Antara Cinta Dan Mafia

Antara Cinta Dan Mafia
37. Rumah Baru


__ADS_3

Dengan senandung kecil yang hanya bergeming dia membereskan pakaiannya dan juga pakaian Bara. Terlihat jelas kegembiraan dari tingkahnya yang meloncat kecil kegirangan seperti anak TK yang ingin pergi ke sekolah.


"Dasar bocah" Desis Bara sambil keluar dari kamar.


Dia pergi ke kamar oma hanya untuk berbincang-bincang saja, karena dirinya butuh ketenangan saat ini. Selama ini Bara tidak pernah jauh dari oma, namun sekarang mau tidak mau dia harus pergi demi keselamatan keluarganya.


Rumah yang cukup menjaga privasi kini tidak boleh terbongkar begitu saja. Karena ketenangan rumah ini sudah ada semenjak ayahnya yang membangun. Dan sekarang tidak boleh ada yang mengusik sedikitpun.


Sementara itu di apartemen mewah.....


"Lihatlah, iklan ku sudah menyebar luas. Selangkah lagi aku bisa menguasai semua iklan di pasaran" Ujar model itu sambil memperhatiakn fotonya yang sudah masuk dalam surat kabar.


Kesombongan Sisil. semakin meningkat karena merasa bahwa dirinya adalah model terbaik yang akan terus mengembangkan karirnya. Dia selalu percaya diri bahwa akan mengusai permodelan selangkag lebih awal.


"Benar, selangkah lagi namamu akan melejit" Sahut sang manajer.


Kali ini mereka berdua sudah masuk dalam perangkap yang tidak mereka ketahui. Inilah rencana yang sudah di siapkan sangat matang oleh Bara dan Alex untuk menghancurkan kehidupan wanita itu.


Menghancurkan seseorang tidak perlu gegabah. Cukup mengambil langkah pintar dengan membuatnya terbang tinggi dahulu untuk merasakan kesombongan dalam dirinya, lalu menghancurkan sehancur-hancurnya hingga membuat dirinya terpuruk.


Memang sungguh kejam perlakuan itu, namun perlakuan dirinya sungguh lebih kejam dengan cara mengorbankan nama cinta di atas kebohongan hanya untuk melejitkan karir. Akan tetapi dirinya hanya bisa bermain-main di luaran sana.


"Aku akan membuat Bara bertekuk lutut lagi padaku, agar dia tidak bisa berpaling denganku" Sisil kembali bergumam tentang omong kosong dirinya untuk merebut Bara.


"Benar, dia lelaki kaya dan kamu tidak boleh melepaskannya lagi" Sisil menyeringai sambil berbicara pada dirinya sendiri.


Dipikirannya hanya ada tentang harta. Yang dia tau bahwa keluarga Bara memiliki bisnis yang cukup besar, tapi dia tidak tau pasti apa yang dikelola oleh keluarga Bara.


Dia pernah menjadi bagian hidup dari Bara semasa SMA, namun hingga detik ini Bara tidak pernah mengajak ke rumahnya. Karena larangan ayahnya untuk mengajak orang asing.


"Aku tau di hatinya masih ada nama Sisil yang sangat besar, jadi langkahku tidak akan sulit" Kepercayaan dirinya selalu meningkat, padahal itu tidak berguna lagi untuk Bara.


Sisil berhayal terlalu tinggi, dia selalu merasa apa yang diinginkan akan dicapai dengan mudah. Ambisusnya sangat tinggi mengalahkan batas pikiran. Namun dia lupa siapa lawannya sekarang.


Tidak semudah itu untuk menipu Bara dan membuatnya bertekuk lutut, karena Bara yang sekarang bukanlah Bara yang dulu mengemis cinta dan Berlutut di hadapannya.


Tinggal menunggu waktu saja untuk mendapatkan kejutan dari masing-masing waktu yang dia jelajah. Harapannya yang tinggi dan kesombongan itu akan segera lenyap.




Kediaman baratha



Barang-barang sudah siap, para pelayan sibuk mengangkatnya untuk di masukkan ke dalam mobil. Sedangkan gadis itu masih kembali termenung dalam kesendiriannya di kamar.



Tangannya menjadi penyangga dagu dan tatapannya seperti hilang arah. Sungguh aneh pikirannya, sekejap dia senang dan sekejap pula dia meraskana kesedihan kembali.



"Apa kau seharian akan termenung disini? " Seru Bara sambil mendekati Bela.



"Tidak tuan, aku sedang memikirkan bagaimana keadaan kamar ini jika aku pergi. Apakah mereka akan merindukanku? " Ucapan konyol kembali keluar dari mulut Bela.



Bara mengernyitkan dahinya, tidak tau apa yang Bela maksud. Bagaimana bisa Bela merindukan kamar sebagai benda mati dan mereka tidak akan pernah membalas rindu pula.



"Siapa? " Tanya Bara.


"Kamar ini tuan"


"Kau gila? "


"Tidak, aku sudah nyaman disini" Bara kembali menghempaskan nafas dengan kasar.



"Kau gendong saja seperti bayimu" Ketus Bara dengan kesal.



"Ahh benar, tapi aku masih kecil. Sudahlah ayo pergi tuan, ngapain kau berdiam di sini" Ucap Ba. Padahal dia yang mengakak Bara berbicara hingga dirinya berada di kamar, dan dia juga yang menyuruhnya keluar.



"Sungguh gadis aneh" Ketus Bara.



Pikiran Bara merasakan hal yang sangat berbeda. Padahal dia yang duduk di kamar sendirian dan sekarang terlihat seakan-akan Bara yang tidak ingin meninggalkan kamarnya.



Sedangkan Bela, dia sudah berjalan ke lantai bawah dan meninggalkan Bara. Sungguh pemandangan yang menyebalkan bagi Bara namun dia tidak bisa melakukan apapun.



"Apa dia tidak bisaenungguku? Sungguh dia menyebalkan" Gerutu Bara sambil menyusul Bela yang berada di bawah.



Semua orang sudah berkumpul di bawah. Baik keluarga Baratha dan juga asisten yang ada di dalam rumah. Mereka semua akan melihat kepergian Bara dan Bela dari rumah ini.



Beberapa asisten menatapnya dengan sedih, karena kehadiran Bela membuat mereka merasakan kehangatan dan merasa sangat dihargai di rumah ini.



Hanya Bela satu-satunya orang yang mau makan dengan asisten rumah tangga. Tidak ada rasa jijik sekalipun saat mereka duduk dalam satu meja. Sungguh kenangan yang tidak bisa mereka lupakan.



"Cucuku tersayang, jaga istrimu baik-baik ya" Mata oma menahan butiran-butiran bening yang sepertinya akan segera lolos saat memberikan pesan pada Bara.



"Baik oma, aku akan selalu menjaga istriku" Sahut Bara dengan lembut.



"Tuan, tolong jaga anak saya di sana ya" Pesan pak Taryo pada tuannya sekaligus menantunya.

__ADS_1



"Baik Pak, aku akan menjaganya dengan baik" Ucap Bara pada pak Taryo yang juga merasakan kesedihan karena harus pisah rumah dengan Bela.



"Bela, aku harap kamu sering bermain kesini agar aku bisa memiliki teman sepertimu" Mario merasakan kenyamanan, tapi dia juga harus melepaskan ikatan itu walaupun dia tidak rela.



"Pasti, aku pasti akan bermain kesini untuk menejenguk oma, ayah, mama, dan kau Mario" Sahut Bela dengan ramah.



Mereka saling berpamitan satu per satu. Akan tetapi Bara melupakan hal terhangat, yaitu berpamitan pada mamanya.



Bela sudah berpamitan dengan klara, namun Bara masih kukuh tidak ingin berpamitan pada perempuan paruh baya itu. Mereka tidak pernah akur, karena Bara selalu menganggapnya musuh.



"Bela, jaga dirimu baik-baik ya nak. Dan jaga Bara juga, mama titipkan dia padamu" Klara hanya bisa menyampaikan pesan pada Bela. Karena anaknya sendiri tidak mau menoleh pada Klara walau hanya sekejap saja untuk berpamitan.



"Sebentar ma"



"Suamiku tunggu" Bela menahan tangan Bara. Dia langsung menariknya dan mengharapkan Bara pada Klara.



"Apa? " Ketus Bara dengan penekanan.



"Restu mama nomor satu, jadi kamu harus berpamitan padanya" Bela memaksa agar Bara mau berpamitan dengan mamanya.



Sebenarnya Bara sangat malas, tapi dia tidak bisa menolak hal itu. Karena jika semakin dia menolak maka Bela akan semakin membujuknya dan akan semakin lama dia berada di rumah ini.



Jadi Bara mendekat sedikit, lalu mencium tangan mamanya untuk berpamitan. Namun hal itu masih tidak cukup bagi Bela, karena dia merasa bahwa seorang anak laki-laki harus memuliakan mamanya.



"Suamiku, kamu harus melakukan dengan benar" Ujar Bela memberkkan senyuman pada keluarga yang melihat itu.



"Apa lagi? " Wajahnya Bara berubah.



"Peluk mamamu seperti engkau memeluk oma" Bara menelan amarahnya dalam-dalam. Dia tidak ingin mengeluarkannya di hari perpisahan ini.



"Beraninya gadis kecil ini menyuruhku seperti itu. Awas saja nanti kalau kita sudah sampai" Gumamnya dalam hati, Bara menyimpan dendam pada Bela.




"Iya nak, mama akan jaga diri ini dan juga oma. Dan kamu juga harus janji untuk menjaga dirimu baik-baik ya" Pesan Klara dengan penuh air mata, karena baru kali ini dia berbicara secara tulus dan berhadapan langsung dengan putra semata wayangnya.



Pelukan hangat dirasakan oleh Klara wlaupun dia melihat wajah Bara yang selalu ditekuk setiap menatapnya.



Klara merasakan kehangatan dari pelukan yang tidak pernah dia rasakan. Dan baru kali ini dia merasakan lagi pelukan itu walaupun dia tau bahwa Bara terpaksa melakukannya untuk menghargai istri dan omanya.



Pelukan tidak cukup lama, namun sangat memberikan banyak arti bagi Klara. Senyumnya tidak pernah padam walaupun pelukan itu sudah di lepaaskan.



"Hati-hati nak" Bisiknya kecil sambil menatap langkah Bara dan Bela yang segera pergi.



Mobil mereka berdua melaju dan meninggalkan rumah Baratha. Di dalam mobil hanya terdengar suara mesin. Kesunyian masih menyelimuti diantara keduanya.



Bara sibuk menyetir mobil sedangkan Bela sibuk mengabsen pemandangan yang ada. Dia sangat senang di setiap perjalanan untuk melihat pemandangan yang tertata rapi. Drinya selalu bersyukur, karena setelah dia keluar dari rumah ayahnya dia merasakan apa arti kebebasan.



Rasanya tidak ada lagi yang mengekang dan marah pada Bela, meski suami di sampingnya terkadang seperti keraskuan setan baik dan jahat. Terkadang marah dan terkadang juga perhatian.



"Tuan, apakah kita akan kembali lagi kesini? " Bara langsung mengalihkan pandangannya pada Bela.



Pertanyaan yang terus berulang dari mulut gadis itu seperti tidak ingin berhenti. Sudah jelas-jelas Bara memberikan jawaban yang sama dari pertanyaan yang sama pula. Kali ini tatapannya memghunus tajam seperti memberikan jawaban.



"Sepertinya aku sudah menanyakan hal itu padamu, jadi pertanyaan ini tidak jadi tuan. Hehe" Ujar Bela kembali setelah melihat sorotan mata Bara begitu tajam menatap dirinya.



Dia langsung tertawa kecil dan menggaruk kepalanya seakan telah mengerti bahwa pertanyaannya sudah dikeluarkan berulang kali. Dan Bara juga sudah menjawabnya berulang kali juga.



Jadi Bela memilih diam dan kembali memandangi pepohonan dari balik kaca. Dia bergumam sendiri selama semoga berbicara dengan dunianya.



Raut wajahnya menyebarkan ketenangan dan kebahagiaan. Selama dia meraskaan alam sedang memeluknya. Tatapannya seperti anak kecil yang sedang bertamasya.

__ADS_1



"Wahhh, indah sekali. Ternyata benar bahwa lagu naik-naik ke puncak gunung itu terdapat pohon cemara di sampingnya" Gumamnya dengan semangat.



Dia mengaitkan pemandangan yang dilihat dengan lagu anak kecil yang pernah dia dengar. Wajahnya tidak berhenti untuk tersenyum dan selalu tertawa riang apabila melihat hal yang asing baginya.



Bara merasa terasingkan oleh gadis itu. Karena dia sibuk menyetir, sedangkan gadis itu berbicara dengan sendirinya saat melihat pemandangan dan menghiraukan Bara yang ada di samping dirinya.



"Bisakah kau diam? " Gertak Bara.



"Aku tidak berbicara denganmu tuan, aku hanya berbicara dengan alam" Sahutnya tanpa menoleh pada Bara.



"Sekali lagi kau tidak diam, maka aku akan menurunkan mu disini" Ancaman keluar dari. mulut Bara.



Sontak hal itu membuat Bela terkejut. Karena dia tidak tau daerah itu dimana, yang jelas Bara akan membawanya pergi ke tempat. Entah apartemen atau rumah lain yang tidak diketahuinya.



Tapi yang jelas sekarang mereka sedang dalam perjalanan menuju kota. Dan Bela tidak tau apa yang harus dilakukan jika Bara benar-benar menurunkannya disini.



"Baiklah" Hanya sekejap mulut gadis itu terkunci.



Bela memilih untuk tertidur karena setiap melihat pemandangan rasanya dia ingin mengoceh sambil menikmati alam yang telah tersedia.



Dalam perjalanan hanya bunyi mobil yang terdengar. Bela terlelap dalam rajutan mimpi yang cukup singkat.



"Turunlah, hey turunlah" Beberapa kali ucapan namun Bela masih terbangun juga.



Sejenak Bara memandang gadis di sampingnya, dia terlelap dalam wajah yang tenang dan sejuk. Rasanya Bara ingin memandangnya, hatinya mendapat keindahan dari kelopak mata yang sedang terlelap.



Tangannya ingin membelai rambut yang terurai menutupi separuh wajahnya. Sedikit dia mendekat, namun langsung menariknya secara tiba-tiba karena Bela menggeliat.



"ehmmm.... " Dia terus menggeliat sambil mengucek-ngucek matanya untuk menyadarkan diri.



"Apakah sudah sampai? " Ucap Bara.



"Sudah daritadi tuan" Bela masih menyadarkan dirinta sendiri setelah melakukan perjalanan.



"Turunlah" Ketus Bara.



Mereka sudah sampai di sebuah rumah yang cukup mewah walaupun lebih kecil dari rumah keluarga baratha. Suasana yang asing walau terdapat di tengah-tengah kota.



Ternyata dia lebih memilih untuk tinggal di rumah peninggalan ayahnya daripada harus pergi ke apartemen. Ada banyak hal yang harus dia pikirkan, karena apartemen juga tidak cukup nyaman bila ditinggalinya.



"Masuklah, bawa barangmu" Ujar Bara



Bela sedikit terdiam melihat suasana rumah yang cukup besar namun tidak ada satu orangpun yang tinggal di dalamnya. Akan tetapi rumah itu terlihat sangat bersih dan terawat.



Matanya terus menatap di setiap sudut, terdapat kebun, halaman belakang, kolam renang dan tidak jauh beda dari design rumah baratha.



"Tuan, bukankah kita ingin ke apartemen? " Bela masih bertanya tentang apa yang merasuki pikirannya itu.


"Diamlah" Bentak Bara.



Bela langsung terdiam dan tidak ingin bertanya lagi. Dia segera mengangkat semua barangnya, termasuk bara.



Setelah memasuki rumah itu, Bela dibuatnya tercengang. Pajangan dan hiasan rumah cukup klasik dan membuatnya menarik. Bibirnya melentingkan senyum dan kebahagiaan, namun sayang dia merasa kesepian.



"Kamarmu di bawah, aku akan tidur di atas" Jelas Bara.



"Yes" Ucapnya kecil menampilkan kebahagiaan dalam hati Bela karena dia tidak akan tidur bersama Bara lagi.



"Kenaap?" Tanya Bara.



"Ah tidak tuan, menurutku lebih nyaman bila kita pisah kamar" Ujarnya dengan gembira.

__ADS_1



~~~~ BERSAMBUNG ~~~~


__ADS_2