
Tante Klara mendekat pada Bela. Wajah damai gadis itu membuatnya sangat senang saat menatapnya. Dia kembali mengingat mendiang putrinya yang sudah berbeda dunia.
"Benar kata hatiku, tubuhmu mirip sekali dengan Denada. Aku harap Denada kembali datang ke rumah ini" Air matanya menetes dan dia duduk di samping Bela.
Tangannya lihai membelai rambut putri yang tertidur itu. Dia selalu mengingat saat Denada kedinginan dia akan memeluknya, saat Denada ketakutan dia akan membelai rambutnya dan menceritakan banyak hal tentang dongeng-dongeng yang asik hingga dia terlelap.
"Dimana aku" Bela terbangun dan membuyarkan lamunan Klara. Segera Klara menyeka air matanya dan menatap lembut pada Gela yang telah siuman dari lelapnya.
"Kamu sudah bangun nak? "
"Tante siapa? " Bela masih bingung karena yang dia ingat terakhir kalinya adalah sebuah gubuk yang terletak di pinggir sungai.
"Kenalin, saya Klara. Kamu bisa memanggilnya dengan tante Klara" Sejenak Bela terdiam melihat wanita paruh baya itu tersenyum dan mengulurkan tangannya.
Senyum khasnya membuat hati Bela tenang bila menatap lekuk indah senyuman di bibirnya yang terbentang dari ujung ke ujung. Rasanya seperti ada hal berbeda dari sorot mata wanita yang menatap Bela.
"Bela" Sahutnya dengan lembut, badannya masih terlihat lemah.
"Anak baik, sebentar ya saya mau menelpon dokter dulu" Klara segera menelpon dokter untuk memeriksa keadaan Bela.
Sedangkan Bara masih saja bersantai di ruang tengah dan asik memainkan ponselnya. Matanya terus fokus seperti mencari sesuatu di ponsel itu.
"Bara, kemarilah"
"Ada apa ma? " Bara bergegas menaik ke kamar atas untuk melihat keadaan yang sedang terjadi di kamar itu.
"Lihatlah, gadis itu sudah sadar"
"Syukurlah, apakah mama sudah menelpon dokter? "
"Sudah, sebentar lagi dia kesini" Bara mengangguk.
Dia segera mendekat ke arah Bela yang masih bingung melihat sekeliling kamar yang mewah itu. Sedangkan Klara segera turun kebawah untuk menyiapkan makanan yang akan diberikan pada Bela. Karena dia sangat senang melihat kembalinya seorang gadis mirip Denanda. Jadi dirinya ingin menyiapkan makanan sendiri.
Kesenangan tersendiri bagi seseorang yang pernah merasakan kehilangan. Melihat Bela rasanya dia menemukan kembali alasan untuk hidupnya setelah kematian putri tercinta secara tiba-tiba di masa itu.
"Kau sudah sadar? " Tanya bara saat diejnya mendekat pada Bela yang sudha membuka mata dari tadi.
"Siapa kau, dan dimana aku? Bukankah aku masih di gubuk itu? Lalu siapa yang mengganti pakaianku" Bela terus saja melemparkan pertanyaan pada Bara.
"Dasar gadis kecil, baru saja kau sadar dan sekarang terus mengoceh tidak jelas. Jika kau terus berbicara lalu aku harus menjawab pertanyaan apa dulu" Ketusnya dengan tatapan kesal.
Sedangkan Bela tidak mendengarkan kekesalan dari Bara. dia terus menatap setiap sudut rumah yang mewah. Bahkan rumah dirinya tidak sebanding dengan rumah ini. Hiasannya terlihat sangat menarik.
Di setiap tembok terpampang lukisan-lukisan terkenal yang pernah Bela lihat dari beberapa situs internet. Dan lampu-lampu yang menghiasi kamar juga terlihat sangat indah. Serta tataan marmer yang mewah.
"Hey aku disini, bisakah kau melihatku yang sedang bicara" Bentak bara saat dia berbicara tapi tidak diperhatikan oleh Bela.
Bela segera bangun dan duduk. Ia sandarkan tubuhnya di sandaran ranjang. Lalu netranya menatap ke arah Bara yang terlihat sangat marah.
"Hey tuan, kepalaku pusing dan kau tolonglah jangan marah-marah. Nanti kepalaku semakin pusing" Ujarnya dengan berani sambil memegang kepalanya yang masih pusing.
"Tubuh anak ini memang sama dengan Denada, tapi tuturnya tidak sama. Dia terlalu kasar dan Denada sangat lembut. Lihat saja, aku akan memberinya pelajaran" Batinnya kembali berbicara saat melihat sifat Bela.
Di lain sisi dia meraskaan bahwa pikirannya benar jika tubuh beka mirip dengan Denada. Akan tetapi di lain sisi juga dia meraskaan kekesalan pada gadis itu karena sikap Bela yang tidak lemah lembut seperti Denada.
Dia tersenyum licik untuk merencanakan sesuatu agar Bela dapat dimanfaatkan di rumah ini. Dan idenya telah muncul karena dia sangat benci dengan wanita yang banyak bicara seperti Bela.
"Bara, ada apa? " Tante Klara masuk sambil membawa makanan dan minuman untuk Bela.
"Tante tolong aku, tuan ini terus saja membentak ku sehingga kepalaku sangat pusing" Klara melihat ke arah Bara, sepertinya dia sudah tau dengan sifat anaknya yang satu ini. Karena sifat itu turunan dari ayahnya.
"Kemarilah nak, makanlah terlebih dahulu dan jangan hiraukan pemuda ini" Ucapnya sambil memberikan Isyarat pada Bara agar dia segera keluar.
__ADS_1
Bela segera melahap makanan dengan banyak. Rasa perutnya sangat koskng sehingga dia harus membersihkan sebutir nasi dari piring tersebut dan meneguk dengan kasar segelas susu.
*uhukkk, uhukkk*
"Pelan-pelan saja agar tidak tersedak" Bela mengangguk dan kembali minum secara perlahan.
"Dasar rakus" Bara kembali datang bersama dokter keluarga yang sudah dihubungi.
Dari raut wajah Bara terlihat jelas bahwa dia tidak menyukai gadis itu. Tapi dia juga tidak bisa menolaknya karena tubuh gadis itu mengingatkan dirinya pada Denada yang telah lama pergi.
"Permisi nyonya, tuan, saya periksa dulu ya"
"Silahkan dok"
Dokter menjalankan tugasnya untuk memeriksa Bela. Sedangkan Klara dan bara duduk di sofa samping, menunggu pemeriksaan tersebut selesai. Sebenarnya bara sangat malas, namun mamanya memaksa untuk tetap di dalam.
"Alhamdulillah keadaannya sudah membaik, mungkin menunggu 2 sampai 3 hari luka itu akan kering" Jelas dokter.
"Baik dok, terima kasih"
"Oh iya dok, jangan lupa periksa juga supir saya yang ada di bawah" Perintah Bara.
"Baik tuan"
Bela segera bangun kembali dan beranjak dari tempat tidur saat dia mendengar ucapan Bara tentang supir. Bela mengingat bahwa dia datang bersama pak Taryo, namun hingga saat ini dia belum melihatnya.
Wajahnya sangat jelas terlihat gelisah, karena Pak Taryo adalah orang satu-satunya yang berjalan bersama Bela melewati rintangan malam di tepian sungai. Dia tidak ingin Pak Taryo kenapa-napa.
"Kamu mau kemana nak? " Tanya klara kebingungan saaat melihat wajah Bela yang bimbang dan gelisah.
"Supir saya, pak Taryo tante. Dimana dia, apakah dia selamat" Wajah mungil yang sangat cemas.
"Tenang ya, kamu harus tenang. Pak Taryo yang kamu maksud sudah ditangani oleh dokter. Dan anak saya sudah mengurus semuanya" Jelas Klara.
Sedikit terlihat senyum dari Bela saat mengetahui bahwa pak Taryo juga ada disini dan diselamatkan oleh keluarganya tante Klara. Tapi tiba-tiba kepalanya kembali sakit dan meminta ijin pada tante Klara untuk istirahat.
Klara hanya tersenyum, membelai rambut Bela dan memberikan selimut seperti halnya dia lakukan pada Denada saat dia masih hidup. Klara berfikir bahwa Denada memberikan keceriaan melalui Bela.
*klek*
Baru saja dia terlelap sebentar, Tiba-tiba pintu kamar terbuka dan terlihat Bara dengan wajah dinginnya masuk ke dalam kamar. Bela terkejut dan langsung membetulkan posisinya dari tidur menjadi duduk kembali.
"Kamu jangan merasa jadi ratu disini hanya karena mamaku menyukai kehadiranmu" Bela terkejut dengan ucapan Bara dan wajahnya yang masih sama seperti kulkas 10 pintu.
"Hmmm, ternyata dia anak tante Klara. Kenapa beda sekali bagaikan langit dan bumi sifatnya" Batin Bela sambil menatap Bara dari ujung kaki dan ujung kepala.
"Apakah kamu mendengarkan ucapanku? " Bentaknya saat Bela masih tercengang.
"Tuan, aku tidak tuli dan aku tidak buta. Aku tau kau telah menyelamatkan nyawaku, dan aku juga bukan ratu seperti apa yang kau ucapkan" Sahut Bela.
Dengan tenang Bela menjawab pertanyaan dari Bara tanpa keraguan sedikitpun. Seperti tidak ada rasa takut dalam diri Bela, mungkin karena dia sudah terlatih dengan sikap ayahnya yang bahkan memiliki wajah lebih seram dari Bara.
"Berani sekali anak ini berbicara denganku" Batinnya heran, karena tidak ada yang pernah berani berbicara seperti itu padanya. Bara kembali memberikan sorotan tajam pada gadis yang berlagak di depannya.
"Bagus, jadi kau tau tugasmu sekarang kan? " Ucapnya sambil menatap Bela dengan pasti.
"Tenanglah, aku akan menjadi pelayananmu di rumah ini dan tidak akan memberatkan dirimu" Bela sudah terbiasa dengan sikap seperti itu. Dan dia sudah tau hal apa yang sedang diinginkan oleh lelaki yang berada di depannya.
Dari wajah Bara sudah terlihat bahwa dia tidak menyukai Bela. Dan dari pembicaraannya sudah terlihat jelas bahwa Bara menginginkan balas budi dari gadis tersebut.
Senyumnya terlihat puas, tanpa dia ucapkan Bela sudah tau isi hatinya. Akhirnya apa yang dia inginkan tercapai juga untuk menjadikan gadis ini sebagai pelayan di rumahnya.
"Bagus sekali pikiranmu, aku sangat suka" Ucapnya sekali lagi lalu dirinya bergegas keluar dari kamar tersebut.
__ADS_1
"Tapi aku tidak menyukai dirimu tuan arogan" Gumamnya dalam hati sambil mengejek Bara yang telah berlalu dari hadapannya.
Bela segera membersihkan diri di kamar mandi. Dia tau tubuhnya masih lemah, tapi bila terus-terusan bersantai di kamar maka tenanga itu perlahan akan menghilang dan membuat tubuhnya semakin gemulai.
Di dalam lemari sangat banyak pakaian yang sesuai dengan seleranya. Banyak pilihan celana jeans serta kaos dan kemeja. Bela bingung karena yang ada dalam lemari ini sesuai dengan gaya hidupnya.
"Apakah mereka peramal, sehingga sudah menyiapkan baju seperti yang aku inginkan. Hmm, sudahlah aku akan memakainya"
Dengan santai dia memilih salah satu kemeja dan celana jeans. Lalu berkaca di depan cermin yang besar dan terlihat sangat bagus. Bibirnya melebarkan senyum walau terlihat masih ada rasa sakit di wajah karena memar yang terlukis belum sepenuhnya menghilang.
"Tidak, tidak. Aku disuruh menjadi pelayannya. Jadi lebih baik menggunakan kaos saja" Dia lupa jika Bara menyuruh dirinya untuk membalas budi dengan menjadi pelayannya selama dia tinggal di rumah ini.
Akhirnya Bela menetapkan pada satu pilihan kaos berwarna merah. Terlihat sederhana namun kecantikannya yang natural masih sama. Karena dia tidak pernah mengenal make-up seperti saudaranya.
Dengan menggunakan baju itu, Bela terlihat mirip sekali dengan Denada. Tubuhnya yang ideal tidak bisa memalingkan wajah seseorang. Pasti mereka yang melihatnya dari belakang akan mengatakan bahwa itu benar-benar Denada.
"Wahhh, rumahnya bagus sekali" Baru saja langkahnya turun dari tangga, matanya sudah terpesona melihat kemegahan rumah itu.
Dia ternganga dengan seisis rumah, karena rumah itu 3 kali lipat besarnya dibandingkan tempat tinggal Bela dahulu. Bahkan ruangan tengah saja terlihat sangat luas seperti separuh lapangan bola.
Tataan marmer menghiasi setiap sudut, rasanya harga rumah ini sangat mahal. Bila di jual mungkin bisa membeli lapangan bola dan stadion, pikir Bela.
"Gila, ini bukan rumah tapi istana" Tertegun, terpesona dan terpaku menatap keindahannya.
"Kamu kenapa memakai baju itu" Bentakan itu membubarkan hayalan Bela tentang rumah ini. Dia segera menoleh ke sumber suara yang membentaknya.
"Ah tuan, kau mengagetkan aku saja" Sahutnya sambil tersenyum.
"Kau belum menjawab pertanyaan dariku, mengapa kau memakai baju itu? " Bara terlihat emosi saat Bela menggunakan baju Denada.
Benar dia meletakkan Bela di kamar Denada hanya untuk mengisi kamar yang kosong agar Bara tidak kesepian. Tapi bukan berarti dia menyuruh Bela untuk menggunakan barang-barang peninggalan Denada.
"Jadi begini tuan...... " Tanpa rasa takut Bela menjelaskan dengan singkat, jelas dan padat.
Dia berkata bahwa dia kesusahan mencari baju setelah dirinya membersihkan diri di kamar mandi. Dan saat membuka lemari, terlihat model setelan baju yang sama persis dengan lemari di rumahnya.
Lemari itu berisi baju kaos, kemeja, celana jeans dan sangat cocok sekali dengan karakter Bela yang sangat tomboi. Jadi dia memakainya karena ingin turun dan menjadi pelayan di rumah ini.
"Tapi aku tidak menyuruhmu untuk menggunakan baju itu, kau sangat lancang" Tuturnya sangat kasar membuat Bela terkejut.
"Ada apa Bara? Mengapa kamu terlihat sangat marah?" Klara datang dari kejauhan dan menghampiri Bara yang terlihat sedang memarahi Bela.
"Ohh, jadi nama dia adalah tuan Bara" Akhirnya Bela mengerti bahwa namanya adalah Bara. Karena selama ini dia hanya memanggilnya tuan dan tidak tau nama aslinya.
"Lihatlah ma, dia lancang sekali menggunakan baju Denada" Ketusnya dengan wajah kesal.
"Wahh, sangat cantik sekali" Jawaban yang tidak pernah di duga oleh Bara saat perkataan itu keluar dari bibir mamanya.
Bukannya memarahi Bela, akan tetapi mamanya memuji penampilan Bela saat menggunakan baju dari mendiang adiknya tersebut. Hal itu membuat Bara semakin marah.
"Mengapa mama memujinya, bukankah dia lancang? "
"Apakah kamu tidak suka jika melihat dirinya yang sama dengan.... "
"Cukup ma, memang dia sangat mirip. Tapi tidak dengan sikapnya" Sontak mamanya berhenti bergumam.
Klara segera duduk di atas sofa lalu dirinya terdiam. Tiba-tiba butiran air matanya keluar secara perlahan dan terlihat dari sorotan matanya menatap ke sembarang arah. Itu tandanya dia sedang memikirkan suatu hal.
"Tante, tante kenapa menangis?" Bela mendekat dan berlutut di hadapannya. Sedangkan Klara masih terdiam seribu bahasa.
Dirinya sangat pilu bila melihat air mata seorang ibu terjatuh, karena dia kan teringat dengan mendiang mamanya yang tidak pernah kembali jasadnya hingga saat ini.
__ADS_1