Antara Cinta Dan Mafia

Antara Cinta Dan Mafia
39. Beni


__ADS_3

Meraskana sentuhan dari Bela, jantung Bara kembali bergetar tidak seperti biasanya. Nafasnya seakan memburu dan dia mencoba tenang. Bara mulai mengatur nafas kembali agar bisa teratur.


Entah mengapa setiap Bela menyentuhnya seakan dia ingin terbang. Padahal pikirannya mengatakan dia tidak menyukai gadis itu karena dirinya seperti anak-anak remaja yang masih terlihat sangat kecil.


"Kau gunakan ponsel itu untuk menghubungiku, dan uang itu untuk naik taksi" Fasilitas Bara berikan percuma sebagai alat pembayaran dirinya pada Bela.


"Siap bos" Acungan jempol Bela berteriak sebagai tanda dia menyetujui ucapan Bara.


Bela segera bersiap diri untuk berangkat, begitu juga dengan Bara. Mereka berangkat dengan tujuan dan kendaraan masing-masing. Bara mengendarai mobilnya dan Bela berhenti di samping jalan untuk mendapatkan taksi.


Akan tetapi dia tidak terbiasa menaiki taksi, karena selama hidupnya dia selau menaiki mobil pribadi atau angkatan umum. Apalagi pikirnya mengatakan bahwa biaya taksi cukup mahal.


"Ah, menunggu taksi cukup lama dan juga mahal seperti menunggu cinta saja. Lebih baik aku naik angkot saja dan menyimpan sisa uang ini" Ujarnya berdiskusi pada dirinya sendiri.


Dia tidak menemukan angkot di kota ini, yang ada hanyalah bus umum. Akhirnya Bela menaiki bus umum. Walaupun sesak dan banyak penumpang di pagi hari, setidaknya dia bisa menghemat uangnya untuk jajan di lain hari.


Karena di hari biasa Bara memberikan uang yang sedikit padahal dia sangat kaya. Hal itu dilakukan Bara dengan tujuan agar Bela menghabiskan uang itu secara langsung dan tidak menabung.


Pikiran Bara sungguh sangat detail, dia berfikir jika Bela menabung maka akan ada kemungkinan gadis itu kabur darinya dan melarikan diri ke kota lain untuk terlepas dari ikatan Bara dan keluarga Baratha.


"Ah sial, aku tidak kebagian tempat duduk" Gerutu Bela dengan kesal.


Bela harus bersabar karena tempat duduk sudah penuh jadi dia harus berdiri hingga sampai ke sekolah. Tangannya sigap memegang benda yang tergantung di atasnya.


Dia baru pertama kali naik bus dengan berdiri, karena biasnya dia hanya menaiki angkot dan itupun bersama Roy sahabatnya.


Liak-liuk bus membuat tubuh Bela tidak seimbang. Dia hampir kehilangan keseimbangan saat bus berbelok ke arah kiri ataupun kanan. Dan tiba-tiba bus mengerem mendadak.


*crittt*


"Aaaaa" Teriakan semua orang termasuk Bela.


Dia hampir terjatuh, untung saja ada seorang lelaki yang memegang tangannya dan menahan agar Bela tidak terjatuh. Cengkeraman kuat tangan itu membuat bela berdiri dengan badan miring.


"Kau tidak apa-apa? " Tanya lelaki itu pada Bela.


"Tidak, aku baik-baik saja.Terima kasih banyak" Ucap Bela gugup.


"Sama-sama" Senyumnya sangat manis membuat Bela senang bertemu dengan lelaki itu.


Dia menggunakan hoodie hitam dan sekarang berdiri di samping Bela. Rasanya sangat canggung karena dia telah menolong Bela. Bela ingin membalas budinya, karena lelaki itu dia tidak terjatuh di dalam bus.


"Ehmmm kau... "


*crittt*


Baru saja Bela ingin berbincang-bincang ringan dengan lelaki di sampingnya, namun pak supir mengerem mendadak untuk yang kedua kalinya. Kali ini lelaki itu kembali menahan Bela, namun dia hanya memegang tas Bela saja bukan tangan Bela seperti tadi.


Bela terkejut karena dirinya harus terjatuh lagi, dan lelaki itu menyelamatkan Bela untuk yang kedua kalinya.


"Bus gila" Kesal Bela. Nafasnya berhembus kasar, rasanya ingin menemui supir bus dan mencengkramnya.


Namun kali ini tidak bisa karena dia sudah sampai ke sekolah. Dengan wajah kesal Bela turun dari bus dan langsung berlari ke dalam kamar mandi untuk menenangkan diri.


Dia segara mencuci wajahnya agar terlihat tenang dan tidak boleh kesal. Dia terus menciptakan air dengan tujuan wajahnya basah dan dingin, agar api di otaknya segera padam.


"Besok aku tidak akan naik bus itu lagi, aku akan cari bus yang lain" Gumamnya berbicara sendiri di Depan cermin toilet.


Dia segera masuk ke dalam kelas, tidak lupa dia mendapatkan sarapan pagi dari ocehan Dira yang tidak pernah berguna. Bela selalu menutup telinga dan bersikap bodo amat karena menurutnya itu semua tidaklah penting.


"Gadis tidak tau diri, wajahnya seperti preman dan tidak ada anggun-anggunnya. Mario tidaa cocok dengannya" Celoteh konyol selalu Dira lemparkan pada Bela.


"Benar, dia hanya cocok sebagai kacung Mario" Sambung beberapa teman Dira yaitu Caca dn Tika.


"Benarkah? Itu ide bagus. Jadi pembantu Mario adalah cita-citaku agar bisa selalu dekat dengannya" Sahut Bela mencoba memanaskan kompor yang menyala.


Dia selalu memberikan jawaban yang sangat cantik dan baik untuk membuat para jajaran makhluk tak berguna itu terdiam.

__ADS_1


Jawaban singkat, jelas, padat dan berbobot. Hal itu lebih baik daripada harus mengikuti semua ucapan mereka dan membuat amarah dalam otak Bela tumbuh.


"Ohh kau ini, dasar pembantu" Ketus Dira dan ingin memukul Bela.


"Kau sendag apa? Masih pagi mulut itu terus membuat keributan" Kesal Mario.


Dia datang dan langsung menahan tangan Dira. Tidak boleh ada seorangpun yang menyakiti Bela, karena mereka harus siap berhadapan dengan Mario.


Mario selalu melindungi Bela sebagai sahabatnya walaupun tidak pernah tercetus kata persahabatan dari bibir mereka. Akan tetapi Mario sangat melindungi Bela melebihi dirinya sendiri.


"Mario, ini tidak speerti yang kamu kira" Rengek Dira sambil berusaha memegang tangan Mario. Tapi selalu ditolak mentah-mentah.


"Diamlah, kepalaku pusing mendengar rengekanmu seperti bayi" Ketus Mario.


Sontak bibir Bela langsung tersenyum dan menghadapi Dira serta teman-temannya. Bela memberikan isyarat bahwa dia harus sadar karena Mario tidak menyukainya.


Tanpa banyak pikir lagi Bela langsung memeluk lengan Mario sambil tersenyum untuk menunjukkan bahwa mereka sangat dekat. Bukan sekedar teman melainkan melebihi teman. Lebih tepatnya kakak dan adik ipar, tanpa mereka semua ketahui.


"Sepertinya kita harus masuk Mario, karena disini udaranya panas" tutur lembut Bela kembali memanaskan hati Dira yang telah menggebu.


Bela semakin mengejek dan segera membawa Mario masuk ke dalam kelas. Hal itu semakin membuat Dira naik pitam. Otaknya mendidih dan ingin menyusun rencana untuk menghancurkan Bela.


Dira sudah cinta mati pada Mario, tapi dia selalu saja tidak pernah memiliki waktu untuk dekat dan berbicara dengan baik bersama Mario. Karena penolakan dari Mario selalu datang setiap dirinya berbicara.


"Ihhh, aku tidak akan melepaskanmu cacing gila" Jeritnya dengan keras sehingga membuat beberapa siswa yang ada di luar memperhatikan Dira dengan tatapan sinis.


Tidak lama kemudian bel sekolah berbunyi, semua siswa masuk ke dalam kelas dan bersiap untuk menerima pelajaran.


Tiba-tiba wali kelas mereka masuk tidak sperti biasanya. Dan ternyata lagi-lagi kelas Mario kedatangan siswa baru. Siswa baru yang membuat Bela terkejut saat melihat wajahnya.


"Anak-anak, kalian akan memiliki siswa baru lagi. Kemarilah nak kenal akan dirimu" wali kelas memanggil siswa yang berada di luar kelas mereka.


Lelaki itu masuk dengan gaya yang banyak disukai oleh para wanita. Semua mata memandang dengan terpesona karena gayanya mampu menghipnotis setiap mata yang melirik.


Sedangkan Bela juga ikut menganga, karena dia mengenali siapa pria yang ada di hadapannya. Lelaki itu adalah orang yang menolongnya di bus tadi.


"Kau kenal?" Tanya Mario penasaran saat mendengar ucapan Bela walaupun terdengar samar namun Mario masih mengerti dengan ucapannya itu.


"Tidak, tidak, dia menolongku tadi di bus" Jelas Bela.


"Kau naik bus? Mario terkejut saat mendengar Bela naik bus. Mario berfikir dia diantarkan oleh kakaknya, namun nyatanya tidak demikian.


" Ssst diamlah, dia ingin berkenalan". Sontak hal itu membuat Mario tenang dan diam.


Mereka semua mendengarkan pengenalan dari siswa baru yang berada di depan kelas. Ternyata namanya adalah Beni laksmana.


Nama yang bagus untuk diingat dan membuat semua siswa terpukau. Saat Beni ingin duduk, para wanita membuat gaduh untuk bisa duduk dengan Beni. Bahkan beberapa dari mereka mengusir teman sebangkunya agar bisa duduk dengannya.


"Duduk sini.. "


"Disini saja" Keributan di dalam kelas.


"Kau pergilah agar dia yang duduk disini, lagipula dirimu tidak berguna duduk denganku" Ucapan yang menarik dari salah satu siswa.


Bela tersenyum mendengar ucapan itu dari bangku belakang. Mereka mengeluarkan kata-kata menyakitkan agar bisa duduk dengan Beni. Tapi hal itu sangat lucu dan pantas ditertawakan.


Lelaki yang diusir sangat pasrah dan pergi mencari bangku kosong yang lainnya.


Perjuangan mereka semua sia-sia karena lelaki tampan itu memilih duduk di samping bangku Bela yang kosong. Membuat semua mata tertuju padanya dengan perasaan kecewa karena tidak dapat bersanding dengan lelaki itu.


"Ah sial, aku yang ingin duduk dengannya. Tapi dia memilih duduk disana" Ucapan frustasi terdengar dari beberapa siswa.


"Hai"


"Hai" Sahut Bela dengan canggung saat membalas sapaan dari Beni.


Mario melihat tatapan lelaki itu sangat berbeda saat menatap Bela. Hati Mario merasakan bahwa lelaki itu juga menyukai Bela. Untuk mencegah hal yang paling jauh, Mario menyuruh Bela untuk berganti tempat duduk.

__ADS_1


Bela hanya menurut dan tidak ada satupun penolakan darinya. Akhirnya mereka berdua pindah tempat duduk dan sekarang lelaki itu dekat dengan Mario bukan dengan Bela.


Wajah Beni terlihat sangat kesal karena dia ingin mengenal Bela lebih dalam tapi dihalangi oleh Mario, akhirnya mereka berdua terpisah.


"Kenapa kau disini, aku ingin gadis itu duduk disini" Bisik Beni kesal pada Mario.


"Bisah kau diam, mulutmu berisik" Sahut Mario penuh penekanan.


Sepertinya akan ada persaingan diantara mereka berdua untuk merebutkan Bela. Terlihat dari sorot matanya seakan mengajak untuk berkompetisi agar bisa mendapatkan hati Bela.


Mario yang dingin dan Beni yang pecicilan. Kedua sifat yang berbeda namun dengan satu tujuan yaitu mendapatkan Bela secara utuh baik hatinya ataupun perhatiannya.


"Hai namaku Beni, kamu bisa memanggilku Ben. Dan siapa namamu? "


Di jam istirahatBbeni menghampiri Bela untuk mengenalkan dirinya. Dia berlaga sok akrab dengan Bela. Karena di pikirannya hanya ingin berkenalan dengan gadis yang dia temui di bus tadi, bukan yang lain.


"Aku? " Tanya Bela. Beni mengangguk.


"Bela" Ketus Mario dengan suara sedikit lebih keras.


"Aku tidak bertanya denganmu, aku bertanya pada gadis ini" Ujarnya, Mario ingin menjawabnya lagi tapi di tahan oleh Bela.


"Aku bela" Bela menyambut jabatan tangan Beni dengan ramah.


"Bela saja? Apakah tidak ada nama panjangmu?" Beni kembali menanyakan banyak hal agar bisa berbicara lebih lama dengan Bela.


"Tidak ada, cepat lepaskan tangan Bela" Kesal Mario sambil melepaskan dengan paksa jabatan tangan mereka.


Terlihat jelas Mario tidak suka apabila Bela dekat-dekat dengan Beni. Ekspresi Beni yang tampak membuat Mario takut apabila Bela menyukai Beni. Padahal wajah Mario tidak kalah tampan dengan lelaki itu.


Tidak ada percakapan lagi diantara mereka karena Mario langsung membawa Bela pergi ke kantin dan menjauh dari Beni. Bela sudah biasa dengan sikap Mario yang seperti itu.


Sifatnya yang dingin kadang tidak bisa di tebak. Dia bisa marah, bisa lembut, bisa berbicara keras, akan tetapi susah untuk tersenyum.


"Pelan-pelan saja, memangnya kantin mau nutup" Ujar Bela sambil menahan Mario agar berjalan dengan santai.


"Kenapa kau marah jika aku dekat dengannya, kita saja belum kenal" Bela menghentikan langkahnya dan menanyakan pada Mario.


"Sepertinya dia menyukaimu bel" Sahut Mario.


"Lalu? " Mario terdiam dan kembali fokus melanjutkan jalannya.


Secara sepihak Mario menghentikan percakapan mereka dan segera pergi ke kantin. Tanpa mereka sadari, Beni juga mengikutinya dari belakang.


Dan tanpa Beni sadari, dia juga diikuti oleh Brandon, dan tanpa Brandon sadari dia juga diikuti oleh Dira dan juga gengnya.


Sepertinya mereka sedang menyusun jalanan untuk menjadi kereta dengan rasa ingin tau yang tinggi. Langkahnya mengendap-endap untuk cepat sampai dan sekarang Mario serta Bela masih memimpin di depan.


"Duduklah aku akan memesankan sesuatu" Seperti biasa Mario selalu memesankan makanan untuk Bela.


"Tunggu Mario" Bela menahan Mario. Karena hari ini dia hanya ingin berbincang-bincang dengannya.


"Kenapa? "


"Aku ingin ngobrol denganmu" Mario segera duduk dan melihat ke arahnya.


Sebenarnya Bela ingin mengatakan bahwa dia rindu belajar dengan Mario, padahal baru sehari berpisah. Begitu juga dengan Mario, sebenarnya ingin mengatakan hal yang sama seperti pikiran Bela.


Namun sejenak dia berhenti menatap Bela karena melihat Beni sedang mengintai mereka. Mario tidak ingin membicarakan tentang Bela dan Bara karena dia tau jika hal itu di bicarakan sekolah maka reputasi Bela akan tercemar karena telah menikah.


"Stt, bicara ringan saja" Ucap Mario sambil memberikan isyarat mata bahwa mereka sedang di mata-matai.


"Baiklah" Sahut Bela menurut padanya.


Mario segera memesankan makanan, saat di depan penjual ternyata dia juga melihat beni pesan makanan 2 porsi sambil tersenyum melihat Mario.


__ADS_1


__ADS_2