Antara Cinta Dan Mafia

Antara Cinta Dan Mafia
64. Pantai


__ADS_3

Oma kembali memperhatikan Bela yang terus melihat ke luar jendela. Seakan Bela sedang meng absen semua pohon yang berjajar tenang di pinggiran.


"Sepertinya kamu sangat menyukai pohon nak" seru oma sambil memegang pipi Bela.


"Benar oma karena menurutku pepohonan adalah ciptaan tuhan yang paling indah karena mereka menghasilkan oksigen" jelas Bela.


Mario dan Bara juga mendengarkan percakapan itu akan tetapi mereka memilih diam sepanjang jalanan. Sungguh lucu Kedua saudara itu mereka tidak saling bicara seakan-akan di bangku depan terasa sunyi padahal seharusnya mereka sangat akrab.


Tidak lama kemudian tibalah mereka di sebuah pantai yang sangat indah suara deburan ombak merasakan senyuman di setiap orang yang menikmatinya.


"Ombak adalah ketenangan, di setiap pemandangannya akan memberikan momen terindah" seru Bela tanpa menghiraukan siapapun. Dia berbicara begitu saja saat melihat ombak yang sangat indah.


Karena yang orang tahu walaupun ombak menerjang dengan keras pada karang namun tetap saja karang setia menunggunya dalam diam dan tidak peduli meski dirinya terkikis.


Terkadang itulah yang harus dilakukan oleh manusia apabila masalah datang maka diamlah dan jalanilah sesuai waktu walaupun fisik dan mental terkikis. Kalian harus tahu bahwa ada waktu tertentu untuk merasakan keindahan dari rasa terpuruk yang disebabkan oleh masalah itu.


" Lihatlah airnya jernih dan udaranya sangat sejuk" Seru bela sambil memejamkan mata dan merasakan apa yang sedang masuk dalam ketenangan jiwanya saat itu.


" Betul oma sangat senang karena di sini adalah tempat yang sangat Denada disukai. Dan dia pernah berjanji akan membawa oma datang ke pantai ini lagi. Namun nyatanya dia yang datang ke pantai tapi bukan senyumannya melainkan sebagai senja" butiran air mata lolos begitu saja dari mata Oma.


Bela segera menyekanya sambil menghibur oma dan mengatakan bahwa jangan menangis. Bela selalu berusaha untuk menghibur oma serta berkata bahwa tangisan itu akan selalu membuat Denada sedih saat melihat dari atas sana.


Banyak perkataan yang selalu Bela berikan pada oma akan tetapi dia lupa jika dirinya sendiri membutuhkan perkataan itu juga. Terkadang setiap malam Bela merasakan lingkungan hampa bila mengingat kenangan jauh di masa lalu bersama mamanya.


" Oma Bela akan membawa oma bermain sambil menunggu senja" ujar Bela dengan penuh semangat. Sementara itu Bara dan Mario hanya duduk-duduk saja karena mereka tidak tahu apa yang ingin dilakukannya.


" Apakah kalian tidak malu dengan oma yang masih memiliki semangat untuk menikmati deburan ombak di sini, sedangkan kalian hanya bersantai seakan-akan tidak memiliki semangat dan otot kalian terlihat lemah" tegur Bela sekaligus memberikan sindiran pada Mario dan juga Bara.


Mereka masih saja duduk-duduk dan melihat oma serta Bela yang menikmati deburan ombak kecil di bibir pantai. Tawa oma sangat lepas seakan-akan dia bermain bersama Denada sementara itu Bara melihat sebuah keindahan dan mengingat masa di mana saat mereka bertiga masih kecil.


Antara Mario, Bara dan Denada serta oma yang selalu membimbing mereka dan menemani kemanapun mereka ingin pergi. Bara mengetahui bahwa pantai adalah kenangan yang sangat indah bagi oma karena yang dia tahu kenangan itu muncul di sini tentang Denada serta tentang dirinya dan Mario yang memiliki ikatan kehangatan meski sekarang sudah tidak ada lagi kehangatan itu.


" Tunggu Aku ingin bermain denganmu Bela" Mario berlari menghampiri mereka dan ikut bermain bersama oma dan juga Bela. Bara masih memantaunya karena dia sangat malas untuk bermain di sana.


Beberapa menit kemudian pikirannya kacau saat melihat tawa Mario, Bela dan oma secara bersahutan. Bahkan mereka sangat asik tertawa dan seakan rasanya Bara diasingkan bila duduk terus menerus sambil menikmati es kelapa sedangkan mereka menikmati setiap momen yang diciptakan.


Bara segera lari menghampiri mereka lalu melepaskan semua jati dirinya dan kembali seakan menjadi anak kecil yang diasuh Oma dengan kasih sayang dan kehangatan.


"Oma, aku ingin bwrlarian di tepi pantai. Tangkap aku oma" Teriak Bara mengingat beberapa tahun lalu saat dirinya menjadi anak kecil yang lucu. Bara sejenak melupakan bahwa dirinya adalah mafia.


"Cepat kemrilah" sambutan oma selama ingin menggendong cucunya lagi seperti dulu walaupun saat itu oma sudah tidak kuat berlari apalagi menggendong cucunya.


Mereka bercanda riang menikmati setiap waktu yang berlalu sekaligus untuk menunggu senja. Akan tetapi oma kelelahan karena tubuhnya juga tidak mudah lagi seperti dulu jadi dia ingin istirahat.


" Tunggu sebentar, sepertinya Oma sangat lelah dan sepertinya oma ingin istirahat, lebih baik kalian saja yang bermain" nafas oma sudah terengah-engah, mungkin karena faktor umur yang sudah terlalu tua.

__ADS_1


" Baiklah oma, biar Bela antar kemeja itu ya" ujar Bela lalu mengantar oma ke tempat istirahat yang sudah tersedia dan tidak lupa dia membelikan Oma sebuah kelapa segar untuk menghilangkan rasa lelah dan dahaga sekaligus racun-racun yang ada di tubuh oma lenyap seketika.


Karena menurut orang dulu kelapa memiliki seribu manfaat jadi Bela memberikannya pada oma. Menikmati kelapa segar itu sekaligus menikmati mereka bertiga yang sedang bercanda riang di tepi pantai.


Melihat mereka bertiga seakan melihat Denada kembali dan oma memutar memori antara Mario Bara dan Denada kecil saat itu. Sungguh hal yang mengharukan walaupun yang dirasa bukan Denada asli akan tetapi Bela, namun tetap saja oma tertawa lepas sambil menikmati pemandangan indah diantara mereka bertiga.


"Sebentar, apakah kalian tahu cara untuk menghilangkan masalah? " ucap Bela pada Mario dan Bara.


" Bagaimana caranya Bela " Mario sangat antusias mendengar cara yang akan diberikan oleh Bela.


Bela segera menggenggam tangan Mario dan juga menggenggam tangan Bara. Sebenarnya Bara ingin melepaskan genggaman itu namun seketika dia mengurungkan niatnya saat melihat Mario menggenggam erat tangan Bela.


Pikirnya kembali berputar apabila dia melepaskan genggaman itu maka otomatis Mario dan Bela akan saling berpegangan tangan hanya berdua saja maka dari itu Bara juga membalas genggaman tangan Bela dengan erat.


Hatinya masih saja belum menyadari bahwa genggaman itu adalah genggaman yang nyaman dirasakan oleh setiap nadi yang berdenyut dan darah yang mengalir dalam tubuh Bara.


" Teriaklah setelah hitungan ketiga untuk melepaskan semua masalah yang sedang ada di pikiran kalian" perintah Bela pada Mario dan juga Bara.


Bela siap memberikan aba-aba lalu memikirkan masalah yang sedang dihadapi yaitu tentang kehidupan yang ingin dia jalani dengan baik namun masih saja ada lika-liku di dalamnya. Baik itu di dalam rumah Bara ataupun di sekolah.


Manusia tidak bisa memilih untuk menghindari masalah yang mereka hadapi karena waktu akan terus berputar. Namun ada satu cara untuk menenangkan masalah tersebut yaitu pemikiran dari masing-masing individu yang bersedia untuk perang melawan masalah tersebut.


"satu... Dua.... Tiga".


"Aaaaaaaa" Mario, Bara dan juga Bela berteriak sangat kencang serta melepaskan beban hidup yang dijalani oleh mereka sendiri lalu bibirnya tersenyum lepas.


Teriakan itu diulangi hingga tiga kali untuk melegakan kehidupan yang masih bergelut resah dalam pikiran dan tidak pernah ada habisnya.


"Bagaimana? " Tanya Bela pada mereka berdua.


"Cukup baik" Sahut Mario sambil tersenyum.


Kemudain Bela mengalihkan pandangannya pada Bara sambil tersenyum. Lalu Bara diam sejenak dan kemudian membalas senyuman itu walaupun secuil.


" Sangat baik karena aku belum pernah merasakan ini " Ujar Bara lalu kembali memandang lautan.


Hati Bela merasa lega karena teriakan itu bisa membuat masalahnya, masalah Mario dan juga masalah Bara sedikit mereda walau tak sepenuhnya lalu mereka tertawa lepas dan berlarian di sekitar tepi pantai sambil menikmati ombak-ombak kecil yang menghampiri.


Merentangkan tangan seakan ingin terbang ke langit serta merasakan kebebasan seperti burung-burung di sana. Mario sangat senang melihat tawa Bela dan dirinya juga melepaskan tawa itu yang sudah dia pendam sejak lama semenjak kepergian Denada.


Begitu juga dengan Bara dia ingin melepaskan kepedihan walau hanya untuk saat ini saja memejamkan mata dan merasakan segarnya angin dari lautan lepas. Terasa dirinya sedang terbang di atas awan lalu jatuh diantara gugusan bintang yang dirakit indah oleh Tuhan


" Naiklah ke punggungku" perintah Bara pada Bela.


Bela hanya terdiam karena dia tidak tahu apa yang dilakukan oleh Bara yang berjongkok di depannya lalu memberikan sebuah perintah untuk menaiki punggungnya sedangkan Bela sendiri merasa sungkan dengan hal itu.

__ADS_1


" Cepatlah, jangan bengong saja dan naiklah di punggungku" ujar Bara kembali, lalu Bela memberikan pandangannya pada oma yang sedang tertawa melihat gerakan-gerakan mereka bertiga di tepian pantai.


"Baiklah" lalu Bela segera naik ke punggung Bara dan mencoba tenang serta menormalkan keadaan.


Sementara itu Mario merasa hatinya panas dan cemburu karena dia tidak ingin melihat kemesraan itu namun dia juga harus tetap diam bersama mereka berdua. Matanya terpaksa diam menatap kemesraan yang tidak dia inginkan.


" Apakah kau siap istriku" teriak Bara dengan lantang. Sepertinya ingin memberikan kemesraan untuk membuat Mario cemburu.


"Siapppp" Sahut Bela dengan semangat. Lalu Bara membawanya berlari dalam gendongan itu. Bela merasakan senang yang teramat luar biasa, dirinya kembali mendapatkan kehangatan dari Bara.


Bela mengeratkan tangannya pada Bara dengan senyuman, seakan mereka sudah seperti memiliki perasaan satu sama lain. Dalam setiap langkah lari yang diambil, ada tawa Bara yang terlihat sangat tulus. Walaupun Bela terlihat takut jatuh saya Bara berlari ditepian pantau sambil menggendongnya.


Berbeda dari biasanya, Bara yang dingin kini berubah menjadi hangat serta periang. Bela merasakan berbeda, bahwa yang sedang bersamanya bukanlah Bara melainkan orang lain meski kenyataannya memang Bara sedang meluapkan kegembiraan di tepi pantai itu.


Namun dia tetap saja menikmati momen itu dengan girang. Tiada kata henti bersyukur pada Tuhan karena bisa menikmati senyum Bara yang begitu indah.


"Terima kasih Tuhan, aku kerasakan senyumnya yang tulus. Aku berharap senyum itu akan dia berikan di setiap waktunya" Seru Bela dalam hati sambil tersenyum memandangi mata dan bibir Bara secara bergantian. Pandangannya terpaku dengan pesona manis yang diberikan lewat senyuman Bara.


Sementara itu Mario memilih untuk duduk bersandar di pohon kelapa yang sedang menari-nari dengan hembusan angin yang cukup kencang. Seakan menggambarkan sebuah perasaan yang diterpa kenyataan bahwa mereka adalah sepasang kekasih dengan ribuan tawa dalam setiap detiknya.


Mario tidak sanggup melihat kemesraan itu, namun dia juga tidka bisa pergi dari tempat itu dan harus tetap tenang seperti tidak melihat apapun.


"Sial, mengapa aku harus terjebak diantara cinta mereka" Gumam Mario menghardik dirinya sendiri. Karena telah mencintai istri kakak kandungnya.


Dia selalu merasa bahwa mencintai Bela adalah suatu hal yang salah. Namun dia juga merasa bahwa mencintai Bela juga rasa yang tepat. Karena selama Mario hidup, dia telah menemukan kebahagiaan walau itu sekecil kuku dalam diri Bela.


Rasanya dia ingin terbang dalam cinta itu, namun dia juga lupa bahwa cintanya harus terhenti karena telah terhalang oleh kecepatan waktu masa lalu dan tidak bisa diputar kembali.


"Aaaaaaa" Teriak Mario dengan keras, membuat Bela dan Bara segera mengarahkan pandangannya pada Mario.


"Hai, aku tidak apa-apa. Hanya saja teriak untuk menghilangkan masalahku" Ujar Mario pada Bara dan Bela yang sedang terpaku menatapnya.


Dia tidak ingin ada sebuah kesalahpahaman antara mereka bertiga. Jadi bibirnya berargumentasi dengan pikirannya sendiri. Terlepas dari hal itu, hatinya sungguh sangat sakit bila kembali mengingat kenyataan yang telah berjalan lama tentang cinta di depan mata Mario itu.


"Hati-hati di sana, awas kelapa jatuh ke kepalamu" Teriak Bara dengan tertawa. Begitu juga dengan Bela ikut tertawa saat mendengar ucapan itu.


Mario sangat terkejut sekaligus tersenyum kecil melihat perlakuan Bara beserta ucapannya tadi. Dia merasakan kembali teguran itu setelah sekian lama tidak ada tegur sapa yang tulus dari kakaknya.


Baru kali ini Bara mengucapkan kata pada Mario seperti sedang berbincang-bincang dengan lawan bicaranya. Sungguh kebahagiaan yang tidak bisa diukur oleh apapun. Dalam hatinya Mario berkata lebih baik Bara dan Bela selalu mesra seperti itu asalkan hubungan Bara dan Mario menjadi lebih baik seperti tadi walau hanya lewat sepatah kata saja.


Telah lama Mario menantikan ucapan perhatian itu, sudah beberapa tahun lamanya semenjak kepergian Denada. Dan kali ini Bara kembali mengucapkan itu seakan diantara mereka baik-baik saja.


"Baguslah, aku harap kalian terus seperti itu" Ujar Bela dalam batinnya.


Diam-diam Bela kembali memperhatikan tingkah Bara yang berbeda seratus persen dari biasanya. Bela juga meraskaan kesenangan luar biasa karena Bara mengatakan hal kecil yang sangat berarti pada Mario. Harapannya kembali muncul untuk menyatukan kembali keluarga yang telah pecah antra Mario dan juga Bara.

__ADS_1



__ADS_2