
Mario segera pergi dari hadapan Bara tanpa harus menunggu jawaban dari mulut Bara. Kini sorotan kedua mata sudah menghilang, dan hanya ada satu sorotan mata menatap ke bawah melihat kesenangan Bela dan oma.
"Istriku, sebaiknya kau ganti baju sekarang. Karena aku harus berbicara dengan oma" Tutur lembut keluar dari mulut lelaki yang Bela anggap sangat dingin dan kejam. Walau Bela tidak tau apa yang akan terjadi, dia harus tetap menuruti perintah itu.
Sejenak dia terdiam sambil menatap Bara, kali ini sorot matanya sedang waspada dan menyelidik karena sikap Bara sangat lembut tidak seperti sikap yang kemarin.
Pikirnya bertanya-tanya searang, tidak seperti biasa Bara menyuruh Bela untuk berganti baju. Padahal saat ini dia ingin bersama oma dan berbicara banyak hal.
"Kenapa kau masih bengong? " Ujar Bara dengan lembut.
"Ah tidak, baiklah aku akan pergi. Tapi kenapa? " Bela masih menanyakan hal yang ingin dia ketahui.
"Aku ingin berbicara dengan oma sebentar, jadi silahkan kau ke kamar dulu istriku" Sahut Bara kembali sambil memberikan kode pada Bela untuk segera masuk.
Mata Bara melotot seperti memberikan isyarat agar Bela segera pergi dari hadapannya. Gadis itu mengerti dengan sorot mata Bara, dia segera pergi dan naik ke kamar.
Walaupun di lubuk hatinya masih merasakan hal aneh, karena saat Bara ingin berbicara dengan oma dia tidak pernah mengusir Bela. Tapi mengapa sikapnya berbeda karena mengusir Bela seakan ada hal penting yang sedang dibicarakan oleh Bara.
"Aneh, apakah harus 2 mata berbicara dengan oma. Padahal hari-hari biasa tidak pernah dia berbuat demikian" Gumam Bela sambil mengambil baju ganti.
Beberapa menit kemudian dia selesai mengganti baju sekolah dengan baju santai. Dirinya ingin keluar tapi mengingat bahwa Bara memberikan isyarat agar masuk ke dalam kamar.
Hatinya penuh tanda tanya namun dia harus menurut. Bela berfikir bahwa pembicaraan itu menyangkut tentang oma, jadi dia diam sejenak dan kemudian mengintip sedikit dengan membuka pintu kamarnya secara perlahan.
*krekkkk*
"Sama saja bohong, karena aku tidak mendengar mereka" gerutu Bela.
Bela kembali membuka pintu semakin lebar, namun nyatanya telinga dia tidak mendengar juga.
Bela mencoba mengintip dari tangga atas dan keluar drak kamarnya, memang wajahnya oma dan Bara terlihat sangat serius untuk berbicara walaupun Bela tidak mengetahui hal itu.
"Ssssttt, ngapain? " Suara yang tiba-tiba datang.
"Astaga" Bela terkejut.
Jantungnya hampir copot karena Mario datang tiba-tiba dan berdiri di samping Bela. Detak jantung berdebar kencang, dia pikir hantu ternyata Mario.
"Ah sial, kenapa kau datang tanpa suara? " Ketus Bela.
"Aku penasaran apa yang kau lihat" Sahut Mario.
"Tuh" Bela menunjukkan jarinya ke arah oma dan Bara.
Dirinya sangat penasaran dengan pembicaraan mereka berdua. Saat bertanya pada Mario, dia juga tidak tau apa yang sedang dibicarakan oleh oma dan kakaknya.
Mario hanya memberitahu jika oma dan bara sudah berbicara empat mata maka tandanya ada hal yang sangat penting untuk dibahas. Jadi tidak boleh ada satu orangpun yang menganggu nya.
"Katanya tidak boleh ada yang mengganggu, tapi kenapa tidak di dalam ruangan saja" Tanya Bela penasaran.
"Oma tidak suka" Jelas Mario.
"Mengapa? "
"Tanyakan saja pada oma" Sejenak Bela terdiam mendengar jawaban Mario.
"Hmm, tapi kan nanti bisa di dengar oleh para pembantu disini" Ujar Bela
Gadis yang sangat banyak berbicara, Mario tidak bisa menolak pertanyaannya maka dia harus menerima dan menjawab semua yang membuat Bela penasaran.
Lelaki dingin itu tidak marah dengan pertanyaan yang terus Bela berikan. Tapi hatinya terlihat semakin menggebu untuk terus membuat Bela banyak bicara agar menghibur hati kosongnya.
"Para pembantu akan pergi, mereka tidak akan berani menguping. Karena jika kak Bara tau, maka telinga mereka akan hilang satu atau keduanya"
"Apa? " Bela terkejut.
Suara yang cukup keras menyita perhatian oma dan Bara. Mereka berdua langusng mendongakkan wajahnya ke atas. Mario juga ikut terkejut, namun dia tetap tenang walaupun tau konsekuensi yang akan diberikan jika menguping pembicaraan mereka.
__ADS_1
Sedangkan Bela langsung terlihat sangat panik. Sebelumnya dia mendengar penjelasan Mario tentang pemotongan telinga dan saat ini dia akan mengalaminya sekarang karena suara yang dikeluarkan cukup keras membuat persembunyian dirinya ketahuan.
"Bela sayang, kemarilah nak" Panggilan lembut dari oma.
Bela menelan salivanya dengan kasar. Sebenarnya dia tidak takut dengan Bara, namun dia takut jika oma marah dan Bara akan memotong telinganya sehingga dirinya tidak bisa mendengar pembicaraan orang lagi.
"Sial, Mario kau harus ikut denganku" Ajak Bela berbisik sambil menarik lengan Mario.
"Tapi... "
Belum selesai Mario berkata, Bela langsung menarik kembali lengan Mario dengan paksa. Sebenarnya Mario juga takut karena selama ini tidak pernah mendengar pembicaraan oma, dan baru kali ini dia mendegarnya secara tidak sengaja walaupun tidak jelas suaranya, itu semua karena Bela.
Mereka berdua turun ke bawah dan menghadap oma secara langsung. Sedangkan Bara juga menatapnya dengan tatapan tajam seperti ingin memangsa.
"Ma.. Maa... Maaf oma, Bela tidak bermaksud.... " Suaranya terbata-bata.
Dia juga tidak bisa melanjutkan pembicaraannya, karena merasakan ketakutan. Tangan satunya sibuk memegang telinga kanannya.
"Maaf oma, aku dan Bela tidak berniat untuk menguping. Kami hanya berada di atas untuk...." Mario mencoba menceritakan hal tadi namun oma memotong pembicaraan.
"Sudahlah, kalian duduk dulu. Oma ingin bicara"
Mario dan Bela duduk secara berdampingan. Hal terlihat jelas oleh Bara, untuk mencegah istrinya dekat dengan Mario jadi Bara mengisi sela-slea mereka sehingga dapat menghalangi dua sejoli itu.
Hal yang sangat lucu membuat oma menahan tawanya. Baru kali ini dia tau bahwa Bara sudah memberikan beberapa perhatian dan kasih sayang yang tidak pernah dia sadari selama ini.
"Kalian duduklah, oma tidak marah pada kalian, akan tetapi oma ingin mengatakan sesuatu? " Oma mencoba membuka pembicaraan dan ingin menjelaskannya.
"Sesuatu apa oma? Apakah tentang kesenangan?" Tanya Bela dengan antusias.
"Sebentar"
"Bi..., tolong panggilkan nyonya klara dan juga pak Taryo untuk segera datang kesini" seru oma pada pelayan.
"Baik nyonya besar"
Oma juga memanggil pak Taryo yang menjadi ayah angkat Bela. Karena pak Taryo juga memiliki hak untuk melakukan pertemuan di keluarga Baratha sebagai ayah Bela.
"Baiklah, smua berkumpul disini. Saya ingin mengatakan sesuatu yang cukup membuat kami bersedih" Wajah oma mendadak Berubah saat ingin memberitahu sesuatu itu.
Ucapan oma sangat meyakinkan, Bela semakin penasaran. Akan tetapi hatinya menciut saat perkataan yang keluar adalah berita sedih bukan berita kebahagiaan.
Akan tetapi dia tidak tau pasti apa yang membuat oma mengatakan bahwa berita tersebut adalah berita sedih.
"Bara dan Bela harus pindah dari rumah ini ke apartemen" Jelas oma.
"Apa? " Semua orang terkejut, kecuali Bara dan oma.
Mereka berdua sudah membicarakan secara matang tentang perpindahan ini. Oma juga memahami suatu hal yang Bara ceritakan tentang keamanan dan ketenangan keluarga Baratha.
Sebenarnya oma juga tidak setuju, tapi hal itu harus dilakukan demi keselamatan Baratha serta anak cucunya hingga akhir. Karena sekarang pengintaian musuh semakin memanas.
"Tidak, Bela harus tetap disini" Mario berdiri dengan kesal.
Dia yang biasanya hanya terdiam dan selalu menerima apapun itu, tapi kali ini dia tidak setuju karena dirinya sudah merasa sangat nyaman bersama Bela. Mario juga merasakan perubahan yang cukup besar semenjak kehadiran Bela.
Dia merasa bahwa dunianya kembali berwarna semenjak kehadiran Bela yang selalu menyebarkan senyuman dimanapun dia berada. Maka dari itu Mario teriak paling kencang tentang penolakan pindahan Bela.
"Apa masalah mu? " Tanya Bara dengan nada cukup tinggi.
"Bela harus disini, karena dia sudah membuat perubahan besar untuk rumah ini. Aku tidak ingin berpisah dengannya" pekik Mario, matanya menampakkan ucapan kejujuran dari lubuk hatinya yang paling dalam.
"Memangnya kau siapa? Aku ini suaminya jadi kau tidak berhak melarang ku" Suara Bara kembali meninggi, siroran matanya penuh kekesalan dan bercampur amarah.
"Tenanglah Bara, Mario kamu tidak mengerti tentang hal ini nak" oma mencoba menenangkan perseteruan antara kedua saudara itu.
"Bagaimana bisa aku mengerti, sedangkan oma tidak menjelaskannya" Sahut Mario dengan wajah yang masih dalam keadaan kesal.
__ADS_1
"Benar, karena banyak yang harus oma jelaskan. Suatu saat kamu akan mengetahui semuanya" Ujar oma, namun oma tetep saja tidak menjelaskan apapun.
"Tapi oma... " Mario masih ngotot untuk mengetahui apa yang sedang terjadi.
"Ma, mengapa putriku harus pindah. Jika dia pindah maka rumah ini tidak ada semangat lagi" Bukan hanya Mario yang tidak setuju, melainkan juga Klara menentang hal itu.
"Klara, aku tau kau sangat menolak tentang keputusan ini. Namun aku sudah memastikan bahwa ini yang terbaik bagi mereka" Ujar oma dengan penuh ketenangan.
Klara hanya menunduk, dia memang sangat tidak setuju dengan keputusan oma. Namun tetap saja Klara harus terdiam dan tidak bisa berkata apapun tentang keputusan yang sudah sangat bulat.
"Maaf nyonya, apakah anak saya memiliki salah pada keluarga ini? " Pak Taryo mencoba masuk dalam perbincangan tersebut.
"Tidak pak, dia sangat patuh. Akan tetapi dia harus segara pergi dari rumah ini untuk menyelamatkan keluarga ini dan juga dirinya" Jelas oma.
Mereka tidak setuju dengan keputusan oma, sedangkan Bela hanya bisa menatap penuh haru. Sorotan matanya juga ingin berseru namun sepertinya tidak banyak kata yang ingin dia keluarkan.
"Apakah oma membenciku? Jika memang oma membenci, aku bisa pergi dari sini dan tidak pernah kembali. Asalkan oma tetap bahagia" gumam Bela dalam hati.
Rait wajahnya pilu terlukis dari gadis itu. Matanya menatap penuh pasrah saat oma memutuskan keinginannya yang sudah matang. Tidak ada lagi yang bisa mencegah keputusan itu.
Bela hanya bisa berlutut untuk memohon agar oma membiarkan dirinya tinggal disini. Karena di rumah ini Bela merasa banyak teman, para pembantu dan pengawal lainnya.
Bahkan Bela merasakan bahwa rumah ini sangat ramai, dia juga bisa bermain bersama Mario serta tertawa bersama oma dan mama Klara.
"Oma tolong, jangan usir Bela ma" Tangannya memohon, kakinya bersimpuh pilu di atas lantai.
"Bela, kamu sedang apa nak. Oma tidak mengusirmu, akan tetapi hanya menyuruhmu pindah saja untuk sementara waktu" Ucap oma.
"Mengapa? " Tanya Bela.
"Untuk keselamatanmu dan keluarga ini" Tangan oma membelai lembaut rambut gadis itu untuk tetap kuat menjalani perintahnya.
Tidak banyak penjelasan panjang dari oma, hingga pada akhirnya mereka menyetujui hal itu walau hatinya masih sangat dongkol dan tidak rela jika penghibur rumah ini harus pergi.
Bara mencoba memberikan alasan yang cukup agar Bela. Memahami tentang kepindahannya dari rumah ini. Namun rasanya sia-sia, karena Bela terus termenung.
"Apa kau akan termenung sepanjang waktu? " Tanya Bara saat mereka sudah naik ke kamar atas.
"Memangnya kenapa? " Percakapan dingin di ruang kamar setelah pertemuan tadi.
"Cepat bereskan barangmu, kita akan pergi malam ini juga" Perintah Bara membuat Bela semakin terkejut.
"Kenapa? Kenapa tuan? Aku sudah sangat senang, dan aku takut jika oma kesepian" Bela kembali membantah dan tidak menuruti apa. yang Bara perintahkan karena dia masih memikirkan oma.
"Tenanglah, aku sudah menyewa teman untuk oma. Aku akan memberikan jadwal seperti yang kau lakukan pada oma" Bara mencoba merayu dengan kata-kata tersebut untuk menenangkan kegelisahan dalam diri Bela.
Ucapannya terus meyakinkan seakan dia memberikan kepastian bahwa oma baik-baik saja. Sebenarnya Bela tidak percaya dengan hal itu, namun hati kecilnya terus mengatakan bahwa dia harus mendengarkan Bara untuk kali ini saja.
Bukan tentang sesuatu dia tidak ingin pergi dari rumah ini, namun tentang bagaimana dia merasankan kenyamanan, kebahagiaan, keramaian dan juga teman.
Terutama teman bersama oma, para pelayanan, pengawal dan masih banyak lagi di rumah ini yang selalu membuatnya senang tanpa tekanan.
"Lantas apakah aku bisa kembali kesini untuk bersama oma? " Bara mengangguk dengan pertanyaan yang Bela berikan.
Bibir manyun gadis itu kini berubah melebarkan senyuman. Dia segera bangkit dari tempat duduknya dan mendekat pada Bara. Tangannya langsung menyambar tangan Bara untuk berterima kasih padanya.
Kebahagiaan yang tak pernah ternilai, akhirnya ada jawaban juga atas kegelisahan yang dia alami saat memikirkan pindahan ini dari tadi.
"Kau bisa datang ke rumah ini semaumu, akan tetapi atas ijin ku" Ucap Bara pada Bela.
"Terima kasih tuan, aku merasa senang. Karena rumah ini awal aku menemukan kebahagiaan" Bara memberikan senyum kecil setelah mendengar pernyataan Bela.
Pikirannya dipenuhi kesenangan, karena meskipun dia pergi dari rumah ini setidaknya bisa kembali walau hanya sekedar berkunjung.
Bela segera membereskan pakaian dirinya yang tidak cukup banyak karena selama ini dia hanya menggunakan pakaian yang pernah Bara belikan dan tidak pernah lagi pergi ke mall besar.
__ADS_1