
Setelah makan malam selesai Bara mengajak mereka bertiga untuk duduk di ruang tengah sambil menonton. Sungguh kepribadian yang tidak bisa ditebak dari seorang Barathayuda Junior.
"Tuan apakah kau benar-benar ingin menonton? " Tanya Bela untuk memastikan suasana saat itu.
"Kenapa emangnya aku salah jika ingin menonton bersama kalian" sahut Bara.
Mereka bertiga hanya menggeleng, sedikit hati Bela sangat senang ternyata baru kali ini melihat hati lembut Bara yang telah menghilang sejak lama.
"Baiklah Bagaimana kalau kita menonton film horor" Bela memberikan saran pada mereka, dan semuanya setuju dengan saran Bela.
Akhirnya mereka memutar film horor dari luar negeri. Sungguh di luar dugaan ternyata Bara dan Alex memiliki ketakutan yang sama dan mereka menyembunyikannya dari lama.
Mereka takut dengan hantu, di sepanjang film itu diputar mereka menutup mata dan sesekaliengintipnya untuk memastikan bahwa hantu di film sudah menghilang. Dan tiba-tiba...
"Sial itu hantu apa? Kenapa matanya hilang" teriak Bara histeris dan sambil bersembunyi di balik badan Bela. Begitu juga dengan Alex yang berteriak dan langsung memeluk kekasihnya yaitu Cintia.
Setelah Bara menyadari jika dirinya memeluk Bela, kedua mata mereka sangat terkejut dan saling memandang satu sama lain. Tatapan mereka terpaku dan jantung mereka berpacu dengan kencang seakan menandakan jika inilah pertama kalinya mereka sedekat Itu tanpa ada rasa dendam dalam diri masing-masing.
Saat kesadarannya sudah pulih, Bara melepaskan cengkeraman pelukan itu lalu bertindak tenang seolah tidak terjadi apa-apa dan kembali duduk menikmati film yang sedang dia tonton. Namun tiba-tiba film itu mengejutkan lagi dan Bara kembali memeluk Bela tanpa disengaja.
"Aaa, kenapa harus begini" Teriak Bara kembali. Harga dirinya sebagai mafia seakan runtuh, dia adalah snag pemberantasan semua musuh namun dia penakut hanya dengan satu hantu buatan yang sedang bermain film.
Film diputar hingga pertengahan, dan suasana semakin mencekam karena para hantu dan backsound dari film tersebut membuat jantung berdebar kencang.
Akan tetapi jantung Bela terlihat ingin lepas dari jiwanya karena Bara dan Bela seakan semakin ddekat berkat hantu di film. Begitu pula dengan Alex dan Cintia Tanpa mereka sadari sedari tadi film itu dimulai mereka berdua menjerit ketakutan dan saling merangkul satu sama lain.
Bela merasa canggung dengan hal itu, oleh karena itu saat film sudah hampir selesai dia ingin mencari alasan untuk pergi. Akan tetapi Bara yang mendahului mereka untuk Beranjak pergi dari depan TV.
"Kau mau minum denganku?" Ajak Bara pada Alex.
"Sepertinya itu ide yang bagus, Karena film ini membuat jiwaku ingin terbang dan sepertinya aku akan mati muda karena jantungku terasa bergetar hebat" gumam Alex seakan dia bersyair.
Karena hati Bara dalam suasana baik akhirnya dia ingin minum bersama Alex dan juga bawahannya. Bara mengumpulkan semua bawahannya dan minum di teras rumah sambil bersenang-senang dan bercanda tawa.
Sedangkan Bela dan Cintia Hanya berdiam diri dan masih menikmati film hingga selesai. Walaupun mereka berdua teriak ketakutan, rasanya seru dan menantang.
Akhirnya Cintia kembali ke kamar Begitu juga dengan Bela yang ingin beristirahat karena hari sudah malam. Akan tetapi Bela tidak bisa tidur, seperti ada yang mengganjal dalam pikirannya.
"Ada apa dengan hidupku Mengapa seakan-akan aku mendapatkan cinta dari banyak orang tetapi cinta itu tertutupi" ujar Bela dalam hati sambil menatap langit-langit kamar.
Dirinya merasa aneh dengan hatinya sendiri, dia masih bertanya-tanya di sekitarnya banyak orang yang mencintai salah satunya Beni. Dan kemudian ada juga Bara yang muncul dalam percintaan hidupnya, Walaupun dia tidak tahu apakah dirinya Memang mencintai Bara ataukah hanya sebatas memenuhi janji dalam sebuah pernikahan palsu yang mereka jalani.
Akan tetapi saat mereka menonton film, Bela merasakan kesenangan walaupun sedikit. Karena dia bisa menikmati senyum Bara dan teriakannya yang belum pernah dia rasakan hingga saat ini.
"Kak Cintia, Apakah kakak pernah merasakan cinta yang ambigu sepertiku? Aku bingung dengan hidupku dan aku juga tidak tahu rasanya cinta, akan tetapi aku merasakan banyak yang mencintai dan menyayangiku. Apakah kakak bisa mengajariku arti tentang cinta?" Pecah Bela berbicara pada Cintia yang ada di sampingnya.
Dia tidak tahu jika Cintia Sudah terlelap dari tadi saat mereka masuk ke dalam kamar. Sungguh snagat disayangkan karena Bela hanya berbicara pada angin-angin yang berhembus kecil di dalam kamarnya.
__ADS_1
"Ah sungguh sial ternyata aku berbicara dengan udara dan dia malah enak-enak tertidur serta tidak pernah mengerti perasaanku"gemas Bela lalu mencubit kecil bibir Cintia.
Bela segera turun dari ranjangnya lalu membuka pintu kamar dan terlihat teras depan sangat ramai dengan teriakan mereka yang bersenang-senang dengan minuman beralkohol, hal itu terjadi karena Bara memiliki kebahagiaan di hari yang menurutnya beruntung. Sebab dia telah melengserkan nama Sisil dalam balas dendamnya.
Bila diam-diam menyelinap keluar ke halaman belakang di samping kolam renang untuk menatap bintang di malam itu walaupun hari sudah larut. Tidak sengaja dia melihat Alex yang menyendiri juga termenung di samping kolam renang. Padahal awalnya Alex berada di depan dan bersenang-senang dengan Bara, akan tetapi saat itu dia termenung menyendiri.
"Kau sedang apa Kak" seru Bela di samping Alex.
"aaaaa sungguh sial kamu mengagetkanku saja Bela" Jerit Alex ketakutan bersama nafasnya yang terburu-buru.
Alex terkejut dengan kedatangan Bela karena pikirannya masih mengingat film horor tadi. Dia pikir Bela hantu yang ingin menemaninya di halaman belakang.
"Kau sungguh aneh Kak Apa Kau pikir aku hantu" sahut Bela sambil menempatkan diri dan mengikuti gaya Alex duduk bersila lalu menatap Bintang.
"Jelas saja kau seperti hantu, rambutmu kenapa terurai di depan seharusnya kau kuncir saja di belakang seperti biasa " gerutu Alex karena penampilan Bela tidak seperti biasanya yang selalu menguncir rambut.
"Aku ingin menikmati Angin Malam Makanya aku buka rambutku" sahut Bella.
Mereka kembali berbincang-bincang di bawah saksi Rembulan Malam itu. Lalu Bela bertanya mengapa Alex dan Cintia bertengkar hingga mereka tidak saling menyapa dan bertanya-tanya. Lalu Alex menjawab pertanyaan itu sungguh tidak disangka-sangka ternyata mereka bertengkar hanya karena es krim.
Cintia marah karena es krimnya tidak tingkat 2 sedangkan es krim Alex tingkat 2. Lalu Alex memberikan es krim tersebut pada Cintia akan tetapi Cintia tidak mau. Karena dia ingin es krim yang fresh langsung dari penjualnya yang tingkat 2 bukan dari tangan Alex. Padahal yang mereka pegang sama-sama es krim, sungguh cerita yang lucu keluar dari mulut Alex membuat Bela ingin tertawa keras.
"Ternyata masalah kalian itu tidak rumit hanya saja pikiran kalian yang rumit " seru Bela saat kebenarannya terungkap dari. mulut Alex. Pola pikir masalahnya sangat rumit sehingga mereka berdua tidak saling berbicara ternyata masalahnya hanya seujung kuku.
"Siapa bilang tidak rumit, itu sangat rumit Bela karena wanita itu susah dimengerti" jelas Alex. Bela hanya tersenyum karena percuma saja bila dia menjelaskan dan lelaki tidak akan pernah tahu dengan penjelasan.
"Tapi apakah kau akan terus marah dengan Kak Cintia? " tanya Bela penasaran pada Alex.
"Sebenarnya aku tidak ingin marah, tapi dia yang merajuk padaku " jelas Alex.
Sekarang Bela mengerti ternyata Cintia yang memutuskan untuk tidak berbicara dengan Alex hanya sebuah es krim. Akan tetapi Alex masih bersifat sama untuk menunggu suara Cintia kembali muncul agar bisa berbincang-bincang dengannya.
"Apakah Kau bisa menolongku bela " Alex menatap Bela dengan tajam lalu tiba-tiba wajahnya berubah menjadi sendu seakan-akan memegang kesedihan karena cintanya tidak berjalan mulus sebab Cintia sedang marah dengannya.
" Tenang saja kak aku sudah tahu pikiranmu, besok akan aku bereskan " sahut Bela dengan senyuman, seakan-akan dia telah membaca pikiran Alex padahal Alex sendiri belum menjelaskan untuk meminta tolong apapun pada Bela.
Bela sudah mengetahui pasti, bahwa Alex akan berbicara agar dia membujuk Cintia untuk berbicara lagi dengan Alex dan berhenti dari marahannya karena Alex berkata bahwa dia sudah tidak kuat dengan Kesunyian dalam hubungan mereka.
"Aku hanya ingin kembali saja, walau terkadang banyak masalah rumit yang menghadang" Jelas Alex.
"Baiklah, aku akan membereskan semuanya" Bela berusaha untuk meyakinkan Alex agar dirimua bisa mengeluarkan mereka dari masalah. Walaupun masalah yang diketahui Bela hanyalah sebuah es krim saja.
Lalu Bela kembali menghibur Alex dengan bernyanyi walaupun nadanya sumbang, namun itu membuat Alex tertawa seakan-akan mereka berdua senang di bawah lentera rembulan dengan memegang status persahabatan atau persaudaraan antara adik dan kakak.
Saat malam semakin dingin hembusan angin meresap pada kulit mereka. Akhirnya Alex menyuruh Bela untuk terlelap namun saat Bela ingin masuk ke dalam kamar, ternyata Bara mabuk berat dan meracau tidak jelas.
Alex memanggil Bella untuk membopong Bara ke kamarnya. "Bantulah Aku, lihatlah Dia sedang mabuk berat " Ujar Alex yang berada di samping Bara.
__ADS_1
Bela dan Alex membopong Bara agar sampai di kamarnya. Kemudian Alex keluar dan meninggalkan mereka berdua di dalam kamar. Saat Bela ingin pergi tiba-tiba tangan Bara menggenggamnya dan menyeret Bela untuk masuk dalam pelukannya.
"Tunggu jangan pergi, kemarilah aku ingin berbicara padamu" Ujar Bara sambil kembali mengeratkan rangkulannya pada Bela. Bela hanya terdiam dia tidak mengerti apakah Bara masih sadar ataukah tidak.
Bela mencoba tenang walaupun dirinya merasa sangat sesak dengan rangkulan Bara yang sangat kuat. Bela menutupi hidungnya karena mulut Bara benar-benar bau alkohol yang sangat menyengat.
Tiba-tiba mata Bara terbuka lalu memandangi wajah Bela dan tangannya mencubit gemas pipi Bela. Mengelus lembut rambut Bela lalu mencium keningnya, sontak Bela sangat terkejut dengan adegan yang terjadi barusan. Dia ingin melepaskan diri karena takut jika Bara melakukan hal-hal yang tidak dia inginkan.
"Ternyata kau sangat lucu hahaha" lagi-lagi tangan Bara mencubit gemas pipi Bela Sambil tertawa lepas.
Seakan-akan Bara yang dingin telah menghilang dari dirinya dan berubah menjadi orang lain dengan tawanya yang khas. Bela tersenyum melihat hal itu, walaupun Bara mabuk rasanya sangat lucu melihat Bara tertawa Selepas itu tanpa beban.
"Aku baru mengerti jika kau bisa tertawa seperti ini tuan " pecah Bela Sambil memandangi wajah Bara.
"Wajahmu memang tampan tapi lebih tampan lagi Jika kau terus tertawa seperti ini tuan"ujar Bela seakan-akan dia sudah terpesona menatap wajah Bara.
Lalu kesadarannya kembali dan berusaha tangannya melepaskan cengkraman Bara yang sangat kuat, tangan Bela mengepal keras memukuli lengan bawah akan tetapi cengkraman itu masih tetap sama dan berat tidak ingin melepaskannya.
Satu-satunya jalan agar Bara melepaskan genggaman itu yaitu melakukan kekerasan. Karena Bela tahu jika orang mabuk pasti tidak akan merasakan sakit yang disebabkan oleh kekerasan itu.
Tapi Bela tidak tau apakah Bara sadar ataukah tidak, karena dia tadi memuji Bela dengan sangat tulus bersama tawanya yang lepas. Sejenak Bela terdiam lalu dia menenangkan diri tapi tidak bisa karena tangan Bara terus mencengkram akhirnya dia melepaskan satu pukulan yang kuat.
*buk*
Pukulan keras tersebut sontak membuat Bara terkejut dan spontan melepaskan rangkulannya. Tangannya mengelus rasa sakit di dagunya lalu dia kembali terlelap seakan-akan tidak terjadi apapun.
Bela segera beranjak dari kasur Bara dan mewaspadai hal sekitar karena takut jika Bara tiba-tiba bangun dan memarahinya karena memukul Bara dengan sangat keras
"Tidurlah yang nyenyak tuanku" Seru Bela sambil tersenyum dan menutup pintu secara perlahan. Lalu dirinya pergi ke kamarnya dan terlelap dengan ketenangan.
Pagi
"Kau sudah bangun tuan? , kemarilah kita mmakan bersama" ujar Bela saat melihat Bara turun dari kamarnya dan wajahnya terlihat lesu serta tangannya sibuk memegangi kepalanya.
Bara berkata bahwa kepalanya sangat sakit mungkin karena efek alkohol yang terlalu banyak dia minum.
"Alex ada apa denganku, kenapa kepalaku sangat sakit dan daguku juga terasa sakit " ujar Bara saat di ruang makan.
Bela langsung melotot pada Alex seakan-akan dia ingin memberikan isyarat bahwa ada hal yang terjadi tadi malam. Awalnya Alex tidak mengerti apa yang ingin mereka katakan, lalu tangan Bela mengepal dan menunjukkan kejadian saat dia memukul dagu Bara. Alex langsung paham apa yang telah terjadi pada sahabatnya dikarenakan oleh gadis kecil di depan Alex yaitu Bela.
"Begini sahabatku kau tadi malam terbentur, aku dan Bela yang membawamu ke atas karena bawahanmu semuanya mabuk berat " ujar Alex berbohong karena dia tahu dagu Bara terasa sakit disebabkan oleh Bela.
"Bawahanku mabuk, lalu Siapa yang menjaga gerbang? " tanya Bara khawatir jika gerbang kosong tadi malam, karena keadaan musuh belum dapat terintai semuanya.
"Tenang saja si Bagas dan Black tidak mabuk karena aku menamparnya agar mereka tidak minum terlalu banyak dan menjaga gerbang " jelas Alex dengan santai.
__ADS_1