Antara Cinta Dan Mafia

Antara Cinta Dan Mafia
62. Rindu Oma


__ADS_3

Di setiap pertemuan pasti ada perpisahan, pagi itu Cintia akan segera kembali ke Amerika dia membereskan semua barangnya yang ada di kamar Bela.


Dengan berat hati Bela membantunya sedangkan dalam hatinya dia menangis merasakan kesepian kembali menghampiri. Karena semenjak hadirnya Cintia di dalam kamar rasanya sangat tenang dan gembira bisa bercanda, tertawa, berbincang-bincang sebelum tidur namun sebentar lagi Cintia akan pergi dan Bela kembali dirundung oleh sunyi dan kesepian dalam hidupnya.


" Kak Apakah kau tidak bisa tinggal di sini saja? " Bela memegang tangan Cintia dengan tatapan sendu.


" Tidak karena aku harus menyelesaikan studiku, Aku berjanji akan kembali ke sini untuk menemuimu adikku suatu saat nanti" sahut Cintia dengan ramah sambil membelai pipi Bela.


Ucapan kata adikku adalah hal pertama yang didapatkan oleh Bela. Karena saudara kandungnya Ana tidak pernah mengucapkan kata itu setulus ucapan Cintia tadi.


Rasanya kebahagiaan itu datang tidak terduga, air mata Bela menetes satu persatu sambil menatap wajah Cintia dengan pilu. Dia langsung memeluknya dengan erat merasakan pelukan seorang kakak yang sangat hangat.


"Tuhan tak adil, dia memberiku orang baik sepertimu tapi nyatanya kau pergi lagi tanpa harus menetap disini dan kenemaniku" Bela meracau dengan kesal saat dirinya menyinggung ketidakadilan Tuhan yang membuat Cintia pergi lagi sehingga dirinya kembali memeluk sepi.


Cintia dia benar-benar tulus menyayangi Bela sebagai adiknya namun dia harus pergi meninggalkan Bela untuk menyelesaikan studinya di Amerika. Cintia membalas pelukan itu sambil membelai lembut rambut Bela.


"Aku sudah menganggapmu sebagai adikku, dan aku yakin suatu saat kau akan mengerti semuanya. Dan sebaliknya apakah Kau juga menganggapku sebagai kakakmu Bela? " Tanya Cintia pada Bela yang memecah dalam tangis gadis itu.


" Jelas aku akan selalu menganggapmu sebagai Kakakku walaupun masalah dalam hidupmu terlalu sulit untuk diceritakan. Dan keinginan yang belum aku capai adalah memiliki seorang kakak yang menyayangi adiknya dengan tulus" jelas Bela dan dirinya kembali menangis dalam pelukan Cintia.


Di dalam kehidupan banyak sekali ikatan persaudaraan yang terasa asing. Terkadang kita tidak perlu apa-apa dalam sebuah ikatan tersebut, hanya saja perlu sebuah perhatian untuk menciptakan sebuah kehangatan.


Perhatian kecil walaupun Seujung Kuku namun itu dari saudara sangatlah berharga daripada perhatian yang sangat besar yang diberikan oleh orang lain.


Namun hal itu tidak pernah Bela dapatkan karena hubungan dia dan saudaranya sangatlah renggang dan tidak pernah bisa bersatu semenjak kematian mamanya.


"Berjanjilah kau akan kembali lagu" Seru Bela pada Cintia. Cintia hanya membalasnya dengan senyuman walau matanya juga mengatakan bahwa berat untuk meninggalkan keadaan.


Dengan berat hati Bela menutup koper Cintia dan membawanya keluar dari kamarnya, dia juga menyeka air matanya agar tidak terlihat cengeng di depan Bara dan juga di depan Alex.


Kali ini Cintia pergi bersama Alex yang akan mengantarnya ke bandara sedangkan Bara menyuruh Bela untuk segera mengganti baju karena mereka akan segera berangkat ke rumah Oma.


" Cepatlah ganti baju kita akan segera pergi" perintah Bara namun Bela tidak mendengarkan hal itu.


Pandangannya menatap langkah Cintia yang akan segera pergi dari negara ini. Wajahnya terlihat menahan tangis namun hatinya sudah bergetar hebat ingin menjerit tentang sebuah tangisan namun apa daya dia tidak bisa meluapkan itu karena dirinya selalu menguatkan matanya untuk tidka menangis dan berkata pada pikirannya sendiri untuk menjadi wanita kuat dan hebat.


Tidak lama kemudian Bela masuk mengganti baju tanpa banyak bicara sesuai dengan perintah Bara. Seharusnya dia bahagia karena akan bertemu dengan oma, namun di lain sisi hatinya bersedih sebab Cintia telah pergi dari rumahnya.


"Apakah kau bersedih dengan kepergiannya? " tanya Bara saat mereka berdua sudah berada di dalam mobil.


"Jelas aku bersedih karena sebentar lagi kamarku sepi dan aku tidak memiliki teman, begitu juga denganmu tuan jarang berbicara denganku" celoteh Bela sambil menampilkan bibirnya yang manyun, Bara hanya terdiam mendengar ocehan gadis itu lalu dia melajukan mobilnya menuju ke rumah Oma.


Di dalam perjalanan lagi-lagi kesunyian yang menemani mereka berdua, akhirnya Bela berinisiatif untuk menghidupkan lagu dari dalam mobil, namun sayang tangannya di tepis oleh Bara katanya untuk bersikap tenang dan jangan terlalu berisik di dalam mobil tidak ada cara lain akhirnya Bela memilih untuk bernyanyi.


"🎵Aku ingin tamasya berkeliling-keliling kota🎵" Bela menyanyikan lagu anak dengan riang dan gembira namun hal itu mengganggu telinga Bara.


" Diamlah suaramu akan mengundang hujan " Ketus Bara seperti memberikan sebuah kebenaran pada Bela.

__ADS_1


Bela menyadari bahwa suaranya sangat sumbang namun pikirannya lebih sumbang karena kesunyian. Makanya dia memilih bernyanyi akan tetapi bentakan Bara seakan menyuruhnya untuk diam hingga pada akhirnya mata Bela kembali tertuju pada pemandangan kota yang sangat menyebalkan karena selalu dikepung oleh asap kendaraan padahal hari masih pagi.


Lalu dia memilih untuk tertidur dan berharap bangun saat sudah sampai di sekitaran rumah oma untuk menyaksikan pepohonan yang rindang di sana. Saat mata gadis itu sudah terlelap, sesekali Bara mencuri pandangan dan menatap wajah gadis yang polos itu.


Entah mengapa setiap berada di dekat Bela rasanya hati Bara sedikit lebih tenang padahal di lubuk hatinya dia memiliki tujuan untuk balas dendam. Namun terkadang pula pikirannya dibutakan oleh dendam sehingga ingin segera menghabisi gadis polos itu.


" Tuhan memberikan pilihan sulit padaku dan aku harus memilih salah satunya" gumam Bara dalam hati.


Seakan-akan dirinya berbicara sendiri tentang dua pilihan yang sedang dihadapi. Yaitu di antara rasa suka dan juga dendam pribadi yang sudah dipendam lama olehnya bila dipikir-pikir Bela tidak ada kaitannya dengan kematian ayah Bara dan juga Denada.


Namun di dalam diri Bela masih mengalir darah seorang pengkhianat dan pembunuh yaitu Prabu. Oleh sebab itu Bara tidak akan melepaskan dendam yang sudah berlangsung lama.


Beberapa menit kemudian akhirnya mereka sampai di kawasan rumah Bara Bara sengaja tidak membangunkan Bela karena gadis itu terlihat sangat indah dalam tidurnya.


Pikirnya seakan mengatakan lebih nyaman bila Bela tertidur daripada dia terbangun dan mengoceh tidak jelas seperti biasa yang menyebabkan telinganya sangat sumpek mendengar suara itu.


" Apa kau akan terus tertidur" ujar Bara setelah mobil mereka sampai di depan rumah Oma. Bara sengaja menunggu Bela cukup lama untuk terbangun namun dia telah terlelap dalam tidurnya nyamannya di sepanjang jalan. Hingga akhirnya Bara terpaksa membangunkannya.


Bela masih nyaman dengan tidurnya karena dalam lelap yang sebentar dia mampu merajut mimpi tentang keindahan alam mimpinya berjajar sebuah pohon-pohon indah sehingga tanpa sadar dia tersenyum dalam tidurnya.


" Bangunlah, kita sudah sampai" Bara kembali membangunkan Bela namun dia hanya tersenyum dan tidak ada respon untuk membuka matanya.


*Plak* pukulan yang cukup keras


"Aduh sakit tuan mengapa kau memukul lenganku dengan keras? " gerutu Bela sambil mengelus tangannya dan terlihat merah karena pukulan dari Bara.


Bela tersenyum sambil menggaruk-garuk kepalanya karena dia menyadari bahwa dirinya telah tertidur cukup lama dan senang merajut mimpi dalam lelapnya yang singkat.


" Maaf aku sangat lelah, Apakah kita sudah sampai di rumah oma? " tanya Bela dengan wajah kebingungan padahal sudah tahu jika mereka telah berada di halaman rumah oma tapi Bela belum menyadari itu.


"Bukalah matamu sebelum kau turun dari mobil" Ketus Bara sambil keluar dari mobil.


Bela segera menyadarkan dirinya sambil mengusap matanya dengan keras untuk menghilangkan kotoran-kotoran kehidupan yang sedang bergelut dengan matanya. Tubuhnya menggeliat untuk meregangkan otot-otot setelah perjalanan yang cukup panjang menuju ke rumah oma.


Seketika sikap Bara mulai berubah saat berada di rumah Oma, dia membukakan pintu mobil Bela seperti sepasang kekasih dan sangat romantis.


" Terima kasih Tuan " ujar Bela dengan senyuman yang lebar. Permainan peran akan dimulai kembali di hadapan oma.


Bara hanya menatapnya dengan wajah datar lalu mereka berdua masuk ke dalam rumah dan dengan inisiatif Bela menggandeng tangan Bara. Bara ingin melepasnya dengan paksa namun seketika dia ingat bahwa di dalam rumah oma harus berpura-pura jika mereka adalah sepasang kekasih yang bahagia.


Terlihat rumah cukup sepi karena Klara sedang dinas di luar kota, sementara itu Mario berada di dalam kamarnya dan oma pasti sedang berada di dalam kamarnya juga.


" Sepertinya oma ada di dalam kamar tuan" ucapan Bela didengarkan oleh Bara sehingga mereka berdua menuju ke kamar oma.


* klek* Bara membuka kamar oma dengan lembut.


"oma, makanlah. Sudah dari kemarin oma belum makan" seru suster sambil memegang sendok, dan siap menyuapi oma yang sedang terbaring di atas ranjang.

__ADS_1


"Tidak, seharusnya di hari libur ini mereka datang tetapi kenapa sekarang belum datang" gerutu oma seakan kesal dengan kedua cucunya yang belum datang juga yaitu Bara dan Bela.


Bara dan Bela melihat hal itu dari balik pintu secara diam-diam untuk memastikan perkembangan oma. Terlihat oma melakukan aksinya untuk mogok makan karena rindu dengan kedatangan Bara dan Bela.


Sebab mereka berdua di minggu kemarin tidak datang untuk menemui oma dikarenakan kondisi Bela yang melemah akibat pukulan yang dilakukan oleh bara.


" Aku tidak akan makan jika cucuku belum datang juga " mata oma terlihat memilukan, ucapannya sangat sedih bila menyangkut tentang kerinduan.


Tidak ada satupun orang yang akan mengatakan bahwa rindu itu nyaman. Namun kenyataannya rindu sangat mencekam dan membuat seseorang akan kehilangan kegembiraan dalam kesehariannya. Bahkan bisa dikatakan bahwa rindu datang terasa hari itu akan menyebabkan


Maka dari itu janganlah kalian memberikan sebuah rindu pada seseorang, jikalau engkau tidak berniat untuk pulang dan menemuinya. Karena rindu teramat mencekik sebuah kehidupan yang tak pernah putus untuk itu. B


" Oma, aku merindukan Oma "jerit Bela menerobos hadangan Bara yang sedang memegang knock pintu. Dia langsung berlari dan memeluk oma dengan erat.


"Bela sayang kapan kau datang? Oh sayang, oma sangat rindu padamu nak " sambutan hangat dalam pelukan oma.


Oma menangis melihat hal itu karena dia benar-benar dirundung oleh rindu saat Bela tidak datang di hadapannya di saat hari libur. Bahkan oma sangat mencintai Bela melebihi cintanya daripada Barat, seringkali oma mengingatkan bahwa Bara harus menjaga Bela dengan baik karena apabila Bela terluka maka oma akan menjewer telinga Bara.


Bara juga sangat terharu melihat adegan di depan matanya, dia memberanikan diri melangkah dan oma segera memeluk Bela dan Bara secara bersamaan dia meletakkan mereka berdua dalam dekapannya yang hangat sambil bercerita tentang rindu yang dipendam selama mereka tidak datang ke rumahnya.


"Aku sangat senang bila melihat oma tersenyum seperti ini" Batin Bara tersentuh saat merasakan kehangatan itu.


Tidak terasa dalam diam air mata Bara mengalir dan menetes, dia memalingkan wajahnya sambil menyeka air mata itu agar tidak terlihat oleh Bela.


Begitu juga dengan Bela air matanya mengalir serta ingin menceritakan banyak hal pada oma namun lebih baik dirinya memilih untuk memendam saja sebelum melepaskan pelukan itu. Bela menyeka air matanya untuk memastikan bahwa dirinya baik-baik saja tanpa harus mengeluarkan air mata.


"Suster Biar aku saja yang menyuapi oma, anda boleh pergi untuk beristirahat " Bela segera mengambil piring itu lalu dia menyuapi oma dengan lembut.


Sementara Bara duduk di ranjang oma sambil memijat kakinya seperti halnya dia lakukan sewaktu kecil. Bara rindu dengan keadaan ini dia juga rindu ingin memijat kaki oma dengan lembut serta tertidur di samping oma dengan belaian lembut dari oma yang sangat dia cintai.


"Bagaimana oma apakah masakannya enak" tanya Bela sembari menyuapi oma dengan sabar dan telaten.


" Oma rindu dengan masakanmu Apakah kau akan menginap di sini? " tanya Oma dengan tatapan Haru.


Sebenarnya Bela ingin menginap akan tetapi dia harus bersekolah besok. Matanya menatap Bara seperti ingin mengatakan sesuatu bahwa dia kebingungan karena besok harus bersekolah namun Bara membalas tatapan itu dengan memaksa Bela untuk tetap tenang dan menginap bersama Oma.


"Tenang saja oma kami akan menginap di sini, dan aku akan meminta izin pada sekolahmu " jelas Bara yang membuat hati Bela tenang.


Bela juga merasakan kesenangan karena bisa menginap bersama oma di rumah yang sangat ramai dan yang sangat dia rindukan salah satunya adalah Pak taryo Ayah angkat Bela.


" Terima kasih suamiku "ujar Bela dengan senyuman lebar yang sangat romantis.


Bara sangat jijik mendengar ucapan itu dan ingin marah pada Bela akan tetapi dia mengurungkan niatnya saat melihat oma tersenyum dengan kelakuan Bela yang sangat menyayangi suaminya.


Bahkan Bara terbungkam dengan sedikit senyuman emas saja, karena tujuan utamanya hanya untuk membahagiakan oma. Dan selebihnya dia akan meyakinkan pada oma bahwa Bela adalah gadis yang buruk suatu saat nanti, supaya oma tidak memikirkan Bela setelah dendam itu terbalaskan oleh Bara.


__ADS_1


__ADS_2