Antara Cinta Dan Mafia

Antara Cinta Dan Mafia
32. Kabur


__ADS_3

Ucapan penuh emosional dia luapkan, pikirnya kembali mengingat atas tembakan yang disengaja dalam penyerangan satu malam. Pemberontakan dan penghianatan masih melekat dalam pikir Bara, dan itu tidak akan pernah menghilang.


Bara selalu menyimpan dendam setiap waktunya, dan menunggu hari yang tepat untuk meluapkan amarah dan membalaskan dendam itu.


"Denada, aku yakin kamu sudah tenang dik. Tapi aku masih belum tenang jika pembunuhmu belum terbunuh" Bara kembali berbicara pada foto Denada secara bergantian.


Hari yang membuat Bara semakin patah hati atas kepergian Denada. Tembakan disengaja pada sebuah mobil yang ditumpangi oleh Denada hingga menyebabkan kecelakaan dan berhasil merenggut nyawa salah satu adik kembarnya.


Orang yang berbeda namun dalam satu kelompok mafia yang sama. Merekalah yang harus bertanggung jawab atas kematian seorang ayah dan seorang putri. Tidak ada satupun yang bisa lari dari tatapan jangkauan Bara.


Bara yang sekarang bukanlah dia yang dulu, karena Bara sekarang sudah mampu menguasai beberapa wilayah dan mampu membunuh bawahan ketua mafia yang menjadi musuh bebuyutannya.


"Aku bisa saja membunuh kalian semua, tapi aku ingin melihat derita kalian sebelum ajal itu mendekat" Gumamnya kembali sambil mengelus lembut 2 foto mafia yang menjadi incarannya.


Bara bisa saja menghabisi mereka berdua, namun menurutnya itu kurang menantang. Karena Bara ingin membuat para pembunuh itu menderita terlebih dahulu sebelum merasakan kematian.


Hal itulah yang Bara rasakan saat kehilangan kedua orang yang paling dia sayangi. Walau tidak bersamaan, akan tetapi mereka pergi dengan cara yang sama di tangan orang yang sama.


Sementara itu Bela ingin mengetahui banyak hal sepulang sekolah. Dia kembali melakukan beberapa cara untuk menikmati udara luas. Akan tetapi supir pribadinya selalu mengawasi Bela dimanapun dia berada.


"Aku ingin pergi, tapi pak supir pasti akan mengadukan hal itu pada tuan Bara" Kesalnya.


Tidak lama kemudian pikirnya kembali mengingat bahwa dia memiliki jalan tersembunyi untuk menghindari pengawasan tersebut.


Bela kembali masuk ke dalam sekolah, dia juga mengendap-endap agar tidak ketahuan oleh Mario juga. Bela berlari menuju gerbang belakang yang cukup tinggi. Hanya ada sebuah pohon mangga besar yang menjaga perbatasan tembok itu.


"Sepertinya aku harus mengulangi" Bela meyakinkan dirinya bahwa dia mengulangi masa lalu itu.


Bela mencoba untuk kembali ke dirinya yang dulu. Dia suka bolos di sekolah pada masa itu tidak memiliki rasa kesusahan untuk menaiki pagar di hadapannya, dan kali ini dia akan mengulang hal itu.


Untung saja ada pohon mangga yang menjadi tumpuan bela untuk menyeberangi tembok tersebut.


*bruk*


Mudah sekali bagi Bela, hanya membutuhkan beberapa menit dia sudah bisa mendarat dengan selamat. Bela menyimpang dari jalan utama, karena dia ingin menikmati kebebasan kota ini.


Meskipun dirinya sudah menjadi istri tuan Bara, namun tetap saja dalam tubuhnya masih mengalir darah remaja yang masih ber api-api untuk menjelajahi dunia dan bersenang-senang.


Sementara itu pak supir menunggu Bela dengan cukup lama, namun batang hidungnya masih belum nampak di depan pintu gerbang. Tidak lama kemudian Mario datang menghampiri supir pribadi Bela.


"Kenapa belum pulang? " Tanya Mario.


"Tuan, maaf saya ingin menanyakan apakah non Bela ada di dalam" Ucapnya dengan gugup. Karena dia takut jika Bela tidak ada di sekolah.


"Bela? Sekolah sudah kosong. Dan dia juga sudah pulang, apakah kau belum menemuinya?" Jelas Mario.


"Belum tuan, saya berdiri di sini sebelum bel dibunyikan namun non Bela belum ada disini" Pak supir terlihat sangat ketakutan.


Mario kembali masuk ke dalam sekolah dan meninggalkan supir itu. Dia mencari Bela di dalam sekolah namun tidak ditemukan juga. Keyakinannya masih sama bahwa semua siswa sudah pulang, sedangkan dirinya pulang terlambat karena harus mengembalikan buku di perpustakaan.


Sementara itu supir panik dan langsung menghubungi Bara. Dia melaporkan bahwa Bela tidak ada di sekolah. Laporan itu membuat otak Bara panas dan geram, karena dirinya takut jika Bela kabur dari jangkauannya.


"Apakah kau bodoh, bagaimana bisa dia menghilang?" Bentak Bara dengan kesal.


"Saya sudah menunggu di depan gerbang tuan, namun non Bela tidak keluar dari sekolah" Jelas pak supir dengan nada ketakutan.


Bara segera menutup ponsel dan masuk ke dalam mobil. Wajahnya meluapkan arah yang begitu besar karena Bela sudah berani keluar tanpa memberitahunya.


Sudah beberapa bulan mereka bersama, namun baru kali ini Bela keluar tanpa memberitahu Bara. Bara mendengus kesal, dia langsung mengambil ponselnya untuk menghubungi Bela. Dan tiba-tiba kesadarannya kembali bahwa Bela tidak memiliki ponsel.


"Ahh, sial. Kemana gadis itu, beraninya dia pergi tanpa memberitahu ku. Awas saja, aku akan menghukumnya" Gerutu Bara sambil menyetir mobil.

__ADS_1


*brak* kesalnya memukul setir mobil.


Pusat Kota


"Ah, rasanya sangat bebas. Aku harus pergi dan tidak boleh ketemu dengan tuan Bara lagi seperti waktu itu" Ujar Bela menikmati kebebasannya walau sementara.


Karena saat pertama kali dia melakukan hal seperti ini, dirinya bertemu dengan Bara dan sempat dimarahi olehnya. Untung saja masih banyak alasan yang dia simpan agar amarah dari taunnya tidak berkelanjutan.


Bela terus berlari dipinggiran jalanan, menikmati hembusan angin yang bercampur dengan asap kendaraan. Sejenak melihat langit dan memejamkan mata, dirinya terasa terbang diantara burung-burung.


Kembali mengingat di suatu masa saat mamanya masih hidup. Dia selalu bercerita ingin memiliki sayap agar dapat membawa mamanya terbang bebas mengelilingi dunia seperti burung elang.


"Ma, Bela rindu" Tangisnya pecah.


Dia selalu kuat dengan bentakan, pukulan dan cacian. Tapi hatinya akan melemah jika mengingat sosok mama yang menjadi orang berharga satu-satunya dalam hidup Bela. Sosok mama yang sangat menyayangi bela dan tidak pernah membeda-bedakan tentang kasih sayang.


Masa-masa itu akan selalu dia ingat, namun tidak pernah bisa diulangi lagi karena mamanya telah tiada. Air mata Bela terus lolos dari mata kecilnya, hatinya terketuk kesakitan mengingat atas nama rindu.


"Andai waktu bisa ku putar, aku akan memelukmu lagi ma" Lagi-lagi Bela berbicara sendiri dalam langkahnya.


Berulang kali Bela mengatakan bila waktu bisa diputar. Karena dirinya selalu berkeinginan untuk memutar waktu dimana mamanya masih ada di samping Bela dan terus menebarkan senyum walau ayahnya selalu membenci Bela.


Bela selalu ingin merasakan setiap pelukan mamanya dalam setiap waktu yang mereka jalani. Namun sayang, waktu akan terus berjalan kedepan bukan berjalan kebelakang. Sampai kapanpun juga Bela tidak akan bisa mengulang waktu.


Bela menghapus semua air mata yang telah dia keluarkan. Lalu berlari mengikuti jalanan, menghampiri para burung yang turun mencari makan. Dia terus menari di bawah terik mentari dan melanjutkan senyumnya.


Tanpa disadari, Bara masih bingung mencari Bela karena dia tidak tau lagi kemana harus mencarinya.


"Ahhh sial, sudah hampir malam tapi aku tidak menemukannya. Kemana dia" Ketus Bara sangat kesal.


Mobilnya terus berputar mengelilingi kota namun tidak dia temukan gadis kecil itu. Bahkan Mario dan para pengawal juga mencarinya , dan tidak ada satupun dari mereka yang menemukan Bela.


Saat senja perlahan mulai tenggelam, Bela tersenyum menyaksikan itu. Setelahnya dia bingung bagaimana caranya untuk pulang, karena Bela tidak tau kemana dia harus kembali.


*tinnn* suara mobil terdengar jelas dan mendekat pada Bela yang sedang tertunduk lesu duduk di samping trotoar.


"Bela, aku mencarimu" Suara itu mendekat pada Bela.


"Mario" Teriak Bela dengan gembira.


Bela sangat senang saat melihat Mario yang turun dari mobil. Pikirnya menjadi gelandangan sudah sirna karena Mario telah datang untuk menjemputnya di waktu yang sangat tepat.


"Marioooo" Bela langsung memeluk Mario, dia sangat bahagia karena akan kembali pulang.


Sedangkan Mario masih terdiam, dia tidak bisa berkata apapun saat pelukan itu diberikan oleh Bela. Tubuhnya bergetar, jantungnya berdetak cepat dan bibirnya terdiam .


Untuk menghilangkan suasana canggung, Mario segera menarik nafas dalam-dalam dan mengajak Bela untuk pulang ke rumah karena hari sudah malam.


"Ayo kita pulang" Bela mengangguk. Mereka berdua masuk ke dalam mobil dan menuju ke arah kediaman Baratha.


"Kenapa kabur? " Tanya Mario saat berada di dalam mobil.


"Ingin merasakan udara segar" Sahut Bela, lalu Mario tidak bertanya lagi karena dia tau bahwa Bela selalu dikurung dan tidak memiliki pengetahuan luas tentang kebebasan.


Mario segera mengabari Bara dan beberapa pengawal lainnya untuk memberitahu bahwa Bela sudah ditemukan.


Dengan kabar tersebut, Bara segera pulang ke rumah. Di dalam rumah Baratha, Klara sudah terlihat sangat cemas karena Bela belum pulang juga. Namun setelah Bara memberitahu bahwa Bela sudah bersama Mario, kecemasan dalam diri Bara sudah menghilang.


Di dalam rumah itu hanya oma yang tidak mengetahui perginya Bela. Karena jika oma tau, mungkin dia akan terkejut dan membuat penyakitnya kambuh.


Kediaman Baratha.

__ADS_1


Semua orang cemas menunggu kepulangan Bela. Tatapan mata kecemasan beberapa tahun yang selalu kembali datang dari Klara. Dia mengingat saat kepergian anaknya dan hanya kembali namanya saja yang pulang namun orangnya telah tiada yaitu Denada. Klara tidak ingin hal itu terjadi pada Bela.


Untung saja malam ini oma tertidur dan beristirahat di kamarnya. Jadi tidak ada berita buruk yang masuk dalam diri oma.


"Bela" Suara memanggil nama Bela yang datang dengan Mario.


Tidak lama kemudian mereka berdua datang. Bara menatapnya dengan bengis, berbanding terbalik dengan Klara yang menatap dengan kasih sayang.


Klara langsung berlari dan memeluk Bela karena dia takut Bela menghilang dan tidak kembali lagi ke rumah ini. Dirinya sudah terlanjur sayang kepada Bela, karena Klara menganggap Bela adalah Denada.


"Mama" Teriak Bela.


"Bela, kamu kemana saja nak" Klara menangis sambil memeluknya.


Tidak disangka, ulah Bela yang hanya ingin menikmati udara segar kini membuat kekacauan dan kecemasan di keluarga Baratha. Bela hanya bisa terdiam, karena dirinya hanya ingin menikmati perjalanan hidupnya dan bukan hanya dalam pengawasan Bara saja.


"Bela hanya jalan-jalan ma, dan Bela hanya menikmati udara segar" Jelasnya pada Klara.


Sedikit hati Klara tenang saat penjelasan itu Bela berikan. Dia masih mengelus lembut pipi Bela, karena tidak ingin kehilangan untuk yang kedua kalinya.


Sebenarnya Klara tau bahwa musuh suaminya masih sering mengintai keluarga Bartha, namun bara sudah mengatasinya lebih dahulu. Akan tetapi Bela adalah keluarga baru yang belum mengetahui bahaya itu.


"Tuan maaf" Ucap Bela lirih saat Bara mendekat.


*plak* tamparan keras mendarat pada pipi kecil itu. Semua orang di dalam rumah terdiam, termasuk Mario dan juga Klara.


Wajah Bara menatap dengan kemarahan karena ulah Bela. Dia benar-benar meluapkan rasa amarah itu pada gadis kecil dihadapannya yang telah berani kabur dari pengawasan Bara.


*plak*


Tamparan keras kembali mendarat di pipi Bela. Kali ini tubuhnya tersungkur di bawah lantai. Klara mencoba untuk menghentikan Bara namun dirinya tetap saja tidak bisa.


Semua pelayan langsung pergi dan tidak ada yang menampakkan wajahnya satupun di lingkup sorotan mata keluarga Baratha. Mereka tau bahwa tuannya sangat marah dengan hal itu.


"Kak, jangan pukul dia lagi. Mungkin dirinya butuh hiburan" Mario mencoba teriak untuk menghentikan, namun tetap sia-sia saja.


*brak* Bara langsung melempar Mario dengan keras agar dia menyingkir dari tatapannya.


Sorotan mata tajam masih fokus pada satu objek yaitu Bela. Dahinya mengkerut penuh amarah karena kelakuan Bela.


Sedangkan Bela hanya terdiam sambil memegangi pipinya. Tidak ada setetes air matapun dari mata indah yang juga menatap pada Bara. Tidak ada ketakutan dalam diri Bela karena semua itu adalah hal yang membuat tubuhnya terbiasa dengan pukulan.


"Ikut aku" Bentak Bara, tangannya yang kekar menyeret Bela untuk mengikuti langkahnya menuju ke kamar atas.


Klara dan Mario hanya menatap kepergian mereka tanpa melakukan apapun. Mario hanya bisa patuh dengan semua perlakuluan Bara, karena dia tidak memiliki kuasa untuk melawan kakaknya yang menjadi ketua mafia.


Begitu juga Klara hanya bisa menangis, dia sudah tau sifat kekejaman dalam diri Bara akan muncul apabila di sekitarnya tidak patuh atas perintah yang dia berikan.


*brak*


Bara melemparkan pintu dengan keras. Emosinya sudah memuncak saat mengetahui Bela kabur dari supir pribadinya. Apalagi dia juga semakin marah saat berputar-putar tidak menemukan Bela dan ditambah dia pulang bersama Mario bukan dengannya.


Bela sudah tau apa yang akan dilakukan Oleh Bara padanya. Karena dia juga sudah terbiasa masuk ke dalam kandang singa yang tidak akan menghentikan amarahnya apabila hatinya masih panas.


*brak, brak, brak* Bara mencengkram liat rambut Bela lalu membenturkan kepala Bela ke dinding dengan sengaja.


"Kau tau hal apa yang paling aku benci? Hal yang membuatku lelah tapi hasilnya kosong" Ucapnya penuh penekanan.


"Apa yang membuatmu kabur, apakah kau membenci kehidupan ini. Sepertinya aku harus mengajarimu " Teriak Bara dengan tutur kasarnya.


*brak, brak*

__ADS_1


*plak, plak* Tamparan penuh kebencian untuk Bela dari Bara.



__ADS_2