Antara Cinta Dan Mafia

Antara Cinta Dan Mafia
84. Tidur Di Kamar Bela


__ADS_3

Bela membeku saya mendengar perkataan Bara yang ingin tidur dengannya dalam satu kamar. Dia tidak tau apa yang harus dilakukan kecuali dirinya harus menghindar dari Bara agar tidak kembali mendapatkan ciuman.


"Apa jangan-jangan kau berbuat baik padaku, lalu sekarang kau ingin....." Bela menghentikan perkatannya.


Tatapan Bela yang tenang kini menjadi panik serta gelisah. Dia takut jika Bara melakukan hal buruk padanya lebih tepatnya yaitu melakukan hubungan suami istri. Karena saat ini Bela sangat menjaga tubuhnya tetap tersegel dan tidak boleh ada yang menjamah kecuali suami aslinya kelak di masa depan.


Sementara itu Bara langsung merebahkan dirinya di ranjang Bela seperti tidak terjadi apapun. Bela segera mendekat dan berbicara pada Bara.


"Baiklah jika itu maumu tuan, aku akan tidur di ruangan tengah" Gumam bela.


Bara langsung menarik lengan Bela sehingga dia masuk ke dalam pelukan Bara. Lagi-lagi darah mengalir begitu cepat, jantung Bela juga berdegup begitu kencang. Serta ketakutan bercampur jadi satu dengan rasa resah.


Bela ingin keluar dari pelukan Bara tapi dia tidak bisa karena rangkulan tangan Bara begitu kuat seakan mengunci tubuh Bela yang mungil.


"Tuan, aku tidak bisa bernafas" Rengek Bela.


Rangkulan itu terlalu kuat dan berlangsung cukup lama sehingga Bela sangat susah untuk menghirup oksigen. Apalagi reaksi tubuhnya bercampur aduk saat Bara kembali memeluk tubuh Bela.


"Lebih baik diamlah, daripada aku mencekik lehermu" Ujar Bara.


Ekspresi wajah Bela kembali menampakkan hal yang lucu saat dia terkejut mendengar ucapan Bara. Secara terpaksa gadis itu harus menuruti perkataan tuannya yang terdengar sangat kasar. Karena kalau tidak maka Bara akan melakukan apa saja yang dia mau, bahkan tidk segan-segan menyakiti Bela.


Hal itu sudah terbiasa dalam hidup gadis yang malang itu, jadi dia hanya ingin ketenangan walau sebenarnya penolakan dalam dirinya cukup besar. Akhirnya Bela memilih untuk tetap diam dan tangan Bara juga meregangkan sedikit pelukannya agar Bela bisa bernafas dengan baik.


"Lalu aku harus bagaimana? Apakah aku akan tidur seperti ini di dalam pelukannya? " Bela bertanya-tanya dalam batinnya.


Malam itu dia tidak bisa melakukan apapun, karena Bara tetap pada pendiriannya yaitu tidur di kamar Bela serta memeluknya dengan erat. Ingin rasanya mulut Bela berteriak tapi dia tidak bisa. Hanya bisa melalukan dengan ketenangan dan ikuti alur yang diberikan oleh Bara. Selebihnya Bela merasa ketakutan.


"Kau akan tidur disini sampai besok pagi? " Bela kembali bertanya untuk memastikan bahwa Bara akan berubah pikiran.


"Iya" Sahut Bara singkat.


"Tapi tolong jangan melakukan hal buruk padaku, karena aku ingin sekolah dan tidak ingin ha.. " Belum selesai Bela berbicara, tangan kelar tuannya membungkam mulut Bela agar tidak terus bercelpteh sesuai hatinya.


Dia tau bahwa gadis di sampingnya ingin berkata agar Bara tidak melakukan hubungan seperti suami istri karena Bela tidak ingin hamil. Lagipula mereka berdua hanya menikah kontrak dan akan segera berpisah bila kontrak itu habis.


Walau sebenarnya Bara sendiri ingin melakukan hubungan itu. Sebagai lelaki normal, Bara juga menginginkan hubungan lelaki dan perempuan seperti orang-orang yang sudah sah setelah menikah.


Akan tetapi tetap saja dia harus menahan karena telah berjanji tidak akan melakukan itu pada Bela. Walau dirinya sendiri ingin balas dendam tapi bukan dengan cara yang hina, seperti memper*k*sa gadis kecil yang lugu seperti Bela.


Bara juga tidak ingin memiliki anak dari keturunan musuhnya. Karena Bela hanyalah tempat untuk meluapkan seluruh dendam yang dia simpan.


"Tuan, sebenarnya ada pertanyaan dalam diriku" seru Bela kembali setelah tangan kekar Bara melepaskan bungkaman dari mulutnya.


"Hmmm" sahut Bara memberikan jawaban bahwa dia ingin mengetahui hal apa yang dibicarakan oleh gadis di sampingnya itu.


"Sebenarnya aku ingin menikah setelah dewasa, memiliki anak walaupun aku sendiri belum berpacaran. Akan tetapi aku tidak tau bagaimana mereka bisa ahamil. Dan yang aku ketahui bahwa berciuman itu bisa hamil, jadi saat itu aku takut jika kau mencium ku lagi maka aku akan hamil" tanpa disadari Bela bercerita tentang sesuatu yang bergelut dalam pikirannya.


Wajah polosnya menatap ke sembarang arah sambil nercerita tentang apa yang dia tidak ketahui. Pikirannya mengatakan bahwa hubungan suami istri menurutnya adalah berciuman yang dapat menghasilkan anak.


Walaupun di masa lalu dirinya adalah anak nakal, tapi urusan tentang hubungan seseorang yang telah menikah dia tidak mengetahui dengan pasti bagaimana cara mereka memiliki anak.

__ADS_1


"Kau tidak akan hamil hanya karena dicium olehkuolehku"Gumam Bara untuk menjawab pertanyaan konyol dari Bela. Mendengar jawaban itu, Bela merasa lega karena dia masih suci dan benar-benar tersegel.


Bara tersenyum kecil mendengar ungkapan konyol yang sangat polos dari gadis itu sehingga dirinya tidak kuat untuk menjawab pertanyaan itu serta membuat Bela terdiam.


Dia tidak tau ternyata gadis yang di nikahinya secara kontrak adalah gadis yang putih dan bodoh. Tidak mengerti bagaimana tentang hal intim yang terkadang pada umumnya banyak diketahui oleh gadis seumuran dengannya.


"Tidurlah, jangan banyak bicara lagi" Perintah Bara pada Bela tanpa melepaskan pelukannya. Sebenarnya dia ingin tertawa dengan kelakuannya gadis kecil itu, tapi dia sangat pandai menyimpan tawanya.


Bela mencoba memejamkan mata namun rasanya sangat sulit. Karena ada rasa kewaspadaan yang sangat tinggi dalam dirinya. Dia tidak ingin Bara melakukan hal buruk setelah dia tertidur pulas.


Bela mencoba memejamkan mata dengan pura-pura agar Bara tidak melihatnya. Saat Bela kembali menatap Bara, rupanya dia sudah terlelap. Bela sedikit tenang karena Bara tertidur lebih dahulu.


"Tuhan tolong jaga aku dari orang ini. Aku tidak ingin dia melukaiku" Hanya pada Tuhannyalah Bela meminta perlindungan. Karena dia tidak ingin bila Bara menyentuhnya hanya dengan ciuman atau bahkan menyentuhnya secara menyeluruh.


Sungguh tidur Bela tidak nyenyak karena dia harus berjaga-jaga dari perlakuan Bara. Namun rasa kantuk itu tetap saja datang hingga tanpa disadari bila terlalu lelah dengan sendirinya walau masih dalam dekapan Bara.


Pagi


Mentari masih mengintip dari arah timur namun Bela sudah bangun seperti biasa karena dia selalu rajin bangun pagi hanya untuk memasak makanan.


Baru saja Bela membuka mata ternyata ada tangan Bara yang masih saja sama seperti tadi malam dan tidak terlepas dari tubuh Bela.


"Ah sial mengapa dia masih memelukku, bagaimana bisa aku keluar dari pelukannya. Sungguh benar-benar cobaan bagiku " gerutu Bela dalam hatinya, dia berusaha untuk terlepas dari dekapan Bara namun nyatanya itu sangat susah sebab dekapan itu terlalu kuat menahan tubuh Bela yang ringan.


Bahkan Bela tidak bisa menggeliat seperti biasa saat bangun pagi tapi dirinya sekarang berusaha untuk melepaskan itu. Belum selesai Bela keluar dari dekapan itu, terlihat mata Bara juga terbuka karena dia sudah terbangun dari mimpi manisnya.


" Menyebalkan mengapa dia harus membuka mata juga " ujar Bela dalam hati sambil melotot menatap Bara.


Bela segera mengalihkan pandangannya dan mencoba untuk menatap sembarang arah karena dia tidak mau bertatap-tatapan lagi dengan mata tuannya yang mengeluarkan sorotan tajam.


"Selamat pagi" seru Bara seakan-akan Itu adalah sebuah mimpi bagi Bela. Karena baru kali ini Bela merasakan perlakuan hangat dri tuannya yang selalu arogan. Bahkan selama ini Bara tidak pernah mengucapkan selamat pagi pada dirinya, dan ucapan itu rasanya mimpi yang nyata.


" Ya, ya selamat pagi tuan, bisakah kau melepaskan tanganmu karena aku ingin memasak dan pergi bersekolah " seru Bela sambil memegang tangan Bara supaya melepaskan tubuh kecilnya.


Namun nyatanya hal itu tidak dihiraukan oleh Bara karena genggaman pelukan itu masih erat melilit di tubuh Bela yang mungil.


* Cup, cup cup* bukannya melepaskan ikatan itu tapi Bara mencium pipi Bela berulang kali secara gemas.


Bela hanya menatapnya dan tubuhnya terpaku, rasanya darah mengalir dari ujung rambut hingga ujung kaki secara deras dan berdesis secara kencang.


Bela tidak tahu apa yang harus dia lakukan tapi rasanya hal itu sangat menyebalkan karena Bara berulang kali mencium tubuh Bela pagi ini.


"Tuan kau sangat menyebalkan" Teriak Bela sambil menatap Bara dengan kesal.


"Aaaaa" Teriak Bela kembali dan langsung beranjak dari tempat tidurnya lalu masuk ke dalam kamar mandi.


Sungguh kejadian yang benar-benar membuat Bela tidak bisa berkata apapun. Karena hal itu sangat menyebalkan, Bela sangat membenci bila Bara menciumnya tanpa persetujuan darinya.


Untungnya setelah Bela selesai mandi Bara sudah tidak ada di atas ranjang. Mungkin dia telah naik ke atas kamarnya. Kemudian Bela segera ke dapur untuk memasak seperti biasa walaupun matanya masih menatap sekeliling dengan penuh kewaspadaan yang tinggi.


"Akhirnya selesai juga masakan ini tapi kenapa rasanya sangat aneh semenjak kemarin Kak Alex belum keluar dari kamarnya" gumam Bela sambil menatap ke arah kamar Alex.

__ADS_1


Rasanya sangat sepi karena Alex yang biasa sering tertawa kini sedikit muram setelah berbicara dengan sedikit perdebatan antara Alex dan Bela kemarin sepulang sekolah.


Bela sedikit merasa bersalah karena tidak sepantasnya dia harus mencampuri urusan antara Alex dan juga Cintia. Bela berniat untuk meminta maaf padanya.


"Sebaiknya aku minta maaf karena salahku kak Alex tidak keluar dari kamarnya " seru Bela berbicara sendiri sambil berjalan ke arah kamar Alex.


* tok tok*


"Kak Alex keluarlah, waktunya sarapan pagi" Bela memanggil Alex dengan keras namun tidak ada jawaban.


Bela merasa khawatir dengan Alex karena sudah dari tadi malam Alex tidak makan dan juga pagi ini Alex tidak kelihatan. Biasanya di pagi hari Alex akan duduk-duduk di teras serta menikmati udara yang segar namun sekarang Alex tidak keluar dari kamarnya.


" Kak Alex keluarlah, apakah kau baik-baik saja " teriak Bela dengan wajah panik karena teriakannya dari tadi belum mendapatkan jawaban juga dari Alex.


Bela terus menggedor pintu kamar Alex karena dia takut terjadi apa-apa pada kakak angkatnya itu yang sedang memiliki masalahnya tersendiri.


* ceklek*


"Ada apa pagi-pagi sekali kau berteriak" Alex membuka pintunya sambil mengucek-ngucek mata untuk menyadarkan diri karena dia baru saja terbangun dari lelap malam yang panjang.


Bela merasa lega melihat Alex berdiri di depannya dengan keadaan baik-baik saja walaupun dirinya masih khawatir jika terjadi apapun pada Alex.


"Syukurlah kau baik-baik saja, aku khawatir dengan dirimu kak" wajah Bela terlihat sangat khawatir karena rasa ketakutan selalu menghampiri apabila Alex tidak keluar dari kamar tersebut.


Bahkan Bela sudah menyiapkan beberapa tendangan untuk membobol kamar Alex sebab dia takut jika Alex berbuat nekat hanya karena masalahnya dengan Bela kemarin.


"Apakah khawatir denganku?" Tanya Alex pada Bela dengan menampilkan wajah baik-baik saja.


" Jelas aku khawatir denganmu karena tawamu adalah semangat untuk ku agar bisa tertawa juga" Jelas Bela pada Alex.


"Jika kau khawatir denganku, mengapa tadi malam kalian berdua keluar dan meninggalkan aku sendirian" tanya Alex dengan sorotan mata menyelidik pada Bela.


Bela terdiam, ternyata tadi malam Alex keluar dan makan makanan yang sudah disiapkan Bela walaupun tidak terlalu banyak.


Akan tetapi Alex melihat bahwa Bara dan Bela keluar berdua tanpa mengajak dirinya sehingga Alex hanya tinggal sendiri di dalam rumah karena beberapa pengawal hanya menjaga di depan gerbang saja dan juga memiliki tempat tersendiri untuk beristirahat.


"Iya jangan tanya padaku tanya saja pada tuan Bara yang memaksaku untuk makan di luar" sahut Bela lalu pergi meninggalkan ales.


"Oh ya Cepatlah ganti baju dan mandi karena kau harus makan kemudian mengantarkan" seru balas sambil berbalik kembali pada Alex kemudian dia kembali meninggalkannya dan menuju ke meja makan untuk sarapan pagi.


Sebenarnya Bela sangat malas jika dia harus makan bersama dengan Bara setelah mengingat kejadian tadi pagi. Namun bagaimanapun Bela membutuhkan asupan gizi agar kuat untuk bersekolah.


" Astaga dia segera datang" seru Bela dalam hatinya setelah melihat Bara turun dari atas tangga. Dan kali ini Bara juga berpakaian rapi seperti ingin pergi ke suatu tempat.


Bara segera duduk di meja makan seperti biasa begitu juga dengan Bela melakukan kewajibannya untuk melayani Bara tanpa banyak bicara sedikitpun.


Lagi-lagi mereka berdua seakan-akan berdiam diri tanpa adanya interaksi tidak lama kemudian Alex juga keluar dari kamarnya dan ikut bergabung di meja makan untuk sarapan pagi.


" Bagaimana kabarmu Apakah kau baik-baik saja" tanya Bara pada Alex.


Walaupun sikapnya dingin, Bara tetap saja sangat menyayangi sahabatnya yaitu Alex. Terlihat jelas dari sorotan matanya yang begitu perhatian terhadap Alex meskipun orang-orang mengatakan bahwa wajah datar Bara terlihat begitu dingin seperti kulkas 7 pintu tapi sebenarnya dalam lubuk hatinya Dia adalah orang yang hangat tapi hanya untuk orang-orang tertentu saja termasuk Alex.

__ADS_1



__ADS_2