
Pertanyaan Sela tidak di jawab oleh Bela, seketika Sela hanya terdiam dan memeluk temannya yang sedang dalam masalah. Dia mengerti bahwa semua manusia memiliki masalah tapi beberapa hanya memendamnya sendiri tanpa harus bercerita pada orang lain.
"Terima kasih" Ujar Bela memecah keheningan diantara mereka. Bela ingin berdamai kembali dengan dirinya yang selalu merasa dicampakkan.
"Sudahlah, ayo turun. Aku ingin pulang" Hanya ucapan itu yang keluar dari mulut Bela.
Akhirnya mereka berdua turun dari tempat setinggi itu. Sebenarnya banyak yang ingin ditanyakan oleh Sela tentang Bela, mengapa dia berada disini lalu apa yang dilakukan dan kenapa harus berbuat itu. Namun Sela memilih untuk menyimpannya. Sebab dia tau hati Bela masih belum sepenuhnya tenang.
"Aku tidak tau apa yang kau alami, tapi aku yakin kau adalah wanita kuat. Aku berharap kau tidak melakukannya lagi" Bisik Sela sambil berjalan.
Bela mendengarnya, tapi dia lebih memilih untuk pura-pura tuli agar tidak banyak orang yang ikut campur dalam masalah Bela. Meski saat itu Bela takut bila Sela memberitahu semuanya pada tema-teman sekelas.
Tidak lama kemudian Bara datang menghampiri mereka berdua. Mendadak Bela hanya terdiam dan berbisik untuk Sela agar dia segera pergi karena kakanya sudah datang.
"Terima kasih, kau boleh pergi dan jangan mencemaskan aku. Sekarang kakakku sudah datang" Bisik Bela sambil memberikan isyarat pada Sela dan sesekali menatap Bara yang sedang berjalan dari kejauhan.
Sela menuruti perkataan Bela, dia segera pergi dan masuk ke dalam mobilnya yang terparkir tidak terlalu jauh. Sela tidak langsung pergi, dia membuka sedikit jendelanya hanya untuk memastikan bahwa temannya baik-baik saja.
Bela mencoba membersihkan dirinya seakan tidak terjadi apapun. Bela mengolah kembali emosinya untuk tetap tenang. Sebenarnya lama menstabilkan emosi, tapi Bela harus bisa.
"Kau kemana saja? " Bentak Bara pada Bela.
"Ah tuan, aku mencarimu di setiap sudut untuk membayar baju, dan kau malah menghilang. Untung saja aku tidak disita oleh mereka" Ujar Bela dengan nada seperti biasa.
"Bodoh, aku bilang suruh menunggu tapi kau malah keluyuran" Ketus Bara dengan nada tinggi.
*brak* Bara melemparkan barang belanjaan Bela. Dia datang ke toko itu untuk mengambil barang belanjaan yang sudah dipilih oleh gadis itu dan langsung membayarnya.
"Kau sudah membayarnya? syukurlah. Terima kasih tuan" Tutur lembut Bela sambil tersenyum.
Lalu mereka berdua masuk ke dalam mobil. Sela yang memandangi dari kejauhan merasa heran saat melihat senyum Bela kembali seperti semula di waktu yang hampir mengakhiri hidupnya.
Sela tidak mengerti masalah apa yang sedang dijalani oleh Bela. Yang dia tau bahwa Bela sedang depresi atau sakit hati dengan masalahnya jadi dia memilih untuk mengakhiri hidup.
Untung saja Sela datang tepat waktu, dia melihat Bela berjalan sendirian menuju ke parkiran atas dengan tangan kosong. Ternyata Bela ingin mengakhiri hidupnua, syukurlah Tuhan memberikan Sela sebagai penyelamatnya.
"Kau sudah aman bersama kakakmu, aku akan pergi" Gumam Sela dan dia pergi bersama supirnya.
Sebenarnya bukan tentang sakit hati yang membuat Bela ingin mengakhiri hidupnya. Tapi tentang perasaan yang sudah lelah dengan jalan hidup selalu sama saja seperti hari kemarin.
Dia hanya bisa mengambil salah satu pilihan yang datang dalam pikirnya. Pilihan pertama tetap diam dan harus menerima kehidupan yang tak pernah akur.
Dan pilihan kedua adalah pergi dari kehidupannya sekarang, lalu kembali ke kehidupan masa lalu bersama ayah dan saudaranya.Tapi Bela memilih pilihan terakhir yang tidak masuk dalam catatannya, yaitu mengakhiri hidupnya.
"Aku tidak punya pilihan dalam hidup, maka seterusnya aku akan menjadi pecundang yang selalu mengikuti perintahnya" Seru Bela dalam hatinya.
Dia merasa bahwa dirinya benar-benar menjadi robot yang selalu di setel oleh Bara. Jadi mau tidak mau harus mengikuti keinginan Bara walaupun hatinya sedang hancur.
Jalan satu-satunya hanyalah memberikan senyuma yang penuh dengan kepalsuan. Bila pikiran telah buntu maka tidak menutup kemungkinan untuk mencari jalan lintas kembali, yaitu mengakhiri kehidupan yang tak pernah adil.
"Kau pergi kemana tadi? " Tanya Bara dalam keheningan di dalam perjalanan pulang.
"Hmm aku pergi ke toilet" Jawab Bela bohong.
"Kenapa kau tidak pernah menuruti ku? " Ujar Bara.
"Bagaimana bisa aku menurutimu tuan sedangkan kau sangat egois" Gumam Bela dalam hati tapi tidak dapat dia keluarkan.
"Hmm karena jika aku menunggumu maka aku akan tertidur. Jadi aku memilih ke toilet untuk cuci muka, lalu ke parkiran dan menunggumu. Kalau aku masuk kembali ke toko itu, maka pelayan akan meminta bayaran padaku. sedangkan aku tidak memiliki uang" Jelas Bela panjang lebar.
__ADS_1
Bela membumbui skenarionya untuk menutupi kebodohan dirinya tadi. Dia bodoh karena berpikiran sanhgat dangakl dan ingin mengakhiri dirinya, padahal belum tentu juga dia diterima oleh malaikat maut.
Sebenarnya Bela juga penasaran dengan wanita yang berada di samping Bara tadi. Mereka berdua terlihat akrab dan Bara tersenyum saat berbincang dengan wanita itu, padahal Bara adalah tipe lelaki yang sangat dingin dan hampir tidak pernah tersenyum pada Bela.
"Aku akan segera pergi dari hidupmu tuan" Batinnya berseru, dan matanya menatap ke arah Bara.
"Kenapa kau menatapku? " Tanya Bara dengan keras.
"Ah itu dahimu berkeringat. Sebentar" Lagi-lagi Bela berbohong.
Tangan Bela sibuk mengambil tisu dan segera memberikannya pada Bara untuk mengelap keringatnya. Namun yang dia dapat adalah penolakan. Karena Bara ingin Bela yang mengelapnya.
"Kau saja yang lap, tanganku sedang menyetir" Bela hanya bisa menuruti ucapan Bara, akhirnya dia yang membersihkan keringat Bara secara perlahan. Kebohongannya berbuah hasil, karena Bara tidak curiga sama sekali pada Bela.
Kediaman Baratha
"Omaaa, aku rindu" Teriak Bela dan langsung memeluk oma yang sedang bersantai di ruangan keluarga.
Rindu sudah terbalaskan karena banyak halangan untuk datang ke rumah oma. Rasanya seperti sudah tidak bertemu bertahun-tahun. Hingga Bela memeluk oma dengan sangat erat.
Oma tersenyum lebar saat melihat Bela datang, tangannya menyambut dengan gembira dan meletakkan Bela dalam rangkulannya yang hangat.
Semenjak Bela keluar dari rumah keluarga Baratha, Bara menyewa pengasuh untuk oma. Dia bersyukur karena pengasuh itu bilang bahwa oma sudah berubah dan tidak pernah marah-marah pada sebelumnya. Hanya saja setiap malam selalu memanggil nama Bela jadi Bara membawa gadis itu untuk bertemu dengan oma.
"Oma juga sangat rindu padamu nak" Oma tersenyum sambil memberikan beberapa kecupan pada Bela.
Sedikit senyum Bara kembali terlintas saat melihat raut wajah oma yang memancarkan kebahagiaan saat kedatangan Bela.
Dia tidak tau kenapa harus memiliki dendam pada gadis di hadapannya, sedangkan gadis itu sangat mencintai omanya dengan tulus. Apalagi semenjak ada Bela hadir dalam kehidupan mereka, seakan dia telah merubah kepribadian oma yang dulu telah kembali dan menemukan kehidupan yang baru.
"Kamu sedang apa berdiam diri, sini peluklah oma mu ini" Tutur oma saat melihat Bara berdiri di belakang Bela sambil menatap mereka berdua.
Bara segera memeluk oma sesuai perintah. Seakan terlihat kemesraan yang dipertontonkan saat Bara dan Bela saling memelui oma. Sungguh hal lucu dan menggemaskan bagi oma, tapi tidak bagi mereka.
"Ayo kita makan" Oma menyuruh keduanya untuk makan terlebih dahulu.
"Mama kemana oma? " Tanya Bela penasaran saat melihat setiap sudut tidak menemukan Klara.
"Mama kalian pergi ke luar negeri 2 hari yang lalu untuk mengurusi bisnisnya" Sahut oma.
Memang mama Bara adalah wanita karir yang sangat mapan, tidak heran jika dirinya terus sibuk dengan bisnis yang dikelolanya.
"Kalau Mario" Tanya Bela dengan antusias "
"Dia sedang di dalam kamar, baru tadi malam pulang dari Olimpiadenya" Sambung oma membuat Bela tersenyum bahagia karena Mario sudah pulang.
Sedangkan Bara menatap sinis gadis itu, dia selalu merasa tidak nyaman apabila Bela dan Mario saling berdekatan. Padahal mereka berdua hanyalah sebatas sahabat dan teman sekolah saja.
Lalu mereka melakukan makan bersama di meja makan. Seperti biasa kasih sayang Bela dan perlakuan Bela pada oma tidak berubah. Bahkan pengasuh oma masih belum terbiasa dengan kebiasaan oma saat makan.
Jadi Bela memberi tau makanan yang dilarang untuk oma. Lalu kebiasaan oma setelah mekan yaitu tidak langsung pergi masuk ke dalam kamar, melainkan bersantai terlebih dahulu kemudian meminum obat.
"Oma, boleh aku panggil Mario? " Tanya Bela, membuat mata Bara sontak mengarah padanya.
"Boleh"
"Tidak"
Jawaban Bara dan oma secara bersamaan namun tak seiras. Bela bingung apakah dia boleh atau tidak memanggil Mario.
__ADS_1
"Oma? " Seru Bela kembali pada oma.
"Boleh, silahkan panggil Mario untuk ikut makan" Jelas oma.
"Dia sudah besar, tidak usah di panggil terus" Sambung Bara dengan ketus. Wajah cerianya kini terlihat muram dan ditekuk.
"Biarkan saja Bela yang memanggilnya, karena sudah dari tadi pagi dia belum keluar juga dari kamarnya" Jelas oma. Membuat Bara tidak bisa berkutik dan harus menyetujuinya.
Akhirnya Bela pergi ke depan pintu kamar Mario untuk memanggilnya. Dia juga rindu dengan Mario, apalagi Bela sudah lama tidak masuk sekolah karena sakit dan sekarang waktunya untuk bertemu Mario.
Sebelum mengetuk pintu, Bela berbicara pada pikirannya sendiri. Mencoba mengingat pada saat itu dia di usir oleh tuan Mario yang dingin. Namun semenjak mereka satu sekolah, kedinginan Mario sedikit meleleh.
*tok, tok, tok*
"Mario, Mario" Teriakan kecil dari Bela memanggil nama Mario.
Mario yang sedang rebahan sambil membaca buku tersontak kaget saat mendengar suara yang tidak asing masuk ke dalam telinganya. Lalu dia kembali terdiam sejenak takut itu hanya hayalan saja.
Dan Bela kembali memanggil nama Mario. Mario langsung terbangun dari tidurnya dan membersihkan diri sebentar. Kemudain dia membuka pintu secara perlahan dan terlihat Bela sudah berdiri di depan kamarnya.
*klek*
"Bela? Kapan datang? " Tanya Mario dengan wajah biasa. Padahal hatinya ingin mengungkapkan bahwa dia sangat gembira.
"Hai, aku tadi datang sama suamiku" Jelas Bela.
Wajah Mario berubah saat Bela menyebutkan bahwa dia datang dengan suaminya. Sudah jelas Bela datang dengan Bara, Mario tidak suka melihat hal itu. Dia hanya ingin Bela datang sendiri.
Karena dipikiran Mario, Bara adalah kakak yang kejam dan tidak pernah memiliki perhatian sedikitpun padanya, kecuali pada Denada. Dan semenjak kematian Denada kekejaman itu kembali menggunung.
"Hmm, aku kira kau sendri" Sambung Mario.
"Tidak mungkinlah, aku saja tidak tau jalan menuju rumah ini. Sudahlah ayo kita turun makan" Ajak Bela pada Mario.
Mario segera turun dari kamarnya dan mengikuti Bela dari belakang. Dan mereka semua bergabung di makan dan menikmati hidangan dengan tenang tanpa ada suara apapun.
Seperti biasa Bara dan Bela terlihat sangat mesra di depan oma. Bara sengaja melakukan itu untuk menutupi kepalsuan pernikahannya dan juga membuat Mario cemburu agar dia tidak mendekat pada istri kecilnya.
Hari menjelang malam, Bara berpamitan untuk pulang setelah puas bermain di rumah oma. Sebenarnya Bela tidak ingin pulang karena dia ingin terus bersama oma dan sekaligus belajar dengan Mario. Tapi itu hal yang mustahil jadi dia harus menuruti Bara.
"Oma kita harus pulang agar tidak terlalu malam sampai ke rumah" Pamit Bara pada oma.
"Apa kalian tidak mau menginap? " Tanya oma. Bela langsung tersenyum gembira saat mendengar itu. Karena dia ingin menginap dan menghabiskan waktu bersama oma.
"Tidak" Jawab Bara.
Baru saja Bela membuka mulut dan ingin menyetujui ucapan oma, tapi Bara lebih dahulu mengatakan bahwa mereka tidak menginap. Alasannya yaitu karena Bela besok akan sekolah.
Kekecewaan kembali didapatkan oleh Bela. Dia tidak bisa menginap di rumah ini, padahal tempatnya yang sangat ramai dan Bela tidak akan merasakan kesepian seperti yang dialaminya.
Sedangkan di rumah yang dia tinggali saat ini hanya ada kesunyian dan dia harus memasak makanan sendirian, apapun serba sendiri. Untung saja ada Alex yang mau menemaninya menjadi teman untuk tertawa.
"Sebentar, aku mau pamitan pada ayah dulu" Ujar Bela. Lalu dia berlari pergi kekamar pak Taryo.
Dia memeluk pak Taryo seperti ayahnya sendiri. Berbicara sejenak karena tadi pak Taryo sangat sibuk mengurus beberapa keperluan kebun dan rumah. Jadi Bela tidak bisa berbicara banyak hal dan menganggunya.
Dan sekarang Bela hanya bertemu sebentar dan menanyakan kesehatan pak Taryo, berbincang ringan dan hanya itu saja. Selebihnya dia berpamitan untuk pulang dan berkata akan mengunjunginya lagi di lain waktu.
"Yah jaga kesehatan ya, soalnya Bela sangat senang bila melihat ayah sehat dan terus banyak tertawa" Ujar Bela pada pak Taryo.
__ADS_1
"Iya, kamu juga. Jaga kesehatan dan jangan lupa untuk mentaati perintah suamimu. Dan kamu harus ingat bahwa setiap hidup ada bahagia dan ada tangis, jika kamu menemukan salah satunya maka kamu harus menyikapinya secara dewasa walaupun umurmu masih remaja" Nasehat pak Taryo pada Bela.