
Alex setia menunggu di depan sekolah namun tiba-tiba pikirnya kembali mengingat tentang kejadian masa lalu, pada saat Bela kabur dari sekolah hanya untuk hal yang sepele yaitu jalan-jalan menghirup udara segar di kota.
"Ah sial apa jangan-jangan dia kabur lagi dari sekolah, Bara tidak boleh mengetahui ini jika tidak Gadis itu akan habis di tangannya" wajah Alex terlihat sangat cemas, dia tidak akan memberitahu Bara karena takut dengan konsekuensi yang akan di dapatkan oleh Bela.
Lalu Alex turun dari dalam mobil dan kemudian mengecek ke dalam sekolah sekiranya ada seseorang dia bertanya salah satunya pada tukang kebun yang belum pulang ternyata di sekolah sudah tidak ada siswa sama sekali kecuali beberapa siswa yang masih melakukan les tambahan.
Dengan adanya hal tersebut Alex masih memiliki harapan bahwa Bela mengikuti les tambahan. Rasanya dia sedikit tenang karena mengira bahwa Bela masih ada di dalam.
* dret dret* dering telepon berbunyi yaitu panggilan dari Bara.
"Kau di mana, Aku ingin ke markas dan cepatlah pulang bawa Gadis itu jangan sampai keluyuran" Perintah Bara dari dalam telepon membuat alex terdiam beribu bahasa.
Tidak biasanya Bara mengingatkan hal sekecil itu pada Alex, padahal di hari-hari sebelumnya terlihat Bara sangat cuek pada Bela bahkan seakan snagat membenci jika harus berbincang mengenai gadis itu.
"Tenang saja aku akan menjaga dia dan tidak akan pernah lepas dari pandanganku "ucapan Alex meyakinkan Bara bahwa dia akan selalu mengawasi Bela kemanapun dia pergi.
Padahal kali ini dia juga sempat kebingungan karena Alex merasa jika Bela belum keluar juga dari dalam sekolah. Bara selalu percaya kepada sahabatnya itu karena dia tahu bahwa Alex tidak akan menghianati Bara sedikitpun.
" Bagaimana jika dia tidak ada di dalam, ah sial bakal habis aku oleh Bara" Alex kembali mengkhawatirkan pikirannya sendiri, ingatannya berputar lagi tentang hal buruk yang akan terjadi pada Bela.
Karena dia tahu sekarang Bela adalah tanggung jawabnya yang diberikan oleh Bara namun kali ini dia bimbang serta menunggu kepastian detik-detik keluarnya para siswa yang sedang melakukan les tambahan.
Tidak lama kemudian Alex melihat bahwa siswa yang les sudah selesai jadi dia bersemangat untuk percaya diri bahwa Bela sedang melakukan les namun pandangan matanya sudah melihat beberapa para siswa akan tetapi dia tidak melihat Bela juga.
"Mario Apakah Bela masih ada di dalam? " Alex menghentikan Mario yang sedang berjalan untuk bertanya tentang keberadaan Bela
"Apa maksud Kak Alex? Bela tidak mengikuti les kak dan dia sudah pulang dari tadi "jelas Mario pada Alex.
Mario mengatakan bahwa seluruh siswa sudah pulang 1 jam sebelumnya dan Bela sudah pulang bersama para siswa yang lain. Sementara yang les hanyalah beberapa siswa yang akan mengikuti lomba olimpiade matematika dan bahasa di perlombaan selanjutnya.
"Astaga mati aku di tangan Bara" gerutu Alex sambil menjambak rambutnya dan melihat wajahnya menampakan keputus asaan. Dirinya seakan telah frustaai karena Bela kembali pergi tanpa pamit padanya.
"Memangnya ada apa dengan Bela kak? " Mario penasaran atas apa yang sedang terjadi pada Bela sehingga membuat wajah Kak Alex menjadi khawatir seperti itu.
Lalu Alex menjelaskan bahwa dia sudah menunggu Bela dari tadi akan tetapi gadis yang dia tunggu tidak ada di sekolah. Sedangkan saat Alex menelpon Bela nomornya pun juga tidak aktif sehingga membuat pikirannya menderita karena dia tidak tahu pasti kemana Bela pergi dan apa yang terjadi padanya.
"Apakah dia kabur lagi seperti waktu itu Kak " Mario memberikan ingatan yang sama seperti apa yang dipikirkan oleh Alex pada sebelumnya.
"Itulah yang aku pikirkan dari tadi, sepertinya dia kembali kabur dari sekolah, tolong jangan beritahu ini pada Bara " Alex mengingatkan pada Mario agar tidak memberitahu hal tersebut pada Bara, sebab hal itu dapat membahayakan Bela.
Mario menuruti perkataan Alex lalu dirinya mengikuti Alex untuk mencari Bela. Mario menyuruh sopirnya untuk pulang terlebih dahulu dengan alasan bahwa dia sedang ada kegiatan lalu akan pulang bersama Alex.
Di dalam mobil mereka berdua sangat kebingungan Apa yang harus dilakukan, karena Mario menelepon nomor Bela berkali-kali tapi tidak ada jawaban. Sedangkan Alex fokus untuk menyetir dan berkeliling ke kota untuk mencari keberadaan Bela walaupun itu sangat sulit.
__ADS_1
Mario tidak kehabisan akal, lalu dia mencari Bela menggunakan GPS ponselnya untuk mempermudah menemui posisi Bela.
"Ketemu" teriak Mario setelah melihat ponselnya. Hal itu membuat Alex terkejut dan menghentikan mobilnya secara mendadak.
*critt* suara ban yang bergesekan dengan aspal jalanan saat berhenti secara mendadak.
Untung saja mereka menggunakan sabuk pengaman jadi tidak ada benturan yang serius hanya saja Mario terkejut sehingga menjatuhkan ponselnya.
"Kenapa kak Alex berhenti secara mendadak, ponsel aku terjatuh" seru Mario sambil berusaha mencari ponselnya.
"Seharusnya aku yang bertanya padamu Mario, nengapa kau berteriak apakah dirimu memenangkan lotre?" Ujar Alex menatap Mario dengan serius.
Alex menyangka jika Mario memenangkan lotre padahal Mario berteriak bahwa dia telah menemukan Bela menggunakan GPS ponselnya.
"Tidak Kak aku menemukan Bela" jelas Mario lalu dia berusaha mencari ponselnya.
Setelah ponsel itu ditemukan Mario kembali melacak GPS Bela dan menyuruh Alex untuk mengikuti jalanan tersebut.
Hal itu mempermudah mereka untuk menemukan Bela. Ternyata saat Mereka berkeliling, mata Mario melihat bahwa GPS menunjukkan jika Bela yang berada di sekitaran terminal terdekat di kota itu. Saat mereka berada di terminal rupanya Bela tidak ada dan GPS ponselnya kembali berjalan ke arah lain serta menemukan bahwa Belala berdiam diri di suatu taman.
"Kak ikuti lagi jalan ini" Mario kembali mengarahkan Alex untuk menuju jalan yang sesuai dengan GPS tersebut.
Hingga akhirnya Mario dan Alex berhasil menemukan bahwa Bela sedang berduaan bersama Beni di pinggir taman sambil makan es krim. Hal itu melihat Mario mengobarkan api salam dirinya, lalu dia segera turun dari mobil tanpa menghiraukan Alex.
Wajah Mario terlihat sangat kesal dan amarah melonjak cepat karena mengetahui bahwa Bela sedang berjalan dengan Beni, sementara dia dan Alex mencari Bela dengan perasaan yang cemas.
Kekesalan sudah terbentuk dari tadi, apalagi saat melihat Beni berduaan bersama Bela rasanya amarah Mario telah keluar dan meluap-luap.
" Apa yang kau lakukan Mario, lepaskan "teriak Bela sambil berusaha melepaskan tangan Mario namun cengkraman itu cukup kuat dan sorotan mata Mario saling bertatapan tajam dengan Beni.
Sedikit Beni mengelus pipinya karena merasakan kesakitan namun dia tersenyum seakan-akan dirinya kembali menang karena telah berduaan bersama Bela.
"Mengapa kau membawa Bela kabur dari sekolah? " bentak Mario dengan keras. Tangannya kembali mengepal namun Bela menggenggam tangan Mario agar tidak kembali memukul Beni.
Rupanya mereka sedang berada di kesalahpahaman yang belum pasti. Mario mengira bahwa Beni membawa Bela kabur sehingga membuat Alex kebingungan. Padahal Bela sendiri yang berniatan untuk pergi dan mencari tahu keberadaan terminal di kota itu.
Sementara itu Alex masih berdiam diri di dalam. mobil karena tidak mungkin jika dia harus ikut memukul anak kecil yang ada di hadapannya walaupun dia telah membawa Bela. Jadi Alex menyerahkan semuanya pada Mario saja.
" Dia tidak membawaku kabur, hanya saja aku yang ingin berjalan-jalan bersamanya" jelas Bela pada Mario. Sejenak Mario terdiam lalu dia menghilangkan kepalan tangannya.
"Lihatlah kau dengar sendiri bukan, jadi tolong lepaskan tangan kotormu itu dari bajuku " ujar Beni sambil melepaskan cengkeraman tangan Mario yang masih erat. Bibir Beni tersenyum saat Bela mengatakan itu, rasanya Bela sedang berpihak pada dirinya.
" Kenapa kau kabur, Apakah kau baik-baik saja? " Tutur lembut Mario saat berhadapan dengan Bela.
__ADS_1
Dia memegang tangan Bela serta memandangi ke seluruh tubuh Bela karena takut terjadi hal buruk padanya. Mario tidak ingin rela jika Bela kembali terluka.
"Tidak Mario aku baik-baik saja aku hanya ingin jalan-jalan bersama Beni" pernyataan Bela cukup menyakitkan hati Mario, karena dia berkata bahwa menginginkan jalan-jalan bersama Beni. sedangkan saat Mario mengajak Bela Dia seakan selalu menolak permintaannya tersebut.
"Bela, kau darimana saja. Aku lelah mencarimu" Ketus Alex yang datang menghampiri pertengkaran mereka. Kecemasan dalam dirinya telah menghilang saat melihat bahwa Bela baik-baik saja.
"Maaf kak karena tidak memberitahumu" Bela menundukkan kepala dengan rasa bersalah, karena dirinya telah membuat Alex kebingungan berkeliling kota untuk mencarinya.
"Sudahlah, ayo kita masuk" Alex langsung menyeret tangan Bela untuk segera masuk ke dalam mobil, begitu juga dengan Mario yang ikut masuk ke dalam mobil mereka. Tidak lupa Bela memberikan isyarat pada Beni untuk. Mengucapkan terima kasih.
Di dalam mobil Bela merasa bersalah karena telah membuat keributan sehingga menyebabkan kesalahpahaman antara Mario dan Beni. Dia juga merasa bersalah karena membuat pipi Beni bengkak akibat amarah Mario yang memukulnya dengan kuat.
Di lain sisi Bela juga heran pada perilaku Mario. Manusia dingin dan jarang berbicara itu terlihat sangat marah hingga tangannya memukul Beni dengan keras. Padahal yang dia tau Mario adalah anak pendiam tanpa banyak kata dan perlakuan seperti itu.
"Kenapa kau pergi bersamanya? " Mario. Membuka pertanyaan di tengah-tengah keheningan mereka di dalam mobil.
"Sudah aku katakan aku hanya ingin jalan-jalan saja "sahut Bela dengan malas.
Sebenarnya Bela tidak ingin mereka tahu apa tujuannya keluar bersama BBeni jadi ucapannya kembali bohong Bela selalu memendam hal yang dia rasa adalah rahasia, namun sebaliknya dia akan membicarakan banyak hal yang dia rasa itu adalah hal menarik untuk dibicarakan terus-menerus.
"Aku rasa kau jangan pernah berjalan lagi dengannya dia tidak baik untukmu "Mario memerintahkan agar Bela tidak terlalu dekat dengan Beni, bukan karena tidak baik melainkan karena dia tidak ingin jika Bela dan Beni terlalu dekat sehingga menjalin hubungan spesial diantaranya.
Sedangkan Alex dia mendengar percakapan dua remaja yang sedang duduk di sampingnya dan di belakang dengan senyuman . Alex merasa bahwa Mario menyukai Bela dengan nada bicara yang melarang Bela untuk dekat dengan remaja tadi.
"Sebaiknya kalian diam, karena mengganggu konsentrasiku. Bagaimana jika aku menabrak tikus apa kalian mau tanggung jawab "seru Alex untuk menggoda mereka.
Seketika perdebatan di antara Bela dan Mario terdiam dan kembali memberikan kesunyian dalam sebuah perjalanan itu. Bela berdiam diri serta berbicara dengan pikirannya untuk mencari cara agar dia bisa membalas budi pada Beni yang telah membantunya tadi.
Sedangkan Mario memiliki pikirannya sendiri yaitu bagaimana caranya Bela dan Beni tidak terlalu dekat. Karena dia masih merasa kesal setiap melihat Beni memberikan perhatian lebih untuk menarik hati Bela walaupun masih banyak yang harus dilakukan oleh Mario.
Alex mengantarkan Mario terlebih dahulu ke rumahnya. kemudian dia akan bergegas pulang ke rumah Bara. Saat mobil mereka berhenti di depan rumah oma, Bela rindu untuk masuk ke rumah itu dan merasakan keramaian bersama ayahnya dan Oma namun saat ini dia harus menerima perjalanan hidup yang akan terus bergulir serta berubah-ubah setiap waktunya. Dan mungkin akan sulit masuk ke rumah itu bila tidak bersama Bara. karena tuannya slelau melarang Bela untuk pergi sendiri ke rumah oma.
" Kak mampirlah terlebih dahulu, dan kau juga Bela Ayo kita mampir " Mario menawarkan pada mereka berdua untuk mampir terlebih dahulu ke rumah oma sebelum mereka pulang. Bela ingin menyahut setuju pada ucapan Mario akan tetapi perkataan Alex mencegahnya.
"Sepertinya tidak dulu karena aku takut jika Bara pulang ke rumah dan mengetahui kita belum pulang "jelas Alex dan Mario memahami hal itu karena dia tahu bahwa kakaknya tidak ingin satu orang pun membantah perintah yang dia berikan.
Mario juga takut apabila Bara tahu jika Bela keluar bersama lelaki lain atau kabur lagi dari sekolah maka Bara akan menghajarnya habis-habisan.
"Baiklah lain kali saja kalian mampir. Dan Bela, aku harap kau tidak terlalu dekat dengan Beni " ujar Mario sekali lagi sambil menatap ke arah Bela yang masih termenung dalam diamnya
"Berteman adalah urusanku, jadi kau jangan khawatir" sahut Bela sambil kembali menatap Mario dengan senyuman khasnya.
Mario mengangguk kecil wmndnegar ucapan Bela walau di tidka setuju. Lalu dirinya masuk ke dalam rumah dengan santai saat mobil mereka telah menjauh pergi.
__ADS_1
Di dalam perjalanan pulang Bela pindah duduk di bangku depan samping Alex. karena itu menjadi kebiasaan Bela agar bisa berbicara dengan Alex, namun kali ini rasanya Bela ingin berdiam diri dengan pikirannya yang masih terus bergulir tentang Beni.