
Di sungai
Suara air mengalir tidak terlalu kencang. Air yang jernih telah bercampur dengan darah. Bela membuka matanya dan sadar dari tidur sekejapnya. Dia hanya mengingat goncangan keras yang membuat dirinya terbentur keras keluar dari mobil.
Dirinya hanyut bersama air sungai. Untung saja ada batu besar yang menyelamatkan hidupnya dan dia tersangkut di sana. Entah berapa jauh Bela terbawa arus air, namun yang dia tatap hanya ada genangan yang jernih mengelilingi.
"Pak..., pak... Pak taryo" Matanya terus mencari pak Taryo. Bela segera bangkit secara perlahan dan mencari sekeliling di sela-sela bebatuan.
"Pak taryo" Lelaki tua itu juga tersangkut di bebatuan yang jaraknya tidak jauh dari Bela.
Bela segera berlari ke arah pak Taryo dan terus memanggil serta memukul wajahnya secara perlahan agar pak Taryo segera sadar. Dia berjuang sendirian demi menyadarkan pak Harto yang masih dalam keadaan pingsan.
Beberapa menit kemudian, pak Taryo bangun karena suara tangisan Bela yang sudah mengira bahwa pak Taryo meninggal.
"Pak bangunlah, jangan tinggalkan Bela. Hikssss, hiksss,, "
"Non, jangan menangis. Saya masih hidup" Suaranya lemah karena kedinginan dan kesakitan.
"Pak Taryo" Bela langsung memeluknya.
Dia sangat senang karena pak Taryo masih hidup tapi keadaan tubuhnya sangat lemah. Mungkin karena usianya yang sudah tua dan juga beberapa sayatan luka yang membuat dirinya begitu lemah saat ini.
Tangan Bela sibuk membantu pak Taryo untuk membawanya ke tepi sungai. Dia memapahnya secara perlahan walaupun tubuh bela dan pak Taryo sama-sama lemah.
"Ayo pak, bangunlah" Tetap saja teriakan Bela tidak dapat membangunkan pak Taryo dari tubuh lemahnya. Karena hari sudah semakin malam, dia harus memapahnya untuk menemukan perkampungan yang terdekat.
Sedikit demi sedikit dia melangkah sambil memapah pak Taryo. Suara gemercik air mengiringi langkah mereka berdua. Berbagai halangan yang menghadang, kayu dan ranting-ranting tergeletak di tepian sungai.
Hanya ada alas sepatu yang sudah kalang kabut tidak rupa membungkus kaki Bela, sedangkan sepatu pak Taryo maish dalam keadaan utuh sehingga bisa melindungi kaki tuanya yang mulai lemah.
"Non" Suara lirih pak Taryo menyadarkan Bela. Pak Taryo sudah membuka mata lebar-lebar. Bela segera mencari tempat untuk merebahkan supirnya itu.
"Pak tunggu sini ya, aku akan mencari air" Bela mencari dedaunan yang besar lalu mengambil air untuk diberikan pada pak Taruo yang sangat lemah.
*glek, glek, glek*
Saat pak Taryo meminum air, Bela baru menyadari bahwa luka di tubuh pak Taryo cukup banyak dibandingkan dirinya. Dia berfikir keras untuk segera membawa pak Taryo mencari perkampungan terdekat.
"Pegang tangan ku, kita akan mencari perkampungan untuk mengobati luka bapak" Tuturnya sambil mengangkat tubuh lelaki tua itu secara perlahan. Dirinya juga lemah, tapi jika di lihat pak Taryo lebih lemah darinya.
Setelah beristirahat sejenak, mereka berdua kembali menelusuri sungai untuk mencari tempat persinggahan agar luka yang menyayat kulit itu bisa terobati.
Perjalanan yang mereka berdua tempuh cukuplah jauh. Matanya menatap ada sebuah gubuk dengan penerangan yang remang-remang. Berharap dirinya menemukan bantuan disana.
"Pak lihatlah, akhirnya kita menemukannya"
"Betul non" Terlintas senyuman dari bibir mereka berdua.
Hatinya berbahagia karena telah menemukan tempat singgah. Sebentar lagi dia dan pak Taryo akan baik-baik saja. Jarak yang cukup jauh menguras seluruh tenaga yang dimiliki Bela dan pak Taryo. Tubuhnya lemas sempoyongan untuk mendekati gubuk itu.
"Pak, pak bangunlah" Lagi-lagi Taryo tidak sadar diri. Sedangkan mereka harus berjalan sedikit lagi untuk sampai ke tempat itu.
"Ayo bel, kamu pasti kuat" Batinnya menyeru untuk menguatkan tataan tubuh yang sudah melemah.
Kaki yang letih dia kuatkan lagi. Tangannya kembali mencengkeram tubuh lelaki tua itu agar tidak terjatuh. Walau matanya telah sayup, kepalanya pusing dia tetap melangkah dan hampir tiba.
Seluruh tenanga yang tersisa dia gunakan agar lekas sampai di gubuk persinggahana itu untuk mencari bantuan. Tidak peduli selemah apa dirinya yang penting dapat bertahan hingga gubuk itu.
"Tolonggg,, tolonggg" Bela membuka pintu sambil menjerit kecil untuk meminta tolong. Matanya terbelalak saat melihat ruangan yang bagus dan mewah.
Padahal dari luar terlihat seperti gubuk namun setelah melihat isi yang ada di dalam terpampang jelas bangunan yang terbuat dari marmer dan terlihat banyak sekali senjata disana.
"Apa ini gudang senjata? " Gumamnya lirih.
*brak*
Bela menutup matanya karena sudah tidak kuat lagi. Darah yang mengalir di tubuh Bela membuat dia kehilangan kesadaran karena darah itu terus keluar dari sayatan luka di tangan, kaki dan kepala yang tidak dia sadari.
Bela dan pak Taryo tergeletak begitu saja di dalam rumah itu. Anehnya pintu itu tidak terkunci padahal banyak senjata yang tertata rapi didalam sana.
"Tuan, tuan gawat tuan gawat" Seseorang teriak dan menghampiri seorang lelaki yang sedang bersantai di kamar ruangan yang tersembunyi.
Salah satu penjaganya terlihat terkejut dan penuh ketakutan saat melihat kedua orang tergeletak di markas mereka tanpa sadar diri.
Lelaki bertubuh tinggi besar dan gagah segera beranjak dari tempat tidur dan menghampiri mereka. Mereka menyebutnya dengan nama Tuan Alex. Dia salah satu orang kepercayaan yang ditugaskan untuk menjaga markas senjata ilegal ini.
"Apa ini, mengapa mereka disini"
"Maaf tuan, tadi saya sedang buang air kecil jadi tidak tau jika mereka menerobos masuk gubuk ini" Jelas salah satu penjaga tadi.
*buk*
"Bodoh. Kenapa bisa lolos" Ketusnya dengan wajah kesal. Satu pukulan keras mendarat di pipi penjaga itu.
"Sekarang periksa mereka, apakah ada barang yang mencurigakan" Salah satu penjaga itu memeriksanya, tidak lama kemudian penjaga lainnya datang dan ikut memeriksa.
"Tidak ada barang apapun tuan, mereka hanya terluka dan kami tidak menemukan barang yang mencurigakan" Tuturnya.
"Baiklah, bawa kebawah dan hubungi dokter Hans agar segera datang kesini di pagi hari"
"Baik tuan"
Kedua bawahannya membawa bela dan pak taryo ke ruangan bawah tanah. Meskipun ruangan itu terdapat di bawah namun fasilitas yang ada tidak main-main. Kamar yang mewah seperti hotel bintang 5.
Semua mata akan terpanah melihat keindahan di dalamnya. Bangunan yang khusus dibuat untuk mengelabuhi para musuh. Di luar seperti gubuk, sedangkan di dalam terlihat bagai istana.
__ADS_1
Di pagi hari mereka berdua masih terlelap dan belum sadarkan diri. Dokter Hans sudah datang sepagi itu. Dia adalah salah satu dokter andalan untuk keluarga bos mereka.
"Silahkan dok"
"Baik tuan"
Dokter Hans segera melakukan pemeriksaan secara menyeluruh pada Bela dan pak Taryo secara bergantian. Luka yang terlihat segera di balut perban untuk mencoba menghentikan pendarahan.
"Ada-ada saja pagi ini, bagaiaman jika Bara tau pasti dia akan marah besar" Ketusnya berkacak pinggang sambil menatap angan-angan di luar gubuk. Suara air sungai mencoba menenangkan hati Alex tapi sepertinya belum bisa.
\*criitt\* (Suara mobil)
"Apa?, siapa itu? " Mata Alex terbelalak, hatinya terkejut melihat mobil hitam itu datang. Benar dia adalah Bara.
Baratha yuda junior salah satu anak pertama dari tuan barathayuda yang sudah meninggal sekitar 3 tahun yang lalu. Jadi usaha penjualan senjata ilegal di wariskan pada anak pertamanya yaitu bara yang umurnya sekarang sudah menginjak 25 tahun.
Dia sendiri memiliki beberapa cabang senjata ilegal di berbagai kota, salah satunya di kota tempat Bela tinggal. Kekayaannya melampaui batas dan tak terhingga. Dan dialah salah satu mafia terbesar saat ini membuat semua orang takluk di hadapannya.
"Bara, kenapa kamu datang sepagi ini? " Wajah Alex terlihat sangat ketakutan.
"Kenapa memangnya, aku sengaja berangkat tadi malam agar sampai di waktu pagi. Lagipula aku ingin mengecek barang yang ada disini" Sahutnya.
Alex masih terdiam dan jantungnya berdebar. Dia takut bara mengetahui apa yang ada di ruangan bawah tanah. Karena bara tidak suka jika membawa orang asing di markasnya.
"Mengapa kau terlihat sangat ketakutan? Ada apa lex?
" Tidak apa-apa. Aku hanya terkejut saja melihatmu datang" Seperti biasa Bara segera masuk ke dalam ruangannya.
Bara masih tercengang karena dokter Hans keluar dari ruangan bawah tanah. Ruangan yang hanya bisa di sentuh oleh pemimpin disini salah satunya Alex.
"Pagi tuan bara" Sapanya dengan ramah.
"Dokter Hans, mengapa anda berada disini? "
"Maaf sebelumnya tuan, saya di perintahkan oleh tuan Alex untuk memeriksa mereka yang sedang terluka"
Mereka yang di maksud oleh tuan Hans adalah Bela dan pak Taryo. Sedangkan Bara masih bingung karena pasukannya terhitung lengkap untuk berjaga-jaga. Lalu siapa yang ada di ruangan bawah tanah.
"Alex" Panggilan yang sangat keras membuat Alex ketakutan. Dia segera mendekat pada Bara.
"Iya Bara, apakah ada yang bisa ku bantu"
"Segera berikan bayarannya pada dokter Hans"
"Baiklah" Tangan Alex mengelus dada karena merasa lega.
Dia pikir Bara akan memarahinya, tapi sebenarnya ini masih awal dan Bara belum mengetahui keberadaan kedua orang itu.
Bara segera turun ke ruangan bawah tanah. Dia melihat dua orang terbaring lemah antara lelaki dan perempuan dengan pakaian lusuh dan beberapa perban yang menutup luka. Keduanya juga terikat selang infus yang mengalir cairan putih bening.
"Alexxx" Teriakan bara yang sangat keras membuat Alex berlari dengan cepat.
"Ada apa Bara"
__ADS_1
"Siap dia? "
"Aku tidak mengenalnya, tapi sepertinya mereka korban kecelakaan. Karena rasa kemanusiaan aku membantunya" Jelas Alex
Bara melihat keseluruhan dari kedua korban itu. Tidak ada tanda mata-mata dari musuh atau tanda-tanda yang mencurigakan. Mereka hanya membawa badan dan pakaian yang dikenakan saja.
"Alex, kau ini sahabatku dari dulu. Aku mempercayai semuanya padamu tapi mengapa kau tidak menghubungiku jika ada mereka disini"
Alex menghela nafas, pikirnya Bara akan marah karena kecerobohannya memasukkan orang asing ke dalam markasnya.
"Sebenarnya aku ingin mengembalikan mereka lagi, tapi aku tidak tau darimana asal mereka"
"Buat apa di kembalikan? Lebih baik aku membawanya sebagai pembantu dan supir di rumah. Anggaplah sebagai ganti rugi" Senyumnya menyimpan sesuatu.
Di hati Bara dia ingin menjadikan Bela sebagai pembantunya dan pak Taryo sebagai supir. Dia merasa mereka berdua berhutang budi jadi harus membayarnya untuk mengabdi di rumah Bara tanpa bayaran sepeserpun.
"Aku akan mengecek dahulu, lalu kau ikut denganku dan bawa mereka berdua ke rumah" Perjalanan rumah Bara yang sangat jauh karena terletak di luar kota. Jarak yang ditempuh memerlukan waktu sekitar 4 jam.
Pak Taryo dan Bela di bawa menggunakan ambulans yang sudah disiapkan oleh Alex. Dan mereka berdua dibius sebelum berangkat agar tidak tau jalan saat menuju rumah Bara.
Hal tersebut dilakukan untuk menjaga rahasia rumahnya yang tersembunyi dari kejaran musuh. Hanya orang-orang tertentu saja yang mengetahui rumah Bara yang sangat megah dan mewah.
"Letakkan dia di kamar atas dan lelaki itu di kamar bawah" Perintahnya pada Alex.
"Baiklah"
Segera para bawahannya melakukan perintah dengan membawa Bela ke kamar atas yang berdampingan dengan kamar Bara. Sedangkan pak Taryo di letakkan di kamar tamu bagian bawah.
"Ada apa Bara? Siapa yang kamu bawa"
"Entahlah, aku tidak tau wanita itu" sahut bara dingin.
Tapi di hatinya dia merasakan bahwa saat melihat belajar seperti melihat Denada. Mengupas masa lalunya yang menyakitkan bila mengingat nama Denada.
Selang beberapa lama bara melihatnya, pikirannya berkata bahwa tubuh bela hampir mirip dengan tubuh denanda yang sudah meninggal 2 tahun yang lalu.
Denada adalah adik perempuan Bara dan memiliki kembaran bernama Mario yang umurnya sama dengan Bela yaitu 17 tahun. Dan sekarang Mario masih belum datang dari sekolahnya.
"Apakah mama boleh melihatnya?" Penasarannya meningkat saat pada orang asing yang sedang dibawa oleh anaknya.
"Dia akan sadar mungkin 30 menit lagi, tapi mama harus hati-hati karena dia orang asing" peringatannya menjerumus untuk tidak bertingkah terlalu dalam, karena Bara masih memiliki kewaspadaan yang tinggi untuk keluarganya.
"Baiklah" Sahut mamanya.
Mama klara adalah orang tua dari Bara. Wajahnya yang cantik dan anggun walau umurnya sudah menginjak kepala 4. Dia selalu senang bila melihat seorang wanita yang dibawa oleh anaknya Bara, karena dia sangat mendambakan seorang menantu.
Tapi ada satu wanita yang dibenci oleh tante Klara yaitu Sisil, salah satu mantan kekasih Bara yang meninggalkan anaknya dan pergi ke luar negeri hanya beralasan untuk menempuh karirnya menjadi seorang model.
Karenanya Bara hampir saja kehilangan senyum dalam hidupnya. Dan hingga saat ini dia membenci seorang wanita, namun tidak dengan wanita satu ini yaitu Bela. Walaupun baru pertama kali melihatnya dia sudah kagum meski nampak sekilas saat mereka membawa Bela masuk.
\*klek\* pintu terbuka secara perlahan. Terlihat seorang wanita muda yang masih terlelap di atas ranjang dan sudah berpakaian rapih.
__ADS_1
~~~~ BERSAMBUNG ~~~~