
Bersama datangnya angin yang berhembus kencang tanpa diundang, di atap masih berdiri satu orang yang menceritakan masa lalunya dan satunya lagi menyimak atas masalah yang sedang di hadapi oleh rekannya itu.
"Aku seharusnya tidak dilahirkan Bela, karena mereka semua benar-benar tidak menginginkan aku hadir" teriak Beni penuh emosional.
Akhirnya sampai juga dia meluapkan rasa keputus asaan yang telah lama dipendam oleh hatinya. Air matanya kembali mengalir deras bersama hati yang hancur berkeping-keping karena kenyataan yang sedang dia jalani begitu sangat pahit.
Berharap mendapatkan hal yang lebih baik di dunia selanjutnya dengan cara singkat, yaitu mengakhiri hidup serta lahir di kehidupan yang baru. Namun nyatanya hal itu tidak seindah yang dibayangkan, karena tidak ada yang tau takdir Tuhan telah tercatat abadi dalam lembaran kertas putih di langit sana.
Ingin merubah semuanya juga tidak bisa, karena perubahan yang ada hanyalah sebuah hayalan bukan sebuah kenyataan. Terjun dalam lingkungan kehidupan dengan diikuti oleh tuntutan perasaan yang selalu berkata tentang hal menyakitkan.
"Tenanglah, aku akan selalu bersamamu. Jadi jangan pernah kau merasa kesepian" Bela memeluk Beni dengan erat.
Bela tau apa yang sedang dirasakan Beni adalah kepahitan dalam hidup yang dirasakan pula oleh dirinya. Dilahirkan namun tak diinginkan oleh ayahnya.
Jadi Bela memberikan kehangatan pada Beni walau hanya sekedar menenangkan hati yang begitu hancur. Cinta yang patah akan tumbuh dengan sendirinya jika kita menemukan pundak untuk menghangatkan kembali rasa kasih sayang, akan tetapi tidak ada yang tau kapan kasih sayang itu terus tumbuh dalam lingkup yang hangat.
Sebab saksi hidup berjalan tanpa peta yang terarah dalam pikiran. Sedangkan Tuhan sudah menyiapkan peta itu sendiri tanpa sepengetahuan makhluk bumi yang lain.
"Hapuslah air matamu karena kau laki-laki tidak pantas untuk menangis" Bela memegang tangan Beni agar dia menyeka air matanya.
Bela tidak ingin bila orang lain melihat seorang lelaki menangis di kerumunan banyak orang walaupun seorang lelaki itu juga manusia yang akan merasakan kepedihan, tapi Bela tidak ingin kepedihan itu diartikan sebagai kelemahan.
Maka dari itu Bela menyuruh Beni untuk segera menjaga air matanya sebab itu tidak baik untuk kehidupan yang harus dipaksakan berlangsung dengan baik. Bela juga menyarankan jika ingin menangis maka menangislah serta teriaklah, akan tetapi di saat dirinya sendiri maka dia juga akan menangis demikian.
Terkadang saat kita menangis di keramaian belum ada yang tahu tentang hati orang. Mereka hanya bisa melihat luar yang ramai penuh dengan semburan tawa, tapi kenyataan dalam hati hanyalah diri yang mengetahui semuanya.
Banyak manusia yang hanya ingin melihat tetapi tidak ingin memberikan solusi dalam hidup. Karena mereka hanya memiliki rasa ingin tahu saja tanpa harus memastikan bagaimana keadaan selanjutnya yang harus dijalani untuk menyelesaikan masalah tersebut.
"Tenangkan dulu hatimu, baru kau bisa turun" Seru Bela kembali pada Beni yang masing dirundung kepedihan. Bela beranjak ingin pergi dari sana, lalu Beni kembali menghentikan langkah itu.
"Bela tunggu" Bela segera berbalik mendengar teriakan Beni.
"Terima kasih" seruan kecil keluar dari bibir Beni sambil kembali memeluk Bela. Terlihat matanya sedikit nyaman walau hatinya masih memeluk kepedihan yang teramat dalam.
"Kau bukan pecundang, tapi kau manusia kuat untuk menghadapi sekuanya" Sekali lagi pesan baik Bela ucapkan dari lubuk hatinya yang paling dalam.
Jam istirahat
*tetttt* suara yang paling ingin di dengar oleh seluruh siswa, salah satunya Bela dan ketiga sahabatnya. Setiap bel istirahat berbunyi maka sorakan akan bergema di dalam kelas. Tidak peduli ada guru atau tidak yang penting mereka bisa segera makan dan pergi berkelana ke kantin.
"Apa yang kau lakukan bersamanya tadi? " Tanya Mario sambil memberikan tatapan menyelidik pada Bela mengenai dirinya yang membawa Beni.
"Beni maksudmu? "
"Benar, kenapa kau bersamanya? Apa yang kalian lakukan" Mario mencecar banyak pertanyaan pada Bela dengan wajah yang sedikit murung.
"Ada masalah pribadi, kau tidak perlu tau" Ujar Bela, karena dia sudah berjanji pada Beni untuk merahasiakan itu semua.
__ADS_1
"Kau bermain rahasia dengan sahabatmu? " Tegas Mario, rasa keingintahuan yang dimilikinya sangat tinggi.
"Ssssttt, ada waktu seseorang memiliki rahasia dan ada waktunya juga seseorang mengungkap semua. Lagipula aku juga tau tentang rahasiamu" Bela berkata sambil tersenyum pada Mario.
Jawaban Bela itu membuat Mario semakin bingung. Karena dia tidak tau rahasia apa yang Bela bicarakan tentang dirinya. Karena selama ini Mario menyimpan sesuatu yang patut dia simpan tanpa sepengetahuan orang lain. Seketika Mario tidak berbicara lagi dan terdiam sambil menatap Bela.
"Hey, kalian ini. Sepertinya sedang membicarakan sesuatu yang serius. Apakah tentang dirimu dan Beni yang bersama di pagi hati itu Bel? " Belum selesai Bela berbicara dengan Mario, kedua sahabatnya ikut nimbrung dalam pembicaraan tersebut, seperti sedang rapat legislatif saja.
"Tidak, kalian duduklah" Perintah Bela menyuruh Brandon dan Sela untuk duduk bersama.
Sejenak Bela mengawasi kelas di setiap sudut karena Bela ingin berbicara sesuatu. Setelah kelas kosong akhirnya Bela mengeluarkan ponselnya untuk memberitahu sesuatu pada sahabatnya yaitu Brandon.
" Lihatlah ini, Tiara yang kau sukai bukan" Bela memberikan ponselnya pada Brandon dan agar dia melihat jelas bagaimana kelakuan Tiara.
Seorang wanita yang dia kejar mati-matian dan sangat mencintai Tiara yang selalu di eluh-eluhkan tanpa dia sadari bahwa dirinya telah dijadikan sebagai alat penghasil uang karena si Tiara hanya ingin bermain-main saja dengan Brandon tanpa memberikan kepastian tentang cinta.
Brandon pernah berkata jika dia sudah menembak Tiara pada suatu hari di sebuah resto yang mewah dengan mendapatkan persetujuan antara kedua belah pihak, tapi tanpa disadari Tiara hanya menginginkan hartanya saja bukan dirinya.
"Dari mana kau mendapatkan ini Bela? " Brandon sangat terkejut setelah melihat video itu.
"Kau tidak perlu tau tentang itu, yang jelas kami sahabatmu tidak akan meninggalkan kau begitu saja dengan wanita sepertinya" Jelas Bela tanpa memberitahu darimana vidio itu berasal.
Dia melihat bahwa Tiara sedang bermesraan dengan lelaki lain kemudian mereka berdua masuk ke dalam sebuah bar dan menari riang tanpa beban.
Mereka asyik menikmati dunia malam tanpa memikirkan hal yang lainnya. Bahkan kemesraan itu selalu ditampakkan setiap kali mereka asyik berpadu goyangan dalam lampu kelap-kelip penuh warna. Berpadu dnegan goyanagn yang indah sambil berpakaian minim layaknya wanita liat.
Dia masih tidak menyangka jika wanita yang selama ini dikejar olehnya adalah seorang wanita liar, terlihat sangat jelas bahwa Tiara sangat menikmati dunia gemerlap sambil bergoyang-goyang serta berduaan dan memanja bersama pasangannya. Brandon sangat muak melihat video tersebut dan dia Hampir melemparkan ponsel Bela.
"Eh kau mau apa Brandon, jika kau marah-marah saja dan tolong kembalikan ponselku" Bela mencegah Brandon yang hampir saja melemparkan ponselnya karena amarah yang ada di dalam dirinya sedang mencuat hebat.
"Oh iya maaf Bela aku terlalu emosi "sahut Brandon.
Wajahnya memang emosi tapi penampakannya sangat lucu bahkan mereka bertiga ingin tertawa tapi untuk kali ini tidak karena Brandon benar-benar sangat sakit hati.
Selama ini Brandon menjadikan Tiara sebagai seorang ratu dan dia seakan-akan melindungi Tiara dari godaan lelaki lain. Akan tetapi Tiara sendiri yang menjajakan tubuhnya sehingga dia seperti wanita murahan yang bisa dijamah oleh banyak orang.
Karena terlihat dari baju yang digunakan di saat Tiara mendatangi dunia gemerlap malam terlihat sangat terbuka dan bahkan memperlihatkan lekuk tubuh indahnya yang sangat sensitif.
"Aku akan memutuskannya sekarang" Brandon beranjak dari tempat duduknya dan ingin menghampiri Tiara.
" Kau ingin memutuskannya, sedangkan dia sudah menghancurkan hatimu. Sepertinya kau harus menghancurkannya juga secara perlahan"Mario membuka suaranya karena dia tidak tega melihat sahabatnya diperlakukan seperti itu.
Bukan hanya rasa sakit yang diterima oleh Brandon akan tetapi dia telah membuang waktu Brandon serta memoroti Brandon atau bahkan hampiri mengeruk hartanya dan memanfaatkan Brandon seperti seorang kacung saja.
"Apa maksudmu Mario, Aku ingin memutuskannya sekarang juga jangan cegah aku" kesal Brandon pada Mario saat tangannya dicengkram oleh Mario untuk menghentikan langkah Brandon yang akan pergi menuju ke Tiara.
"Jangan gegabah, aku tahu caranya agar Sakit hatimu tidak terlalu dalam atau bahkan bisa mengambil seluruh uang dari Tiara "Mario berbisik kecil pada brand dan akan tetapi Bela dan juga mendengarnya.
__ADS_1
Hingga pada akhirnya Brandon berhenti dan menuruti ucapan sahabatnya itu serta mereka berempat sedang berunding. Bagaimana caranya untuk mendapatkan kembali uang Brandon yang ada di tangan Tiara.
Atau bahkan Brandon juga ingin mematahkan hati Tiara juga seperti membalas dendam. Sebenernya Brandon adalah anak yang polos dia juga terlihat sangat riang dan sangat jenaka akan tetapi dia adalah orang yang bodoh karena mudah untuk dibohongi dan ditipu.
Untung saja Brandon memiliki ketiga sahabat yang sangat pandai agar bisa menciptakan siasat untuk merebut kembali apa yang seharusnya jadi milik Brandon di tengah-tengah perencanaan Brandon mengatakan bahwa dia juga memberikan salah satu rumah pada Tiara sontak hal itu membuat ketiga sahabatnya terkejut.
"Aku juga memberikan sertifikat rumahku pada tiara, dan rumah itu sudah dia tempati" Jelas Brandon dnegan wajah menunduk.
"Apa rumah" sontak mereka bertiga terkejut bukan main sehingga berbicara secara bersamaan.
Sungguh hal yang di luar dugaan bahwa Brandon telah terjebak terlalu dalam oleh Tiara. Ketika sahabatnya juga tidak mengetahui bahwa Brandon adalah anak orang kaya karena memiliki beberapa kontrakan dan juga rumah sungguh hal yang mengejutkan bukan main. Karena Brandon adalah anak orang kaya yang tidak pernah sombong untuk kekayaan hal tersebut. Menurut Brandon Itu semua adalah milik ayahnya bukan milik dirinya.
"Iya aku memberikan rumah itu tapi tenang saja ukurannya kecil kok dan tidak besar"sahut Brandon seperti tidak ada masalah dengan pemberiannya itu pada Tiara.
Hal itu membuat ketiga sahabatnya menatap sinis pada Brandon karena ternyata Brandon memiliki kebodohan tingkat dewa yang mampu dirayu oleh kemolekan tubuh Tiara.
* plak plak* Bela memukul kepala Brandon dengan keras sambil meluapkan semua kekesalannya pada salah stau sahabat yang bodoh.
" Aduh sakit Bela " Rintis Brandon kecil.
" Oh Tuhan Mengapa kau sebodoh ini Brandon, bukankah sudah kubilang dari awal jangan dekati wanita itu karena dia tidak baik. Kita tidak akan membiarkanmu terjerumus dalam lubang Buaya wanita sepertinya Brandon. Tapi nyatanya kau sudah tenggelam terlalu jauh" Bela mencoba menjelaskan secara detail pada Brandon karena kelakuannya yang sungguh di luar dugaan.
Sudah berulang kali ketika sahabatnya memberitahu Brandon untuk meninggalkan Tiara akan tetapi dia tidak mendengarkan itu. Ketiga sahabatnya hanya bisa menjaga Brandon Namun nyatanya mereka tetap saja kecolongan karena Brandon memberikan rumah tanpa sepengetahuan ketiga sahabatnya.
"Baiklah ikutlah caraku agar rumahmu itu kembali sebelum orang tuamu tahu Brandon. Walaupun sertifikat itu masih nama ayahmu, tapi rumahnya telah dia tinggali sejak lama. Dan memang tidak mudah untuk mendapatkannya tapi kita akan berusaha" Mario ikut masuk dalam masalah sahabatnya.
Bahkan dia juga yang memberikan solusi untuk membalaskan dendam Brandon pada Tiara serta mengambil seluruh hak Brandon yang berada di tangan wanita tersebut.
"Lalu bagaimana aku bisa melakukan itu " ucapan Brandon melemah karena dia tidak bisa melakukan itu sendiri tanpa bantuan teman-temannya.
"Tenanglah masih ada kami" ujar Bela sambil tersenyum dan memberikan kode bahwa kami adalah sahabat bahagia dan sedih akan selalu bersama.
Karena percakapannya cukup panjang sehingga mereka berempat lupa untuk pergi ke kantin dan menikmati makanan. Hal itu membuat perut Bela terasa sangat lapar Begitu juga dengan perut Sela.
"Ah sial sebentar lagi bel masuk, perutku sangat lapar "gerutu Bela sambil memegangi perutnya.
Mario langsung Beranjak Pergi tanpa memberikan perkataan satupun. Dia segera lari untuk menunju ke kangin dan membelikan makanan serta minuman pada Bela, tidak lupa Mario juga membelikan untuk Brandon dan juga Sela.
Karena dia tahu jika memberikan perhatiannya hanya untuk Bela maka membuat Brandon dan Sela menjadi curiga jika Mario sangat menyukai Bela dan sudah pasti mereka akan memberikan banyak pertanyaan.
Bahkan Mario pernah menembak Bela namun ditolak karena Bela tidak ingin Mario dan Bara melakukan perang saudara hanya karena merebutkan status dirinya.
"Mau ke mana dia, kenapa berlari seperti itu" tanya Sela saat melihat Mario Beranjak Pergi Tanpa sepatah kata pun.
" Entahlah aku ingin terlelap sebentar saja, lagi pula perutku sangat lapar dan tidak membawa bekal" sedikit mata merah mulai sayu, rupanya Bela sangat mengantuk dan ingin segera tidur.
"Tidurlah biar nanti aku yang akan membangunkanmu " Sela memberikan perhatiannya karena dia tahu bahwa Bela benar-benar sangat mengantuk apalagi perutnya kosong tidak ada makanan sedikitpun yang masuk.
__ADS_1