
Tangannya yang kekar menghadang Bela, sehingga gadis itu terperangkap dan tidak bisa melangkah kemanapun.
"Lihatlah tubuhmu yang kekar menghadang wajahku, tanganmu yang besar juga menghadang penglihatanku. Jadi mohon untuk biarkan aku keluar" Ucap Bela sambil menyatukan kedua tangannya di hadapan Bara sebagai isyarat memohon padanya.
Bara segera melepas belenggu tangannya yang kekar lalu memundurkan tubuhnya agar gadis itu bisa bernafas seperti yang dia inginkan. Dan Bara hanya melihat kelucuan gadis polos di hadapannya.
Sejenak Bara menatapnya dengan lekat, terlihat matanya memikirkan sesuatu dalam diamnya. Lalu dia memutuskan untuk menyuruh gadis di hadapannya itu pergi.
"Sekarang pergilah"
"Baiklah" Sahut Bela dengan sumringah.
"2 hari lagi aku akan menikahimu" Baru saja langkah Bela sampai di tengah pintu dan Bara mengucapkan hal itu.
Bela sangat terkejut dan segera melotot menatap tuan yang arogan dengan wajah dingin tanpa kehangatan. Dia tidak bisa berkata apapun, seakan mulutnya membeku.
Bela mengedipkan matanya beberapa kali seakan tak percaya apa yang barusan telah di dengan oleh telinganya. Sungguh kejutan yang tak terduga.
"Bagaimana bisa, aku belum siap tuan" Ketusnya sambil memperagakan gaya seperti biasa.
"Sudah ku bilang bahwa pernikahan itu tidak perlu persetujuanmu. Dan besok kau harus pergi bersamaku untuk membeli gaun pernikahan" Jela Bara.
Bela sangat kesal dengan keputusan sepihak dari Bara, tanpa banyak bicara lagi dia langsung meninggalkan tuannya.
Wajah Bela terlihat sangat tidak nyaman. Tubuhnya terus mondar-mandir seperti setrika mengelilingi kamarnya. Bibirnya terus berkomat- kamit seperti baca mantra.
"Mentang-mentng dia orang kaya, seenaknya memaksaku dengan syarat dan keputusan darinya. Dasar egois" Gumam Bela meracau sendiri memenuhi kamar itu.
Dia lupa hingga tidak melakukan pekerjaan karena terus memikirkan keputusan Bara dengan egonya yang tinggi. Bahkan Bara tidak membiarkan Bela untuk memilih keingannya sendiri.
Sungguh dirinya telah terjebak dalam lingkaran yang memaksa untuk berkata iya. Sedangkan dalam dirinya sudah mengatakan tidak berkali-kali, tapi tetap saja dia harus mengatakan iya.
"Lihat saja, aku akan menghajarnya..... " ketus Bela sambil mengepalkan tangannya.
*brak*
Tubuh Bela menabrak seseorang yang gagah saat seseorang itu membuka pintu kamar Bela dengan paksa tanpa permisi. Dia adalah Bara dan menatap Bela dengan argumentasinya sendiri.
Kedua netra saling menatap tapi tidak saling mengerti satu smaa lain. Sejenak membuat bela terdiam sambil menatap Bara.
"Tuan" Bela masih terdiam dengan genggaman tangan yang hampir meninju Bara. Karena dia begitu geram dengan keputusan tuannya itu yang terus memaksakan egonya.
"Kau ingin memukul ku? " Tanya Bara dengan wajah dingin seperti biasa.
Bela segera melemparkan genggaman tangannya yang hampir meninju Bara. Lalu dirinya menjawab pertanyaan Bara dengan menggeleng saja dan tersenyum.
"Maaf tuan, tadi aku sedang belajar seni bela diri" Jawaban yang tidak masuk akal. Bagaimana bisa seni bela diri yang dia pelajari seperti itu.
"Cepat ikut aku"
"Kemana? " Bara tidak menjawab pertanyaan Bela dan tangannya mengenggam erat lengan Bela lalu menyeretnya.
"Tolong lepaskan tuan, aku bisa berjalan sendiri" Teriak Bela.
Sepertinya telinga Bara sudah tertutup dari perkataan Bela karena dia benar-benar tidak mendengarnya.
Bela terkejut karena Bara menyeretnya dan berada tepat di depan kamar oma. Bara segera mengetuk kamar itu dan terdengar suara oma yang mempersilahkan cucu kesayangannya untuk masuk.
"Oma, Bara ingin mengatakan sesuatu" Bela heran melihat tuan yang arogan.
Dirinya mendadak lemah lembut saat di depan oma Rose. Wajahnya terlihat damai dan hangat, sedangkan diluar sangat berbeda. Yaitu bersikap kasar dan sangat dingin.
"Kamu ingin mengatakan apa?" Bara tersenyum lalu menarik tangan Bela dengan paksa untuk mendekat ke oma Rose.
"Kami akan menikah" Ucapnya dengan sangat senang, seakan-akan dunianya telah kembali saja.
"Benarkah? " Oma Rose sangat terkejut dan bercampur bahagia.
__ADS_1
Dia langsung memeluk erat cucunya itu dengan hati yang gembira. Begitu juga dengan Bara yang tersenyum saat melihat senyum kebahagiaan di bibir omanya.
Mereka berdua meluapkan rasa bahagia tanpa mengetahui hati seorang gadis yang sedang berdiri di sampingnya dalam keadaan hati yang teriris.
"Kita? Padahal dia saja, sedangkan aku tidak" Batin Bela berkata dengan menampakkan wajah tidak senang bercampur dengan kesedihan saat melihat tawa bahagia dari oma Rose.
Dia ingin marah dengan Bara tapi tidak bisa jika melihat kebahagiaan yang terpancar dari seorang nenek dihadapannya. Bahkan dia terpesona dengan perilaku Bara yang lemah lembut saya berhadapan dengan oma Rose.
Bela mencoba meresapi kedekaran mereka, dirinya juga mencoba masuk dalam keegoisan Bara untuk mengambil sisi positif untuk kedepannya walau dia masih belum tau masa depannya bagaimana.
"Kamu kenapa diam? Kemarilah, peluk omamu ini" Ucap oma Rose saat melihat Bela terpaku melihat Bara dan oma saling bereplukan.
Bela langsung berjalan mendekat dan memeluk oma Rosa. Tangannya dengan sigap memeluk Bara dan Bela secara bersamaan. Bela merasakan kebahagiaan karena kehangatan pelukan yang diterimanya.
Bibirnya tersenyum lepas merasakan sentuhan oma. Seperti seorang anak telah menemukan keluarga yang menyayanginya.
"Sekarang tunggu apa lagi? Berangkatlah ke butik untuk membeli gaun pengantin" Oma menyuruh Bara membeli baju pengantin dan dirinya hanya tersenyum saja.
"Astaga, baru saja berbicara tentang menikah dan sekarang gaun pengantin" Batin Bela cemas karena pernikahan yang begitu cepat.
"Baiklah oma, aku akan membawanya pergi membeli gaun pengantin" Bara berpamitan sambil mengenggam tangan Bela dengan erat seperti sepasang kekasih.
Bela ingin menolaknya namun dia ingat bahwa harus terlihat meyakinkan di depan oma Rosa. Kalau tidak Bara akan marah jika syarat yang diberikan tidak diturtinya.
"Apa kau ingin memakai baju seperti ini tuan? "
"Kenapa? " Jawabnya dengan tegas.
Bela heran, baru saja suaranya lemah lembut tapi setelah keluar dari ruang kamar oma dia berubah lagi menjadi serigala yang siap menerkam seseorang yang mendekat.
"Begini tuan, bajumu menakutkan. Aku takut semua orang melihatmu dengan rasa takut" Ucap Bela sambil mengelilingi tubuh Bara dan melihat setelan bajunya.
Bara terdiam dan merasa omongan Bela ada benarnya. Karena dia berpakaian seperti biasa dengan setelan serba hitam dan terlihat sebagai seorang mafia.
Bara juga tidak ingin terjun ke keramaian dan membuat orang ketakutan serta membidik dirinya sebagai seorang mafia. Apalagi bila bertemu musuh, maka akan sangat merepotkan.
"Bolehkah aku merubah pakaianmu?" Tanya Bela dengan lembut seperti sedang bertanya pada seorang kakak.
"Sebentar, apakah aku boleh masuk ke kamarmu?" Tanya Bela kembali dan menghentikan langkahnya saat mereka berdua menuju ke kamar Bara.
"Cepatlah, jangan banyak bicara" Sahutnya dingin dan kembali menggenggam tangan Bela agar menuju ke ruangan kamarnya.
Bela tercengang saat Bara membuka lemari yang begitu besar. Tapi isi bajunya hampir sama, kaos putih, kaos hitam, jas, dan celana jeans. Tidak ada setelan yang bagus untuk bersantai sesuai pemikiran Bela.
"Bajumu begini saja, apakah tidak ada kemeja yang bagus? "
"Kau mengejek bajuku? " Ketus Bara sambil melotot pada Bela yang sedang menikmati isi lemarinya saat ini.
"Tidak, tidak tuan. Aku hanya ingin mencarikan baju bersantai namun kau tidak memiliki kemeja sesuai dengan selera anak muda" Sahutnya santai.
Sejenak Bela mengamati lalu mengambil kaos polos berwarna putih dan mengambil kaos kaki serta sepatu kets di lemari sepatu yang juga tidak kalah besar dengan lemari baju.
Bela berusaha semaksimal mungkin untuk membuat bara terlihat seperti anak muda. Bukan seperti orang dingin yang snahat menakutkan bila menatap wajahnya.
"Ini tuan, aku rasa begini lebih baik. Nanti kita cari kemeja saja tuan biar wajahmu terlihat tetap muda seperti anak jaman sekarang" Ucapnya percaya diri.
Bara sangat heran dengan gadis kecil yang banyak bicara di depannya. Karena selama dia bersama Sisil, tidak pernah diperhatikan tentang pakaian agar terlihat muda dan terlihat berkembang seperti gaya masa kini.
Baru kali ini dia menemukan seorang gadis yang tidak pernah takut dengan amarahnya yang kejam. Padahal dia seorang mafia tapi terasa seperti orang biasa saja saat di depan Bela. Dan saya dia marah, Bela tidak takut membuat harga dirinya turun sebagai seorang mafia.
"Baiklah" Bara segera membuka bajunya di depan Bela.
"Tunggu, kenapa kau membuka baju itu disini. Sedangkan aku belum keluar" Ujarnya sambil berlari ke arah pintu. Dengan sigap Bara menghadangnya agar Bela tidak keluar.
"Bukankah kau akan menjadi istriku, jadi tidak ada salahnya aku menganti baju di hadapan calon isteriku" Ujar Bara.
Pengucapan penuh tekanan sambil melentingkan senyum licik hanya untuk memberikan pelajaran gadis kecil itu agar merasa takut dengan kelakuan Bara yang membuka baju di hadapannya.
__ADS_1
"Tapi.... " Baru saja Bela ingin berbicara, namun Bara sudah membuka pakaiannya dan terlihat dada bidangnga.
Bela segera membelakangi Bara dan menatap ke arah pintu. Dia menutup matanya agar tidak melihat hal konyol yang dapat menodai matanya itu.
Bara segera memakai baju yang dipilihkan oleh Bela serta sepatu yang digunakan. Baru kali ini dia menurut dengan gaya pakaian sesuai keinginan seorang gadis.
"Kau sedang apa? " Teriak Bara saat melihat Bela seperti itu.
"Apakah kau sudah selesai tuan, aku tidak ingin melihat tubuhnu" Sahutnya itu membuat Bara tersenyum kecil.
"Dasar gadis gila" Gumamnya kecil, lalu Bara segera menarik Bela dan mereka berdua saling berhadapan namun Bela masih menutup matanya.
"Apakah kau ingin berjalan seperti itu? " Tanya Bara.
"Hmm, apakah tuan sudah selesai. Aku takut mata ini ternodai oleh tubuhmu yang telanjang" Ucap bela dengan tangan yang masih menutup wajahnya.
"cepatlah buka sebelum amarahku melonjak" Ketus Bara
Bela langsung melepaskan telapak tangan yang menutup wajahnya. Dia langsung tersenyum dan melihat ada hal yang berbeda dengan penampilan Bara seperti ini.
Dia sudah terlihat seperti anak yang berumur di bawah 20 tahun. Dan gayanya juga mengikuti trend masa kini. Bela mengetahui hal itu karena dulu dia snahat suka dengan pakaian lelaki yang bertaut antara kemeja dan kaos.
"Tampan sekali" Gumamnya kecil.
"Kau memujiku? " Pertanyaan Bara langsung menyadarkan Bela dan dia segera menutup mulutnya.
"Hmmm maksudku kau memang tampan, dan sekarang terlihat lebih muda. Seperti seumuran denganku" pernyataan Bela yang konyol.
Akhirnya mereka pergi dan menaiki mobil Bara, baru kali ini Bela keluar dari rumah itu. Pantas saja rumah itu asing baginya karena terletak di daerah yang jauh dari keramaian.
Rumah besar dna mewah dibangun sendirian seperti sedang berada di tengah hutan, tapi hutan yang indah karena masih banyak pepohonan yang menyambut riang.
"Indah sekali pemandangan disini" Wajah Bela terus menempel pada kaca dan memuji keindahan alam dari balik jendela mobil.
Dia terus menatap keagungan Tuhan yang menciptakan alam penuh dengan warna. Apalagi warna hijau yang sejuk dan damai. Senyumnya terlihat indah saat menatap alam semesta yang berjalan.
Sesekali Bara mencuri pandangan dari gadis lugu yang ada di sampingnya. Entah mengapa dirinya sedikit luluh dengan kelakuan Bela yang selalu saja terlihat begitu polos.
"Tuan, apakah kau tidak kesepian karena memiliki rumah yang jauh dari keramaian?" Tanya Bela memecah keheningan dalam mobil.
Rasa ingin tahunya sangat tinggi, bahkan dia tidak tau jika calon suaminya itu adalah ketua mafia yang memiliki kekuasaan luas di wilayah ini dan juga wilayah kota kelahirannya.
"Tidak, karena kau akan bertugas untuk membuatku terhibur dengan tubuhmu" Bela langsung terpaku mendengar ucapan itu.
"No" Teriak Bela dengan keras.
Seketika dirinya langsung terdiam dan tidak ingin berbicara lagi pada Bara. Hingga mereka berdua telah sampai di butik yang paling baik di kota ini.
Mereka berdua masuk ke dalam butik seperti pengunjung pada biasanya. Mata Bela terpesona melihat baju yang terpampang indah di setiap sudut butik itu.
Gaun-gaun putih tertata dnegan tapi dan digantung di setiap sudut. Model dan bentuk terlihat sangat mewah. Sejenak Bela mengingat foto mamanya yang sangat cantik menggunakan gaun putih pada saat ulang tahunnya.
"Aku ingin membeli gaun yang paling indah untuk calon istriku" Ucap Bara pada pelayan.
"Baik tuan" Tidak ada pemberontakan lagi, Bela segera mengikuti pelayan yang akan melayaninya untuk mencari gaun yang sangat cantik.
Sambil menunggu, Bara duduk disofa dan memainkan ponsel untuk mengecek perkembangan senjata dan kerjasama yang dia lakukan dengan orang-orang besar di luar negeri.
Sementara itu......
Di Los Angeles
Seorang wanita terbangun dari tidur panjangnya setelah melakukan peperangan tadi malam dengan kekasihnya. Sinar mentari menembus apartemen mewah yang dia sewa.
"William.... " Suara serak memanggil namun lelaki bernama William itu telah pergi dari tempat itu.
Dia adalah Sisil, mantan Bara yang menjadi piala bergilir untuk lelaki kesepian. Berulang kali dirinya berganti pasangan dan tidur dengan beberapa pria. Setelahnya mereka akan meninggalkan Sisil yang terlelap tanpa busana.
__ADS_1
Sungguh kelakuan yang melebihi para Gadis ****** di klub malam. Karena dia hanya menjadi pemuas nafsu tanpa bayaran oleh para lelaki di sekitarnya yang hanya pura-pura mencintai dirinya namun sebenarnya mencintai tubuhnya saja.