Antara Cinta Dan Mafia

Antara Cinta Dan Mafia
40. Pelayan Rumah


__ADS_3

Rasanya tidak ingin memperdulikan tentang hal itu, akan tetapi tatapan Beni seperti mengejek Mario dan ingin melakukan sesuatu.


Untung saja pesanan Mario sudah selesai dan dia segera menuju ke meja untuk memberikannya ke Bela. Tiba-tiba Beni juga datang dan ingin memberikan pesanannya pada Bela serta ikut duduk di meja itu.


"Ini Bel untukmu" Beni memberikan seporsi makanan untuk Bela.


"Etsss, Mario sudah membelikan untuk Bela. Lebih baik ini untukku saja"


Dengan wajah konyol Brandon datang tak diundang. Rupanya dia sudah memantau gerak-gerik Beni yang ingin mendekati Bela. Kali ini Brandon berada di pihak Mario, walaupun mereka jarang berbicara.


Brandon tidak suka melihat sikap Beni yang pecicilan dan ingin berbuat ulah. Jadi dia dengan sigap mengikutinya dan benar saja Beni berbuat ulah dengan mengacau percakapan Mario dan Bela.


"Apa-apaan sih, ini buat Bela" Beni tidak setuju dengan perebutan paksa yang dilakukan oleh Brandon.


"Tidak Ben, Bela sudah punya. Jadi kau duduk saja disini biar makan bersama-sama dan ini untukku saja"


Semangkuk mie berhasil Brandon kuasai. Beni tidak bisa berkata apa-apa karena dia berdiri di depan Bela. Jadi mau tidak mau Beni merelakan mie itu untuk Brandon dan mie dari Mario untuk Bela.


Mario tersenyum kecil melihat kelakuan temannya, ternyata Brandon lebih peka dari siswa yang lain. Mereka hanya sebatas teman tapi kepedulian Brandon melebihi dari teman.


Sepertinya ada bau-bau persahabatan antara Brandon dan Mario. Maklum saja Mario tidak pernah memiliki teman karena sifatnya yang dingin.


"Sudahlah Ben makan saja, lagipula Mario sudah membelikan ku mie" Bela membuka suara dan membuat Beni diam serta menyetujuinya.


Mereka makan dalam satu bangku, sedangkan Dira dan teman-temannya hanya bisa memantau karena mereka tidak bisa makan bersama sebab mejanya yang terlalu kecil jika diisi banyak orang.


Apalagi Mario tidak akan mau dekat-dekat dengan Dira yang selalu menjadi benalu dalam hidup serta pikirannya.


Pulang sekolah


"Sepertinya aku harus menunggu bus lagi" Bela berdiam diri di halte bus.


Tiba-tiba Beni datang dan juga ikut menunggu disana, sedangkan Mario masih berada di dalam sekolah untuk mempelajari lebih banyak tentang matematika sebagai persiapan olimpiade yang akan diadakan bulan depan.


"Sendirian aja? " Sapa Beni saat melihat Bela sendirian menunggu bus.


"Eh Ben, kau juga nunggu bus? "


"Iya, bukankah tadi pagi kita satu bus? " ujar Beni dan Bela menjawab dengan anggukan saja.


Kemudian pikirnya mengingat bahwa Beni tadi sudah menolongnya dan dia harus membalas budi Beni.


"Ehmm makasih ya sudah menolongku saat di dalam bus" Bela membuka suara untuk mengucapkan Terima kasih atas hal tadi.


"Terima kasih saja? " Tatapan Beni mengharapkan sesuatu yang lebih dari sekedar Terima kasih.


"Hmm begini saja, aku ingin mentraktir mu besok di kantin" Ucap Bela sebagai tanda balas budi atas apa yang sudah Beni lakukan.


"Kantin? "


Ada hal yang terselubung, sebenarnya bukan karena Beni tidak mau makan di kantin akan tetapi dia menginginkan lebih dari Bela yaitu ingin makan di luar seperti ngedate.


Lewat kata dan tatapannya Beni memberikan isyarat tapi Bela tidak mengetahui isyarat yang Beni berikan. Bela juga tidak menyadari bahwa Beni menyukainya pada pandangan pertama.


"Iya kantin" Sahut Bela dengan wajahnya yang polos.


"Kenapa tidak di luar saja? " Benar aaja, Beni menawarkan makan di luar namun Bela masih berfikir.


"Hmmm, karena.... "


Bela terdiam, tidak mungkin dia berkata bahwa suaminya tidak mengizinkan Bela untuk kelayapan dan makan di luar. Apalagi dia jalan bersama seorang laki-laki lain.


Bara tidak suka apabila Bela dekat dengan lelaki lain, jadi Bela sibuk mencari alasan dengan bertanya-tanya pada pikirannya kali ini untuk menjawab pertanyaan Beni agar tidak salah jawab.


"Karena apa? "


"Hmm, mamaku tidak mengizinkan aku keluar malam. Jadi aku tidak bisa pergi ke tempat lain" Alasan yang tepat dari Bela untuk menutupi pernikahannya.


"Kita bisa makan di hari minggu"


Beni terus memaksa agar Bela mau diajak makan di luar bersamanya. Dia sudah terpesona dengan Bela dari awal, jadi ingin rasanya lebih dekat lagi dengan Bela.

__ADS_1


Akan tetapi Bela tidak kehabisan akal karena saat ini dia hanya bisa patuh pada Bara walaupun kadang hatinya bertentangan dengan apa yang Bara lakukan.


"Mama melarang ku untuk makan d luar, katanya lebih enak makanan di rumah" Alasan terus Bela berikan sebagai penolakan yang terselubung.


"Lalu tadi di sekolah? "


"Karena aku terpaksa. Sudahlah, itu busnya sudah datang" Mengakhiri perkataan adalah keputusan yang tepat.


Untung saja bus yang mereka tunggu telah tiba jadi Bela tidak memikirkan banyak alasan untuk menolak Beni secara halus.


Saat ingin masuk ke dalam bus, Bela tidak menyangka ternyata Mario juga masuk ke dalam bus yang sama. Padahal yang Bela ketahui bahwa Mario tidak pernah naik bus karena dia selalu di jemput oleh supir pribadi.


"Sedang apa dia disini, apakah ingin mengikutiku? " Gumam Bela dalam hati.


Tapi Bela memilih diam dan duduk di bangku belakang, Beni mengikutinya dan Mario juga tidak mau kalah. Akhirnya mereka duduk bertiga dan Bela di tengah.


Sungguh pemandangan yang menakjubkan, seorang wanita cantik diapit oleh kedua lelaki yang tampan. Satunya lelaki dingin dan penyayang, satunya lagi lelaki pecicilan dan ambisius mengejar cinta pertamanya.


"Apakah kau setiap hari juga naik bus? " Tanya Beni pada mario yang duduk di samping kanan Bela.


"Bukan urusanmu" Ketusnya.


"Tapi kau terlihat sebagai anak orang kaya, dan tidak cocok di bus ini" Sambung Beni penuh dengan sorotan mata dengan tanda tanya.


"Kau tidak mengenalku" Ketus Mario.


"Ah kalian terlalu berisik, lebih baik aku turun saja dan mencari bus lain" Bela merasa terganggu oleh pertengkaran ambigu yang mereka berdua lakukan. Sehingga dirinya ingin segera turun dan berganti bus.


"Tunggu" Mereka berdua dengan kompak menahan kedua tangan Bela dan tidak membiarkan Bela pergi.


Persaingan cukup ketat antara Mario dan Beni, akan tetapi Bela merasa risih karena mereka berdua. Bela tidak mengerti hal apa yang mereka rebutkan saat ini. Karena Bela tidak menyadari bahwa mereka berdua sedang merebutkan cintanya.


Bela juga tidak bisa kemana-mana, dia harus duduk diantara mereka berdua hingga bus berhenti. Tapi rasanya Bela seakan menjadi patung yang terus diapit oleh keduanya.


Beberapa menit kemudian Bela turun di suatu tempat, begitu juga dengan Mario mengikuti Bela turun disana. Sedangkan Beni tidak bisa melakukan apapun karena rumahnya masih sangat jauh.


"Hati-hati Bel" Sapa Beni dengan senyuman.


Sebenarnya Mario juga ingin tau tempat Bela pindah sekarang, karena tidak mungkin dia bertanya pada Bara yang memiliki sifat sensitif serta cemburuan. Jadi dia memilih ikut dengan Bela untuk mengetahui kediamannya.


Awalnya Mario terkejut, ternyata Bela tidak tinggal di apartemen melainkan tinggal di sebuah rumah yang terletak di tengah-tengah kota.


"Ini rumahmu sekarang? " Tanya Mario dengan tatapan heran.


"Iya, apa kau mau ikut masuk sekalian melihat-lihat rumah ini" Bela memperkenalkan sedikit di balik pintu gerbang besi yang cukup besar.


"Apakah kak Bara ada di dalam? "


"Entahlah, aku tidak tau"


Mario tidak ingin bertemu dengan Bara, karena setiap Bara melihat Mario bersama Bela maka sungutnya akan muncul dan dahinya mengekrut menatap dengan kekesalan dalam pikirannya.


Untuk menghindari hal tersebut maka Mario menghindar untuk bertemu dengan Bara. Hal itu lebih baik daripada berhadapan dengan Bara yang bersifat arogan.


"Sepertinya lain kali saja aku kesini, oh iya mana nomor ponselmu bukan kah tadi kau cerita bahawa kak Bara membelikan ponsel baru? " Ujar Mario.


"Oh iya ini, kau simpan nomorku biar nanti kalau ada sesuatu yang aku tidak tau maka bisa menghubungimu" Bela memberikan ponselnya pada Mario.


"Baiklah"


Mereka bertukar nomor ponsel, setelah itu Mario memilih untuk pulang. Sebenarnya dia ingin pergi ke dalam, tapi tidak ingin bertemu dengan Bara.


Sebaiknya dia pulang terlebih dahulu dan memastikan jika Bara sudah tidak ada maka dia akan berkunjung lagi ke rumah itu untuk menjenguk Bela.


"Ahhh sungguh menyebalkan, rumah sebesar ini kenapa tidak ada pembantu" Teriaknya kesal menatap setiap sudut rumah yang besar tanpa seorang pelayan satupun.


Karena sepulang sekolah dia harus membersihkan rumah dan menyiapkan makanan untuk makan malam. Tubuhnya terasa sangat remuk jika harus melakukan hal itu setiap hari.


Dia juga membenci Bara karena memperlakukannya sebagai pembantu dan tidak pernah merasa kasihan. Bara memiliki aturan dan tidak boleh ada yang merubah sedikitpun.


"Memang orang jahat dan pelit, tidak bisakah dia menyewa satu orang saja untuk menbantuku. Aaa ingin rasanya aku pukul"

__ADS_1


Keluh kesal Bela luapkan walau hanya bergumam sendirian sambil duduk di atas lantai dengan pasrah.


Tubuh kecilnya mulai lelah setelah menyiapkan semua makanan dan juga membersihkan rumah. Kini Bela terkapar di atas sofa dan terlelap bersama peluh yang menempel di bajunya.


*ceklek*


Saking pulasnya tertidur, suara pintu saja dia tidak terbangun. Masih tenang dengan lelap yang dia rasakan setelah susah payah membereskan rumah yang cukup besar.


"Gadis ini, sepertinya dia bosan tidur di atas kasur" Gumam Bara sambil duduk di sofa depannya.


Dia memperhatikan Bela yang sedang asik dalam mimpinya sendiri. Bara ingin membangunkannya tapi tidak jadi. Saat dia mengambil air di dapur, pandangannya tertuju pada hidangan makan malam yang sudah siap di atas meja makan.


Sejenak bibirnya tersenyum dan kepalanya menggeleng kecil setelah mengetahui bahwa istri kecilnya sudah lelah memasak dan menyiapkan makan malam untuknya.


Bara merasakan bahwa Bela selalu menjadi wanita bertanggung jawab walaupun mereka hanya berstatus sebagai pasangan palsu. Akan tetapi Bela selalu memenuhi tanggung jawab istri untuk melayani suami, kecuali hubungan suami istri.


"Apakah kau akan terus tertidur gadis kecil? "


Wajah Bara mendekat, jarak diantara mereka sangat dekat sekali dan hampir bersentuhan di wajah. Bisikan Bara masih saja tidak di dengar oleh Bela.


Sebenarnya ada sedikit rasa tidak tega melihat gadis kecil itu lelah sendirian membersihkan rumah sebesar ini dan juga harus memasak sepulang sekolah. Tapi bagaimanapun ini hukuman kecil agar dia tidak sibuk mencari lelaki lain.


*swarrr*


"Aaaa" Teriak Bela setelah air dingin disiramkan ke wajahnya.


Bara sengaja melakukan itu agar Bela segera bangun dari lelapnya karena hari sudah malam. Cara itulah yang cukup ampuh setelah bisikannya beberapa kali tidak membuat gadis itu sadar.


Selalu menyiram Bela, Bara duduk dengan santai sambil memandangi gadis itu dengan wajah dan tubuh yang basah karena siramannya.


"Tuan apa kau.... " Bela menghentikan ucapannya.


"Aku kenapa? "


"Kau gila" Ucapnya dalam hati. Namun tidak bisa ia keluarkan di hadapan Bara.


"Kau kenapa datang tiba-tiba dan menyiram ku tuan? " Ketusnya dengan kesal. Karena Bara sudah membangunkannya dengan cara yang jahat yaitu menyiram Bela menggunakan air dingin.


"Terserah aku karena ini rumahku" Bara selalu benar dan dia tidak pernh salah.


"Lalu? "


"Bekerjalah dengan baik" Bara kembali mengeluarkan perintah.


"Sungguh kau menyebalkan, sudahlah aku mau ganti baju dulu. Oh iya makanan sudah siap dan kau makanlah dengan kenyang" Kesalnya.


Bela pergi ke dalam kamar dan membersihkan dirinya. Wajahnya terlihat sangat kesal karena Bara memperlakukan dirinya seperti seorang pembantu yang harus menuruti perintah yang dibuat olehnya.


Bela mengomel sendiri di dalam kamar hanya untuk meluapkan kekesalan yang sedang sibuk bergelut dengan pikirannya. Tidak ada jawaban nyata yang pasti dia ngomel sendiri.


"Sudah rapi" Ujar Bela sambil berdiri di depan cermin dengan setelan baju yang bersih dari sebelumnya.


*grokkk, grokkk,* Suara perut Bela berbunyi cukup keras.


"Malas sekali ingin makan bersamanya, tapi aku lapar" Meringisnya kecil membuat wajah Bela terlihat sangat lucu.


Banyak sekali tingkah gadis itu, bukannya marah dengan Bara tapi dia hanya mengomel dengan kesal saja. Beberapa detik kemudian kembali berubah seperti baik-baik saja.


Dengan terpaksa dia keluar dari kamar dan ingin makan, ternyata Bara belum menyentuh makanan. Dia menunggu Bela keluar dari kamarnya untuk makan.


"Apa kau belum makan tuan? " Bela menatap semua makanan dan belum ada satupun yang tersentuh oleh Bara.


"Matamu buta? " Ketusnya.


"Tidaklah, aku melihat piringmu kosong. Jadi aku bertanya, siapa tau itu piring keduanya" Sahut Bela santai.


Tanpa ada jawaban dari Bara, Bela mengerti dengan hal tersebut. Ia segera menyiapkan nasi dan lauk di piring Bara seperti biasa.


Melayani tuannya dengan ramah walaupun hatinya masih kesal karena hal tadi. Dia sudah sangat cekatan dalam melakukan tugasnya, Lama-lama dirinya akan terbiasa dan kelak saat mendapatkan suami sungguhan maka pikirnya sudah merasa tenang karena telah menguasai pelajaran menjadi istri disini.


"Dia tidak suka sambal kan? " Batin Bela berseru bersamaan dengan senyuman kecil di bibirnya yang penuh kelicikan untuk membalaskan dendam kecil pada tuannya yang begitu arogan kepada Bela.

__ADS_1



__ADS_2