
Sepulang sekolah Bela berjalan santai saat keluar kelas. Tiba-tiba Beni datang menghampiri untuk memberikan selamat pada Bela tanpa tau alasan yang pasti.
"Hey, selamat ya" Beni datang mengulurkan tangan namun Bela masih terdiam, lalu Beni meraih tangan Bela untuk menyambut jabatan tangan itu.
"Selamat untuk apa? " tanya Bela heran.
"Selamat karena kamu sudah mengikuti seleksi melukis, kamu menyukai seni bukan? "Jelas Beni seakan-akan dia mengetahui apa kesukaan Bela.
Mereka berdua berbincang-bincang saat keluar dari kelas sedangkan Mario memperhatikan hal itu. Begitu juga dengan Brandon dan Sela, mereka tahu tatapan Mario tidak biasa pada Bela dan Beni yang sedang asyik berbicara.
"Itu kan masih seleksi Beni belum tentu juga lolos tapi bagaimana kau tahu jika aku mengikuti seleksi "tanya Bela sambil memberikan tatapan menyelidik pada beni dengan tajam.
"Jelas saja aku tahu aku kan penggemarmu " sahutan yang tidka masuk akal dari Beni sambil mencubit kecil pipi Bela.
Seakan-akan mereka berdua menampakkan kemesraan seorang kekasih, hal itu semakin membuat otak Mario mendidih karena tidak setuju dengan apa yang mereka lakukan.
"Cepatlah apakah tidak ingin pulang, kak Alex menunggumu " teriak Mario tiba-tiba menegur Bela saat dirinya masih asik berbincang-bincang.
Mario memberikan tatapan yang sangat lucu sehingga membuat Sela dan Brandon memperhatikan wajah itu dan membuat mereka berdua tersenyum seperti mengetahui bahwa Mario menyukai Bela lebih dari sekedar sahabat.
" Buru-buru amat coy aku masih berbicara dengan Bela "ujar Beni menepuk tipis tangan Mario. Dengan cepat Mario melemparkan tepisan tangan itu.
Tatapan Mario semakin kesal dan sangat dingin dia tidak suka bila ada seseorang yang mendekati Bela apalagi saingannya yaitu Beni.
"Aku tidak berbicara denganmu aku berbicara pada Bela "ketus Mario dengan nada penuh penekanan.
Beni hanya tersenyum melihat Mario, dia merasakan bahwa Mario putus asa karena melihat mereka berdua sedang berbicara sangat mesra. Apalagi Beni merasa senang sebab dia sudah memegang pipi Bela dengan lembut tadi.
Mereka berdua sibuk berdebat antara Beni dan juga Mario sedangkan Bela sangat malas mendengar perdebatan mereka berdua yang tidak tahu tentang hal apa. Akhirnya Bela pergi meninggalkan mereka berdua tanpa banyak bicara lagi dan segera pergi dan masuk ke mobil Alex.
"Sepertinya tidak ada gunanya kalian berdebat karena Bela sudah pergi "seru Sela memecah pertengkaran mereka berdua.
Mario dan Beni segera melihat sekeliling, benar saja bahwa mereka tidak menemukan Bela. Mario segera pergi meninggalkan Beni untuk mengejar Bela ternyata dia tidak menemukan Bela karena gadis itu telah pergi beberapa menit yang lalu untuk meninggalkan perdebatan mereka berdua.
"sial "pekik Mario dengan kesal.
Lalu dia pergi meninggalkan kedua sahabatnya yang masih berdiri di belakang Mario dan menatap kejadian lucu di depan mata mereka.
Sedangkan Beni dia pulang dengan gembira sambil mengendarai motornya dengan senyuman khas karena telah berhasil mencubit pipi Bela dan selama ini dia impikan.
Ternyata kebahagiaan itu sederhana dn tak perlu mahal. Kebahagiaan itu dapat tercipta dengan hati yang bersyukur walau mendapatkan sedikit. Begitulah tentang beni, dia sangat bahagia hanya karena mencubit pipi Bela dan berharap lain kali dapat mengenggam tangan Bela.
Sementara itu di sekolah Ana.
Roy telah menunggu Ana di gerbang, tidak lama kemudian Ana datang dan menyusul Roy karena mereka telah memiliki janji. Tidak lupa Ana memberitahu El untuk pulang terlebih dahulu dan beralasan bahwa dia ingin pergi kerja kelompok bersama rekannya.
"Kupikir kau tidak datang "ujar Roy pada Ana.
"Bagaimana bisa aku lupa dengan janjiku. Tapi kau ingin membawaku ke mana?" Tanya Ana dengan sangat lembut namun tidak mendapatkan jawaban dari Roy.
__ADS_1
Tanpa banyak bicara Roy berjalan menelusuri suatu perkampungan serta persawahan dan Ana hanya bisa mengikuti langkah tersebut walau dia tidak tahu kemana mereka akan pergi.
Ana juga tidak terbiasa dengan jalanan yang mereka lalui karena melewati persawahan serta melewati trotoar dan rasanya cuaca sangat panas dan tidak cocok di kulit Ana.
"Kenapa, apakah jalanan ini menyiksamu? Lebih baik kita hentikan saja " senyum Roy menyeringai karena dia tahu bahwa Ana tidak akan tahan dengan perjalanan yang mereka lalui. Dan Roy yakin jika sebentar lagi Ana akan menyerah.
Berbeda dengan Bela apapun akan mereka jalani asalkan berdua walau saat ini hanya Roy sendiri yang akan menjalani itu karena Bela telah tiada di sampingnya lagi.
Roy tetap saja melanjutkan perjalanan dengan santai dan tenang sedangkan Ana masih sibuk dengan perjalanannya sendiri bahkan dia sampai melepas sepatu saat melewati persawahan karena rasanya sungguh tidak nyaman bahkan dirinya menyesal karena tidak membawa sandal.
* Gubrak *
"Aduh kakiku, Roy mengapa kau tega sekali padaku "teriak Ana dengan kesal saat melihat dirinya jatuh namun Roy tidak peduli.
Tidak lama kemudian Roy menghentikan langkahnya dan berbalik berjalan menuju arah Ana, dia hanya berdiam dan berdiri tanpa melakukan apapun.
"Apakah kau tidak ingin menolong ku Roy ?"teriak Ana dengan kesal. Roy tetap saja hanya berdiam diri memandangi Ana.
"Ah sial aku tahu bahkan kau tidak akan menolongku walaupun tubuh ini terjatuh di tengah sawah "ketus Ana lalu berusaha bangkit dari kubangan lumpur tersebut.
Akan tetapi rasanya sangat susah karena semakin dia berusaha berdiri semakin tubuhnya akan masuk ke dalam lumpur. Bahkan baju Ana sudah dipenuhi lumpur lalu dia menyelamatkan tasnya yang berisi buku-buku pelajaran agar tidak rusak.
"Kemarilah "Roy mengulurkan tangannya dengan lembut untuk membantu anak agar bisa keluar dari kubangan itu. Awalnya Ana masih berdiam diri dan menatap Roy dengan pola pikirnya yang terbang saat melihat Roy.
Karena merasa bahwa Roy memiliki hati yang lembut walaupun wajahnya dingin. Ana segera menggenggam tangan Roy untuk bisa keluar dari kubangan itu.
Roy menahannya dengan kuat-kuat akan tetapi tiba-tiba kaki Ana kembali tergelincir sehingga mereka berdua jatuh ke dalam kubangan itu. Sehingga sepasang mata itu saling bertatapan dengan hati yang bercampur aduk.
Padahal dia hanya ingin menghilangkan perasaannya sendiri saat melihat Ana. Roy segera bangkit dari kubangan tersebut lalu Ana mengikutinya dengan memegang kaki Roy. Baju mereka berdua terlihat kotor dan basah.
"Kenapa aku yang sial, seharusnya kau menyalahkan tempat ini karena banyak banget lumpur sehingga membuatku jatuh "jelas Ana karena dia tidak setuju saat Roy mengatakan bahwa dirinya pembawa sial sehingga telah membuat Roy terjatuh juga dalam kubangan tersebut.
" Kau sangat cerewet sekali, lebih baik pulang saja jika tidak mau melewati jalan yang seperti ini" wajah Roy kembali dingin bahkan ucapannya tidak memiliki perasaan. Namun Ana tidak akan menyerah karena dia ingin mengetahui lebih dalam tentang Bela yang ingin ditunjukkan oleh Roy.
"Enak saja aku sudah sampai sini dan kau menyuruhku pulang, tidak akan "sahut Ana dengan menantang. Roy tidak peduli lagi dengan Ana lalu dirinya membersihkan baju itu di sungai dekat sawah.
Sungai itu sangat bersih dan Roy membuka bajunya dengan santai walaupun di dekatnya ada Ana. Ana tidak tahu apa yang harus dia lakukan, namun saat itu pikirnya hanya mengikuti Roy.
Dia mengikuti Roy yang berjalan menuju sungai di pinggir sawah terdekat namun matanya terkejut saat melihat Roy membuka baju dan membersihkannya secara tenang di sungai.
"Apa kau gila membuka bajumu seenaknya seperti ini sedangkan di sini ada aku "teriak Ana pada Roy.
"Jika kau tidak ingin melihat tubuhku, tutup plastik saja matamu"sahut Roy dingin bahkan dirinya seakan tidak peduli lalu melanjutkan kembali untuk membersihkan baju itu.
Ana tidak memiliki pilihan jadi dia juga mengikuti Roy dengan membersihkan baju itu di sungai namun tidak membukanya karena dia wanita. Setelah baju mereka agak bersih sedikit Roy kembali berjalan untuk menuju ke sebuah tempat di mana dia dan Bela selalu bersama. Tidak peduli baju mereka basah, Ana tetap antusias untuk mengikuti langkah kaki Roy.
"Tunggulah di sini"perintah Roy saat mereka sudah sampai di sebuah gubuk kecil.
Sejenak Ana menikmati udara segar yang berhembus dari persawahan rasanya sangat tenang dan membuat bibirnya tersenyum kegirangan bahkan Villa yang dimiliki oleh keluarganya tidak memiliki udara yang tenang dan sejuk seperti itu walaupun hari sudah semakin sore.
__ADS_1
"Gantilah bajumu di dalam"Roy memberikan sepasang baju dan celana untuk Ana. Dia masih memperdulikan Ana walaupun wajahnya datar tidka ada ekspresi apapun.
" Ini baju siapa"tanya Ana dengan heran. Dia pikir gubuk kecil itu adalah rumah Roy karena baju yang didapatkan oleh Roy sangat mudah.
" Jangan banyak bicara cepatlah ganti di dalam. Jika kau tidak mau maka seterusnya kau akan menggunakan baju basah seperti itu" Ketus Roy.
Ana menuruti perintah Roy lalu dia masuk ke dalam gubuk itu untuk mengganti pakaiannya.
"Kau jangan mengintip ya" Ana keluar kembali dan mengatakan hal tersebut pada Roy karena dia takut jika saat dirinya mengganti baju lalu Roy tiba-tiba masuk dan melakukan hal buruk padanya.
"Aku tidak nafsu denganmu" Jawaban Roy dengan santai sambil menyalakan rokok dan duduk serta menikmati hembusan angin yang sangat tenang.
Pikirnya melayang terbang mengingat tiba-tiba Bela datang dan langsung mengambil rokok itu serta mereka tertawa bersama hingga menjelang senja.
Sementara itu Ana terkejut dengan isi di dalamnya. Walaupun tempat itu terbuat dari bambu, namun isi di dalamnya sangatlah bersih dan rapi bahkan terpampang foto-foto Bela dan Roy dengan senyuman yang khas mereka.
Ana juga tidak menyangka ternyata Roy memiliki senyuman seindah itu saat bersama adiknya. Namun dia tidak tahu mengapa saat berjalan dengannya Roy tidak memberikan senyum sedikitpun bahkan wajahnya sangat dingin dan bisa dibilang membeku.
" Ternyata kau bisa tertawa juga, awas saja lain kali akan kubuat kau tertawa Roy" gumam Ana berbicara sendiri pada sebuah foto yang terpampang di dinding gubuk tersebut.
Setelah Ana berganti baju lalu dia kembali melihat foto kenangan Roy dan adiknya. Sungguh pemandangan yang indah namun sama sekali belum Ana rasakan yaitu tawa Bela yang sangat lepas di saat berada di samping Roy.
"Senyumanmu sangat indah Bela, jika Tuhan mengizinkan aku menikmati senyuman dan tawa itu maka akan ku lakukan di setiap detiknya agar aku tidak kehilangan momen sedikitpun" gumam Ana kembali sambil tersenyum memandangi jejeran foto tersebut.
Dia tidak menyangka bahwa Bela memiliki tawa yang selepas itu, pikirnya kembali bertanya-tanya pada Tuhan andai saja dirinya bisa kembali ke masa lalu maka dia tidak akan menyia-nyiakan Bela bahkan walau sedetik pun akan menyayangi Bela seperti dia menyayangi El.
Terlihat beberapa benda-benda di atas meja seperti gitar, mainan dari kayu, gantungan kunci dan masih banyak lagi. Benda-benda itu terlihat sangat terawat dan bersih.
"Sungguh aku orang yang kalah karena telah menyia-nyiakan dirimu dan membiarkan engkau tertawa dengan orang lain selain keluargamu Beka" air mata Ana kembali lolos begitu saja saat mengingat Bela yang sudah tiada.
Dia tidak bisa menahan kepedihan itu sebab semuanya telah berlalu namun hatinya masih sangat sakit bila mengingat kenyataan tentang kematian saudaranya serta kenyataan orang yang membunuh saudaranya.
" Aku berjanji padamu Bela bahwa tawamu yang riang tidak akan pernah hilang dalam hatiku, walau aku tidak pernah merasakan itu" seru Ana Sambil memandangi foto serta memegang beberapa barang yang tertata rapi di atas meja.
"Jangan pegang barang apapun" Teriak Roy dengan lantang. Ana segera melepaskan pegangannya dari benda-benda tersebut, termasuk foto Bela dan roy.
"Maaf, aku hanya ingin melihatnya saja" Sahut Ana dengan nada kecil.
Roy segera menata ulang dan membersihkan kembali barang-barang tersebut. Dia tidak ingin orang lain menyentuh barang di ruangan itu. Karena Roy sangat merawatnya dengan baik sebab dalam barang itu Roy merasakan kehadiran Bela yang selalu menemaninya disaat hatinya sedang pedih.
"Apakah ini tempatmu dan Bela? " Ana memberanikan diri untuk bertanya pada Roy walaupun terlihat bahwa wajah Roy sangat kesal padanya.
"Untuk apa kau tanya, bukankah matamu sudah melihat ruangan ini dengan jelas" Ketus Roy.
Lalu Roy kembali beranjak pergi dan duduk di luar. Ana mengikutinya dan ingin bertanya banyak hal namun dia takut jika Roy akan kembali marah. Karena saat itu hatinya belum baik juga.
Hari sudah semakin sore, tapi Roy masih saja berdiam diri tanpa bicara lagi. Sedangkan Ana merasa sangat bersalah karena dia telah lancang memegang barang Roy dan Bela. Rasanya kecanggungan kembali tercipta diantara mereka.
"Roy maaf, aku hanya senang melihat barang-barang di dalam. Karena aku merasakan tawa Bela yang begitu lepas" Pecah Ana dalam keheningan mereka berdua. Wajahnya menampakkan rasa yang benar-benar memeluk kesalahan karena kelakuannya yang tidak disukai oleh Roy.
__ADS_1