
Di Kebun
"Pak Taryo, pak, pak Taryooooo" Teriakan Bela melenting di sekeliling kebun.
"Iya, disini non" Sahut pak Taryo yang mendengar teriakan dari mantan majikan kecilnya itu.
"Pak Taryo" Bela segera mendekat pada pak Taryo yang sedang membersihkan rumput liar.
"Pak tolong jangan bilang non lagi ya, bilang saja Bela karena aku bukan lagi majikan bapak" Pak Taryo terdiam dan segera duduk menemani Bela di samping kebun.
Ada ketidak setujuan dari keinginan majikannya itu. Ucapan Non Bela sudha melekat dlam kehidupannya karena hal itu sudha berlangsung sejak lama.
Jadi mana mungkin dia bisa kemanggil bela dengan sebutan Bela saja. Sepertinya itu snagat sulit untuk dilakukan oleh pak Taryo.
"Tapi non.... "
"Tidak pak, tuan pak Taryo sekarang adalah keluarga tuan Bara bukan saya" Jelas Bela.
"Baiklah" Sahut pak Taryo setuju walau masih merasa kebingungan.
"Kamu ngapain kesini? " Tanya pak Taryo dan penasaran dengan kedatangan Bela yang menghampiri dirinya.
"Bela mau bicara dengan bapak"
"Tentang apa? " Matanya menatap penuh tanda tanya pada Bela.
Bela menjelaskan bahwa dirinya akan menikah dengan Bara. Dan keluarga Bara meminta pak Taryo untuk menjadi wali pernikahan besok. Karena saat ini Bela hidup bersama pak Taryo dan tidak ada keluarganya satupun.
"Apa? Menikah? " Pak Taryo terkejut.
"Iya pak, memangnya ada yang salah? "
"Apakah kamu tidak takut jika ayahmu akan marah dengan pernikahan ini" Tanya pak Taryo kembali. Dia masih memikirkan tentang keluarga Prakasa.
Pak taryo takut apabila ayah Bela mengetahui bahwa anaknya menikah namun tidak dihadiri oleh dirinya melainkan dihadiri oleh supirnya dan menjadi wali di pernikahan yang akan dilangsungkan besok.
Apalagi tuan Pras yang dia kenal memiliki tempramental yang sangat tinggi. Sifat arogan nya bisa melukai siapapun, bahkan bisa membunuh siapapun tanpa diketahui oleh banyak orang. Karena hanya para pelayan dan supir saja yang mengetahui rahasia itu.
"Tenang saja, lagian mereka pasti akan mengira kita mati. Dan aku juga tidak ingin kembali ke rumah itu" Sahut Bela untuk meyakinkan pak Taryo agar mau kerja sama dengannya.
Padahal dalam hatinya paling dalam dia masih mengharapkan untuk pulang, tapi bukan le rumah Prakasa melainkan untuk bertemu dengan Roy serta bi Siti saja.
"Kenapa kamu berbicara seperti itu terus nak?" Tanya pak Taryo lagi.
"Karena ayah tidak pernah menyayangiku, dia hanya menyayangi Ana dan El. Sedangkan tempatku berlindung hanya bersama pak Taryo dan bi Siti" Sahutnya mengundang pilu.
Pak Taryo mengingat jika Bela adalah anak yang selalu dibenci oleh ayahnya mulai dari kecil. Hanya pak Taryo, istri pak Taryo dan bi Siti yang menghibur Bela disaat hatinya dirundung pilu.
Bukan ayah yang memiliki status keluarga ataupun kedua saudaranya. Karena mereka hanya mementingkan dunia mereka sendiri dan tidak pernah memperhatikan Bela dengan baik.
"Tapi sudahlah, sekarang aku sudah keluar dari rumah itu. Apakah pak Taryo ingin kembali ke rumah ayah? " Tanya Bela sambil. menatap mata pak Taryo dengan lekat.
"Sepertinya tidak, karena saya juga sudah tidak punya siapa-siapa" jelasnya semakin menambah kesedihan.
Bela merasa ibah mendengar cerita pak ataryo. Suasana semakin haru, lalu Bela mencoba mendekat dan memeluk pak Taryo dengan erat. Seperti dia memeluk ayahnya sendiri yang sering dilakukan saat ayah kandungnya memarahi Bela saat itu.
"Apakah pak Taryo mau menjadi ayah angkatan?" Pertanyaan Bela membuat pak Taryo ingin menangis. Dia tidak memiliki anak tapi dia memiliki majikan seperti Bela yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri.
Dia mengingat sebelum istrinya meninggal yaitu ingin memiliki seorang anak. Dan hadirnya Bela di keluarga Prakasa membuat semua orang menjadi bahagia begitu juga dengan pak Harto yang memiliki sedikit harapan bersama istrinya.
Namun belum sempat Tuhan memberikan buah hati pada mereka, istrinya telah dipanggil ke alam surga.
"Iya, bapak mau menjadi ayah angkatmu dan melindungi kamu dari bahaya apapun" Ucapan pak Taryo yang sangat menyentuh hati Bela.
Bela dan pak Taryo berpelukan dengan rasa seperti seorang ayah dan anaknya. Kali ini Bela kembali tersenyum dan biasa dengan perlakuan itu, karena selama ini hanya bi Siti dan pak Taryo yang selalu menghibur hatinya.
Hari Pernikahan
Tibalah pernikahan pada hari itu, Bela bersiap-siap menggunakan gaun yang sudah dipersiapkan. Sedangkan Bara juga sudah bersiap rapi dengan jas hitam dan kemeja putih, terlihat sangat tampan.
__ADS_1
"Wah wah wah, gila baru kenal cewek langsung menikah" Bara langsung menatap Alex dengan tajam.
Bukannya diam saat menemani Bara dan duduk disampingnya, dia malah mengejeknya dan mengoceh terus seperti kurang kerjaan saja.
"Tenang bro tenang, tatapanmu menakutiku" Ujar Alex sambil menyengir sedikit.
Tidak lama kemudian Bela keluar dengan gaun yang sangat anggun dan cantik. Semua mata memandangnya tanpa berkedip begitu juga dengan Bara hingga dia menelan salivanya sendiri.
Seakan matanya telah menatap bidadari cantik yang turun dari surga. Sungguh ciptaan Tuhan yang sangat sempurna untuk dinikmati olehnya saat ini.
"Apakah ini bidadari yang turun dari langit? " Ucap Alex yang kembali bergumam karena takjub melihat keelokan tubuh Bela.
Merek semua menatap dengan terkagum-kagum pada Bela. Andai mereka tau bahwa Bela yang tomboi tidak merasa nyaman menggunakan gaun tersebut.
Bela keluar dengan anggun dan berjalan seperti wanita karena sebelumnya Klara telah mengajarinya agar terlihat lebih cantik.
"Cantik sekali wajahmu nak" Batin oma, dirinya menangis bahagia saat melihat Bela yang benar-benar cantik.
Tidak lama kemudian pernikahan berjalan dengan lancar tanpa hambatan. Pernikahan itu hanya di hadiri orang penting saja dan tidak dipublikasikan.
Terlihat wajah oma yang sangat senang menatap raut wajah cucu pertamanya yang sangat dia sayangi. Akhirnya impiannya melihat Bara menikah sebelum dia pergi tercapai juga.
Di kamar hotel
"Aduhhh, lelah sekali hari ini. Padahal aku hanya menikah biasa saja dengan lelaki itu. Tapi sepertinya sangat banyak ritual keluarga yang dilakukan" Keluh Bela saat sudah sampai di depan kamar hotel.
*klek*
Bela terkejut saat terlihat tangan lelaki yang menindih tangannya saat membuka gagang pintu. Dan akhirnya mereka berdua membuka pintu kamar itu secara bersama. Dan dia adalah abara.
"Tuan? " Seru Bela.
"Kenapa? " Jawabnya dan tanpa bicara lagi Bara langsung masuk lalu melemparkan tubuhnya.
Bela segera menutup pintu dan menatap aneh pada lelaki itu. Dia tidak banyak bicara lalu masuk dan merebahkan dirinya diatas ranjang.
Akhirnya Bela memilih untuk duduk di sofa yang terletak di sudut kamar. Sambil memandangi luasnya dunia dari balik jendela di ketinggian dari lantai 7.
"Ternyata aku sudah menikah, apa kabar keluargaku. Eh iya lupa aku tidak memiliki keluarga" Gumamnya sambil memukul kecil kepalanya.
Bela merasa hidupnya sendiri karena ayahnya tidak pernah menyayangi Bela mulai dari kecil, apalagi kedua saudaranya yang sangat acuh dan selalu membuat keributan.
Bela hanya memiliki mamanya yang menemani b
Bela disaat sedih ataupun tertawa, walaupun itu hanya sebuah foto yang selalu Bela bawa. Namun sekarang hanya ada gambaran mamanya saja karena foto itu ada di rumahnya.
"Roy apa kabar? Aku merindukanmu" Tiba-tiba pikirannya mengingat salah satu sahabat terbaiknya yaitu Roy.
Disaat mereka bersama maka akan tercipta hal baru yang selalu dilewati dengan berani. Namun kini hanya beberapa kenangan orang terdekat dalam dirinya. Karena Bela belum mengetahui bahwa mereka telah menyangka jika Bela sudah tiada.
"Aku harap kamu baik-baik saja melewati harimu yang mungkin bisa dibilang lelah" Gumamnya lagi sambil melukiskan nama Roy di kaca jendela yang sedang dia pandangi.
Tida terasa dirinya terlelap di atas sofa yang cukup besar itu dengan menggunakan gaun putih dan riasan yang masih lengkap.
Begitu juga dengan Bara yang juga terlelap di atas ranjang dengan menggunakan jas pernikahannya. Mereka berdua kompak karena masih menggunakan pakaian pengantin dalam keadaan tidur.
"Apakah kau akan terus tertidur disini? " Ucapan dingin itu membangunkan Bela yang sudah terlelap cukup lama.
Rupanya hari sudah larut malam dan Bara terbangun lebih awal dari Bela. Dirinya sudah dalam keadaan rapi dengan pakaian santai yang dia kenakan saat ini.
"Ah tuan, apakah anda sudah terbangun daritadi?" Tanya Bela kembali.
"Hmm" Jawabnya singkat, lalu Bara kembali duduk di atas ranjang dan memainkan ponselnya.
Tanpa Bela sadari, bara sudah terbangun dari tadi dan melihat kecantikan Bela walaupun dirinya sedang dalam keadaan tidur. Rasanya Bara terpesona namun bibirnya membeku bersama sifatnya.
"Kau mau kemana? " Tanya Bara saat melihat Bela beranjak dari tempatnya.
"Aku mau mandi tuan karena hari sudah malam" Jawab Bela sambil berjalan menuju kamar mandi.
__ADS_1
"Apakah setelah mandi kau akan telanjang? " Pertanyaan Bara membuat Bela terkejut.
"Hah? " mata Bela melotot dan langsung menatap Bara.
Dia takut jika lelaki di depannya akan mengingkari janji yang telah dia perbuat. Dengan cepat Bela langsung menutupi dadanya dengan kedua tangannya.
Dia tidak ingin malam ini Bara melakukan hal yang tidak dia inginkan. Karena bela hanya ingin dirinya kembali ke sekolah dengan keadaan suci dan sebagai siswa teladan. Jadi dia tidak akan membiarkan Bara menyentuhnya.
"Apakah anda ingin...? " Tanya Bela penasaran sedikit.
"Tutup mulutmu, aku hanya ingin memberi tau bahwa kau tidak mungkin setelah mandi menggunakan gaun bukan? " Bela mengangguk, dan tangannya masih dalam posisi yang sama.
Bara segera berdiri mendekati gadis kecil itu. Bibir Bara tersenyum licik seperti ingin memangsa Bela. Bela segera mundur beberapa langkah dan ingin menjauh dari Bara.
Dia takut jika lelaki di depannya memangsanya tanpa persetujuan Bela. Dan lebih baik dirinya menghindar serta menjauh saja.
*brak* rasa takut yang teramat besar membuat Bela terus mundur hingga punggungnya menabrak gagang pintu kamar mandi.
"Aduh" Keluhnya dengan suara kecil.
Bara tersenyum melihat kelakuan Bela yang ketakutan saat dirinya mendekat. Wajah Bela sangat mewaspadai apapun yang sedang bergerak.
"Pakailah baju di lemari ini" Ucap Bara lalu dirinya kembali duduk di atas ranjang dan bermain ponsel tanpa memperdulikan Bela lagi.
"Ah sial, rupanya dia sedang mengerjai ku" Gumam Bela dalam hati.
Bela sangat kesal karena Bara telah memeprmainkannya dan membuat Bela sangat ketakutan akan tindakan Bara.
Dia segera mengambil pakaian yang ada di dalam lemari itu. Dan anehnya isi lemari itu sama dengan selera pakaian Bela. Tidak ada pakaian yang terlihat sangat feminim, tapi terlihat pakain yang tomboy.
"Pakaian yang indah, aku sangat menyukainya" Ucapnya dengan gembira dan segera menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Beberapa menit kemudian Bela keluar dan dia membasahi rambutnya. Benar-benar terlihat cantik saat Bela mengurai rambutnya sambil mengeringkan dengan handuk.
"Apa ini, apakah dia ingin menggodaku malam ini? " Bara yang sibuk bermain ponsel kini terlihat tertarik dengan gaya Bela yang baru saja dia lakukan setelah selesai mandi.
Bahkan matanya terus melihat tanpa berledip sekalipun. Bela yang masih kecil benar-benar meresahkan.
"Aku mau keluar, kau tunggu saja disini" Bara segera berdiri dan rasanya tidak kuat bila melihat godaan dari gadis itu.
"Anda meninggalkanku sendiri, lalu aku bagaimana? " Tanya Bela dengan wajah memelas.
"Terserah" Sahutnya singkat.
*klek* Bara segera meninggalkan kamar itu dan Bela. Mungkin dirinya tidak kuat melihat pesona Bela saat ini.
"Orang itu benar-benar dingin seperti kulkas bertingkat" Kesal Bela lalu dia kembali duduk di dekat jendela untuk melihat malam dari atap ini.
Bibirnya melukiskan senyum walau sedikit. Rasanya dia tidak ingin kembali ke masa lalu karena bertemu dengan orang kejam seperti ayahnya.
Menurut bela walaupun tuan Bara memiliki sifat yang tidak bisa di tebak, kadang marah dan kadang juga bisa lembut. Bela merasakan ada sebuah tantangan baru dalam hidupnya.
*grok.... Grok... *
"Ah sial, perutku kenapa engkau lapar. Bisakah diam saja disini" Ujarnya. Namun dia tidak bisa menahan rasa lapar itu.
Sebenarnya Bela malu jika ikut makan bersama keluarga besar Bara, dia hanya ingin di kamar dan tidak mau keluar. Apalagi bertemu dengan oma adalah suatu yang harus di tahan karena oma yang menyuruh Bela dan Bara berada dalam satu kamar hotel untuk malam ini.
"Hmm tidak apa-apa, aku akan memesannya" Bela bergegas memesan lewat telepon.
Tidak lama kemudian makanan yang dipesan sudah datang. Rasanya benar-benar sangat gembira karena perutnya tidak kelaparan lagi.
Bela segera melahapnya dengan ganas. Dia tidak ingin sebutir nasi pun tersisa di atas piring karena dia sudah tidak makan sejak siang tadi. Sungguh malang nasibnya menahan lapar di pesta pernikahannya sendiri.
"Wahh enak sekali rasanya, aku benar-benar sudah kenyang" Hanya piring kotor yang tersisa di atas meja karena Bela telah menghabiskan semuanya.
Bela segera membersihkannya dan jangan sampai Bara mengetahui hal tersebut. Lalu dia kembali memanggil pelayan hotel untuk membersihkan kamarnya.
__ADS_1