Antara Cinta Dan Mafia

Antara Cinta Dan Mafia
8. Keajaiban


__ADS_3

Bela mendekati tante Klara sedekat mungkin, tangannya memberikan hangatan dalam genggaman yang diberikan olehnya. Tatapan mata Bela juga terlihat sendu.


Hatinya juga meras bersalah karena telah menggunakan baju orang lain tanpa pamit, dan melakukannya secara lancang.


"Maafkan aku tante, aku akan melepas baju ini dan akan menggantinya dengan baju yang lain. Bila perlu aku akan mengganti dengan baju pelayan" Ucapan yang tulus membuat hati seorang ibu tersentuh.


"Jangan, gunakanlah baju yang ada di kamarmu itu nak" Sahutnya sambil menunjuk ke sebuah kamar yang ditempati oleh Bela.


"Tante senang melihat baju-baju itu dipakai olehmu, seakan tante merasakan kehadirannya" Belaian lembut tangannya mengelus wajah Bela.


Bela terdiam mendengar ucapan tante Klara. Meskipun dirinya tidak mengerti tentang apa yang diucapkan. Dia tidak mengerti tentang Denada, dan juga tentang kehadirannya. Pikirnya bertanya-tanya, siapakah Denada itu.


"Terima kasih tante sudah membiarkan aku menggunakan baju ini, tapi tante jangan menangis karena kau tidak ingin melihat air mata itu terjatuh dari seorang ibu"


Tangannya sibuk menyeka air mata tante Klara. Membersihkannya sambil membelai lembut wajahnya seakan dia melihat kehadiran seorang ibu yang telah dirindukan sangat lama.


Sedangkan Bara masih tetap terdiam menatap dialog mereka. Tubuhnya terpaku dan tidak bisa beranjak dari manapun. Karena dia melihat ketulusan dari Bela yang menghibur mamanya saat dia bersedih.


"Maaf ma, tapi aku tidak bisa memberikan hak Denada pada orang lain" Gumamnya dalam hati, lalu langkahnya bergegas pergi meninggalkan mereka berdua.


Sedangkan Klara langsung memeluk Bela dengan hangat. Dia merasakan kehadiran Denada kembali, dan Bela merasakan kehadiran seorang ibu yang sangat lama dia rindukan.


Bela mencoba berbair dengan kasih syang yang diberikan. Dia ingin masuk dalam kelembutan yang telah dilontarkan untuknya dari Klara. Walau dia bukanlah bagian dari keluarga ini.


"Mama jangan menangis lagi ya" Klara terkejut dengan ucapan itu.


"Mama? " Dia langsung melepaskan pelukan itu dari Bela. Wajahnya Bela menyadari bahwa dia sedang salah berbicara. Bela langsung menutup mulutnya yang berbicara sembarangan.


"Maaf tante, aku tidak bermaksud berbicara seperti itu. Aku hanya rindu dengan mamaku saja" Gumamnya dengan rasa ketakutan.


"Tidak apa-apa" Sahut Klara.


Senyumnya dengan penuh kelembutan membuat hati Bela sangat lega. Terasa damai saat melihat wajahnya Klara yang sejuk, bukan dingin seperti lalaki muda yang bersifat arogan.


Tangan Klara kembali memeluk Bela dengan erat. Rasanya dia menemukan pelukan terhangat dari putrinya. Sangat terlihat jelas bahwa kelembutan hati Bela sama dengan Denada. Walaupun mereka bukanlah orang yang sama.


"Tante, apakah aku boleh menemui pak Taryo? " Pinta Bela dengan lembut. Karena dia ingin mengetahui keadaan pak Taryo.


"Boleh, mari tante antar" Klara menuntun Bela ke kamar bawah yang ditempati oleh pak Taryo.


"Pak Taryo" Suara lirih dari Bela saat masuk ke dalam kamar.


Tatapan khawatir dari mata gadis mungil saat melihat pak Taryo masih belum sadarkan diri. Terlihat selang infus terpasang dan juga beberapa balutan perban di tangan, kaki dan juga kepalanya.


Dia memang bukan orang tua Bela, namun kasih sayangnya melebihi dari seorang ayah dan Bela sangat menyayanginya. Karena dari kecil dia dibesarkan dengan kasih sayang oleh pak Taryo dan bi Siti.


"Pak bangunlah, jangan begini. Hiks.. . , hiks" Bela menangis kencang karena takut kehilangan pak Taryo.


Pikiran buruk merasuki otaknya, jadi dia menangis tersedu-sedu saat melihat keadaan pak Taryo. karena saat ini yang dia miliki hanyalah pak Taryo.


"Jangn menangis nak, pak Taryo akan baik-baik saja. Dokter bilang dia hanya istirahat, mungkin nanti akan siuman kembali" Jelas klara sambil membelai lembut punggung Bela yang bersimpuh di samping tempat tidur pak Taryo sambil menggenggam tangannya.


"Pak maafin Bela, semua ini karena Bela" Ucapnya dengan rintih.


Tak terasa mata klara juga berkaca-kaca melihatnya. Dia merasa heran, bagaimana bisa seorang supir dan majikan akan terlihat seperti seorang anak dan seorang ayah dengan memiliki ikatan kasih sayang yang kuat.


Hal baru yang dia lihat dengan ketulusan dari tutur lembut Bela. Rasanya sangat mustahil tapi itu benar-benar nyata.


"Mengapa kamu seperti ini, bukankah dia supirmu?" Tanya Klara yang penasaran saat melihat Bela menangis kencang sambil sesegukan saat melihat pak supir yang masih terbaring.


"Dia supirku, tapi dia seperti ayahku" Ucapnya.


Klara menatap dengan kebingungan karena tidak tau apa yang sedang Bela bicarakan. Pikirnya bertanya-tanya apakah pak Taryo adalah ayah Bela ataukah bukan.

__ADS_1


Bela berdiri dan berbalik menatap Klara, dia menyeka air matanya lalu menceritakan hal yang sangat jelas pada wanita paruh baya di hadapannya. Dia bercerita bahwa pak Taryo yang menggantikan kasih sayang dari seorang ayah saat seorang ibu pergi dan ayahnya sendiri tidak memperdulikan kehidupannya.


"Kasih sayang pak Taryo tulus, dan aku sudah menganggapkanya sebagai ayahku walaupun dirinya seorang supir" Ucapannya menyentuh hati.


Tatapan klara menjadi haru melihat gadis kecil yang sangat kekurangan kasih sayang dari seorang ayahnya dan juga seorang ibu yang telah lama tiada. Dia hanya bisa memeluknya dan menyandarkan kepala gadis itu di bahunya.


Rasa iba menyelimuti hatinya untuk terus memberikan suplai kasih sayang pada gadis kecil yang malang. Klara tidak ingin melihat gadis itu menderita karena keegoisan kehidupannya.


"Peluklah aku sebagai mamamu nak" Tanpa banyak bicara, Bela memeluknya dengan erat.


Air matanya kembali menetes, baru kali ini Bela menangis di hadapan seseorang. Apalagi Klara adalah orang asing baginya. Namun tutur kata yang halus mampu membalut luka pada Bela.


"Tante, apakah aku boleh tinggal disini. Aku tidak ingin pulang ke rumahku" Bela berlutut di kaki Klara.


Dia memohon agar tidak ingin pulang ke rumahnya. Dia juga berkata bahwa ingin kebebasan, apalagi di rumah itu hanyalah neraka dari sang ayah karena perbedaan kasih sayang.


"Tinggallah sepuasmu diaini bersama pak Taryo, anggaplah ini rumahmu"


"Tidak, tidak, aku akan menjadi pelayan dan membantu memasak, menyapu dan menyiapkan makan seperti para pelayan lainnya. Aku hanya bisa membayar itu tante" Ucap Bela pada Klara.


"Itu hal bagus, jadi kau menumpang dan tau diri" Suara itu datang dari belakang mereka berdua.


Ternyata Bara juga mengizinkan gadis itu tinggal diri rumahnya asalkan menjadi pelayan seperti yang dia inginkan.


Tidka ada belas kasih dari bara untuk gadis yang malang itu. Walaupun daritadi dia juga mendengar ceritanya. Namun hatinya tetap saja membeku dan tidak akan pernah mencair kehangatan.


"Bara, biarkan saja dia menjadi adikmu" Ujar Klara mendekat.


"Tidak, aku ingin dia menjadi pelayan saja" Sahutnya dengan sedikit senyum.


Keputusan yang sudah bulat. Menjadikan Bela pelayan adalah rencananya karena gadis itu tidak memiliki sifat yang sama seperti mendiang adiknya.


Memang tubuhnya mirip, tapi bara menilai jika bela adalah wanita yang pemberonta dan tidak memiliki tutur lembut dalam tubuhnya. Jadi Bara sangat tega bila dia melihat gadis itu menjadi pelayan rumah.


"Tidak, tidak. Mama tidak setuju"


"Ma, dia bukan ratu disini. Jadi dia harus tau balas budi" Ucap bara kembali.


Perdebatan terus terjadi antara Klara dan Bara. Pemikiran mereka tidak pernah sama. Klara ingin Bela menjadi putrinya sedangkan Bara ingin Bela menjadi pelayan di rumahnya.


Setiap kali berdebat selalu ada perbedaan antara ibu dan anak. Terlihat jelas tidak ada keharmonisan dalam diri mereka tapi blBara masih bisa menahan emosi.


" Tidak apa-apa tante, aku bisa melakukan pekerjaan rumah" Ucapnya dengan senyuman. Sepontan tangis itu telah hilang saat Bara memasuki kamar pak Taryo. Dan skeranag telah berganti menjadi senyuman.


"Baiklah jika itu maumu nak, tapi kamu gunakan saja baju yang ada di lemarimu. Jangan menggunakan baju pelayan disini" Bela hanya mengangguk dan memberikan senyuman khas dari bibirnya.


Sedangkan Bara tidak bisa menghentikan lagi keputusan mamanya yang menginginkan Bela memakai baju Denada. Karena dia tau bahwa seorang ibu akan lebih merindukan anaknya yang sudah lama telah tiada.


Tanpa sepatah kata lagi Bara beranjak pergi dari kamar itu. Terlihat jelas wajah dinginnya yang tidak gampang berbicara pada siapapun. Sikapnya yang dingin kini semakin membeku semenjak kepergian Denada.


"Apa yang harus aku lakukan, sepertinya menyapu lantai saja" Batin Bela setelah Klara pergi dan dia belajar menjadi pelayanan rumah ini.


Tangannya sibuk menyapu lantai lalu membersihkan barang-barang di ruang tamu agar terlihat tidak berdebu. Bela merasakan lelah karena rumah yang dia bersihkan bukan hanya sepetak namun sangat besar.


"Denada, Denada, ....... Denada" panggilan lirih yang bergema menghiasi ruangan.


"Denada, apakah dia ada disini" Pikirnya Bela.


Bela langsung melihat sekeliling lalu menatap ke sumber suara. Dan ternyata tidak ada Denada yang dia cari. Melainkan seorang nenek yang duduk di kursi roda.


"Nenek memanggilku? " Bela mendekat


"Siapa kamu, mengapa menggunakan baju cucuku? " Ketusnya dengan tatapan kesal.

__ADS_1


Untuk meredam kekesalan sang nenek, Bela semakin mendekat dan duduk bersimpuh di depannya sambil menjelaskan apa yang dia ketahui agar tidak menjadi salah paham.


"Aku adalah Bela dan pelayan baru di sini nek, aku adalah orang asing yang hanyut dan diselamatkan hingga sampai ke rumah ini" Jelasnya sambil mengulurkan tangan.


Nenek itu diam dan tidak membalas sambutan tangan Bela. Bela terdiam dan dirinya menyadari bahwa sang nenek tidak akan begitu akrab dengan orang asing di rumah ini.


"Apakah nenek ingin menghirup udara segar?" Nenek masih terdiam lalu dengan kecerdikan Bela, dia menghibur nenek dengan menceritakan keindahan udara yang bagus di luar rumah.


"Udara pagi sangat bagus, apalagi jauh dari polusi" Kursi roda di dorong secara perlahan dan diiringi oleh ocehan Bela yang sangat lincah menceritakan keindahan alam.


Dan di lain sisi Klara menatapnya dengan senyuman kebahagiaan. Awalnya heran karena orang asing mampu merayu nenek, namun dia salut dengan kegigihan Bela yang terus menghibur nenek tanpa mengeluh sedikitpun.


Setelah keluar dari rumah, Bela sangat terkejut karena halaman yang sangat luas bagaikan kebun. Rumah ini dikelilingi pagar tembok besar yang kokoh.


"Lihatlah nek, halaman yang indah dengan kebun bunga disana. Dan lihat ada bunga mawar juga nek"


Dengan wajah ceria dari hadis itu sedikit membuat hati nenek damai. Dia terus mendengarkan apa yang sedang dibicarakan olehnya.


Bela terus menjelaskan tentang keindahan kebun dan halaman. Padahal dia sendiri baru saja mengetahuinya setelah keluar dari dalam rumah. Dirinya berfikir apabila dia keluar jauh mungkin akan tersesat karena begitu besar seperti hutan.


"Biar aku pijat juga kaki nenek untuk menenangkan diri sambil menikmati keindahan bunga itu" Bela duduk bersimpuh dan memainkan jarinya untuk meregangkan otot-otot nenek.


Dengan senang dia memijat kaki nenek. Walaupun nenek tidak membuka suaranya tapi dia terus mengoceh sambil memberikan pijatan yang lembut.


"Kamu" Bentaknya dari belakang membuat Bela sangat terkejut.


"Tuan" Wajah ketakutan terlukis dari Bela. Dia takut ada kesalahan lagi yang diperbuatnya.


"Mengapa kamu mengeluarkan oma dari kamar, sedangkan dia harus terus beristirahat" Bara naik pitam saat melihat oma Rose yang dia sayangi dibawa keluar rumah dan bernaung di kebun bersama gadis kecil itu.


"Tuan, nenek sedang ingin menghilangkan stres dan menikmati udara segar. Jadi saya mengajaknya kesini agar nenek bisa senang" Sahut Bela dengan santai menanggapi kemarahan Bara.


"Jangan mentang-mentang kamu di sayang oleh mamaku dan berbuat seenaknya pada nenek" Suaranya sangat keras, persis sekali dengan bentakan ayah Bela saat marah.


"Aaaa... " Bela menutupi wajah dengan kedua tangannya saat Bara ingin memukul dengan kemarahan.


"Bara, gadis itu benar bahwa oma ingin menghirup udara segar. Oma sangat sumpek di dalam kamar dan rebahan terus"


"Oma" Mata Bara terbelalak dengan kejutan yang sangat besar. Baru kali ini dia mendengar oma yang disayangi berbicara kembali.


Bibir oma membisu, matanya selalu dalam tatapan kosong semenjak kematian Denada. Tapi kali ini gadis kecil yang bernama Bela berhasil membuat oma kembali berbicara seperti dulu.


Sungguh keajaiban yang harus diberitahukan untuk keluarga ini. Mereka semua menunggu kehadiran oma yang dulu, dan skearang adalah saatnya oma kembali.


"Mama, kemarilah" Teriak Bara sangat antusias untuk memberitahu mamanya karena oma telah kembali berbicara.


"Ada apa? "


"Ma, oma kembali berbicara"


"Benarkah? " Klara mendekat pada oma.


"Mama, benarkah yang dibicarakan oleh Bara? " Oma kembali terdiam. Lalu tangannya menarik lengan Bela memberikan isyarat untuk membawanya masuk ke dalam rumah.


"Nenek mau masuk? " Oma hanya mengangguk.


"Tante, tuan, saya meminta ijin untuk membawa nenek masuk"


"Iya Bela, tolong bawa nenek ke kamarnya" Perintah Klara.


Bela membawa oma masuk ke dalam kamar. Sedangkan Bara, dia menatapnya pilu karena oma selalu membencinya semenjak kematian Denada. Oma berfikir bahwa baralah penyebab kematian adiknya Denada.


__ADS_1


__ADS_2