
Mata Bela sesekali mengintip di balik pintu takut Bara datang secara tiba-tiba dan memarahinya karena telah memesan makanan yang begitu banyak.
*tok-tok*
*klek*
"Cepatlah masuk kak" Ucap Bela pada pelayan
"Iya nyonya"
"Hah? Nyonya? Kenapa kau memanggilku nyonya? " Tanya Bela dengan tatapan heran.
Dia tidak mau dipanggil nyonya karena umurnya masih kecil dan pantasnya dipanggil dengan sebutan adik bukan nyonya.
"Karena anda adalah bagian dari keluarga Baratha, jadi saya wajib memanggilnya nyonya" Jelas pelayan itu.
Bela masih kebingungan karena dari tadi setiap pelayan di hotel ini sangat menghormati keluarga Baratha. Dia tidak tau jika keluarga Baratha adalah keluarga terhormat.
"Baiklah, tolong bersihkan ya kak" Ucap Bela lagi.
Dia juga tidak tega melihat pelayan itu membersihkan sendirian. Jadi Bela memiliki inisiatif untuk membantunya.
"Jangan nyonya, biar saya saja" pekik pelayan itu.
"Tidak, tidak, ini terlalu lama" Bela sudha tidak sabar jika melihat pekerjaan lama, karena dia takut Bara akan segera datang.
"Tapi nyonya nanti tuan akan memarahi saya jika mengetahui bahwa anda membantu untuk membersihkan sampah ini" Ucapnya memelas dan penuh ketakutan.
"Biarkan saja, dia tidak ada disini" Sahut Bela dan kembali membantu untuk mengangkat piring kotor.
*klek*
*Pyar*
"Sial, aku ketahuan" Gumamnya dalam hati.
Bara tercengang saat melihat kedua orang yang berdiri di dekat meja sambil menatapnya dengan tatapan membeku.
Gara-gara Bara piring yang dipegang oleh Bela pecah. Karena dia terkejut saat melihat Bara membuka pintu secara tiba-tiba tanpa ada aba-aba sedikitpun.
"Tu... Tuan maaf saya tidak menyuruh nyonya untuk membantu saya tuan" Pelayan itu benar-benar ketakutan.
"Cepatlah bersihkan, lalu kau keluar karena aku ingin istirahat" Ucap Bara dan dia langsung duduk di atas ranjang tanpa menghiraukan.
Bela yang tidak tega melihat pelayan itu, dia segera membantu untuk membersihkan pecahan piring yang dia jatuhkan tadi.
"Apa kau ingin menjadi pelayan juga? " Tanya Bara dengan wajah datarnya.
"Aku.. Aku ingin membantunya saja" sahut Bela dengan sedikit ketakutan.
"Apakah kau tau jika sekarang dirimu adalah bagian dari keluargaku" Ucap Bara semakin lantang.
Hal itu membuat Bela segera menyelesaikan membantu pelayan itu dan segera kembali ke sofa untuk bersantai disana.
"Aduh" Saat sedang berjalan Bela tidak sengaja menginjak pecahan kaca dan kakinya berdarah.
"Iss" Bela berdesis kesal.
"Nyonya tidak apa-apa? " Tanya pelayan yang memberikan perhatiannya.
"Aku baik-baik saja. Apakah kau bisa membawakan kotak kesehatan untukku? " Tanya Bela.
"Baiklah nyonya"
Pelayan itu sudah selesai membersihkan kamar Bela. Sedangkan Bela masuk ke dalam kamar mandi untuk membilas kakinya yang berdarah. Lalu dia menyumbat darah itu dengan tisu kamar mandi.
Bara kembali sibuk menatap ponselnya. Rupanya dia memantau penjualan senjata yang cukup besar hari ini agar segera dikirim ke luar negeri.
"Ah kau benar bodoh, mengapa harus berjalan tanpa melihat di ke bawah, apakah kah sedingin itu? " Ketus Bela menghardik kakinya yang terluka.
Padahal dia menyinggung sikap Bara yang selalu dingin pada Bela. Dia bergumam pada kakinya sendiri namun isi ucapannya sangat pas mengambarkan seorang Bara yang dingin.
"Lihatlah karena kebodohanmu yang menginjak pecahan beling dan sekarang terluka bukan? " Bela seperti orang gila berbicara pada kakinya sendiri. Karena dia sudah terbiasa bergumam sendiri tanpa teman.
" Dasar gila" Ucap Bara namun pandangannya masih tetap menatap ponsel.
"Apakah tuan menyebutku gila? " Tanya Bela untuk memperjelas pendengarannya itu. Namun Bara tetap terdiam dan masih menatap ponselnya.
"Tuan aku bicara denganmu, mengapa tidak menjawab ku" Bela beranjak dari tempat duduknya dan mendekat pada Bara.
__ADS_1
Dia duduk di depan Bara sambil menanyakan hal itu namun Bara menghiraukan. Sungguh tidak ada perhatian sama sekali. Bayangan Bela tentang kebaikan Bara selama menghilang sepenuhnya, karena dia memiliki hati batu.
"Baiklah, rupanya anda tidak mendengarkan" Bela kembali berdiri dari ranjang.
"Aaaaa" Teriak Bela saat kaki yang terluka membuat keseimbangannya tidak baik. Bela terjatuh di tubuh Bara yang sedang bersantai di atas ranjang.
Kedua mata saling beradu tatap antara satu dengan rasa takut dan satunya lagi menatap dengan auman singa.
Mereka berdua terus menjerumusakna tatapan dalam pikirannya masing-masing. Tidak ada kedipan mata seakan terkejut dengan apa yang terjadi secara langsung di dalam kamar mereka.
"Sepertinya dia akan marah" Gumam Bela dalam hati.
Tanpa mereka berdua sadari ternyata jantungnya juga beradu detak yang kencang. Entah ada apa ini, begitu juga dengan Bara yang bingung karena jantungnya terlihat tidak baik.
*tok, tok, tok" Ketukan pintu membuat tatapan itu berkedip. Namun masih ada kecanggungan dalam diri Bela.
"Maafkan aku tidak sengaja tuan" Secara perlahan Bela bangkit dan berjalan dengan kaki pincang.
"Sepertinya pelayan itu sudah datang, a.. aku akan membuka pintu" ucap Bela terbata-bata dengan rasa canggung yang berkecambuk.
Bara kembali memalingkan wajahnya dan seakan-akan tidak memperdulikan Bela ataupun memperdulikan kejadian tadi. Ungguh dia seperti pisang yang memiliki jantung tapi tidak memiliki hati, mungkin itulah yang ingin Bela ucapkan.
"Ada apa ini, mengapa jantungku berdetak kencang" Batin Bara berseru, sambil memegangi dadanya sejenak lalu mencoba kembali menatap ponselnya dan Berpura-pura tidak terjadi apa-apa.
Tidak lama Bela kembali masuk dan membawa kotak kesehatan. Dia membersihkan lukanya dan mengobatinya sendiri.
Benar masih ada canggung di antara Bela dan Bara sehingga Bela memilih untuk tertidur lebih dahulu malam ini, lagipula dia tidak punya kesibukan melainkan hanya menatap langit malam saja.
"Apakah aku setega itu dengan anak kecil? Ah biarkan saja, aku tidak peduli" Gumam Bara dalam hati sambil menatap Bela.
Sebenarnya hatinya tidak tega karena dia membiarkan seorang gadis kecil tertidur di sofa. Tapi bagaimanapun juga Bara harus melakukannya karena dia berfikir bahwa Bela sendiri yang tidak mau tidur dengannya.
Pagi
Mentari bersinar menembus kaca dengan cerah. Cahayanya membangunkan Bara dari tidurnya. Disertai cuitan burung yang cukup berisik dan parkir di gagang balkon kamarnya.
"Sial, siapa yang melakukan ini" Ketus Bara saat mentari tembus menusuk ke dalam matanya.
Dia segara bangun dan mengucek matanya. Ternyata dia melihat Bela yang sudah mandi dan duduk santai menikmati suasana pagi di luar balkon sambil berbicara dengan burung-burung.
"Selamat pagi burung, apakah kau tau tempat ternyaman di kota ini? Aku ingin menjelajahinya" Gumam Bela sambil tersenyum menatap burung itu.
"Sebentar lagi aku pulang, tapi aku tidak memiliki teman. Apakah kita mau berteman walaupun bertemu sebentar? " Ujar Bela, dia kembali berbuat ulah dengan berbicara pada banyak hal.
"Cittt, cittt, cittt" Burung itu sepertinya menyetujui ucapan Bela. Bela terus tersenyum gembira menatap sautan burung yang terdengar indah.
"Dasar gadis gila" Wajah Bara menatap dengan ketus, dia segera bangkit dari tidurnya dan membersihkan diri.
Sedangkan Bela terasa sangat nyaman duduk di balkon dan menikmati angin pagi yang disertai cuitan burung bersautan.
Bahkan saat burung-burung itu telah terbang, Bela masih setia menatap kawanan burung yang lalu lalang mengitari balkonnya. Rasanya dia terhibur riang menatap keadaan itu.
"Ha, kemana dia? Apakah pergi lagi" Mata Bela terus memandangi sudut karena dia tidak tau kemana arah tuannya pergi.
Bela terus mencari di bawah kasur karena takut Bara bersembunyi atau sedang terjatuh namun ternyata kosong. Lalu dia kembali mencari ke almari namun tidak ada juga.
Tanpa dia sadari bahwa air kran di kamar mandi berbunyi, namun Bela menganggapnya biasa saja dan tidak menghiraukan itu. Padahal Bara sedang membersihkan diri di kamar mandi.
"Astaga, sepertinya dia sedang mandi. Biarkan aku menunggu di sini saja" Bela baru menyadari jika Bara sudah berada di dalam kamar mandi.
Bela menunggu Bara yang sedang mandi. Tidak lama kemudian Bara selesai lalu mengajak Bela untuk segera membereskan barang-barangnya karena sebentar lagi akan meninggalkan hotel ini.
"Aku memberimu 15 menit untuk membereskan semuanya" Perintah Bara.
"Hmmm, sepertinya ini ajang lomba bersih-bersih karena ada waktu" Gumamnya kecil sambil membereskan baju yang tersusun di lemari.
Padahal dia tidak tau baju siapa yang tersedia disana namun terlihat jelas bahwa semua baju itu masih baru. Dan Bara menyuruhnya untuk membereskan baju itu dan membawanya pulang.
Bela sibuk membereskan baju itu dan Bara sibuk keluar dari kamar. Bela tidak terlalu memikirkan Bara karena dia hanya memikirkan bajunya yang harus beres dalam 15 menit.
Akhirnya waktu berlalu juga dan Bela sudha selesai dengan tugasnya yang membereskan baju selama 15 menit sesuai perintah tuannya yang sekarang sudah menghilang.
"Sudah, beres" Gayanya dengan girang karena semua baju sudah tertata rapi.
Tidak lupa dia membereskan baju Bara ke dalam koper tersebut dan semuanya benar-benar beres dan tak tersisa satu baju pun.
*klek*
"Lihatlah tuan, aku sudah membereskan semuanya. Apakah aku sudah boleh pergi" Tanya Bela dengan wajah sumringah.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan, aku tidak menyuruhmu untuk menyentuh pakaianku" Bentak Bara dengan kasar pada Bela.
Dia sangat tidak suka jika seseorang menyentuh barangnya tanpa persetujuan Bara. Kali ini wajahnya naik pitam karena setelan pakaiannya sudah tidak tergantung di dalam lemari.
"Bukankah anda menyuruhku untuk membereskan semuanya? Dan sekarang aku sudah selesai" Jelas Bela dengan wajah santainya.
*brak*
Bara menendang koper itu membuat baju yang tertata di dalamnya menjadi berantakan karena Bela belum mengunci kopernya tersebut.
"Tuan? " Lirih Bela.
"Buang semua bajuku, aku tidak ingin memakainya kembali" Wajahnya menampakkan kekejaman.
"Tapi aku sudah bersusah payah membereskan ini, dan bajunya juga masih bagus" Ucap Bela sambil memperlihatkan bahwa baju Bara adalah setelan yang masih baru.
"Tanganmu kotor, aku tidak ingin kau menyentuh barangku" Dia kembali marah, namun Bela hanya menanggapinya dengan santai seperti biasa.
"Baiklah"
Apapun alasannya Bela harus tetap setuju karena dia tidak ingin di usir dari rumah Bara untuk saat ini.
*gubrak*
Bara kembali keluar dari kamar itu, dia tidak ingin menambah amarah dan memilih untuk duduk di ruangan spesial agar bisa menenangkan dirinya.
Ditemani oleh secangkir kopi yang mahal dan sebuah cerutu yang dihisap dengan kasar. Dia benar-benar membenci gadis kecil yang selalu membuat otaknya mendidih.
"Gadis bodoh, dia selalu bertindak semaunya" Gumam Bara dengan kesal.
*drettt, dretttt*
"Halo, ada apa? "
"Cepat bos kemarilah, ada suatu hal penting di markas kami"
"hmmm" Jawaban singkat Bara setelah bawahannya menghubungi dirinya.
Sebuah telepon membuat langkah Bara pergi meninggalkan hotel begitu saja. Kali ini dia benar-benar meninggalkan Bela sendirian di hotel.
Sedangkan keluarganya sudah pulang setelah pernikahannya selesai kemarin karena keadaan oma yang tidak boleh terlalu lama di luar rumah.
Sementara itu Bela masih sibuk memilih dan memilah baju Bara yang terlihat bagus namun disuruh untuk dibuang. Hatinya bimbang antara membuangnya atau memilih untuk menyimpannya.
"Baju ini bagus, ini juga bagus mengapa harus dia buang? " Kebimbangan memakan waktunya untuk terus bertanya-tanya pada udara tentang keadaan dirinya yang sibuk untuk menjawab dua pilihan.
"Sepertinya aku menyimpan ini saja, karena masih bagus"
Akhirnya Bela memilih salah satu baju yang dia simpan dan di sembunyikan dibawah tumpukan bajunya. Dia tidak ingin baju yang masih baru dan sangat bagus itu berakhir di tempat sampah.
"Akhirnya selesai, dan sekarang aku akan keluar, pasti dia sudah menunggu di bawah" ujar Bela
Bela keluar dari kamar hotel, pikirnya mengatakan bahwa Bara sedang menunggu di bawah. Padahal Bara menghilang karena panggilan telepon darurat dari salah satu anak buahnya.
Dia duduk dan termenung di ruang tunggu. Membawa satu koper besar dengan terpontang-panting. Termenung menatap orang-orang yang lewat.
"Apakah dia meninggalkanku? Sungguh malang nasibmu Bela" Ujarnya sendiri sambil menatap jam yang terus berputar.
Beberapa staf dan pelayan hotel juga menatap Bela dengan ubah karena sudah hampir 1 jam dia trending dan sendiri di tempat itu.
"Nyonya, apakah kami bisa membantu Anda?" Sapaan ramah dari pelayan hotel karena tidak tega melihat Bela yang menunggu hingga membuat wajahnya lelah.
"Aduh, aku ingin pulang tapi tidak tau alamat dari rumah oma Rose" Batin Bela berseru.
Dia kembali diahadpakan dengan rasa bimbang dan kecemasan karena bingung ingin melakukan apa. Apalagi lagi dia tak tau alamat Bara.
"Sepertinya tidak untuk saat ini" Sahut Bela sambil menunjukkan wajah ramahnya.
"Aku baik-baik saja karena masih menunggu suamiku" Jelasnya pada pelayan sehingga membuat mereka mengerti.
"Hmm baiklah, lalu berapa nomor hotel anda?" Tanya pelayan hotel
"157"
Pelayan segera mengecek nomor kamar itu, dia terkejut saat mengetahui bahwa Bela adalah istri dari tuan Baratha. Salah satu orang yang berpengaruh dalam bisnis hotel ini.
"Mohon maaf nyonya karena tidak kenyamanan kami, lebih baik nyonya beristirahat di ruang tunggu VIP agar bisa menunggu tuan Bara dengan nyaman" Ucap staf hotel yang merasa canggung.
"Baiklah" Bela menurutinya.
__ADS_1