal yang dia bisa. Sepertinya kali ini dia harus mengalah dengan adiknya. Karena Mario adalah salah satu anak yang memiliki kecerdasan di keluarga ini, tapi dia tidak seberani Bara.


Sedangkan Bara hanya bisa bertarung dan melawan apa yang menurutnya di luar keinginan dia. Namun sangat lemah di dalam pendidikan. Karena pekerjaannya saat sekolah adalah cabut dari pelajaran.


"Bagaimana? Tidak bisa bukan? Sudah ku duga. Sini biar aku belajar saja dengan Mario" Bela langsung merebut bukunya dan berjalan.


"Bukan tidak bisa, tapi soal ini tidak sama dengan soal ku yang dulu" Bara mencari jawaban untuk menutupi otaknya yang lemah.


"Jaman kita berbeda, dan sekolah anda masa lampau" Ucap Bela dengan santai.


Sahutan berkelas membuat semua orang yang mendengar di rumah itu menahan tawa. Bahkan pelayan yang sedang bersih-bersih di depan mereka, langsung pergi karena takut bila terlihat tertawa di depan tuan muda.


Terkadang benar juga omongan Bela, jaman sudah berubah dan Bara masih menyamakan jaman dia sekolah dengan jaman sekarang. Sudah jelas sangat berbeda jauh.


"Kita belajar disana saja" Ajak Mario pada Bela untuk belajar di ruang tengah.


"Jangan, nanti menganggu penguasa yang sedang bekerja" Ujar bela.


Dia tidak ingin Mario belajar di meja dekat Bara karena takut suaminya terganggu dan membuatnya marah. Jadi Bela mengarahkan untuk belajar di taman depan.


Namun hal itu yang membuat Bara semakin terganggu, dia tidak akan membiarkan Bela dan Mario belajar berduaan tanpa pengawasan. Akhirnya Bara mencegah mereka berdua keluar dari rumah dan menikmati kebersamaannya tanpa siapapun.


"Tidak usah keluar, belajarlah disini. Aku tidak akan menganggu" Ucap Bara penuh penekanan agar Mario dan Bela tidak belajar di luar.


"Suamiku, jika aku terlalu berisik maka dapat mengganggumu. Jadi sebaiknya aku dan Mario belajar disana" Sahut Bela dengan lembut.


"Tidak, sekali lagi kau melangkah maka aku akan memberimu hukuman" Ucapnya.


Mario tidak tega jika Bela disakiti oleh kakaknya, maka dari itu Mario berusaha mengajak Bela untuk mematuhi aturan dan perintah dari kakanya. Akhirnya Bela mau mengikuti Mario dan mereka belajar di ruangan yang sama.


"Baiklah, karena ini permintaanmu Mario jadi aku menurutinya" Ujar Bela.


"Anak ini, selalu saja membuatku kesal" Tatapan Bara semakin menyelidik, dia tidak akan bisa konsentrasi selama mereka belajar seperti seseorang yang sudah sangat kenal lama.


Bela dan Mario terlihat begitu akrab, mereka belajar sambil tertawa saat Bela salah menjawab soal. Beberapa kali Bela terlihat kebingungan namun Mario dengan sabar mengajarinya.


Kedua remaja itu asik dalam dunia mereka diantara matematika. Akan tetapi mereka lupa jika masih ada tatapan yang terbakar saat melihat kemesraan dalam belajar itu.


*brak* buku terlempar dengan sengaja. Bara hanya ingin menghentikan ketentraman dan kenyamanan antara Bela serta Mario.


"Ada apa, kenapa berisik sekali? " Tanya Bela pada Bara.


"Ambilkan aku kopi" ketusnya.


"Kan ada pelayan" Sahut Bela sambil menunjuk ke arah pelayan yang berada di seluruh sudut.

__ADS_1


"Istriku itu kamu, bukan pelayan" Tetap saja Bara ingin Bela yang membuat kopi bukan pelayan.


Dengan tenang Bela berjalan ke dapur walaupun wajahnya terlihat cemberut. Dia tau jika Bara tidak suka saat dirinya belajar bersama Mario. Sudah terpampang jelas dari tatapan dahi mengkerut saat melihat mereka berdua bercengkrama dengan damai.


Sebenarnya Mario juga tidak nyaman dengan perilaku Bara yang selalu menganggu saat mereka berdua belajar. Hal itu sering dilakukan oleh kakak tertuanya. Banyak cara yang terus dilakukan agar Bela jauh dari Mario.


"Ini kopinya, aku ingin belajar" Bela memberikan secangkir kopi lalu kembali duduk di samping Mario.


"Eitsss tunggu dulu, ambilkan aku camilan" Bara melakukan banyak hal untuk membuat Bela sibuk.


"Bukankah kaki itu masih bisa digunakan? " Tanya Bela sambil menunjuk ke kaki Bara. Rupanya Bela sudah sangat kesal karena Bara mengerjai dirinya.


"Kau kan istriku" Ucap Bara kembali.


"Baiklah" Dengan malas Bela berjalan menuju kulkas. Mengambil beberapa camilan yang ada.


"Sungguh sial, dia selalu menganggu ku untuk bersama Mario. Aku juga ingin pintar seperti Mario tapi dia selalu mencari cara agar bisa menganggu konsentrasi belajar ku" Gumam Bela dalam hati.


Sekarang kemalasan kembali hadir dari pikiran Bela. Karena fokusnya terganggu oleh Bara yang selalu meminta ini dan itu pada Bela dengan sebutan seorang istri.


Seperti tidak ada semangat lagi untuk Bela belajar. Saat duduk di depan Mario, dia memandangi beberapa soal. Bukannya tambah senang, tapi malah tambah semakin pusing karena seakan soal itu bergoyang.


"Jangan diteruskan dulu jika kamu masih pusing memikirkan soal itu" Ujar Mario saat dia melihat Bela dengan mimik wajah lesu.


"Benar mario, saat ini hanya kau yang pengertian padaku. Aku benar-benar lelah" Ucapnya menyindir sambil melirik pada Bara.


Akhirnya Bela menutup buku itu, lalu berdiri dan membereskan semua. Ada ide yang tersembunyi darinya agar terlepas dari jeratan Bara dan bisa berdua dengan Mario untuk belajar banyak hal dengannya.


Sorot mata Bara penuh kecurigaan saat menatap Bela. Dia segera menutup laptop dan akan mengikuti permainan yang dilakukan oleh istri kecilnya itu.


"Mario, bagaimana kalau kita berkebun saja" Bela tau jika Bara tidak suka berkebun, jadi dia memilih untuk melakukan itu.


"Ah sial, aku kalah" Batin blBara menyerah setelah mendengar ucapan Bela.


Saat kecil dia hampir mati karena berlari tidak jelas saat Denada memberikan cacing tanah dan dimasukkan dalam bajunya. Bara berlari hingga hampir tertabrak mobil, dan hingga saat ini dia membenci cacing tanah.


"Ide bagus, aku juga ingin berkebun lagi" Sahut Mario.


Bibir Bela melentingkan senyum saat melihat kegelisahan dari raut wajah Bara. Dia tau jika Bara tidak suka dengan berkebun. Namun Bela tidak tau pasti apa yang menyebabkan Bara membenci kebun.


Bara hanya bisa terdian melihat keakraban mereka. Karena dia tidak mungkin mengikuti Bela berjalan ke kebun hanya untuk melihat keakraban yang semakin menambah sakit harinya.


"Suamiku, apakah kau tidak ingin ikut denganku?" Tanya Bela dengan nada lembut penuh arti.


"Tidak, pergilah" Jawabnya singkat.


Bela beranjak dari ruangan itu dan segera berjalan keluar dari rumah bersama Mario. Mereka berjalan beriringan, menambah kegeraman dari hati Bara.


"Kalian mau kemana? " Tanya oma saat melihat Mario dan Bela ingin keluar.


"Oma" Semua mata tertuju pada oma yang baru saja keluar dari kamar dan memanggil cucu serta menantunya itu.


Oma keluar tanpa menggunakan kursi roda. Seisi rumah sangat terkejut melihat oma. Bara yang terdiam langsung beranjak dan mendekat pada oma. Dia takut bila oma kesayangannya akan jatuh jika tidak ada pegangan.


Namun oma menolak Bara dan dia memilih untuk berjalan sendiri. Walaupun tertatih, tapi oma berjalan dengan baik secara perlahan menuju ke sofa ruangan tamu.


Bela melihat semua itu, bibirnya tersenyum kebahagiaan. Matanya tidak bisa berbohong, genangan air matanya tertahan dan tidak ingin di teteskan olehnya.


"Oma, akhirnya oma" Bela memeluk oma dengan kebahagiaan yang sangat luar biasa.


Sedangkan Bara dan Mario masih terdiam dalam pertanyaan yang menyerang pikiran mereka sendiri. Tidak ada yang tau pasti mengapa oma bisa berdiri dan berjalan sendiri. Rasanya memang tidak mungkin, namun nyatanya mereka melihat hal yang nyata.

__ADS_1


Mereka berdua meneliti mulai dari ujung kaki oma hingga ke ujung rambut. Rasa percaya masih simpang siur menggeluti pikiran mereka karena selama ini oma sudah tidak ingin berdiri dan bahkan dokter berkata kaki oma sudah dinyatakan lumpuh.


"Oma, bagaimana bisa..? " Tanya Bara.


"Oma bisa berdiri dan berjalan, apakah ini keajaiban Tuhan? " Sambung Mario.


Oma hanya tersenyum lalu mengelus lembut rambut Bela. Senyuman oma sangat hangat, tapi masih belum memberikan penjelasan pada kedua cucunya yang sedang bertanya-tanya.


"Karena gadis ini oma bisa berjalan lagi" Ucap oma sambil kembali mengelus lembut rambut Bela.


"Tidak oma, ini semua karena semangat serta kerja kerasnya oma" Sahut Bela.


"Dia...? Tanya Bara sambil menunjuk ke arah Bela.


Oma mengangguk setuju.


Oma menjelaskan semuanya, mulai awal Bela memberikan masukan dan semangat agar dirinya bisa berjalan kembali. Awalnya memang susah namun semakin lama semakin merubah keadaan dan semangat oma.


Setiap hari Bela selalu ke kamar oma hanya untuk melatih dan menemani oma untuk belajar berdiri lalu kemudian belajar berjalan. Tidak ada satupun dari rumah ini yang tau kecuali Bela. Dan hingga pada akhirnya oma bisa berdiri seperti ini.


"Kau mengajari oma tapi tidak memberitahu padaku? Bagaimana jika oma terjatuh seperti dulu, bagaimana jika oma celaka? Apakah kau akan bertanggung jawab? " Bentak Bara dengan banyak pertanyaan pada Bela.


Bukannya merasa senang dan berterima kasih pada Bela, tapi Bara memarahinya karena kekhawatiran yang sangat besar untuk oma yang sangat di cintai olehnya. Apalagi Bara pernah melihat Bela mengajak oma berdiri lalu terjatuh pada saat itu di kebun.


Jelas kekhawatiran itu tidak bisa hilang begitu saja, Bara terus membentak dan bertanya tapi Bela hanya terdiam dan menunduk.


Bela hanya bisa mendengarkan Bara dan tidak bisa membantahnya, karena dia tau bahwa perilakunya memang sangat membahayakan oma. Karena tidak ada yang tau hal buruk apa yang akan terjadi di masa depan.


"Kamu memarahinya? " Tanya oma dengan tatapan heran pada cucunya itu.


"Iya oma, karena dia berperilaku seperti itu pada oma tanpa memberitahu Bara. VlBara sangat khawatir jika dia menjatuhkan oma lagi" Jelas Bara.


*plak* oma memulul kepala Bara.


"Aduh, sakit oma" rintih Bara.


"Rasakan, seharusnya kamu berterima kasih padanya, karena Bela kecil sudah membantu oma menemukan semangat hidup baru" Jelasnya.


Oma merasakan hal itu, karena sebelumnya diri oma selalu merasa terpuruk atas kepergian Denada yang sangat cepat. Bahkan saat senyum Denada menghilang, senyum oma juga menghilang dari kehidupan sehari-hari.


Dan semuanya berubah saat Bela datang ke rumah ini. Banyak hal yang asing menjadi terbiasa. Banyak senyuman penuh dalam rumah, yang awalnya hanya kesunyian yang bergelut dalam rumah keluarga Baratha.


"Kamu harus berterima kasih pada gadis kecil ini. Dan oma juga bersyukur karena dia sudah menjadi istrimu" Sambung oma dengan sangat bahagia.


Sedangkan Bela hanya memaksa untuk tertawa dan tersenyum kecil, karena dirinya hanya menjadi istri pura-pura tanpa ada yang mengetahui hal itu.


Tanpa banyak kata Mario langsung mengulurkan tangannya pada Bela untuk mengucapkan terima kasih yang lebih besar karena telah membuat oma menjadi ceria seperti dulu lagi. Serta Bela mampu membuat oma kembali berdiri dan memiliki keyakinan untuk hidupnya.


"Aku bersyukur bertemu denganmu di rumah ini, mungkin Tuhan mengirimkan dirimu untuk menjadi bagian dari keluarga Baratha. Serta mampu merubah keluarga ini menjadi lebih baik" Seru Mario sambil menjabat tangan Bela.


"Tidak Mario, semua ini karena waktu. Waktu yang akan merubah kalian dengan keinginan yang ada di dalam hati, jadi aku hanya orang biasa yang juga mengikuti alur kehidupan" Tegas bela.


Lagi-lagi hal itu membuat Bara kembali cemburu, kedekatan Mario selalu membuatnya merasa tidak nyaman. Ada ketakutan yang disimpan dalam lubuk hatinya walaupun dia tidak menyadari hal itu.


Setiap Bela dekat dengan Mario, rasanya hati bara menatap cemas. Dia tidak ingin jika mereka berdua terus larut dan akan berhubungan lebih dekat lagi. Pikirnya selalu berkata bahwa Bela adalah istrinya.


"Lepaskan tanganmu, jangan lama-lama berjabat dengannya" Ketus Bara sambil melepaskan secara paksa jabatan tangan Mario dan Bela.


Bela hanya menghembuskan nafas dengan kasar, ingin rasanya dia tertawa melihat kelakuan Bara selalu marah saat melihat Mario dekat dengan dirinya.


Entah kecemburuan yang disengaja atau tidak, tapi yang jelas bahwa Bara cemburu walau dia tidak pernah mengakuinya. Sungguh pikiran yang sangat aneh dan berbeda dari yang lain.

__ADS_1



__ADS_2