
Perbincangan cukup sengit antara Dira dan juga Sela. Mereka berselisih paham antara satu dan yang lainnya.
"Kau... " Tangan Dira mengepal dan siap menghantam Sela yang berdiri di hadapnya. Akan tetapi hal itu tidak bisa dia lakukan karena ada sebuah tangan yang menahannya.
Tangan itu tidak lain milik si tampan Brandon. Brandon malas memperhatikan keromantisan Beni saat menolong Bela. Jadi dia memilih pergi dan tidak sengaja melihat perdebatan mereka berdua.
"Aihh, kau ini selalu bikin masalah. Ingin menampar orang sembarangan, kau pikir dirimu algojo apa? " Tegur Brandon sambil mengenggam tangan Dira.
"Diam" Bentak Dira sangat keras.
Lalu dia menarik tangannya yang masih ada dalam kepalan tangan Brandon. Dan Dira segera pergi dengan membawa kekeslaan dalam hatinya.
Karena niatnya balas dendam tidak tersampaikan sehingga menambah belas luka yang menumpuk menjadi dendam dan berjanji akan membalas Bela kembali.
"Ihh malah pergi" Ucap Brandon saarlt melihat Dila pergi begitu saja.
"Kau tidakk apa-apa Sela? " Tanya Brandon dengan ramah. Tapi kembali lagi Sela menghiraukannya.
Brandon sangat suka memberikan perhatian pada Sela, berharap mereka berdua berbicara dengan lembut daan menjadi teman. aAan tetapi tidak pernah ada respon dari niat baik yang dia lakukan. Apalagi sifat Sela yang pendiam, pintar, dan jarang banyak bicara. Dan juga memiliki kecerdasan bicara tingkat dewa setelah melakukan debat di manapun.
Dan kekurangan Sela adalah, tidak memiliki teman dan tidak mudah untuk didekati oleh siapapun. Hampir mirip degan Mario, tapi Sela lebih sering tersenyum dan tertawa daripada Mario.
"Inilah gadis, di tolong bukannya Terima kasih tapi malah pergi" Ujar Brandon sambil mengoceh dan menatap kepergian Sela. Lalu Brandon juga ikut pergi ke kelas.
Sementara itu Bela merasa canggung karena telah ditolong oleh Beni. Pikirnya tidak ingin dekat-dekat dengan Beni tapi malah menjadi sedekat itu di beberapa detik yang lalu karena sebuah bola.
Mau tidak mau Bela harus mengucapkan terima kasih karena Beni, dia selamat dari benturan bola basket yang melayang bebas mengarah ke kepalanya.
"Hmm, makasih Ben sudah menolongku" Tutur lembut Bela mengucapkan terima kasih pada Beni.
"Ah kamu, tenang saja. Aku akan selalu melindungimu" Sahut beni dengan tatapan penuh arti.
"Hmm tapi apakah hanya terima kasih saja untukku? " Tanya Beni kembali dengan tatapan yang tersembunyi.
"Maksudmu? " Bela tidak tau apa yang dimaksud Beni.
"Bagaimana jika kau mentraktir ku makan nanti malam? " Bela sudah menduganya, pasti abeni akan meminta hal yang tidak akan pernah bisa Bela lakukan.
"Kalau makan di kantin aku mau, tapi kalau makan di luar sudah ku bilang bahwa aku tidak bisa" Lagi-lagi penolakan keluar dari mulut Bela.
Sudah dua kali Beni mengajak Bela keluar untuk makan tapi Bela selalu menolaknya. Kemarin dengan alasan dilarang oleh mamanya karena makanan di luar tidak baik.
Dan sekarang tanpa alasan lagi dia menolak Beni yang ke sekian kalinya. Karena Bela tau dia tidak akan pernah bisa keluar dari rumah kecuali dengan ijin tuannya yaitu Bara.
"Kenapa? "
"Kau brisik, alasannya sudah ku bilang kemarin. Sudahlah aku akan ke kelas" Bela kesal karena Beni terus saja memaksanya.
Agar tidak tersiksa dengan permintaan Beni, dia pergi meninggalkan lapangan dan berjalan ke kelas. Namun yang tidak dia duga adalah Beni mengikutinya dan berjalan di samping Bela.
Ingin rasanya Bela menegur tapi dia tidak bisa, karena kelas mereka sama dan arahnya pun juga sama. Tidak mungkin juga blBeni berjalan memutari sekolah untuk sampai ke kelas.
Sepulang sekolah Bela kembali menunggu di halte bus seperti biasa. Akan tetapi menunggu bisa sangat lama dan tidak seperti biasanya sebab bus yang biasa dia naiki tidak datang dengan waktu yang sudah di tentukan.
"Ah sial, kenapa bus tidak datang sih. Aku sudah menunggunya setengah jam disini" Kesal Bela yang menunggu bus namun belum datang juga.
Tubuh mungilnya sibuk mondar-mandir sambil mengoceh tidak jelas. Dirinya meracau sambil mencaci bus yang datang terlambat. Karena bus itu, dia akan pulang terlambat juga.
Matanya sibuk melihat ke kanan dan ke kiri tapi juga tidak menemukan mobil Mario untuk menumpang bersamanya. Karena Mario sudah pulang terlebih dahulu karena harus belajar lagi dengan ketat untuk persiapan.
Ingin menelpon Alex tapi dia tidak ingin menganggu pekerjaan sahabat suaminya itu. Karena tadi pagi dia sudah berkata bahwa jangan menjemput dirinya.
"Naik taksi saja" Idenya baru muncul, namun saat melihat dompetnya dia melupakan sesuatu.
Dia hanya membawa uang saku untuk makan saja karena sebagian uangnya dia tabung untuk pergi ke kotanya suatu saat nanti.
__ADS_1
"Sungguh kau gadis bodoh bela" Ujarnya menghardik dirinya sendiri karena membawa dompet dengan isi uang yang cukup untuk naik bus dan makan di kantin tadi.
*tinnn, tinnnn*
Sebuah motor melaju ke arahnya. Seseorang mengendarainya dengan menggunakan seragam sekolah yang sama dnegan Bela. Tapi dia asing dengan motor itu karena tidak pernah melihatnya.
"Hai, mau pulang bersamaku? " Ternyata dia adalah Beni.
"Kamu, bukankah biasanya naik bus? " Bela bertanya balik pada Beni.
"Iya karena saat itu motorku masuk bengkel dan sekarang sudah sembuh" Sahutnya sedikit menjelaskan.
"Sembuh, dia pikir orang" Batinnya berseru sambil menatap aneh pada Beni.
"Ayo, pulanglah bersamaku" Ajak Beni kembali pada Bela. Karena dia tidak mungkin meninggalkan Bela berdiri sendiri di pinggir jalan sambil menunggu kepastian bus yang belum datang.
Bela hanya bisa terdiam, pikirannya masih kembali bergelut. Jika dia tidak ikut Beni, maka Bela harus menunggu bus sangat lama hingga nanti sore.
Akan tetapi jika dia ikut pulang bersama Beni, maka Bara akan marah karena sudah pulang bersama dengan orang asing. Lagi-lagi pikirnya bimbang dalam lamunan.
"Bela, kamu memikirkan apa? Apakah kamu tidak ingin pulang? " Ucap Beni sambil memukul kecil lengannya sehingga dapat membubarkan seluruh lamunan Bela.
"Ah maaf, baiklah aku ikut denganmu" Tidak ada pilihan lain, akhirnya Bela memilih untuk ikut bersama Beni. Karena dia tidak ingin menunggu lama-lama di halte bus yang membuatnya stres karena suasana halte kosong dan sepi.
Hati Beni sangat senang, karena dia berhasil membujuk Bela untuk ikut dengannya. Beni sudah menyelipkan nama bela dengan pandangan pertama saat pertama kalinya mereka bertemu di dalam bus.
Sedangkan Bela memilih untuk menjauh dari Beni karena tidak ingin memberikan harapan yang lebih terhadap orang baru. Karena Bela hanya merasa nyaman dengan Brandon dan Mario.
"Aku harap tuan Bara tidak melihatnya" Rasa ketakutan terus terucap dalam batin bela.
Terakhir kalinya dia mengingat bahwa Bara pernah memukulnya hingga babak belur hanya karena melihat sebuah kesalahpahaman saat itu. Dimana saat Brandon berani merangkul Bela dan terlihat oleh Bara.
Kali ini dia tidak ingin hal itu terulang lagi. Bela bisa memaklumi jika yang dipilukul adalah tubuhnya. Tapi dia takut jika yang di pukul Bara adalah anak orang yang sedang memboncengnya saat ini.
Karena hanya terdengar suara motor dan mobil yang bersautan di sepanjang jalan. Sedangkan suara Bela dan Beni dalam kesunyian, tidak ada percakapan apapun diantara mereka.
"Kamu kenapa Bela? " Beni hanya ingin bertanya banyak hal pada Bela agar mereka semakin dekat.
"Tidak apa-apa" Sahut bela dnegan santai.
"Lalu mengapa diam"
"Capek lah bicara terus, memangnya aku harus cerewet sepertimu apa" Ketus Bela.
Beni hanya tersenyum kecil seperti memikirkan sesuatu dalam benaknya. Dia mengambil ancang-ancang untuk ngebut di jalanan agar Bela berpegangan padanya.
*brummm, brummm*
"Apa yang kau lakukan, apa kau ingin aku mati? " Teriak Bela dengan kesal. Tangannya memegang bahu Beni sambil meremasnya.
"Hentikan, jika kamu tidak berhenti maka aku akan loncat" Teriakan penuh ancaman. Beni mendengarnya dan dia langsung mengerem secara tiba-tiba.
*critt*
"Buk" Kepala mereka berdua saling berbenturan. Untung saja ada helm yang melindunginya, jika tidak mungkin otak keduanya sudah bergeser.
"Kamu tidak apa-apa" Tanya Beni dengan rasa bersalah setelah motor itu berhenti di pinggir jalan.
"Diamlah, ini semua karenamu" Wajah Bela menampakkan ras kekesalannya. Karena Beni telah mengerem mendadak membuat jantung Bela bergetar.
"Maaf, aku hanya ingin kita cepat sampai" Sahut Beni.
"Aku akan turun" Bela mengancam sambil turun dari motor.
"Apa kau yakin turun disini? Jalan ini sangat sepi, katanya pernah ada preman yang lewat dan akan menculik seorang wanita manapun saat mereka berjalan sendirian" Beni menakut-nakuti Bela agar tidak pergi darinya.
__ADS_1
Bela menelan salivanya dnegan cepat. dia merasa ngeri mendengar hal itu. Tentang penculikan bukanlah lelucon. Karena saat ada penculik maka ada korban yang bersiap untuk kena mental. Akhirnya Bela mengurungkan niatnya dan kembali naik ke motor untuk ikut pulang bersama Beni.
Beni kembali tersenyum karena kebohongannya dipercaya sehingga Bela kembali ikut pulang bersamanya.
"Tunjukkan arah rumahmu" Ucap Beni pada Bela. Karena dia tidak tau arah rumah Bela yang baru.
Bela menunjukkan jalan pada Beni. Dan beberapa menit lagi mereka akan segera sampai di rumah yang Bela singgahi. Bela mencoba tenang dan tarik nafas, bahwa Bara tidak akan keluar rumah setelah mereka sampai.
"Hmm Ben, aku turun sini saja ya" Ucap Bela tiba-tiba mencoba menghentikan Beni agar dia tidak terus berjalan ke depan gerbang rumahnya.
"Ahh tidak Bela, disini sangat sepi. Lagipula bukankah rumahmu sudah terlihat" Sahut Beni sambil mengarahkan telunjukknya pada sebuah rumah yang cukup mewah tapi hanya sendirian.
"Ah tapi aku ingin turun disini" Ucap Bela kembali. Dan Beni tidak mendengarkan itu karena mereka berdua sudah sampai di depan gerbang.
Para penjaga sudah menatap mereka berdua. Mata Bela seperti merasakan hal buruk lagi yang akan terjadi padanya. Karena tidak mungkin penjaga akan diam saja jika melihat dirinya bersama lelaki lain.
Bela mengerti bahwa Bara akan marah besar. Sebab salah satu penjaga sudah masuk ke dalam rumah. Pikiran buruk sedang nenyelimuti dirinya.
"Wah besar sekali rumahmu" Beni memuji istana yang indah di depannya. Rumah besar dan diisi oleh seorang ratu seperti Bela, pikir Beni.
"Ini bukan rumahku tapi milik kakaku" Bela menyangkal perkataan Beni, dan berbohong bahwa itu rumah milik kakaknya.Beni hanya mengangguk percaya dengan ucapan Bela.
"Terima kasih ya Ben" Bela membuka pembicaraan kembali serta mengucapkan terima kasih. Berharap Beni segera pergi agar tidak bertemu dengan Bara.
"Apakah aku boleh bertamu di rumahmu? " Bela tidak mengerti lagi menghadapi Beni, padahal dia ingin bersembunyi agar tidak ketahuan abara dan menyuruh Beni pergi. Akan tetapi Beni mengulur waktu yang membuat Bara akan keluar dari dalam rumah sebentar lagi.
"Iya lain kali" Ucap Bela secara terburu-buru.
"Kenapa tidak sekarang, aku ingin berkenalan dengan keluargamu"Beni tetap saja menyebalkan. Karena dia terus memaksa agar Bela mau menerimanya untuk bertamu.
*grek.grek* Belum sempat Bela menjawab pertanyaan Beni, pagar depan telah dibuka dan benar saja pikiran Bela telah menyatu karena Bara keluar dari dalam rumah.
"Bela" Teriak Bara membuat keduanya langsung mengalihkan pandangan dan menatap ke arah suara itu.
"Dia siapa? " Tanya Beni.
"Dia..... "
"Kenalkan aku suaminya" Mata Bela terbelalak saat mendengar ucapan Bara. Bagaimana mungkin Bela harus mengakui bahwa Bara adalah suaminya tepat di depan teman sekelasnya. Jika hal itu menyebar, maka habislah riwayat Bela di sekolah.
"Suami Bela?" tanya Beni dengan heran. Dan tangannya juga sopan menyambut uluran tangan perkenalan dari Bara.
" Tidak, tidak, kakaku sedang becanda. Lebih baik kamu pulang saja, dan lain kali aku akan mentraktirmu di kantin ya" Bela memaksa Beni untuk pergi dan mendorong tubuhnya serta melepaskan uluran tangannya yang masih di pegang oleh Bara.
"Cepatlah pergi, sebelum kakaku marah" Bisik Bela kembali.
"Baiklah, dahh Bela" Beni melambaikan tangan dengan senyuman. Lalu dia melakukan motornya dan pergi dari hadapan mereka.
Bela segera membalikkan tubuhnya dan melihat jika Bara sudah memberikan wajah yang pahit. Tatapannya tajam dan siap memangsa dirinya. Tanpa banyak bicara Bara langsung menarik Bela dan menyeretnya ke dalam rumah.
Emosinya kembali tersulut karena Bela sudah berani pulang bersama lelaki lain. Bara sungguh sangat membenci hal itu, karena dia tidak suka jika Bela dekat dengan lelaki lain.
*brak*
"Aduhh" Bela meringis kesakitan saat Bara melemparkan tubuhnya ke dinding.
"Bagus sekali, aku sudah memberimu uang untuk pergi naik taksi tapi kau malah berboncengan mesra dengan lelaki lain" Ujar Bara sambil tersenyum.
Tubuhnya kembali mendekat dan mencengkeram dagu Bela dengan kasar. Dia pandangi mata Bela yang sedang dirundung ketakutan.
Jantung Bela berdetak kencang, dan dirinya sudah mengambil ancang-ancang untuk menahan kerasnya pukulan yang akan dilayangkan dari tangan Bara dan sebentar lagi akan diterima olehnya.
"Kau tau, terakhir aku bilang jangan pernah dekat dengan lelaki lain walau itu teman sekolahmu. Apa kau lupa? " Bentak Bara dengan kesal. Bela hanya menjawabnya dengan gelengan kepala saja. Hal itulah semakin menambah amarah Bara.
__ADS_1