
Benturan keras telah menggores dahi Bela, darah segar mengalir. Namun tidak ada niatan dari Bara untuk menghentikan itu semua. Tangannya juga lihai kembali menampar pipi Bela. Seakan dia telah meluapkan apa yang ingin dia keluarkan semua.
Bara juga menendangnya tanpa melirik belas kasihan pada Bela. Dirinya telah membabi buta untuk menyakiti gadis kecil itu karena sedikit kesalahan yang telah diperbuat olehnya.
"Aaaa, kau memang gadis tidak tau di untung" Teriak Bara dengn penuh emosi.
Amarahnya sudah berada di ambang batas kesabaran, rasanya Bara ingin segera menghabisi gadis kecil itu karena dia sudah muak dengan pelanggaran yang Bela lakukan.
Bela hanya bisa menahan rasa sakit. Dia terdiam atas kelakuan yang telah dia perbuat sehingga membuat semuanya menjadi kacau.
"Sudah ku katakan jangan lari dariku, pernikahan kita belum usai dan kau sudah berani kabur dari jangkauan ku" Ucap Bara sambil menjambak kembali rambut Bela.
Dia mendongakkan wajah Bela sampai menatap dirinya. Bara berjongkok di hadapan Bela yang sudah terduduk lemas di atas lantai. Namun Bela masih belum menangis.
Tiba-tiba bibir Bela tersenyum kecil, hatinya ingin mengatakn sesuatu yang telah lama dia pendam beberapa bulan lamanya setelah dia tinggal disini dan menikah dengan Bara.
"Kau tersenyum? " Ujar Bara terkejut dengan gadis itu. Bara mengepalkan tangannya seakan siap untuk menerkam senyuman kebencian dari gadis itu.
"Kau lucu tuan, kau menikahi gadis remaja yang seharusnya dia merasakan masa mudanya bersama rekan sebaya. Bukan selalu di kurung dalam lingkungan yang kau mau. Aku gadis SMA yang sama dengan mereka ingin merasakan kebebasan" Teriak Bela penuh emosi.
"Apa katamu? Kau berani melawan ku" Sorotan mata Bara sangat tajam dan siap menghantam. Namun Bela masih tetap saja dengan pendiriannya.
Tangan Bara ingin menampar Bela kembali, namun dia hentikan. Sedikit pikirnya merenung atas ucapan yang Bela berikan. Hatinya sedikit setuju karena Bela masih remaja dan membutuhkan kebebasan untuk mengeskpresikan dirinya.
"Kau sendiri yang memaksaku menikah, aku tidak menyetujui itu namun aku butuh tempat tinggal Dan itulah yang menjadi pertimbangan ku. Dan sekarang, kau boleh mengusir ku dari sini" Curahan hati Bela penuh rasa pilu dan sudah tersimpan sangat lama dalam dirinya.
"Apa kau gila? " Bentak Bara dengan nada yang sangat tinggi.
"Aku gila, karena aku sungguh gila mengikuti alurmu yang kejam dan masuk kandangmu" Sahut Bela dengan teriakan.
"Aku sudah terbiasa dalam hidup mendapatkan kekerasan seperti ini, tapi tidak ada manusia yang memberiku kasih sayang seperti mamaku. Dan mereka semua adalah palsuuuu" Teriakan Bela semakin kencang. Dirinya tak kuasa menahan ribuan sakit yang di deritanya.
Bara segera membekap mulut Bela agar suara gadis itu tidak terdenagr nyaring hingga kamar oma. Karena dia tidak ingin bila oma mendengar semua itu.
Di lain sisi Bara hanya bisa mendengarkan semua luapan hati Bela. Dia juga merasa bersalah karena tidak pernah memperlakukan Bela dengan baik. Setiap kali amarahnya memuncak, maka tangannya tidak segan-segan untuk menampar.
Dia selalu merasa bahwa dirinya benar dan Bela harus menuruti apa yang dikatakan tanpa harus bertanya apakah Bela terbebani atau tidak. Bahkan tidak ada kepedulian sedikitpun untuk melirik seorang gadis pilu dihadapannya.
"Perkataan mu benar, aku hanyalah gadis gila karena tidak pernah menangis" Sambung Bela saat Bata melepaskan bekapannya.
"Berhentilah berteriak gadis bodoh" ucapan peringatan kembali Bara berikan namun itu ada gunanya bagi Bela.
Bela bangkit dengan tubuh yang begitu lemah. Langkahnya tertatih untuk mengambil baju ganti dan segera masuk ke kamar mandi tanpa separau kata lagi.
Pintu tertutup rapat dan hanya rintik air kran yang mengalir cukup deras. Mata Bara hanya bisa melihat langkahnya pergi tanpa berkata apapun. Dia duduk di sofa sambil merenungi perbuatan yang telah dia lakukan tanpa perasaan pada gadis kecil itu.
"Aaaaa, bodoh, aku memang bodoh" Kesal Bara sambil menjambak rambutnya sendiri.
Matanya kembali melihat bekas darah yang masih menghiasi dinding tembok kamarnya. Bahkan tangannya terlihat masih mengenggam sisa-sisa rambut yang terlepas dari kepala bBela
Apabila amarah datang, dia selalu ingin melupakannya tanpa henti. Amarahnya selalu memuncak dan harus menemukan pelampiasan. Dan kali ini Bela kembali menjadi pelampiasan Bara karena dirinya sudah melakukan hal yang dibenci oleh Bara.
Untuk menebus rasa bersalahnya, Bara membiarkan ranjangnya sebagai tempat Bela untuk beristirahat. Dirinya terbaring di atas sofa dan mencoba memejamkan mata agar bela tidak bisa menolak untuk tidur di atas ranjang.
"Hanya mama yang menyayangiku" Ucap Bela bersama aliran air yang mengalir cukup deras.
__ADS_1
Darah segar mengalir bersama aliran air itu, perih dan rasa sakit bercampur aduk dia rasakan dalam dirinya namun lebih sakit lagi adalah hatinya. Dia kembali mengingat mamanya, karena setiap kesedihan hanya mama yang selalu ada dalam hati Bela.
Hanya selembar foto yang akan dia pandnagi, namun kali ini tidak ada satupun foto yang dia pegang untuk mengadukan kepahitan hidupnya pada seorang mama.
Air matanya juga mengalir dengan kekesalan bersama kerasnya tirai air dari sower. Sesekali dirinya mencoba tenang agar tidak ada bekas tangisan yang tergambar di matanya.
*klek*
Tubuhnya sudah segar, namun hatinya masih hancur karena terus menerus dikelilingi kekeraaan dalam hidupnya.
Dirinya tidak bisa lari karena masih belum ada jalan, semua harus dijalani Bela dengan lapang dada hingga takdir berjalan ke tempat kebahagiaan di masa depan. Harapan Bela harus terus berlanjut walaupun memiliki kesempatan kecil.
Saat keluar dari kamar mandi, dia telah melihat Bara tertidur di atas sofa. Tanpa menghiraukannya lagi Bela langsung mencari kotak obat untuk mengobati luka di dahinya dan memar pada tubuhnya.
"Kemana kotak obat itu, bukannya dia ada disini" Gumam Bela saat mencari kotak obat di atas meja rias.
Dia mencari namun belum menemukannya, beberapa menit kemudian dia baru menyadari bahwa kotak obat sudah ada di atas nakas di samping ranjang.
Tanpa banyak bicara Bela langsung membersihkan luka di wajahnya lalu menutupinya dengan plaster. Serta memberikan salep pada memar yang membekas. Selanjutnya dia terlelap dalam malam di balit kesedihan yang begitu sunyi. Tubuh mungilnya meringkuk penuh penderitaan yang dia alami.
Pagi
Di ruang makan, oma kebingungan mencari cucunya yaitu Bela. Karena biasanya setiap pagi Bela akan mampir ke kamar oma untuk membantunya dan mengajarkan berjalan. Namun pagi ini dia tidak datang.
"Apakah Bela sakit? " Tanya oma memecah keheningan sarapan pagi yang masih tenang tanpa membicarakan Bela.
Klara dan Mario hanya bisa terdiam, mereka tidak tau harus berbicara apa. Karena tidak mungkin harus menceritakan kejadian kemarin. Maka hal itu akan membuat kejutan terbesar untuk oma.
"Kenapa kalian diam? " Tanya oma kembali
"Bela sakit oma" Sahut Bara yang baru turun dari kamarnya.
Oma ingin menjenguk Bela namun Bara mencoba untuk meyakinkan bahwa Bela membutuhkan istirahat yang cukup banyak agar dirinya lekas pulih. Bara melakukan banyak cara agar bisa mencegah oma menjenguk Bela.
"Oma ingin menjenguknya" Mata oma menatap penuh harap agar bisa ada yang membantu oma pergi ke kamar Bela.
"Tidak oma, tubuhnya sangat lemah dan dia membutuhkan banyak istrahat. Bara juga sudah menelpon dokter" Tutur kata lembut penuh keyakinan dari bara, dia berbicara demikian agar oma tidak melihat keadaan Bela saat itu.
Perasaan oma campur aduk namun dirinya harus tetap tenang dan menikmati makan pagi ini walaupun tidak nafsu seperti biasanya karena ketidakhadiran Bela. Setelah itu mereka menjalani kehidupan seperti hari-hari baisa.
Mario berangkat sekolah dengan membawa rasa kecemasan pada Bela. Begitu juga dengan Klara yang pergi bekerja namun pikirannya masih terikat dengan Bela. Sedangkan Bara mengantar oma ke kamar agar bisa beristirahat.
Hari ini bara sengaja tidak ingin pergi kemanapun karena ingin menjaga Bela yang membutuhkan pengawasan. Dia terluka cukup parah karena pukulan Bara, jadi dirinya tidak akan meninggalkan Bela.
*klek*
"Dia masih tidur, sepertinya dirinya benar-benar sangat sakit" Ucapnya dalam hati saat melihat Bela yang masih terlelap.
Rasa bersalah dalam diri Bara belum menghilang. Beberapa kali dia melihat perut Bela apakah masih bernafas atau tidak. Karena dia juga memiliki ketakutan akan sebuah kehilangan.
Trauma kehilangan orang tersayang masih membekas dalam kehidupan Bara sehingga sangat sulit untuk dihilangkan. Maka dari itu dia tidak ingin kehilangan kembali, walau Bela adalah orang baru yang masuk dalam hidupnya.
Bara duduk di sofa sambil sesekali memandang Bela yang sedang pulas tertidur dengan menggeluti semua mimpi buruknya.
"Ehmmm" Suara berat mengalihkan perhatian Bara.
__ADS_1
"Kau sudah terbangun? Makanlah bubur ini agar tubuhmu lekas sembuh" Tanya Bara antusias sambil memberikan semangkuk bubur, walau wajahnya masih terlihat datar dan dingin.
Baru saja Bela membuka mata, bara langsung memberikan semangkuk bubur yang dia bawa khusus untuk Bela.
Tanpa banyak bicara Bela kembali memejamkan mata untuk mendapatkan ketenangan karena tidak ingin melihat wajahnya Bara. Setiap kali melihatnya, sebuah kebencian muncul dalam diri Bela.
"Apa kau masih sakit? Aku sudah memanggil dokter untukmu dan sebentar lagi dia akan datang. Makanlah bubur ini dulu agar tubuhmu tidak lemas" Perhatian Bara berikan walau tidak dnegan kehangatan, dan tanpa dia sadari bahwa dirinya memiliki kekhawatiran yang tinggi pada Bela. Bela masih terdiam dan memejamkan matanya.
Tidak ada pilihan lain karena Bara harus mengalah. Dia sadar bahwa dirinya telah bersalah dengan memperlakukan gadis kecil itu menggunakan kekerasan dan emosi yang sedang membara.
Bara kembali duduk di sofa sambil memandangi Bela yang sudah membuka mata namun masih beristirahat di atas ranjang. Raut wajah penyesalan ditampakkan dalam diam oleh Bara.
"Aku lapar, tapi tidak ingin makan di hadapannya" Batinnya kembali berseru, sorot matanya menatap tajam pada bubur dan susu di atas nakas sambil menelan salivanya.
Bibir Bara tersenyum kecil karena dia tau jika Bela sedang lapar dan tidak ingin makan di hadapannya. Ada sedikit rasa kasihan dalam hati Bara, dia mencoba melakukan sesuatu agar keluar dari kamar dan membuat gadis itu makan.
"kali ini sakit di tubuhku cukup parah" batin Bela berseru saya merasakan kesakitan di sekujur tubuhnya.
Dia mencoba menggerakkan sedikit demi sedikit kaki dan tangannya. Pukulan itu juga memberikan bekas rasa sakit di pagi hari saat Bela membuka matanya. Dia menatap langit-langit kamar, memandangi setiap sudut agar dirinya tidak bosan.
*Tok,tok,tok*
"Permisi tuan" Tidak lama kemudian dokter datang, Bara langsung membukakan pintu.
"Masuklah, periksalah istriku dengan benar dan berikan obat yang terbaik" Perintah Bara pada dokter.
"Baik tuan"
Selama pemeriksaan, Bara tetap saja duduk di sofa sambil memandangi gerakan dokter yang memberikan arahan serta memeriksa Bela secara keseluruhan.
Dokter juga mengobati bekas luka di dahi Bela, serta memberikan beberapa obat untuk lebam yang membekas agar meringankan rasa sakitnya dan menghilangkan bekas lebam itu.
"Tuan, istri anda akan pulih kurang lebih 3 hari kedepan. Dan lebih baiknya jika anda membawanya untuk menikmati udara segar agar dirinya tidak bosan" jelas dokter pada Bara.
Bara mendengarkan saran dokter sebaik mungkin untuk memastikan kesembuhan Bela lebih cepat. Saat dokter itu pergi, Bara kembali mendekat namun Bela masih memalingkan tatapannya. Karena dirinya merasa kesal bila melihat Bara.
Pagi itu tidak seperti biasa, Bela yang penuh tawa harus terdiam membisu karena pipinya terasa sangat sakit untuk berbicara apalagi tertawa. Jadi dia memilihnya untuk tenang dan berdiam diri di ranjang.
"Apa kau akan terus berpaling menatapku?" Tanya Bara. Tapi tidak ada jawaban.
"Baiklah, aku ingin membawamu ke tempat yang indah. Apa kau mau ikut?" Bela masih terdiam.
Tidak ada cara lain yang dilakukan Bara kecuali menggendong Bela agar dirinya bisa membawa Bela ke tempat yang disarankan oleh dokter. Hal itu dilakukan agar Bela tidak stres dan mempercepat kesembuhannya.
"Jangan menggendong ku, aku bisa berjalan sendiri" ketua Bela dingin sambil berusaha melepaskan gendongan Bara.
Bara hanya bisa terdiam menatapnya. Bela beranjak dari ranjang dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengganti baju. Dia meringis kesakitan karena bekas luka kemarin.
Memandangi tubuhnya di depan cermin, beberapa tanda merah yang kian membiru membekas di beberapa titik punggung. Melihat luka di dahi yang juga mulai kering namun masih sangat sakit.
Dia meratapi kesedihan hidupnya sendiri. Seharusnya ada tempat untuknya mengadu setelah keluar dari rumah ayahnya, namun nyatanya salah karena dia masih mendapatkan perlakuan yang serupa.
*klek*
"Ayo kita pergi ke suatu tempat" Bara ingin mengenggam tangannya, akan tetapi Bela kembali dan menghindar.
__ADS_1
Tatapannya kosong berjalan menuju balkon. Duduk dengan tenang menimmati hembusan udara hari ini. Tawanya seakan hilang, wajahnya terdiam membisu sambil menatap langit-langit.