
Perbincangan cukup serius antara alex dan juga bara yang membahas tentang balas dendam utama mereka.
"Kerja yang bagus, aku akan menjalankan peran agar dia bertekuk lutut padaku" Senyum licik terlempar jelas dari bibir Bara. Rasanya sangat puas mengatakan hal itu walaupun masih menjadi misteri.
"Berapa lama kau akan menjalankan peran Bara?" Tanya alex penasaran dengan isi hati sahabatnya.
"Selama mungkin, agar aku bisa membalaskan dendam dengan mudah padanya. Aku ingin dia menderita" Amarah dalam dirinya yang sudah bertahun-tahun dipendam kini akhirnya harus diucapkan juga.
Kelicikan dan kejahatan harus dibalas sedemikian rupa. Dendam membara selama beberapa tahun, karena selama ini Bara dan Alex mencari celah untuk menembus pertahanan musuh terbesarnya.
Memang tidak mudah menjadi mafia, maka dari itu Bara selalu menyembunyikan identitasnya dengan memiliki perusahaan dan menjadi CEO muda dari perusahaan yang saat ini dia olah.
Perusahaan tidak menggunakan nama Bara, namun setidaknya mereka mengenal Bara sebagai CEO bukan sebagai mafia. Walaupun dia adalah ketua mafia yang dikenal oleh orang-orang tertentu.
"Kau lihat saja Lex, kematian adikku tidak akan membuatku diam. Kematian itu harus diakhiri dengan kematian juga" Tatapan bengis dan amarah menyatu dalam tubuhnya.
Bara berbicara seakan-akan dia akan melakukannya besok. Tapi itu tidak mungkin, karena episode rencananya masih panjang untuk mempermudah balas dendam.
Menyimpan amarah memang tidak mudah, amarah itu akan berangsur-angsur membaik setelah dendam yang disimpan akan terbalaskan dan melihat musuh sudah mati di tangannya sendiri.
"Aku akan terus melakukan pengawasan, dia memang beda kota dengan kita tapi anak buahku tidak akan pernah lengah melihat langkahnya" Ucap Alex menegaskan.
Perbincangan cukup lama, mereka menikmatinya dengan tenang di sebuah kursi hanya dengan empat mata saja, kemudian mereka keluar dari ruangan VIP dan memilih untuk nersantai di ruangan biasa.
Tidak lama kemudian seorang perempuan datang secara tiba-tiba dan menghampiri mereka berdua.
Wajah yang tidak asing, langsung duduk dan bergelayut manja di tangan Bara. Seperti menyimpan rasa cinta yang sangat dalam. Siapa lagi kalau bukan Sisil, entah darimana datangnya seakan tamu yang tak diundang.
"Bara sayang, aku sudah mengira jika kamu ada di sini" Dia duduk dan langsung bergelayut di tangan Bara bahkan sangat erat.
"Kenapa kau disini, aku sangat muak melihat wajahmu" Ketus Bara sambil berusaha melepaskan cengkeraman kuat itu.
"Kau tau, aku selalu merindukanmu setiap hari. Di luar negeri sehingga aku mencoba kembali lagi ke Indonesia" Bujuk rayu Sisil selalu berkata manis dan berbanding terbalik dengan perbuatan aslinya.
"Cuih, aku tidak peduli ucapanmu. Kau memang seperti ******" Tutur kasar Bara keluarkan dengan makian kotor pada Sisil.
Bara beranjak dari tempat duduknya, dia ingin pergi namun tangan Sisil terus mencengkeram dan menahannya agar Bara tidak pergi lagi. Dia terus memohon agar Bara tidak meninggalkan Sisil seperti dulu.
Keributan kecil itu membuat para pengunjung menatap dan melihat bahwa Bara adalah lelaki brengsek. Akan tetapi orang brengsek sebenarnya adalah Sisil. Dia pergi meninggalkan Bara demi mimpinya dan menghancurkan hari Bara.
Namun sekarang dia datang bagaikan benalu yang tak tau malu dan akan menganggu kehidupan Bara.
"Kenap kau berubah sekarang, aku sangat mencintaimu Bara melebihi apapaun" beberapa omong kosong Sisil keluarkan dengan kepercayaan diri yang tinggi.
"Kau tau setiap hari di luar negeri aku selalu memikirkan dirimu, dan aku selalu ingin kembali bersamamu" Kebohongan demi kebohongan terus Sisil ucapkan.
Banyak kebohongan yang diucapkan dari mulut wanita ular itu. Dia melebih-lebihkan keadaannya yang berkata selalu merindukan Bara, padahal tidak karena dia selalu berganti lelaki di luar sana.
Bara sangat kesal dengan omong kosong yang diberikan oleh Sisil. Dia segera keluar dari tempat itu bersama Alex, namun saat di luar bar Sisil tetap saja menjerat kaki Bara agar tidak pergi.
Dia meraung untuk tidak meninggalkan dirinya, karena ucapannya selalu berkata bahwa dia mencintai Bara.
*brak* Bara melemparkan Sisil agar dia melepaskan tangannya dari kaki Bara.
"Kau itu wanita ******, dan aku sudah memiliki wanita yang lebih cantik, muda dan menarik dibandingkan kau" Ketua Bara menjelaskan wanita yang dimaksud adalah Bela.
Sedikit pengertian yang cukup baik membuat Sisil tercengang. Bara tersenyum puas setelah menghardik wanita yang benar-benar sangat dia benci sekarang.
Wanita yang dulu dicintainya sekarang terlihat menjijikkan di hadapannya. Bukan karena tentang waktu, namun tentang ketulusan yang dikhianati serta disia-siakan.
"Ayo kita pergi" Ajak Bara pada Alex.
"Oke"
Bara dan Alex menuju ke mobil dan meninggalkan Sisil sendirian. Dia masih bersimpuh dengan isak tangis sendirian. Namun setelah mobil Bara pergi, tangisnya berkurang dan berangsur menghilang. Sungguh pintar dirinya bermain peran.
"Sial, sudah ku bilang kita harus bersantai lebih lama di tempat VIP. Namun kau malah memilih tempat terbuka seperti tadi untuk bersantai" Gerutu Bara dengan kesal setelah bertemu dengan Sisil tadi.
__ADS_1
"Tenanglah kawan, lagipula aku ingin berbicara sedikit dan untuk rahasianya akan aku lanjutkan di episode selanjutnya" Sahut Alex tenang.
"Episode selanjutnya? Berarti kau menyembunyikan banyak teka-teki dariku?" Alex mengangguk dengan pertanyaan Bara.
Ternyata pengawasan dan pemantauan Alex belum selesai. Masih ada banyak hal yang harus dijelaskan tentang pembunuhan yang menyangkut Denada.
Banyak rahasia yang tersimpan dan banyak pula rintangan untuk melakukan balas dendam. Bukan hanya rintangan tapi juga pengorbanan yang harus dilakukan agar dendam itu bisa dijalankan dengan lancar.
*plak*
"Aduh" Teriak Alex setelah pukulan keras mendarat di kepalanya.
"Kau bagai anak kecil saja, bermain rahasia denganku" Ketus Bara.
"Tenanglah sobat, jika ada di tanganku maka semua akan tuntas" Jawaban santai dari Alex, karena dirinya sudah terbiasa menjalankan misi rahasia walaupun misi yang sekarang cukup sulit karena mengenai kematian keluarga Baratha.
Tidak dapat diragukan lagi, Alex adalah orang kepercayaan nomor satu dari keluarga Bara. Karena ayahnya dahulu juga menjadi kepercayaan ayah Bara, namun ayah Alex harus gugur karena penyerangan dari musuh mafia yang menjadi penghianat.
Dan sekarang anaknya yang menggantikan ayahnya dan menjadi kaki tangan Bara. Apapun yang Bara ketahui akan diceritakan pada Alex untuk dituntaskan, bahkan rahasia sekalipun. Kecuali rahasia pribadi yang masih menjadi misteri.
Malam 23.55
"Kenapa dia belum pulang, jika aku tidur dulu maka aku takut dia tidur juga di dekatku. Aku tidak akan membiarkannya lagi" Bela berbicara sendiri, dirinya gelisah antara ingin tertidur lebih dahulu atau tetap diam berdiri menunggu kedatangan Bara.
Bela kebingungan karena takut Bara kembali tidur di dekatnya. Dia tidak ingin tidur bersama Bara lagi, karena dia juga tidak ingin melewati batas dan menyebabkan dirinya hamil.
Bela rela begadang hingga hampir jam 12 malam untuk menunggu kedatangan Bara. Lalu tiba-tiba dia memiliki ide yang cemerlang. Yaitu menumpuk bantal guling sebagai garis tengah.
"Lebih baik aku memberinya garis, lagipula ini kan ranjangnya dan aku hanya menumpang. Aku juga merasa kasihan kepadanya karena terus tidur di sofa, seperti gembel saja" Ujarnya sambil meringis.
Bela sibuk menyiapkan pembatas dari bantal guling, dia memperketat dan memperbanyak bantal. Bahkan tidak segan-segan mengambil bantal lagi dikamarnya yang dulu.
Beberapa menit kemudian tugasnya menyusun bantal telah selesai. Dan Bara juga sampai dirumah dengan letih. Mendengar suara langkah kaki, Bela segara memejamkan mata untuk pura-pura tertidur.
*klek*
Bara mengkerutkan dahi saat melihat pemandangan yang sangat lucu di atas ranjangnya. Tumpukan bantal menjadi pembatas di tengah antara dirinya dan istri kecil yang suka usil.
Bibirnya menyeringai penuh arti, sorot matanya tidak bisa lepas dari Bela. Dia juga tau jika Bela belum tidur pulas, terlihat dari sekilas kedipan matanya saat terpejam.
Bara segera mendekatkan diri dan membuka jaketnya. Dia melemparkan ke sembarang arah. Tidak perlu membersihkan diri lagi, tapi rasanya tidak nyaman. Akhirnya dia menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan membalas perlakuan konyol istrinya.
*trikkk... Trikkk*
Gemercik air terdengar, secara otomatis membangunkan Bela dan dia segera menyiapkan baju untuk Bara. Sepertinya hal itu sudah menjadi kebiasaannya. Karena Bela ingin belajar menjadi seorang istri yang baik, tapi bukan istri Bara.
Setelah itu dia kembali ke ranjang untuk pura-pura tidur dengan kewaspadaan yang sangat tinggi. Tidak boleh ada hal yang buruk terjadi padanya.
*klek*
"Sial, dia sudah selesai. Aku tidak boleh tertidur pulas" Gumam Bela dalam hati.
"Rupanya dia masih ingat untuk belajar menjadi seorang istri" Ucap Bara sambil mengambil pakaian yang sudah disiapkan oleh Bela.
Baju di atas nakas membuat Bara tersenyum. Dia merasakan bahwa Bela benar-benar ingin menjadi seorang istri untuknya. Tapi dia belum menyadari bahwa dirinya sudah terpikat oleh pesona Bela dan kebaikannya.
Bara segera mendekat dengan baju tidur yang sudah rapi. Dia naik ke atas ranjang hanya untuk menjahili istri kecilnya.
Terlihat punggung yang tidak asing, tangannya dengan sigap merangkul Bela dari belakang. Rangkulan itu dirasakan oleh Bela, matanya terbelalak, bibirnya membeku, dan dia menelan salivanya dengan kasar.
"Ah sial, kenapa dia memelukku. Apa yang akan dia lakukan" Batin Bela bergetar dengan penuh tanda tanya.
"Kau sendiri yang membiarkan aku tidur di ranjang, dan sekarang bantal itu sudah aku singkirkan" Gumam Bara dalam hati sambil mempererat pelukannya.
Bela terdiam, karena dia bingung apa yang harus dilakukan. Bela tidak tau apa yang diinginkan oleh suami kontraknya.
"Hmm, tuan" Seru bela berbisik.
__ADS_1
"Heemm"
"Tanganmu berat, aku tidak ingin kau memelukku" Ujarnya dan langsung membuang tangan Bara yang melingkar di pinganggnya.
Bela segera berdiri untu memberitahu Bara bahwa dirinya tidak ingin dipeluk oleh Bara
Lalu Bela kembali mengoceh untuk mengingatkan bahwa mereka bukanlah suami istri.
Kembali Bela mengingatkan bahwa mereka memiliki perjanjian sebelum menikah. Yaitu tidak boleh saling menyentuh seperti suami istri sungguhan karena blBela ingin sekolah dan tidak ingin hamil.
"Kau melawan ku? " Bentak Bara dengan amarah.
"Apakah hidupmu selalu dengan amarah tuan? Sepertinya kau akan sering terkena tekanan darah tinggi karena sering marah-marah" Sahut Bela dengan wajah santai seperti biasa.
"Kau mendoakanku? " Ketua Bara meninggikan suaranya.
"Tidak, karena itu sudah menjadi hukum kedokteran" Ucap Bela kembali menjelaskan.
"Baiklah kau boleh tidur di ranjang sekarang, karena sudah lama semenjak kakiku sakit kau tidur di sofa dan sekarang kita bergantian pindah posisi" Belaencoba mengatur posisi tidur mereka.
Bela mencoba memberikan aturan untuk bergantian tidur di atas ranjang. Padahal mereka berdua bisa tidur dalam satu ranjang namun keputusan Bela sudah bulat karena tidak ingin didekati oleh lelaki seperti tuan yang memiliki kepribadian ganda menurutnya.
Bela terus berbicara aturannya sendiri tentang bergantian untuk tidur di sofa atau di kasur. Sedangkan Bara hanya tersenyum melihat bibir kecil yang indah tapi terlalu cerewet.
*brak*
"Aku mau tidur denganmu" Teriak Bara.
Bara menarik tangan Bela dan menindihnya di atas ranjang. Jantung Bela sudah berdebar kencang seperti genderang perang. Tatapan mereka berdua kembali beradu.
Terdengar hembusan nafas keduanya juga saling bersautan. Padahal Bara hanya ingin mengerjai istrinya, tapi kenapa tiba-tiba jantungnya juga berdebar kencang.
*plak*
"Kau memukul ku? " Tanya Bara dengan keras, saat Bela memukul lengannya.
"Iya, kau tau tuan tubuhmu itu sangat berat. Dan kau menindih ku seperti ini, maka setengah jam kemudian aku akan mati" Jelas Bela.
Bara terlihat sangat heran, karena gadis yang sedang bersamanya sangat beda dari gadis lain. Dia masih belum dewasa dan terlihat seperti anak-anak.
Bara segera berdiri lalu membiarkan Bela bangkit dari ranjang. Wajahnya terlihat kesal karena perlakuan dari Bara. Bela hanya bisa memukulnya, dan sekarang dia tidak peduli bahwa yang dipukul bukanlah orang biasa melainkan tuannya.
"Kau mau kemana? " Tanya Bara.
"Aku mau tidur tuan, dan silahkan tuan tidur di ranjang dengan nikmat. Biar aku tidur di sofa" Ucapnya sambil tersenyum.
Malam yang benar-benar penuh tanda tanya, karena jantung Bara berdebar saat mendekati gadis kecil dengan umur yang bertaut jauh darinya. Bahkan terlihat jelas masa kekanak-kanakan dalam diri Bela.
Bara hanya bisa menikmati malam dengan kesendirian di atas ranjang. Saat dirinya menoleh ke belakang, ternyata Bela sudah terlelap nyaman di atas sofa seperti tidak ada beban dalam hidupnya.
Hari-hari terus berlalu, Bela juga semakin dekat dengan Mario. Mereka selalu mengerjakan tugas sama-sama. Karena kecerdasan Mario, membuat Bela sangat senang bisa belajar banyak hal tentang pelajaran di sekolahnya dari Mario.
Perkembangan pendidikan Bela juga sudah berjalan dengan baik. Dia telah melewati ujian tengah semester, dan sebentar lagi mereka akan naik ke kelas 3.
"Mario, aku tidak tau dengan tugas tadi apakah kau bisa membantuku? " Bela berlari kecil dari atas tangga untuk mengejar Mario.
Di tangannya membawa sebuah buku matematika, mereka memiliki tugas namun Bela tidak mengetahuinya jadi dia ingin belajar bersama Mario.
__ADS_1
~~~~ BERSAMBUNG ~~~~