Antara Cinta Dan Mafia

Antara Cinta Dan Mafia
23. Jeweran Oma


__ADS_3

Sesampainya di dalam rumah semuanya terkejut dengan pemandangan itu. Tanpa banyak bicara Bara segera membawa Bela ke kamar, semua mata memandang heran setelah melihat apa yang lewat dalam sekejap itu.


"Istirahat lah disini, aku akan keluar" Ujar Bara penuh kepedulian.


"Tuan, aku ingin sekolah besok" Bela memohon kembali pada tuannya, dia takut bila Bara tidak mengijinkannya untuk sekolah.


"Apa matamu buta? " Bara kembali marah, bentakannya terdengar jelas pada gadis itu. Karena dia tidak ingin bila Bela bersekolah salam keadaan kaki seperti itu.


Bagaimana bisa gadis itu ingin bersekolah sedangkan kakinya sudah mengalami jahitan. Dia terus bersikokoh untuk pergi ke sekolah besok.


Bela sedia mendengarkan amarahnya denagn menggigit pidahnya seakan dia menyadari bahwa dirinya telah bersalah. Tapi di lubuk hatinya paling dalam tetap saja menentang perintah tuannya.


"Tapi aku bisa menggunakan tongkat tuan, karena kalau tidak sekolh maka aku bisa sumpek disini" Jelasnya kembali menampakkan wajah yang memilukan.


*tok, tok, tok*


"Masuk" Klara dan mario masuk ke dalam kamar Bara. Mereka ingin melihat keadaan Bela serta ingin mengetahui apa yang sedang terjadi pada Bela.


Untung saja nenek ada di kamar jadi dia tidak terkejut dengan kedatangan Bela yang dalam keadaan terluka.


"Bara, ada apa dengan istrimu. Mengapa dia terluka? " Tanya Klara penuh heran saya melihat kaki Bela sudah dalam keadaan di perban.


"Dia tertusuk paku" Sahut Bara singkat.


"Apa paku? Bukankah itu bahaya" Tanya Mario di sela-sela pembicaraan..


"Aku sudah membawanya ke dokter, dia mendapatkan sedikit jahitan" Ujar Bara kembali.


"Kasihan sekali anak mama" Klara mendekat dengan penuh tatapan sedih.


Dia membelai lembut rambut Bela seperti anaknya sendiri. Bela merasakan kehangatan dalam sentuhan itu. Bahkan dirinya terbuai dan tertidur di pangkuan Klara.


Setelah melihat Bela tertidur pulas, mereka semua keluar dari kamar. Sedangkan Bara masih berada di sofa dan memandangi Bela yang terlelap di ranjangnya.


Baru pertama kali dia memberikan ranjang itu untuk Bela. Pikirnya merasa ibah karena kejadian yang menimpa gadis kecil itu. Jadi dia mau berbagi ranjang untuknya.


Malam yang larut Bara tidur di atas sofa, sedangkan Bela menikmati empuknya ranjang Bara tanpa terbangun sedikitpun dari tidurnya.


"Bagaimana bisa dia tidur di sofa yang tidak empuk seperti ini" Gerutu Bara yang sangat terganggu tidru di atas sofa, karena rasnya tidka senyaman saat dia tidur di atas kasur.


Tubuhnya merasakan ketidaknyamanan saat tidur di atas sofa. Dia heran karena Bela tidak pernah mengeluh untuk tidur disana. Padahal sofa tidak seempuk ranjang Bara, makanya sekarang Bela bisa tertidur pulas.


"Dasar gadis bodoh, tidak pernah mengeluh apapun" Ketusnya seakan merasakan kekesalan karena Bela selalu diam dengan pikirannya sendiri.


Lalu malam lewat begitu saja, Bara tidur di tempat yang asing dan tidak merasakan kepuasan dalam lelapnya. Sedangkan Bela tertidur pulas tanpa terbangun sedikitpundan sedikit melupakan kelelahan dalam dunianya.


Pagi 04.00


"Sudah pagi rupanya, aku ingin mandi dan berangkat ke sekolah" Bela terbangun menyambut pagi. Namun dirinya bingung cara berjalan ke dalam kamar mandi.


Matanya terus mencari cara agar bisa sampai ke kamar mandi. Dia mengambil pakaian sekolah yang dibeli kemarin, Bara sudah meletakannya di samping ranjang.


"Ini bajunya, sepertinya kau harus berjalan pakai satu kaki saja dan berpegangan ke tembok" Tutur Bela sambil tersenyum.


Dia mencoba berdiri dengan memegangi nakas yang berada di samping ranjangnya. Bangkit dan membawa baju sekolah dengan wajah yang riang.


Dengan usaha yang susah payah akhirnya bela sampai di kamar mandi walau berjalan tertatih-tatih denagn bantuan dinding bersih menemani perjalanan singkatnya.


"Ahhh, cukup lelah berjalan dengan satu kaki. Mengapa dia pelit sekali tidak membelikan aku tongkat, dasar tuan payah" Kesal Bela yang terus berbicara pada Bara yang masih terlelap.


Beberapa menit kemudian Bela sudah selesai mandi. Dirinya sudah bersiap menggunakan baju sekolah dan ingin segera berangkat pergi. Padahal hari masih terlalu pagi untuknya.


Jadi dia harus membangunkan Bara dengan hatinya yang sangat terpaksa. Karena tidak mungkin jika dirinya harus pergi meninggalkan rumah dengan keadaan yang cukup mengenaskan karena berjalan dengan satu kaki saja.


"Tuan, tuan, tuan" Suara sedikit keras saat Bela memanggil Bara yang masih terlelap.


Namun tidak ada gerakan apapun, mungkin Bara masih terlena dengan mimpi indahnya pagi ini. Bela berusaha untuk membangunkan Bara karena dia ingin sekolah hari ini.


"Tuan, bangunlah" Tangannya sedikit menepuk tubuh Bara.


"Aaaa" Teriak Bela saat dirinya terjungkal.


*bruk*

__ADS_1


Kedua mata saling bertatapan, Bela terjatuh tepat di atas tubuh Bara. Hal tersebut dikarenakan Bela terlalu bersemangat membangunkan Bara sehingga dia lupa bahwa hanya berdiri dengan satu kaki.


Tubuhnya kehilangan keseimbangan dan terjatuh tepat di atas tubuh Bara. Untung saja masih ada selimut yang menutupi tubuh Bara sehingga mereka tidak bersentuhan langusng.


"Kau" Ujar Bara saat melihat gadis duduk di tubuhnya.


Bela melotot, jantungnya berdebar sangat kencang seperti genderang perang.


"Sedang apa kau disini" Ketua Bara.


"Maaf tuan aku terjatuh saat membangunkan dirimu" Ucap Bela dengan irama jantung yang masih sama.


Bela beranjak dan segera berdiri di samping Bara. Begitu juga dengan Bara, dia langsung terbangun dan duduk. Jantungnya berdebar kencang mungkin karena kejadian tadi.


"Ada apa kau membangunkanku? " Ujar Bara untuk menghilangkan kecanggjngan dari kejadian tadi.


"Aku mau sekolah" Ucap Bela sambil tersenyum.


Sebenarnya dirinya gugup dan canggung, tapi bagaimanapun juga dia harus mengatakan hal itu. Dan harus berhati-hati agar tidak terjatuh kembali seperti tadi. Itu hal yang sangat memalukan.


"Apa kau tidak lihat jika masih pagi, dan kau harus istirahat karena kakimu belum sembuh" Ujar Bara dengan kesal setelah melihat ponsel yang masih menunjukkan waktu pagi buta.


"Hmm tapi tuan, aku ingin sekolah. Bukankah engkau berkata bahwa pagi ini aku masuk sekolah? " Ujar Bela.


"Kepalamu terbuat dari besi" Ketusnya kembali mengucapkan dengan nada tinggi.


"Besi? " Tanay Bela dengan wajah polosnya.


"Iya, keras" sambung Bara.


Bela mengangguk, wajahnya masih dengan tatapan yang memilukan agar Bara memberikan belas kasihnya.


Bela terus merengek seperti anak kecil, telinga Bara mendengar itu juga tidak kuat jika terus menerus suara itu menusuk gendang telinganya. Akhirnya tanpa banyak bicara Bara segera beranjak dari tempat tidur menuju ke kamar mandi.


"Aku akan mengambilkan bajumu tuan" Ucap Bela dan kembali berdiri. Bara menghentikan langkahnya dan menoleh pada Bela.


Benar dugaannya yang berfikir buruk, Bela kembali tergelincir karena hanya berjalan dengan stau kaki dan terburu-buru.


"Aaaaa" Teriak bela kembali. Untung saja Bara berada di belakangnya dan langsung kembali menangkap Bela agar dia tidak terjatuh.


Bara memandang setiap celah wajah Bela dengan tenang. Sepertinya sudah timbul rasa dalam hati mafia kejam ini pada gadis kecil di hadapannya. Bagaimana tidak, jika memegang tangannya saja sudah cukup berdebar.


"Tuan, cengkeraman tanganmu cukup kuat. Apakah ada yang ingin kau katakan? " Bela membuyarkan pikiran Bara seketika itu.


"Iya, kau diamlah disitu karena aku bisa sendiri mengambil baju" Terlihat wajah kesal dari Bara.


Dia segera memegang kedua lengan Bela lalu melemparkannya ke atas sofa agar gadis itu tidak banyak terlalu jalan dan membuatnya terjatuh lagi.


*brak*


"Aduh, kakiku" Bara menoleh.


Dia sendiri yang melemparkan Bela dan dia juga yang khawatir dengan Bela. Dasar lelaki aneh, berani berbuat tapi takut jika istri kecilnya terluka. Sungguh keadaan yang tidak diperhitungkan dengan pasti.


"Tuan memperhatikan diriku? Wah sungguh hal indah bukan" Bela juga menatap saat Bara menoleh mendengar ucapannya yang kesakitan.


Bela tersenyum seperti biasa. Dia melihat bahwa Bara sudah perhatian padmaya.


"Tidak, kau bodoh" Ketus Bara dan kembali fokus memilih baju.


"Tidak juga" Sahut Bela kembali menampakkan wajah senyumnya.


Bara kesal dengan pikirannya sendiri. Dia segera pergi ke kamar mandi dan memikirkan perasaannya yang terus mendekat pada Bela. Padahal dia hanya ingin menjadikan anak itu istri bohongan, karena usia yang terpaut cukup jauh.


*klek* selalu saja pemandangan Bara setelah keluar dari kamar mandi seperti itu. Hanya melilitkan handuk di pinggangnya saja.


Bela mengetahui hal tersebut namun diam adalah kuncinya. Teriak pun tidak ada gunanya karena mereka sudah bersuami istri. Jadi Bela membiasakan diri dan berdiam tanpa menoleh sedikitpun.


"Sepertinya dia tidak punya malu" Seru Bela berbincang kecil dengan hatinya sendiri.


"Hey, kemana bajuku yang berwarna hitam kemarin? " Tanya Bara kembali, padahal tadi dia sudah memilih baju namun ada yang ketinggalan.


Bela menelan salivanya dengan kasar. Menarik nafas dalam-dalam, lalu berbicara dengan lantang tanpa menoleh sedikitpun.

__ADS_1


"Disana, sebelah kanan lemari tuan" ucapnya sambil menunjuk ke arah yang dia tau.


"Tidak ada, bisakah kau membantuku? " Ucap Bara tersenyum kecil.


"Tidak bisa, kakiku sakit aduhhh" Ujar Bela dalam teriakan palsu.


Dia tidak ingin melihat tubuh kelar yang selalu di pajang dan tanpa setelah benang. Tubuhnya memang indah namun Bela tidak ingin mengotori matanya dengan pemandangannya itu.


"Kenapa kau tidak menoleh? " Gertak Bara yang sudah berdiri di depannya.


"Ah sial, dia berdiri di depanku tanpa rasa bersalah" Wajah bela sedikit cemas.


"Ahh jadi begini tuan, aku sudah menunjukkan tempat bajunya. Apakah engkau masih belum menemukan itu? " Tanah Bela kembali untuk menjelaskan serta memastikan.


Kali ini Bela mengangkat kepalanya, namun matanya tertutup rapat karena tidak ingin melihat Bara. Hal tersebut membuat nara menyeringai.


"Baiklah, aku sudah menemukan" Ucap Bara membuat hati beka terasa lega.


Kali ini Bela sudah bernafas lega namun dia masih menutup mata dengan waktu yang cukup lama.


"Apa kau akan terus menutup matamu? " Jemari itu ia angkat secara perlahan, ternyata Bara sudah berdiri di depan Bela dengan pakaian yang lengkap.


"Huuuu" Hembusan nafas yang membuang rasa kesenjangan antara dirinya dan tuan di hadapannya.


*dreeet, dreeet*


"Halo, baiklah antarkan saja ke kamar atas" Bara menerima telpon dari seseorang.


Waktu masih pagi tapi sudah ada yang menelpon Bara. Dia menyuruh Bela untuk duduk sebentar dan jangan sampai turun dahulu sebelum dia menyuruhnya, Bela hanya bisa menurut.


*tol, tok, tok*


*klek*


"Ini tuan" Sepasang tongkat kruk dibawakan oleh pelayan laki-laki.


Dia sengaja memesan tongkat itu agar Bela bisa berjalan leluasa tanpa harus di gendong lagi. Sebenarnya kepedulian itu ada dalam diri tuan arogan, akan tetapi dia tidak pernah menyadari kepedulian yang telah diberikan pada Bela.


"Pakailah"


"Wahhh, asik. Akhirnya aku bisa berjalan kembali tuan" Teriak Bela dengan riang.


Tidak ada rasa bersedih atau malu untuk berjalan dengan tongkat, melainkan rasa gembira yang teramat besar dari wajah gadis lugu di hadapannya. Membuat mata Bara heran merapat hal itu.


Dengan senang hati bela mengajak Bara untuk segera turun karena dia sudah menggunakan tongkat itu. Mereka berdua segera turun untuk melakukan makan pagi.


Saat di tangga Bara memeganginya agar gadis itu tidak jatuh. Karena jika jatuh maka tamat riwayatnya terkena omelan oma.


"Bela, kemarin nak" Klara langsung beranjak dari tempat duduk dan membantu Bela berjalan. sedangkan Mario masih anteng bersantai di meja makan.


"Kamu kenapa? " Oma yang tidak mengetahui hal tersebut merasa sangat terkejut. Menantu kesayangannya terluka hingga menggunakan tongkat seperti itu.


"Kakinya menginjak paku oma"jelas Bara dengan santai smabil menikmati hidangan pagi.


"Apa? Kemarilah" oma sangat terkejut dengan hal itu, lalu dia memanggil Bara.


Bara segera mendekat pada oma, dia tidak tau apa yang akan dilakukan oleh oma. Karena dia hanya bisa menjelaskan sedikit, tapi Bara juga bersyukur karena oma hanya terkejut saja.


"Aduh oma sakit" Teriak Bara saat tangan oma menjewer telinganya.


Jeweran keras di dapatkan dalam pembukaan pagi. Sang mafia tidak bisa berbuat apapun karena dia hanya takut pada oma. Hanya kata maaf untuk bisa melepaskan cengkeraman erat jeweran oma.


Dia mendengarkan dengan patuh ocehan oma yang menyuruhnya untuk menjaga Bela. Oma selalu merasa bahwa Bela adalah harta berharga untuk Baar yang harus dilindungi, karena mereka sudah berstatus suami istri.


"Maaf oma, maaf, aku berjanji akan menjaganya" Kata maaf terus keluar dari mulut tuan arogan.


Dia terus memohon ampun dalam rasa sakit, sedangkan Klara dan Mario masih menahan tawa dengan kejadian yang ada di depan mata. Sungguh pemandangan yang lucu dan jarang mereka temui


Apalagi Bela, dia sungguh heran dengan Bara. Bagaimana bisa seseorang yang memiliki sifat dingin dan selalu membentak bahkan menatap dengan tatapan kematian hanya bisa patuh dengan seorang oma yang hanya mengeluarkan kekuatan jewerannya.


"Hahahah, terus oma jewer saja dia. Karena tidak menjagaku dengan baik" Ucap Bela penuh semangat untuk mendapatkan kesenangan serta menghilangkan keadaan yang tidak damai. Semua mata kembali tertuju pada Bela.


Bela sangat puas menertawakan Bara yang kesakitan karena jeweran oma. Bahkan dia berbicara agar oma melanjutkan jeweran itu. Setelah mendengar ucapan Bela, oma langsung melepaskan jeweran tersebut.

__ADS_1



__ADS_2