
Bela ingin membalaskan dendam yang tadi pada tuannya. Bela sengaja menyelipkan sambal di dalam ikan bumbu merah. Warna yang sama tidak akan membuat Bara curiga bahwa makanannya akan dicampur dengan sambal.
Saat Bara lengah dan pandangannya tertuju pada ponsel, Bela segera mencampurkan sambal itu dengan bumbu merah. Sebentar lagi dendam kecil akan terbalaskan.
"Tuan makanlah" Sepiring penuh dengan sedikit racikan bumbu beracun, yaitu sambal.
Tanpa ada rasa curiga bara memakan makanan itu. Saat dalam satu suapan dirinya merasakan hal aneh yang sedang membakar lidahnya setelah mengunyah sedikit.
Dia mengernyitkan dahi karena merasakan sesuatu yang tidak lain dan tidak bukan adalah rasa pedas yang sangat menyengat.
"Aaa pedas sekali, ini makanan apa pedas sekali" Teriaknya sambil mencari minum.
Bela mencoba aktingnya kali ini, dia sibuk mencari minuman dengan rasa kebingungan untuk membantu Bara. Dia memainkan peran untuk terlihat seperti wanita yang terkejut dan segera menuangkan air untuk Bara.
Dia memberikan air tersebut sambil membantu Bara mencarikan makanan untuk menghilangkan rasa pedasnya. Padahal dalam hatinya sangat senang karena telah melakukan balas dendam kecil yang berhasil.
"Kau memasukkan apa di makann ku? " Bentak Bara sambil mengenai mulutnya yang terbakar karena sambal.
"Sepertinya aku terlalu banyak memberikan merica di dalamnya" Ujar Bela berbohong dan wajahnya kembali memberikan rasa penuh kepalsuan.
Wajahnya pura-pura panik saya melihat bara tersiksa dengan rasa pedas. Dia segera mencari kipas untuk menghilangkan keringat yang menetes deras di tubuh Bara.
Bela juga menuangkan air minum secara berulang untuk mencoba meyakinkan bahawa itu benar-benar kesalahannya saat memasak. Bara sudah menghabiskan minuman hampir 2 liter lebih akan tetapi rasa pedas itu masih belum menghilang juga.
"Bagaimana bisa kau sshhhh... Ambilkan aku minum lagi" Bara ingin marah, namun rasa pedas di lidahnya membuat dia harus menghentikan perkataan itu.
"Baik tuan."
Karena rasa pedas itu sampai Bara tidak bisa berkata dengan jelas. Tampangnya saja yang kejam tapi penakut dengan sambal.
Bara sangat membenci dengan kepedasan. Baik cabai ataupun sambal yang mengelilingi kehidupannya. Sudah dari kecil Bara sangat anti makan sambal, apabila dia memakannya sedikit saja maka rasanya seperti terbakar hebat.
"Aku buatkan air hangat dulu tuan biar rasa pedasnya hilang" Bela yang membuat kekacauan, dan dia juga yang ingin menghilangkan kekacauan itu karena tidak tega dengandengan keadaan Bara yang terus menahan pedas dan membuat wajahnya menjadi merah.
"Cepatlah" Bentaknya.
"Hahaha, rasakan. Kau menyiram ku pakai air dingin, dan aku balas pakai kepedasan" Gumamnya dalam hati sambil menyiapkan air hangat untuk Bara.
Setelah beberapa menit akhirnya rasa pedas itu menghilang dengan sendirinya. Mereka berdua masih berdiam diri duduk di sofa ruang tengah.
"Apakah kau mencampurkan makananku dengan sambal? " Bara memecah keheningan.
Sejenak Bela terdiam, dia tidak ingin Bara tau bahwa dirinyalah yang membuat Bara meraskaan hal konyol seperti tadi. Jika Bara tau maka habis riwayat Bela dengan pukulan yang akan diulanginnya lagi.
Menarik nafas secara perlahan adalah cara untuk mencari ketenangan. Pikirnya masih mencoba mencari jawaban yang tepat agar Bara tidak curiga.
"Tidak tuan, sepertinya aku terlalu banyak memberikan merica. Lagipula lidahku seperti mati rasa karena sariawan" Alasan yang sudah Bela siapkan.
Bara menatap Bela dengan tatapan tajam. Sorot matanya seperti tidak menyetujui jawaban itu. Namun dirinya tidak ada bukti jika Bela yang memberikan sambal di makanannya.
Kali ini dia memaafkan gadis itu karena dia telah bekerja keras dengan sendirian melakukan banyak hal di rumah ini.
"Baiklah aku percaya padamu. Lain kali kau masak dengan benar, dan ingat jangan membuat sambal lagi di meja. Aku tidak menyukainya" Peringatan yang tegas dari Bara untuk Bela.
"Baiklah"
Bela mengalah, dia menyukaimu sambal dan untuk hari-hari kedepan dia harus memasak tanpa sambal. Mau tidak mau harus dia lakukan karena ini perintah tuan muda yang arogan.
Bara sibuk kembali dengan ponsel dan laptopnya, seperti sedang mengerjakan sesuatu. Sedangkan Bela duduk di sofa sebelah karena dirinya masih belum bisa tidur malam itu.
"Tuan" Panggil Bela.
"Hmm"
Ada banyak hal yang masih bergelut di pikiran Bela. Alangkah baiknya dia menceritakan sedikit pada tuannya untuk menghilangkan beban yang sedang menumpuk.
"Kenapa tidak menyewa pembantu untuk membantuku? "
Tatapan anak kecil dari Bela yang mencoba untuk meluluhkan hati Bara dengan beberapa kode agar dirinya mau memberikan pelayanan untuk membantu Bela membersihkan rumah.
__ADS_1
Namun jawaban yang dia dapat tidak sesuai dengan ekspektasi dalam pikirannya. Bara kembali berkata bahwa dia tidak menyetujui adanya pelayan di rumah ini.
"Aku tidak ingin menyewa pelayan, karena sudah ada kau disini" Jelasnya.
"Tuan, aku lelah. Datang sekolah membersihkan rumah, memasak dan masih banyak lagi. Apakah kau tidak kasihan denganku? " Ocehnya sambil memberikan wajah yang memelas.
"Tidak, aku tidak akan mencari pelayan" Bara kembali memberikan penolakan.
"Tuan, aku juga kesepian. Apalagi rumah ini terlalu besar dan yang tinggal hanya kita berdua. Ini terlalu berlebihan" Tuturnya masih dengan nada memelas.
Berharap Bara mengubah pikirannya dan menyetujui apa yang dia sarankan. Akan tetapi Bara kembali tidak peduli dan dia sibuk fokus pada laptop dan ponselnya.
Bela merasa bahwa dia diasingkan, masukannya tentang menyewa pelayan tidak di dengar. Hanya kata tidak yang keluar dari mulut Bara dan itupun masih dengan keputusan akhir yang sama yaitu kata penolakan.
"Baiklah, aku akan membersihkan semuanya. Tapi jika aku lelah dan mati disini, maka aku harap kau memguburku dengan layak"
*brak*
Bela kesal dengan Bara, Lagi-lagi dia marah dan membanting pintu dengan keras serta masuk ke dalam kamarnya. Sedangkan Bara masih bersifat tenang dan masih melakukan aktivitas yang sama seperti tadi.
Memang hatinya Bara membeku, dia tidak memiliki perasaan dan hanya memikirkan apa yang dia inginkan saja. Sudah jelas terlihat bahwa Bara hanya ingin menjadikan Bela pembantunya.
Bibirnya tersenyum kecil melihat pintu kamar Bela yang sudah terkunci. Dan hingga larut malam tidak terdengar lagi suara serta aktivitas di rumah itu, begitupun dengan Bara yang sudah naik ke kamarnya.
Ternyata Bela masih belum tertidur. Amarahnya memuncak, ingin rasanya memukul Bara tapi dia tidak bisa.
"Dia selalu menjadikan aku pelayan, mulai besok aku akan menjadi pelayannya dan tidak akan berbicara dengan orang arogan itu" Tutur Bela bergumam sendiri dalam kamar dengan lampu yang telah mati.
Dia tidak menangis, dia tidak bersedih, dia hanya kecewa dengan keputusan itu karena Bara selalu menjadikan Bela sebagai pembantunya.
Sejanak dia termenung dan kembali mengingat pada awal dia masuk ke dalam keluarga Baratha. Dirinya sendiri yang telah berjanji untuk menjadi pelayan dalam rumah itu sebagai balas budi karena Bara telah menolongnya dan pak Taryo dalam kecelakaan tunggal.
"Ini salahku, bukan salah tuan Bara. Karena aku yang berjanji menjadi pelayan dirumahnya. Tapi bukan rumah besar seperti ini" Rengeknta dalam pikiran yang kembali mengingat janjinya sendiri.
*drettt* suara dering ponsel.
"Astaga, banyak sekali Mario mengirimkan pesan untukku. Apakah dia sudah gila" Ketus Bela setelah dia mengambil ponselnya di atas nakas.
Hingga terlihat ratusan pesan dari Mario yang belum terbaca. Akhirnya malam itu juga Bela membuka dan membacanya.
Pesan singkat hanya untuk memulai sebuah obrolan dari Mario. Mario merasa kaku karena tidak pernah melakukan pengiriman pesan untuk seorang wanita, dan baru kali ini dia mengirimkan pesan pada Bela.
"Dia mengirimkan pesan sangat banyak, dan isinya ini saja? Entahlah, apa yang ada dalam pikiran anak itu."
Ujar Bela setelah melihat pesan Mario yang sekedar basa-basi untuk menanyakan apakah bela sudah makan, sudah mandi, sudah belajar atau sudah tidur.
Kata-kata kuno yang digunakan untuk mendekati wanita. Karena di lain sisi, Mario masih kebingungan untuk mencari kata yang baik agar bisa memulai percakapan dengan manis. Namun sayang dia masih tidak tau.
'Apakah kau sudah makan, belajar, mandi, tidur Bela? ' Pesan konyol Mario.
'Tenanglah, aku sudah semua. Kecuali masih belum tidur' Balas Bela.
*ting*
Bela membalas pesan Mario, malam itu mereka berdua saling bertukar pesan hingga larut. Dan akhirnya Bela tertidur dengan tenang setelah bercerita banyak hal dengan Mario, kecuali cerita rumah tangganya
Hari-hari terus berlalu, Bela sudah terbiasa dengan kegiatan rumahnya sehingga bisa dikatakan dia sudah bersahabat. Bela melakukan hal apapun dengan senyuman agar dirinya merasa bahagia.
Tidak lupa juga untuk berkebun di halaman belakang yang dilakukan sendiri. Sedangkan untuk bahan makanan, Bara sudah menyiapkan orang suruhan untuk mengisi bahan-bahan di rumahnya ketika Bela bersekolah.
Namun berbeda dengan pagi ini, Bara pergi terlalu dini. Entah kemana yang penting dia pergi tanpa pamit.
*tok, tok, tok*
"Tuan, makanlah. Aku ingin pergi ke sekolah, jika kau tidak makan maka perutmu akan sakit" Teriak Bela dari luar.
Kamar yang kosong, tidak ada jawaban dari dalam kamar. Beberapa menit Bela berdiri namun Bara tidak membuka pintu juga.
Selama pindah ke rumah ini, Bara melarang Bela untuk masuk ke dalam kamarnya. Sekarang mereka memiliki privasi masing-masing. Jadi Bela tidak berani melanggar aturan yang telah diberikan.
__ADS_1
"Apa kau tidur? Ah sudahlah, aku mau berangkat takut telat" Ujarnya dengan kesal. Karena menunggu Bara adalah hal yang sangat percuma, sebab Bara sudah pergi saat pagi sekali.
"Sebentar, mobilnya tidak ada? Sepertinya dia sudah pergi."
Bela baru menyadari bahwa mobil yang Bara kendarai sudah tidak ada di garasi rumah. Tanpa memperdulikannya lagi, Bela kembali masuk dan membereskan semua makanan di atas meja lalu berangkat ke sekolah.
Sekolah
"Hei bel" Sapa Beni yang berteriak dari belakang.
"Astaga, kenapa kau mengejutkan ku Ben" Tegur Bela saat Beni mengejutkannya di lorong-lorong kelas.
"Aku hanya menyapa"
Beni dan Bela juga sudah terlalu akrab, tapi Bela lebih memilih untuk sering bermain bersama Mario dan juga Brandon.
Brandon dan Mario juga sudah menjalin persahabatan, Mario yang dingin dan pendiam tanpa banyak bicara sedangkan Brandon yang banyak omong serta selalu membuat teman-temannya terhibur.
Dan satu lagi Brandon adalah biang kerok kelas yang selalu bikin ulah untuk kesenangan dirinya. Akan tetapi dia sangat peduli pada semua teman kelasnya tanpa memandang status.
"Jangan mengejutkan ku, bagaimana jika jantungku lepas" Seru Bela.
"Tidak akan Bela, jika jantungku lepas maka akan aku berikan jantungku ini untukmu" Kata-kata gombal kembali Beni ucapkan pada Bela.
"Hahahah" Tawa mereka berdua.
Tidak lama kemudian Mario datang dari belakang dan segera melepaskan rangkulan tangan Beni di bahu Bela. Dia merasa tidak nyaman bila melihat Beni merangkul Bela dengan bebas.
Sedangkan Bela terlihat biasa saja karena dia tidak meraskaan apapun. Bela hanya menganggap mereka semua teman, akan tetapi berbeda dengan Mario. Rasanya hati abela nyaman bila ada di dekatnya.
"Lepaskan" Ujar Mario dengan dingin.
"Kau menggangguku saja" Ketus Beni sambil melihat Mario.
"Ben, lebih baik kau duluan saja ke kelas" Bela menyuruh Beni pergi demi keamanan.
"Tapi Bel" Beni selalu membantah, namun pada akhirnya dia akan mengalah juga.
"Sudahlah, aku akan menyusulmu" Sahut Bela.
Bela tidak ingin bila mereka bertengkar terus setiap bertemu. Mereka berdua sudah seperti kucing dan tikus yang selalu meributkan masalah kecil.
Tidak pernah ada kata akhir, yang selalu dipikiran mereka adalah penyerangan dan keributan. Mungkin dengan hal itu mereka selalu tenang.
"Bagaimana tugasmu, bisa? " Mario. menanyakan tugas matematika pada Bela, dia takut jika Bela dalam masa kesulitan.
"Tenang saja, aku bisa mengerjakannya"
Sebenarnya Bela bisa mengerjakan semua tugas sekolah, karena dulu dia adalah murid yang sangat berprestasi semenjak ada mamanya. Lambat laun prestasinya menurun karena kesengajaan, sebab dirinya merasa meskipun berprestasi tapi tidak pernah mendapat kasih sayang ayahnya.
Dan sekarang Bela ingin kembali untuk belajar dengan baik. Jika ada kata Bela tidak bisa mengerjakan matematika, itu adalah kebohongan. Karena dia hanya ingin nelajar bersama mario saja.
"Sebentar lagi ujian tengah semester. Aku harap kau mendapatkan nilai bagus bel"
"Tenang saja, oh iya bukankah minggu depan kau akan mengikuti olimpiade di luar kota? "
"Benar" Jawaban iru membuat wajah bela lesu.
"Kenapa.lesu? "
"Entahlah, aku merasa bahwa akan ada yang kurang. Aku akan bermain dengan Brandon saja, sedangkan kau akan berjuang disana"
Bukan tentang apapun, namun tentang kebiasaan. Terbiasa bertiga dan selalu membuat suasana yang indah walaupun dengan karakter yang berbeda.
Terbiasa tertawa dan selalu menyusun kenangan di sekolah dan ditempat yang pernah mereka kununjungi bertiga. Hal itu juga Bela lakukan secara diam-diam dari pengawasan Bara.
"Heiii, kalian ini. Aku sudah menunggu kalian di pintu gerbang."
Tiba-tiba Brandon datang dan mengejutkan suasana agak muram pagi ini. Suasana Bela yang lesu saat mendengar Mario akan segera prgi untuk Olimpiade.
__ADS_1