Antara Cinta Dan Mafia

Antara Cinta Dan Mafia
83. Tuan Aneh


__ADS_3

Resto makan


"Makanlah jangan bengong" Tegur Bara saat melihat wajah Bela hanya memandangi hidangan yang sudah tersedia di meja tanpa menyentuhnya. Sedangkan Bara sudah daritadi asik sendiri dengan hidangan tersebut.


Bukannya memakan hidangan itu, namun Bela malah memandang Bara dengan tatapan aneh. Karena dia merasa heran dengan tuan arogan yang tiba-tiba saja mengajaknya makan di luar. Padahal tidak ada angin dan tidak ada hujan, akan tetapi dia tiba-tiba menyeret untuk makan berdua.


"Apa kau sakit tuan? " Tanya Bela dengan wajah polosnya. Bara segera menghentikan aktivitas nya, lalu dia kembali membalas tatapan Bela.


Bela segera mengulurkan tangannya dan memegang dahi Bara untuk memastikan bahwa tuannya sedang sakit karena melakukan hal yang tidak terduga secara tiba-tiba.


Ternyata suhu tubuhnya normal dan tidak ada hal buruk apapun mengenai kesehatan Bara. Bela mencoba melakukan hal yang sama dengan pengecekan berulang, tapi tetap saja suhu Bara tidak ada masalah.


"Lepaskan tanganmu sebelum aku patahkan, cepat makanlah" Tegur Bara pada Bela. Akan tetapi Bela masih tetap dengan perilakunya.


Dia benar-benar penasaran atas perubahan Bara yang terjadi secara tiba-tiba seperti kerasukan jin halus. Bukannya kembali makan, tapi Bela memandangi Bara dengan sorotan mata yang penuh penasaran.


Bela mencari celah agar dia menemukan jawaban hingga wajahnya terlihat hampir begitu dekat dengan wajah Bara. Karena hal itu mata mereka berdua kembali beradu dan Bara merasa salah tingkah dengan pandangan itu.


Jantung Bara benar-benar tidak bisa diajak kompromi karena kembali berdetak dengan cepat saat melihat gadis itu tepat di depan matanya. Untuk menghilangkan rasa canggung itu Bara segera menatap dengan soritan tajam lalu menjauhkan wajah Bela dengan telapak tangannya agar pandangan mereka berdua tidak kembali beradu tatap.


" Kubilang menjauhlah dariku " Tegas Bara kembali pada Bela.


"Baiklah tuan, tapi lepaskan tanganmu karena aku tidak bisa bernafas sebab tanganmu terlalu besar serta menutupi wajahku" Gumam Bela berbicara sedikit tidak jelas karena tangan Bara masih melekat di wajah Bela sehingga menutupi keseluruhan wajah kecil itu.


Bara segala melepaskannya dan kembali makan dengan tenang. Alasan Bara mengajak Bela makan di luar karena ada sesuatu yang membuatnya bahagia pada hari itu.


Bara mendapatkan kabar bahwa dirinya akan segera terbang ke luar negeri karena anak buahnya telah menemukan di mana persembunyian Erik. Bara akan membalaskan dendam yang sudah lama dia simpan, sementara dendam pada Pras masih ingin dia simpan dan akan dikikis secara perlahan.


Karena dia tahu Pras adalah otak perencanaan itu jadi Bara ingin sedikit demi sedikit menghancurkan Pras melalui Bela dan akan menghancurkan seluruh keluarganya sehingga Pras terpuruk serta dupenuhi oleh rasa putus asa dan memeluk deritanya sendiri dalam waktu yang cukup lama.


"Tuan Apakah kau tersenyum" Bela kembali terkejut saat melihat senyum Bara yang begitu tulus karena biasanya dia hanya melihat senyum Bara penuh dengan kelicikan atau ancaman, namun kali ini Bara tersenyum seakan-akan dia mendapatkan kebahagiaan walau senyum itu hanya sepintas saja namun rasanya Bela sangat bahagia.


"Sungguh keajaiban dunia yang pernah aku rasakan tuan. Tersenyumlah lagi karena aku sangat senang melihat senyummu " Teriak Bela dengan menampilkan wajah polosnya.


Entah mengapa rasanya Bela sangat bahagia melihat senyum itu karena yang dia tahu Bara adalah tuan arogan yang tidak pernah tersenyum ataupun tertawa kecuali bersama teman-temannya.


Tapi kali ini Bara hanya berdua dengan Bela dan senyum itu terlintas di bibir Bara walaupun samar-samar setidaknya dapat membuat Bela teriak kegirangan serta tanpa sadar memegang kedua pipi Bara dan menyuruhnya untuk tersenyum lagi.


Sungguh kelakuan Bela seperti anak kecil yang meminta pada seseorang agar menghiburnya karena hati kecil gadis itu benar-benar terhibur dengan senyuman yang diberikan walau sebenarnya senyuman itu bukan untuk Bela melainkan untuk diri Bara sendiri karena kebahagiaan yang tidak mungkin bisa diceritakan.


"Sudah kubilang kau makanlah, jangan seperti anak kecil " dalam sekejap senyum itu menghilang dan Bara kembali berkata dengan tatapan dingin.


"Ah sungguh tidak asik senyuman yang kau berikan hanya sebentar tuan, padahal aku ingin menikmati senyum mu itu walau hari semakin larut malam aku tidak peduli yang penting senyuman itu tidak menghilang" celoteh Bela dengan polosnya membuat Bara hanya bisa terdiam dengan ucapan itu.


Tanpa dia sadari Bara juga tertegun dengan perkataan itu karena baru kali ini dia mendengar Bela berkata seakan-akan dia menginginkan senyuman dari seseorang lelaki yang dicintainya. Bara tidak mengerti apa isi hati Bela karena dia meminta senyuman lagi dari orang yang telah bersikap simpang siur terhadap dirinya.


"Ah sial. Bagaimana bisa dia meminta senyuman itu lagi padaku. Apakah dia sudah benar-benar mencintaiku" batin Bara penuh dengan pertanyaan.

__ADS_1


Bara mengkerutkan dahinya karena dalam hatinya masih bergelut antara cinta ataukah dendam yang bertaut menjadi satu. Karena Bara sendiri merasa simpan siur dengan perasaannya.


Bahkan dia tidak mengerti Bagaimana bisa membalaskan dendam pada seorang gadis seperti Bela dan bagaimana bisa dia juga merasa sangat tenang bila dekat dengan Bela.


"Tidak aku tidak boleh Mencintainya, karena dia hanyalah mangsa untuk memuaskan dendamku " gumam Bara kembali dalam hatinya karena dia tidak ingin jatuh cinta pada Bela. Sebab dirinya hanya ingin menjadikan Bela sebagai jembatan untuk membalaskan dendamnya pada Pras.


"Apa kau sedang memikirkan aku tuan? " Celetuk Bela secara tiba-tiba.


"Uhuk, uhuk, uhuk" Bara tersedak mendengar ucapan itu.


Bela segera memberikan minum untuk menghilangkan rasa tersedak yang sedang dialami oleh Bara. Bahkan dia juga menepuk sedikit punggung tuannya itu penuh dengan kasih.


"Minumlah tuan, jangan sampai nasi itu keluar lagi" Ujar Bela sambil memberikan segelaa minum.


Bara menghela nafas karena tenggorokannya sudah terasa lega. Lalu dia kembali menata Bela tanpa berbicara apapun. Soratan matanya kembali seakan-akan ingin mengatakan sesuatu namun Bara kembali menghilangkan tatapan mata itu dan melanjutkan untuk makan.


Sementara itu Bela terus mengoceh tentang keadaan Bara yang harus makan dengan hati-hati dan tidak boleh menghilangkan konsentrasi. Bela berkata bahwa orang yang tersedak bisa saja mati oleh karena itu Bara harus makan dengan hati-hati.


Rasanya seorang mafia sedang dimarahi oleh celoteh ibunya, tapi kali ini yang terus mengoceh bukan ibunya melainkan gadis kecil yang masih berumur belasan tahun.


Bara tidak berbicara apapun namun tangannya segera meremas kepala Bela agar gadis itu segera menghabiskan makanannya.


"Tuan Iya, iya aku akan makan tapi tangan mu jangan selalu menekan kepalaku, lihatlah wajahku hampir saja sampai ke atas piring. Untung saja tidak dihidangkan sebagai makanan juga" protes Bela dengan ucapan konyolnya sambil mencengkram tangan Bara agar terlepas dari kepalanya.


"Makanya cepatlah kau habiskan makan itu, karena kita akan segera pulang" Ketus Bara dengan kesal.


Saat dalam perjalanan pulang lagi-lagi Bela melewati sebuah tempat Beni bekerja yaitu di bengkel. Sekilas dia melihat bahwa Beni sedang sibuk memperbaiki motor pelanggan.


Lalu tiba-tiba wajahnya kembali terdiam dalam pikiran yang masih belum terjawab tentang masalah Beni. Bela melamun menatap ke arah luar jendela dengan pikiran yang penuh.


Sementara itu Bara sedang konsentrasi dalam menyetir mobil lalu tiba-tiba dia menoleh sesekali pada Bela dan terlihat bahwa gadis itu sedang melamun dalam pikirannya sendiri.


"Mengapa kau diam, apakah kau masih lapar?" Seru bara, membuat lamunan Bela buyar seketika.


"Ah tidak tuan aku hanya ingin martabak, ya Aku ingin martabak" balas Bela dengan sengaja berbohong agar lamunan yang mengarah pada Beni tidak dicurigai oleh Bara yang akan menimbulkan banyak pertanyaan.


Jadi Bela berkata bahwa dirinya sedang melamunkan martabak dan menginginkan martabak yang sedang mangkal di pinggiran jalan.


Tanpa banyak bicara, Bara segera melajukan mobilnya dan mencari gerobak martabak yang terdekat. Karena keadaan hatinya sedang berbahagia maka dia akan menuruti kemauan gadis itu.


Beberapa detik kemudian dia menemukan bahwa ada penjual martabak di pinggir jalan lalu dia turun dari mobil dan membiarkan Bela berada si dalam mobil.


"Kau mau ke mana kuan"tanya Bela penuh penasaran saat Bara memarkirkan mobilnya di pinggir pedagang martabak lalu dia ingin keluar.


"Kau diam saja di sini" perintah Bara tanpa menjawab pertanyaan yang Bela berikan.


Bara segera turun dan menghampiri pedagang martabak sedangkan Bela masih melamun sendirian di dalam mobil dan bergelut dengan apa yang sedang dia pikirkan.

__ADS_1


"Sebenarnya dia sangat tampan jika berbicara lembut seperti ini, tapi tuan mengapa tidak setiap hari saja kau memperlakukan aku seperti ini walaupun kita hanya sebatas memiliki ikatan palsu" ujar Bela dengan wajah lucunya yang menatap pada kursi mobil Bara.


Entah mengapa rasanya bila terpesona melihat kelembutan Bara walaupun masih dengan tatapan dingin. Serta Bela mengingat-ingat bagaimana rasanya saat dia melihat Bara kembali tersenyum walaupun itu hanya sekejap saja tapi setidaknya hati Bela merasakan bahwa itu adalah keajaiban dunia yang hilang dan tidak dimasukkan dalam catatan.


"Andai saja kau seperti kak Alex, mungkin hidupku akan selalu bahagia tuan. Apa kau tahu jika di saat aku dicampakan olehmu maka rasanya aku sendirian dan sangat sedih. Aku berharap kau akan menampakkan wajah senyummu seperti ini terus " Bela menekuk wajahnya dengan tatapan sedih.


Bela merasa Bara yang sedang berjalan bersama dirinya malam ini adalah Bara yang lain. Bara yang memiliki sifat baik dan lemah lembut bukan tuan Bara yang bersifat arogan.


Saking gemasnya Bela menepuk tempat duduk Bara seakan-akan Dia menepuk Bara dengan lembut. Padahal yang dia tepuk adalah sebuah kursi kulit mobil tapi tidak ada orangnya.


Ternyata benar kata orang apabila seseorang berubah semuanya terasa asing tapi itu bukan tentang perubahan namun tentang perasaan. Dimana perasaan yang tidak ada akan menjadi ada atau mungkin sebaliknya. Walau terkadang banyak orang yang belum bisa membaca tentang perasaan yang sedang dialami sendiri.


*klek*


"Ini martabak mu, makanlab agar kau tidak terlihat kurus seperti itu" Bara memberikan sekotak martabak telur sekaligus perhatiannya pada Bela.


"Martabak" teriak Bela dengan kegirangan lalu wajahnya menatap Bara dengan pandangan manja seperti anak kecil.


"Tuan terima kasih, sudah lama aku tidak makan martabak tuan " seru Bela dengan bahagia, sedangkan Bara terlihat biasa saja dan fokus untuk mengemudikan mobilnya kembali.


Namun di dalam pikiran Bara memikirkan gadis di sampingnya yang menampilkan raut wajah yang lucu. Bara menyetir sambil memberikan sedikit senyumnya karena dia memang tidak suka melihat Bela murung tapi dia juga tidak suka bila melihat Bela menjalani kehidupan dengan tenang dan senang karena tujuan utamanya adalah membuat Bela terbang tinggi lalu menghancurkannya yang berkaitan dengan balas dendam pada ayah Bela yaitu Pras Wardana Prakasa.


Suara Bela kembali menghilang di dalam mobil karena dirinya fokus memakan martabak tersebut. Bela sangat menyukai martabak dan lebih parahnya dia kembali makan martabak setelah beberapa lama dirinya menghilang.


"Apakah kau mau tuan" Bela menawari tuannya dengan antusias. Padahal tuannya masih sibuk dengan konsentrasi saat menyetir malam itu.


"Apa kau buta, Aku sedang menyetir" tegur Bara dengan sedikit nada tinggi.


"Baiklah kau jangan terlalu marah-marah tuan, aku hanya menawarkan martabak saja. Kata orang jika kau banyak marah maka rambutmu akan beruban serta darahmu akan mendidih dan terjadilah darah tinggi" Bela berbicara seakan-akan dirinya adalah seorang dokter atau seorang peneliti yang sedang memperhatikan gerak-gerik Bara.


Jadi Bela terpaksa hanya makan martabak itu sendiri. Karena Bara tidak menginginkan itu dan fokus untuk menyetir. Hanya karena satu martabak Bela sejenak melupakan tentang masalah Beni dan juga masalah dirinya yang bertanya-tanya mengapa Bara berbuat baik seperti itu.


Rumah Bara


Sesampainya di rumah, Bela segera keluar dari mobil. Karena tubuhnya terasa sangat lelah dan mengantuk. Jadi dia terburu-buru untuk bertemu dengan ranjang empuknya.


"Kau mau kemana? " Tanya Bara saat melihat Bela terlihat buru-buru saat keluar dari mobil.


"Aku sangat mengantuk tuan" Jelas Bela.


"Tunggu" Bara menghentikan Bela, lalu dia segera keluar dari mobil dan menggandeng tangan Bela untuk masuk ke dalam rumah. Bela hanya terdiam dan mengikuti langkah kaki Bara tanpa banyak bertanya sperti sebelumnya. sebenarnya pikiran itu kembali bergelut tentang perilaku Bara yang berubah.


"Ettsss, kau mau kemana tuan? " Bela menghentikan langkahnya saya melihat Bara mengenggam tangan Bela dan juga ingin masuk ke kamar Bela.


"Aku ingin tidur denganmu" Jawaban Bara singkat dan langsung menyeret Bela ke dalam kamar dan mengunci pintu dengan rapat.


__ADS_1


__ADS_2