
Tidak terasa senja telah tiba maka Bela membawa oma duduk di tepi pantai sambil menatap senja. Senyum oma kembali terlintas dengan lepas seakan hatinya berdialog bersama senja yang datang secara tiba-tiba dengan begitu indah.
"Lihatlah Denada kembali walau sebentar lagi dia akan pergi" seru oma sambil menggenggam erat tangan Bela.
"Lihat oma senyum Denada terlukis di garis cakrawala bahkan senyumnya tidak akan pernah hilang seakan keindahan senyum senja yang menyapa " seketika ucapan Bela seperti seorang yang sedang bersyair.
Tapi kenyataannya memang benar bahwa hati Bela sangat ingin memberikan gambaran pada oma bahwa Denada tersenyum seperti senja di atas sana.
Tidak akan ada yang bisa mengalahkan senyuman itu karena di hati mereka pun masih tercatat nama Denada sebagai wanita hebat dalam hidupnya, sementara itu Mario juga menikmati senja sedangkan Bela tidak tahu pikiran apa yang sedang terlintas dalam diri Mario.
Matanya berkaca-kaca seakan dia ingin menangis namun tertahan, tatapannya begitu melekat dengan senja seperti ingin menyampaikan sesuatu dalam hatinya walau Bela sendiri tidak tahu itu apa.
"Apa yang sedang kau pikirkan mario, sepertinya banyak luka yang kau oendam sehingga matamu tidka bisa membohongi ku" batin Bela berseru, sambil menatap ke arah mario yang asik bercengkerama dengan senja di atas awan.
Lalu pandangan Bela kembali teralihkan pada Bara dan juga duduk di samping oma. Mata Bara juga terpaku dengan senja namun tidak ada satupun kalimat yang keluar dari mulut Bara. Tidak ada pujian dan tidak ada perkataan ataupun perbincangan bersama senja.
Matanya juga terlihat biasa saat menikmati senja namun Bela tidak tahu jika hatinya bergetar hebat seakan merasakan kehadiran Denada kembali dengan penuh tawa.
" Oma senja akan segera menghilang lebih baik mari kita pulang agar oma tidak masuk angin " ajak Bara pada oma.
Dia khawatir pada oma jika hari sudah malam dan mereka masih tetap saja di tepian pantai. Sedangkan angin akan berhembus semakin kencang bila malam telah tiba. Jadi Bara ingin membujuk oma agar segera pulang.
"Baiklah oma akan pulang namun setelah senja itu pergi" sahut oma, tidak ada yang membantah hal itu karena mereka juga tahu bahwa senja adalah kesenangan bagi oma dan mereka juga tidak tahu kapan lagi akan menikmati senja seperti itu.
Karena Bara tidak memiliki banyak waktu begitu juga dengan Mario dan Bela yang sebentar lagi akan naik ke kelas 3 dan sibuk dengan pelajarannya. Jadi apapun yang oma mau mereka akan menurutinya hingga membuat oma puas dengan pikirannya sendiri seakan ingin dipeluk senja.
Bersama perginya senja maka pergi pula kesedihan oma. Oma mencoba untuk tetap tegar walaupun sebenarnya rasanya hancur bila mengingat senja pergi bersama nama Denada.
Kemudian mereka pulang dan meninggalkan pantai yang mengalun lembut bersama deburan ombak. Dan berharap suatu hari nanti bisa kembali datang ke sini menatap senja diiringi dengan burung camar yang sedang bernyanyi.
* krok* suara perut Bela berbunyi sehingga oma menatap lembut wajah Bela yang sedang tersenyum dan tersipu malu.
"Bara kita berhenti di resto makan ya sepertinya istrimu sedang kelaparan" perintah oma pada Bara.
" Baik oma" Bara segera melajukan mobilnya dan mencari resto makan terdekat.
Hingga sampailah mereka di sebuah resto yang menghidangkan aneka olahan laut. Dan seperti biasa perhatian Bela pada oma tidak akan pernah hilang. Bela selalu mendahulukan untuk melayani oma makan. Kemudian dia juga melayani Bara sebagai suaminya, tidak lupa dia juga membantu Mario sahabatnya.
" Mario Apa kau mau ikan ini" tanya Bela Setelah dia selesai melayani oma dan suaminya.
" Jelas sekali aku mau" sahut Mario dengan senang mendengar tawaran dari Bela.
Dia langsung memberikan piringnya pada Bela untuk meminta lauk itu. Bara menatapnya dengan sinis, Bara benar-benar tidak menyukai pemandangan yang berada di depannya itu.
Namun dia juga tidak boleh egois karena di depannya ada oma dan harus tetap tenang serta tidak boleh membuat keributan. Dan makan malam itu juga berjalan dengan baik dan tenang bersama alunan hembusan angin yang lembut meresap pada mereka yang penuh dengan kebahagiaan.
Apartemen Sisil
"Sialan, hidupku sungguh sialan. Dan dia adalah pecundang yang pernah aku temui " lagi-lagi Sisil meracau tidak jelas setelah minum beberapa botol. Kehancuran membuatnya gila hingga meneguk beberapa botol minuman keras dan membuatnya mabuk.
Hidupnya sudah hancur berantakan semenjak rumor yang beredar karena hampir semua perusahaan menolak kerjasama lagi bersamanya.
Apalagi manajernya sudah tidak bersamanya karena dia juga baru sadar bahwa Manager yang tidur bersamanya hanya memanfaatkan kemolekan tubuh Sisil untuk memuaskan nafsunya saja.
Sungguh malang nasib Sisil dan selalu luntang-lantung tidak ada kesibukan serta menghabiskan uangnya begitu saja untuk biaya hidup di kota itu. Sedangkan dirinya tidak memiliki pemasukan lagi seperti dulu.
" Kau tahu aku akan menjadi orang kaya nomor satu di Indonesia, tapi bohong" ucapan Sisil terus melantur tidak jelas. Dalam kekosongan jiwa yang meraung di dalam apartemen yang sunyi. Hanya tinggal dia sendiri tanpa siapapun yang berada di sampingnya.
Dirinya berbicara pada tembok, pada sprei, pada boneka dan banyak benda mati lainnya hampir setiap hari hal itu dia lakukan. Hanya alkohol yang dia minum, makan seadanya karena benar-benar mental Sisil telah dirombak habis-habisan dan dihancurkan bersama gugurnya karir menjadi model.
Di kehidupan ini semuanya bersikap adil baik itu takdir ataupun perjalanan waktu yang mereka lalui, apa yang mereka tanam akan mereka tuai sendiri. Dulu Sisil yang mencampakan Bara dan menghianati cintanya dengan berkata bohong untuk mengejar karir menjadi model akan tetapi kenyataannya dia mengejar lelaki dan berganti-ganti pasangan.
Namun kali ini keadaan berbanding terbalik karena Sisil yang mengejar-ngejar Bara untuk menolongnya menjadikan seorang model lagi, sungguh hal yang lucu karena dia tidak pernah tahu bahwa kehancuran karirnya adalah campur tangan Bara yang disengaja untuk membalaskan dendam.
"Tuhan apa salahku Kenapa kau memberikan kehidupan ini Tuhan? " teriak Sisil melenting dalam ruangan yang ditemani oleh kegelapan sunyi dalam hatinya. Sungguh dalam sekejap saja hidup Sisil telah menjadi gila.
__ADS_1
Jika tidak menginginkan hal buruk terjadi pada hidup, maka menjadilah orang baik untuk mendapatkan hal yang baik. Tuhan itu adil sebenci apapun kalian pada hidup, Tuhan akan tetap sayang untuk memberikan yang terbaik dalam perjalanan hidup itu.
Namun ada yang akan kalian terima dalam seripa perjalanan baik itu buruk atau baik yang dinamakan karma dan tidak bisa dirubah karena hal itu diciptakan oleh diri sendiri.
Hidup memang tak semudah apa yang kita lihat namun tak semudah juga apa yang kita jalani. Hanya butuh keberanian untuk keluar dari jalan hidup yang suram dan memperbaiki kesalahan di masa lalu untuk menyambut masa depan yang cerah serta melupakan masa-masa kelam yang menyakitkan.
Rumah Baratha
"Lelah sekali rasanya tapi aku sangat senang karena bisa membantu oma menikmati senja" ujar Bela berbicara dengan dirinya sendiri sambil rebahan di dalam kamar.
Dia segera bersiap diri untuk beristirahat di malam ini karena tubuhnya terasa sangat lelah setelah berlarian di sepanjang pantai bersama oma, Mario dan juga Bara.
Bela merebahkan dirinya untuk menikmati empuknya ranjang karena tubuhnya terasa remuk. Untung saja dia sudah memijat kaki oma dan membuatnya tertidur agar oma tidak merasakan sakit seperti yang dia rasakan saat ini.
" Apa kau senang dengan perjalanan ini? " baru saja bila ingin memejamkan mata tiba-tiba Bara masuk dan menanyakan hal tersebut.
"Tuan jelas aku sangat senang menikmati senja apalagi menikmati senyummu yang begitu lepas di samping pantai" jelas Bela dengan penuh semangat.
Seketika Bara terdiam karena dia merasa enggan untuk membicarakan kepribadiannya yang terasa hilang saat merasakan keindahan pantai seperti tadi.
"Tuan Apakah kau tidak senang dengan hal tadi?" Bela kembali bertanya saat melihat wajah Bara berubah menjadi datar kembali tidak seperti tadi yang melepaskan semua beban dalam pikirannya sehingga terlihat keceriaan dalam wajah Bara.
" Diamlah" Ketus Bara.
" Sungguh kepribadian ganda " gerutu Bela lalu membenamkan wajahnya di bawah selimut serta memberikan sebuah guling sebagai pembatas agar Bara tidak kembali memeluk dirinya saat tertidur.
Bara tidak menjawab pertanyaan itu, dia segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Malam itu Bela tertidur dengan penuh waspada karena takut Bara menyentuhnya kembali. Namun nyatanya tidak bisa dipungkiri walaupun ada pembatas di tengah-tengah mereka, akan tetapi tetap saja hal itu terjadi karena mereka berdua tidur seranjang bukan berbeda tempat.
Pagi
" Tuhan Kenapa setiap bangun tidur bersamanya selalu seperti ini" keluh Bela dengan wajah memohon sambil menatap ke atas.
Lalu dia bergegas secara perlahan untuk keluar dari dalam pelukan itu karena setiap dirinya terbangun rasanya Bela tidak ingin melihat Bara karena rasa canggung.
"Selalu saja bangun tidur kau pergi secara diam-diam dariku " suara Bara terdengar jelas membuat Bela berhenti melakukan aksinya dan pura-pura tidur.
Dia tidak tahu harus bergerak bagaimana lagi karena dirinya sangat kesal dengan kejadian itu namun hatinya juga merasa malu karena setiap dia bangun tubuhnya selalu dalam pelukan Bara.
Saat Bara membuka matanya lagi-lagi melihat ekspresi lucu dari Bela yang pura-pura tertidur dengan bola mata masih bergerak walaupun matanya masih terpejam.
\* Cup\* Bara mengecup salah satu pipi Bela.
Bela langsung membuka matanya dan menatap pada satu arah. Seketika dirinya membeku sedangkan jantungnya berdebar begitu kencang. Lalu tangannya mengusap pipi tersebut untuk menghilangkan bekas ciuman dari Bara.
__ADS_1
Rasanya Bela ingin segera menghilang dan menampar Bara dengan keras, akan tetapi tapi dia tidak bisa melakukan itu karena Bara sudah pergi ke dalam kamar mandi.
Bela hanya terdiam dengan ekspresi lucu yang menyedihkan ingin berkata namun tidak bisa lalu kembali menghayal apakah Bara telah menyentuhnya atau tidak. Dan tiba-tiba khayalan itu kembali melihat dengan bibirnya sendiri yang meracau tidak jelas.
"Pipiku ternodai" Ujar Bela dengan nada sedih namun wajahnya sangat lucu. Ingin rasanya mengabadikan momen saat Bela memberikan wajah lucunya dan disebarkan pada orang banyak sehingga bisa membuat mereka tertawa.
Bela segera beranjak dari tempat tidur dan mengambil baju ganti untuk mandi di bawah karena dia tidak ingin melihat Bara setelah dia mencium pipinya.
Saat Bela melangkahkan kakinya dia kembali lagi karena lupa menyiapkan baju ganti untuk Bara. Walaupun mereka tidak memiliki rencana untuk menginap, baju Bara dan Bela masih ada beberapa yang sengaja ditinggal di rumah ini untuk jaga-jaga apabila ada keadaan genting yang mengharuskan mereka untuk menginap seperti halnya pada saat ini.
" Aku istri pura-pura mu tuan tapi kenapa kau melecehkan pipiku. Apakah tidak ada hukum tentang pelecehan pipi ini? ah sungguh sial hidupku" gumam Bela tidak jelas sambil berkaca dan mengelus pipinya yang sudah tidak suci karena ciuman Bara yang datang secara tiba-tiba.
Ekspresi bibir Bela sangat lucu terlihat manyun namun tidak bisa marah karena dia hanya bisa menerima dan melakukan apa yang sesuai dengan takdirnya. Setelah itu baru Bela beranjak pergi dan mandi di bawah secara diam-diam.
Beberapa menit kemudian......
" Huh segar sekali Aku sudah mandi dan menyuci pipiku dengan sabun hingga menghilangkan bibirnya dalam ingatanku" ujar Bela sambil menghirup udara segar setelah keluar dari kamar bawah.
"Bela mengapa kau mandi di kamar bawah ini? Bukankah di kamarmu juga ada kamar mandi? " tanya Mario saat melihat Bela keluar dari kamar ruang tamu.
" Ahh benar aku memiliki kamar mandi di atas tapi suamiku sedang mandi jadi aku mandi di bawah saja" sahut Bela pada Mario.
Saat Bela melihat waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh tapi Mario masih berada di rumah dan tidak berangkat ke sekolah padahal waktu itu sudah sangat krusial dan bisa telat masuk dalam kelas.
"Tunggu Mario Kenapa kau belum memakai seragam, bukankah seharusnya kau sudah berangkat sekolah" Bela mengejar Mario sambil menanyakan hal tersebut.
" Hari ini libur Bela, bukankah kau sudah tahu? " Mario kembali melemparkan Pertanyaan pada Bela.
"Tidak" sahut Bela sambil berfikir.
Ternyata Bela tidak mengetahui jika hari ini libur dikarenakan ada rapat guru untuk membahas ujian akhir sekolah jadi Bela tidak perlu untuk meminta izin karena dirinya menginap di rumah oma.
__ADS_1
~~~~ BERSAMBUNG ~~~~