
Keributan terjadi di ruang makan, oma menjewer Bara dengan keras sehingga membuat cucunya itu meringis kesakitan. Beberapa menit kemudian oma melepaskan jeweran itu membuat suasana menjadi pilu karena mengingat kisah masa lalu.
"Oma, kenapa dilepaskan? Aku ingin oma menjewerku lagi" Bara ingin oma menjewernya lagi. Dia tidak marah dengan ucapan Bela, melainkan dia bahagia.
Karena terakhir oma menjewernya adalah saat Denada masih hidup. Setiap pagi oma pasti menjewer Bara karena terus menggoda Denada. Dan ucapan Bela tadi sama persis dengan ucapan Denada saat dia masih hidup.
Denada akan selalu berkata pada oma untuk terus menjewer kakak tertuanya agar mendapatkan hukuman karena telah menggodanya. Dan sekarang hal itu hanya tinggal kenangan, namun Bela menghidupkan kenangan itu kembali.
"Duduklah, makan sekarang" Ucap oma.
"Oma kenapa sedih? Apakah aku salah berbicara? " Tanya Bela saat melihat wajah oma kembali bersedih.
Bela tidak tega melihat wajah oma yang murung, dia berfikir bahwa perkataannya membuat oma menjadi lesu. Bela mendekat dan mengucapkan kata maaf berulang.
"Oma maafkan Bela" Tutur lembut Bela sambil memegang tangan oma.
"Tidak apa-apa, kamu makanlah dan sebentar lagi berangkatlah ke sekolah" Ujar oma.
Tidak ada rasa kesenangan dalam diri Bela untuk menikmati makanan pagi ini. Pandangannya tertuju pada oma yang menekuk wajahnya. Seakan keceriaan telah hilang dalam sekejap.
Sedangkan Klara dan Mario hanya terdiam karena mereka semua tau bahwa oma merindukan Denada yang telah pergi untuk selamanya.
"Oma, bagaimana kalau nanti sore kita jalan-jalan menikmati udara luar atau ke pantai. Bukankah oma suka pantai? " Ujar Bela pada oma denagn tujuan mengembalikan senyum yang hilang.
Bela menghilangkan rasa canggung di meja makan. Dia mengembalikan lagi suasana ceria. Akhirnya wajah oma yang terlihat sedih seketika tersenyum dan bahagia menatap Bela.
"Iya, oma sangat ingin ke pantai. Tapi tunggu kakimu sembuh dulu ya sayang" Tutur lembut oma meluluhkan hati Bela.
Bara melihatnya heran, namun rasa heran itu tertutup dengan bahagia karena omanya kini kembali ceria. Dia tidak mengingat lagi tentang kesedihan dalam hidupnya.
"Baiklah oma, aku akan berangkat sekolah pagi ini" Sahut Bela.
*muach* kecupan kecil dari Bela membuat oma tersenyum bahagia. Tangannya mengelus lembut rambut Bela, rasanya hampir sama mengelus rambut Denada.
"Anak itu membawa kebahagiaan pada keluarga ini, karena perubahan drastis pada diri oma" Batin Bara tersentuh melihat ketulusan cinta dalam diri Bela untuk oma.
Karena kedekatan mereka berdua membuat Bela tau hal yang oma inginkan, yaitu menikmati suasana pantai. Karena semasa hidup Denada, oma akan selalu mengajak Denada ke pantai bermain pasir.
Bukan hanya Denada, tapi Mario dan juga Bara. Sewaktu kecil oma menyayangi mereka bertiga, bahkan tidak ada yang berani memisahkannya. Karena hanya oma yang menjaga mereka dengan tulus.
"Dadah ma, dadah oma. Oh iya apa mario mau berangkat bersama kami? " Tanya Bela dengan polosnya.
"Mobil sudah penuh, jadi dia berangkat bersama supirnya" Ketus Bara seperti tidak terima jika Mario berangkat bersama dengannya.
Bara memberikan perintah pada pak Taryo untuk menjadi supir Bela selama kakinya sakit. Karena dia tau bahwa pak Taryo yang akan menyayangi Bela sepenuh hati serta membantu anak angkatnya selama dalma keadaan sakit.
Di pertengahan jalan, Bara turun dari mobil dan berkata bahwa ada pekerjaan penting yang akan dia urusi.
"Tuan, apakah kau tidak mengantarku ke sekolah? " Tanya Bela dengan mengeluarkan kepalanya dari jendela.
"Kau jangan manja" Sahutnya ketus.
"Baiklah" Sahut Bela singkat dan tidak peduli lagi kemana Bara akan pergi.
Bata segera turun dari mobil dan masuk ke sebuah mobil lain. Bela segera berangkat berdua bersama pak Taryo, sesampainya di sekolah dia tidak lupa berpamitan pada ayah angkatnya.
"Hati-hati ya nak" Sapa pak Harto pada anak angkatnya.
"Siap pak bos" selalu saja gadis itu menjawab denagn senyuman sumringahnya.
Tidak lama kemudian mobil Mario datang, dia turun dari mobil dan menghampiri Bela yang sedang berdiri di depan gerbang dengan wajah kebingungan.
Mario berinisiatif mengajak Bela untuk masuk serta membawanya ke ruang guru. Karena Bela baru pertama kalinya datang ke sekolah ini, jadi Mario tidak ingin dia tersesat.
"Ayo, kita masuk bersamaku" Ucap Mario sambil berjalan.
"Mario" Seru Bela dengan semangat, lalu langkahnya dengan tertatih mengikuti Mario.
Wajah Bela sangat ceria, dia senang bisa bersekolah dengan Mario. Jadi apabila pikirnya membutuhkan sesuatu maka jalan satu-satunya adalah mencari Mario.
"Aku ingin mencari ruangan kepala sekolah dulu" Jelas Bela.
"Akan aku antarkan" Sahut Mario.
Dengan sabar Mario menemani Bela, dia berjaga-jaga karena takut kaki Bela tidak seimbang dan menyebabkan dia terjatuh. Setiap langkah Mario mewaspadainya agar tidak terjadi sebuah kesalahan.
__ADS_1
"Pagi mario" Sapaan seorang gadis cantik membuat langkah Mario dan Bela terhenti. Mario hanya melihat namun tidak menjawab sapaannya.
"Mario, aku merindukanmu setiap hari" Ucapan yang gemulai, membuat Bela tidak bisa menahan tawanya.
Tubuhnya berkelak-kelok seperti cacing kepanasan untuk berupaya menggoda Mario di pagi ini. Namun Mario masih berdiam diri seakan-akan tidak mengenal siswa perempuan di depannya.
"Mengapa kau tersenyum, apa kau siswa baru? " Ketusnya sambil menatap Bela secara keseluruhan.
Dia adalah salah satu teman sekelas Mario yang sangat menyukai Mario dan selalu mengejarnya tidak kenal tempat. Dirinya sangat terobsesi untuk menjadi kekasih Marion lelaki tampan yang pendiam dan dingin.
"Hai, namaku Bela. Kamu siapa" Sapa Bela ramah. Namun dia tidak menerima jabatan itu.
"Oh Bela, kau akan mengenalku sebagai wanitanya Mario. Dan kau anak baru jangan dekat-dekat Mario" Ucapannya sambil menggeser tempat Bela berdiri.
Bela hanya terdiam lalu pandangannya mengarah pada Mario, begitu juga Mario mengarahkan sorot matanya pada Bela yang mengarah ke wajahnya. dan sekarang mereka berdua saling bertatapan.
"Jangan di dengarkan, dia gila" Ucap Mario singkat pada Bela.
"Mario, kamu kenapa berkata begitu? " Rengek gadis itu.
Dia adalah Dira, wanita yang sangat eksis di sekolah ini. Dia mencintai Mario karena tampangnya yang sangat lumayan untuk di ajak pacaran. Namun Mario selau menolaknya karena dia adalah wanita yang sangat menjijikkan menurut Mario.
Mario tidak suka dengan gayanya yang selalu menindas wanita lain, dia selalu mengejar Mario kemanapun. Namun dirinya selalu mendapatkan penolakan yang sama.
"Ayo kita pergi" Ucap Mario pada Bela.
"Mario, jangan tinggalkan aku" Rengek Dira sambil bergelayut di lengan Mario.
"Lepaskan" Dengan sikap dinginnya dia melemparkan tangan Dira begitu keras. Hingga dia terpental sampai hampir jatuh.
Lalu mereka berdua berjalan menuju ke ruangan kepala sekolah. Sedangkan Mario masuk ke dalam kelasnya dan duduk bersantai sambil membaca buku.
Mario salah satu siswa dengan prestasi yang baik. dia selalu mendapatkan rangking pertama dan bahkan dia selalu menjadi andalan para guru untuk melaksanakan lomba olimpiade di sekolahnya.
Wajahnya dan sikapnya selalu dingin, jadi dia tidak pernah memiliki teman karena tidak pernah bergaul dengan siapaun. Dulu dia hanya bermain dengan Denada, walau saudaranya itu perempuan tapi dia merasakan kenyaman. Dan sekarang dia hanyalah manusia yang berdiri sendiri tanpa teman.
*tetttt*
"Selamat pagi anak-anak" Sapa ibu guru yang masuk ke dalam kelas.
"Baiklah, hari ini ibu akan memperkenalkan anak baru yang masuk ke kelas kita dan akan segera gabung bersama kalian" Jelas Bu guru.
"Siapa? "
"Siapa dia ya? "
Suara kelas gaduh dan ingin mengetahui siapa yang akan datang dan bergabung bersama mereka.
"Sini nak masuk" Bela dengan bantuan tongkatnya, dia berjalan perlahan sambil mengenalkan diri.
"Halo semua, namaku Bela dan akan segera bergabung dengan kelas kalian. Aku harap kita menjadi teman" Sapaan yang ramah.
Wajah cerianya selalu teronacar, membuat beberapa dari mereka sangat senang melihat Bela. Rupa yang cantik, sapaan yang ramah dan raut wajah ceria membuat siapaun terkagun-kagum memandanginya.
"Hah anak itu? Mengapa dia bergabung di kelas ini. Aku sangat membencinya" Kesal Dira dalam hati.
Wajahnya mengkerut saat melihat kedatangan Bela. Dia sangat tidak suka dengan Bela karena takut Mario direbut olehnya.
Semua siswa menatap Bela dengan bahagia, mereka seperti senang menerima kehadiran bela. Kecuali dila, yang sangat kesal karena dia telah menganggap pertemuan pagi ini adalah hal buruk saat melihat Mario dekat dengan gadis di hadapannya.
"Baiklah, kamu duduk di" Ucap Bu guru sambil mencari kursi yang kosong.
"Di sini saja bu" Semua mata tertuju pada Mario.
Mereka sangat heran, karena selama ini sikap Mario dingin dan tidak mau berbagi bangku dengan siapapun. Bahkan Dira sudah meminta bangkunya agar duduk bersama Mario, dan hampir setiap hari permintaan itu di tolak juga.
Namun kali ini wajahnya terlihat sangat bersemangat mengajak murid baru duduk bersamanya. Sungguh keajaiban dunia yang ke sekian kalinya.
"Baiklah, kamu bisa duduk disana" Sambung bu guru menyetujui permintaan Mario. Lagipula hanya bangku itu yang kosong.
"Terima kasih bu guru cantik" Ucapan Bela membuat senyum pada bibir ibu guru.
Mario sedikit tersenyum karena duduk dengan Bela adalah hal ketenangan yang pernah dia rasakan.
Pelajaran dimulai, Bela yang memiliki otak kosong kini mulai mengikuti mata pelajaran dengan baik dan teliti. Kepribadiannya yang dulu dan sekarang sudah berbanding terbalik.
__ADS_1
Bela yang dahulu memiliki sifat pendiam, pemberontak, dan dingin. Namun sekarang Bela menjadi orang tenang, ingin belajar, dan ceria seperti gadis-gadis lain.
*tettt*
"Mau ke kantin? " Tanya Mario.
"Jauh tidak? Aku malas berjalan nih" Ujar Bela karena dia malas berjalan lambat dnegan tongkat.
"Tenang saja, aku akan menjagamu" Seru Mario seakan siap melayani iparnya.
Dengan pembicaraan yang sopan, Bela luluh dan ikut bersama Mario ke kantin. Wajah Mario dingin pada semua siswa kecuali pada Bela. Seakan dia kembali menemukan hidupnya.
"Tapi aku tidak punya uang" Ucap Bela dengan polos.
Bara lupa memberikan uang saku pada Bela. Karena dia juga terburu-buru untuk melakukan pekerjaannya. Untung saja masih ada Mario yang bisa diandalkan. Dia bersedia mentraktir Bela hari ini.
*brak*
"Aduh" Dira sengaja menabrak Bela, dia cemburu melihat Mario jalan bersama anak bar.
"Maaf, aku tidak sengaja" Ucapnya dengan sedikit senyuman kecil.
"Apa matamu buta? Jalan ini lebar tapi kau tidak ada aturan" Tegas Mario sambil membentaknya.
"Kau tidak apa-apa" Tanya Mario sambil berjongkok di samping Bela.
"Aku baik, tapi kakiku sakit" Ujar Bela sambil memegangi kakinya yang di perban.
"Kemarilah" Mario membantu bela untuk berdiri.
Pemandangan itu semakin membuat Dira sangat marah. Dia selalu berbuat ulah karena dirinya sudah di cap sebagai siswa yang berbuat ulah serta merundung siswa lemah.
Karena hal itu Bela dan Mario tidak jadi ke kantin. Mereka memilih duduk di dalam kelas sambil membuka buku pelajaran. Dan Bela akan mengikutinya karena dia ingin belajar secara sungguh-sungguh kali ini.
"Hei, kenalkan aku Brandon" ucap salah satu siswa yang tersenyum lebar sambil menatap Bela.
"Hai, Bela" sahit Bela dengan ramah.
Dia menerima Brandon dudik di depannya. Lalu mereka berbincang-bincang kecil sabuk belajar bersama denagn Mario. Walaupun hal itu tidak di sukai oleh Mario, tapi dia juga tidak bisa menolaknya.
Sepulang sekolah Mario dan Bela berpisah, jadi tidak ada satupun dari mereka yang mengetahui bahwa Bela dan Mario tinggal dalam satu rumah.
"Hmm hati-hati" Ucal Mario denagn wajah datarnya.
"Oke Mario, kamu juga ya dahhh" Sahut Bela bersama dengan senyum khas yang dia berikan.
Di dalam mobil Mario menatap kembali pada Bela, bibirnya melentingkan sedikit ssnyum. Dia merasa dunianya kembali segar lagi setelah kedatangan Bela. Berharap Bela akan selalu ada dan menghibur Mario.
"Hei anak baru" Dira datang dari arah yang tak diundang. Dia menghampiri Bela bersana gengnya.
"Aku? " Tanya Bela denagn wajah polosnya.
"Iya, asal kau tau bahwa Mario adalah pacarku" Jelasnya.
"Pacar? Dia tidak bilang padaku jika kau pacarnya. Apakah kau hanya berhayal? " Ejekan Bela pada siswa yang selalu percaya diri namun terus mendapatkan penolakan.
"Tutup mulutmu... " Dira kesal mendengar ucapan Bela.
Tangannya ingin menampar Bela namun sayang itu gagal karena ada ibu guru yang lewat di dekat mereka. Dira mengurungkan niat untuk memukul Bela dan dia memilih pergi.
"Awas ya, aku selalu memantaumu" Ketusnya sambil berlalu bersama gengnya.
"Silahkan" Sahut Bela dengan senyuman.
Sepulang sekolah Bela menceritakan tentang hari pertama dia sekolah pada pak Taryo. Dia berkata banyak hal di dalam mobil, Bela yang dulu pendiam kini berubah menjadi cerewet.
Awalnya hal itu sangat aneh bagi pak Taryo, namun semakin hari hal itu semakin lumrah dan sudah terbiasa. Jadi pak taryo sudah tidak heran dengan sifat anak angkatnya itu.
"Apakah kamu suka di sekolah ini nak" Tanya pak Taruo dengan antusias.
"Sangat suka ayah, karena aku ingin sekolah bersungguh-sungguh" keceriaan kembali terlukis di wajah gadis itu.
"Baiklah, kamu sekolah yang benar agar nanti bisa menjadi orang sukses" Nasehat pak Taryo yang sederhana namun bermakna.
"Siap"
__ADS_1