
Tanpa ada persetujuan jawaban dari Bara, Bela langsung pergi merapikan barang-barangnya dan membawanya ke kamar bawah. Dia merasakan kesenangan dan kebebasan karena tidak satu kamar lagi dengan Bara.
"Terima kasih Tuhan" Bela selalu mengucap syukur yang banyak, karena kecemasan saat tidur bersama Bara telah menghilang.
Dirinya merasakan ketakutan saat berada dalam satu kamar, dia takut jika Bara melakukan hal buruk padanya sebelum umur Bela menyetujui hal buruk itu.
Sedangkan Bara masih duduk bersantai di ruang keluarga, dia tidak mengangkat barangnya yang begitu banyak ke atas kamarnya.
"Cepatlah kesini" Ujar Bara berbicara di telepon.
Dia merebahkan diri di sofa depan televisi, menyandarkan tubuh dan pikirannya sejenak. Sedikit dia sudah merasakan kebebasan dan sangat lega karena telah berdua dalam satu rumah dengan Bela.
Tujuan kedua adalah agar dia bebas melakukan apapun bersama Bela. Dan tidak ada gangguan Mario atau yang lainnya. Bara sangat tidak suka bila Bela sangat dekat dengan Mario. Jadi langkah terakhir adlah membuat mereka berpisah.
Tidak lama kemudian orang suruhan Bara datang dan membawa barang-barangnya ke kamar atas. Setelah itu dia menyruhnya pergi. Bara sengaja tidak menyewa pelayan atau siapapun, karena dia ingin ketenangan berdua saja bersama gadis kecil itu.
"Sebentar, rumah ini sangat besar lalu siapa yang membereskannya? " Tanya Bela pada pikirannya sendiri.
Dia mondar-mandir untuk mencari jawaban namun tidak dapat. Setelah itu dia kembali ke luar, siapa tau menemukan seseorang yang membantu untuk merawat rumah ini. Namun ternyata tidak ada juga.
Kakinya menjelajahi dapur dan hanya menemukan banyak bahan makanan yang sudah mengisi kulkas dengan lengkap, tapi tidak ada yang memasak.
Semuanya terlihat rapi dan bersih, dapurnya juga nyaman untuk digunakan dan dia hanya bisa menghembuskan nafas dengan kasar.
"Sepertinya aku yang harus menjadi pelayan disini" Ujarnya sambil menatap isi kulkas.
"Tau gini aku tidak akan ikut dengannya, sepertinya beberapa hari kedepan tubuhku akan kurus" Gumamnya dengan murung.
Dia berjalan ke sofa ruang tengah, matanya menatap ke kamar Bara. Raut wajah yang lucu dia tampakkan, seperti seorang anak yang merajuk karena tidak diberikan uang.
Namun Bela berbeda, dia merajuk karena sudah susah memikirkan apa yang harus dia kerjakan. Memikirkannya saja susah apalagi harus melakukan. Sebentar lagi dirinya akan bergelut dengan seisi rumah ini.
"Tuhan, jangan engkau perumit hidupku. Aku masih kecil" Pintanya pada Tuhan sambil mengarahkan kepalanya ke atas.
Wajahnya memelas seperti memohon keinginannya, alisnya menyatu dan bibirnya manyun dalam aduan dia bersama Tuhannya. Namun dia tidak menangis juga walaupun sudah di paksa.
"Terima kasih Tuhan, aku tau engkau tidak akan menjawab sekarang. Tapi aku yang harus mencari jawaban itu sendiri" Ujarnya lagi dengan wajah yang masih menoleh di atas.
*grog... Grog.. *
"Sepertinya cacing-cacing di perutku sedang rapat. Tenanglah anak manis, aku akan memasak" Tingkah lucunya kembali berulah sambil memukul kecil perutnya.
Bela segera menuju ke dapur untuk memasak, pas sekali banyak bahan-bahan segar seperti daging, ayam, ikan, sayuran, buah dan semuanya terasa sangat lengkap.
Matanya berbinar-binar kegirangan, semua itu pasti akan dirasakan oleh setiap wanita yang ingin memasak dan mendapatkan semuanya lengkap. Jadi Bela mencoba memasak semuanya untuk persiapan makan besama Bara.
"Hai daging, berapa lama kau di kulkas ini? Sepertinya kau masih segar. Mungkin dia sudah menyiapkannya" Bela berbeda dengan wanita lain, dia sangat suka berbicara dengan benda mati.
Bara sudah menyiapkan semuanya sebelum mereka tiba disini. Dia tau bahwa Bela suka memasak, jadi dia menyiapkan semua bahan dengan lengkap.
Bukan hanya itu, bumbu-bumbu untuk memasak juga sudah tersedia. Bahkan tepung-tepung dan bahan untuk membuat kue sudah tersedia.
Bela merasa bersyukur karena sering bermain bersama pelayan di rumah Bara, jadi dia banyak belajar memasak bersama mereka. Namun sekarang suasananya berbeda karena dia akan memasak sendiri.
*srenggg, srenggg*
*tlak, tlak*
Keributan mengacaukan seisi dapur, Bela asik dengan kegiatannya memasak tanpa dia sadari bahwa Bara sedang melihatnya dari belakang.
"Hmm harum sekali, sebentar lagi sudah selesai semuanya" Wajah Bela. terlihat sangat bergembira saat dirinya bergelut dengan dapur.
Masakannya sudah jadi dan dia ingin meletakkannya di atas meja makan. Lalu matanya terpaku saat melihat Bara yang berdiri di belakangnya sambil menatap ke arah Bela.
Sepasang mata terdiam saling menatap namun dengan pikiran yang berbeda. Bela merasakan keanehan sedangkan Bara merasakan hal lucu saat melihat wajah Bela yang kotor karena memasak.
"Tuan, sedang apa? " Ujar Bela saat melihat Bara yang menatapnya.
"Kau terlalu berisik" Sahutnya dingin.
"Aku sedang memasak, kalau menginginkan hal yang sunyi berarti kau harus buat dapur kedap suara" Seru Bela.
"Baru sehari kau disini sudah mengacaukan dapur ini? Mungkin setelah seminggu dapur ini akan rusak" tegur Bara saat melihat dapur berantakan karena ulah Bela.
"Tuan daripada mengomentari ku saja lebih baik anda duduk dan rasakan masakanku" Bela menyuruh Bara duduk dan menghidangkan maskana yang telah dia buat.
Bara menurut dan duduk di meja makan. Sedangkan Bela kembali sibuk membersihkan dapur dulu lalu membersihkan ruangan yang terlihat begitu kotor karena asap saat memasak.
"Kau tidak makan? " Tanya Bara, karena daritadi Bara melihat Bela sibuk sendiri.
"Sabar dulu, bukankah kau tadi marah karena dapur berantakan? Jadi sekarang aku membersihkannya" Ujar Bela sambil sibuk membersihkan sisa-sisa masakan.
Setelah itu dia duduk di depan Bara, ternyata Bara juga menunggunya untuk makan bersama Bela. Tanpa banyak bicara lagi, Bela langsung melayani suami palsunya seperti biasa.
Dia menuangkan nasi, lauk dan sayur di piring Bara lalu mereka berdua siap-siap untuk makan.
"Bagaimana? Masakanku enak? " Wajah Bela penuh percaya diri.
"Biasa saja" Sahut Bara.
Hal itu membuat Bela berfikir keras, karena menurutnya makanan itu sudah enak saat dia cicipi. Akan tetapi Bara masih tidak menyikapinya, padahal saat di rumah yang dulu Bara sangat menimati semua masakan Bela dengan lahap.
Bela kembali mencicip makanannya dan menghabiskan semuanya di piring. Dia meraskan bahwa semuanya sudah pas, sedangkan Bara setelah makan langsung pergi lagi duduk di ruang tengah sambil memainkan ponselnya
"Aku rasa lidahnya mati rasa, mungkin dia tidak menyukai masakanku" Gerutu Bela sambil membereskan meja makan kembali.
Setelah itu dia pergi ke kamarnya tanpa banyak bicara lagi. Bara yang melihatnya tersenyum kecil, dia berkata bohong jika makanan Bela tidak enak. Padahal makanan itu rasanya sama dengan makanan yang ada di rumah oma.
__ADS_1
Dia sengaja melakukan hal itu, karena jika terus di puji maka Bela akan loncat kegirangan seperti anak kecil yang sedang dijunjung tinggi.
"Sepertinya rumah ini cukup nyaman, tapi sayang aku kesepian" Gunam Bela kembali lesu.
Bela memilih untuk terlelap karena dia merasa bosan. Pikirnya memutuskan untuk merajut mimpi walaupun singkat yang penting dia senang.
"Maaaa, maaaaa, jangan pergi ma.... " Teriaknya meracau dengan keras, sedangkan matanya masitlh tertutup.
Bara yang ada dikamarnya segera turun ke bawah. Dia segera masuk ke dalam kamar Bela karena takut terjadi hal-hal buruk pada gadis kecil itu.
Setelah di buka pintu, dia terkejut karena Bela kembali memanggil-manggil mamanya. Bara segera mendekat dan mengelus rambut Bela hingga gadis kecil itu terdiam dari teriakannya.
"Tuan, kenapa kau disini? " Ketusnya, membuat Bara langsung melepaskan tangannya yang ada di kepala Bela.
"Kau mimpi buruk lagi" Bara kkbali memberikan perhatian kecil pada Bela.
"Tidak tuan, sepertinya kau salah mendengar" Sahut Bela menyembunyikan hal itu.
"Ternyata kau benar-benar gila, teriak tidak jelas" Ujar Bara dan langsung beranjak dari tempat duduknya.
"Gila, aku tidak gila. Yang gila itu hanya orang-orang sepertimu" Ingin rasanya Bela meluapkan isi hatinya dan berteriak seperti itu pada Bara. Namun hasilnya dia pendam juga suara hati itu.
Bela duduk di pinggir ranjang, dia kembali memimpikan mamanya. Belaian lembut seorang ibu pada anaknya kembali dirasakan oleh Bela di dalam mimpi. Raut wajah indah yang didapat dengan senyum membuat hatinya sejuk.
Namun yang dia heran mengapa mamanya selalu datang dan berkata bahwa dia akan kembali. Pertanyaan yang jelas-jelas membuat Bela kebingungan dengan hal itu
"Ma, apakah mama menjadi arwah penasaran sehingga harus mengatakan bahwa mama kembali? Tapi Bela yakin jika mama masih hidup" Gumamnya menahan air mata.
Seluruh keluarganya percaya bahwa mamanya telah tanda, dan hanya Bela yang masih percaya bahwa mamanya masih hidup sebelum jasadnya ditemukan.
Sudah bertahun-tahun harapan Bela susun sedemikian rupa. Dia selalu berharap sepanjang waktu bahwa mamanya akan datang dalam keadaan yang nyata, bukan sebuah mimpi. Namun hingga saat ini hal itu belum terjadi juga.
"Hapuslah air matamu Bel, kamu adalah anak yang kuat"
Berbicara pada diri sendiri adalah cara Bela untuk menguatkan tubuhnya yang sedang rapuh. Titik rapuhnya kembali datang di waktu yang tidak tepat
Pagi
Pagi yang cerah degan suasana yang berbeda. Bela bangun seperti biasa dan dirinya sibuk mencari oma setelah bangun dari ranjangnya. Dia berjalan tidak jelas dan mencari oma.
"Oma, oma diakan? "
"Kok oma gak ada"
\*tok, tok, tok\*
\*tok, tok, tok\*
"Tuan bangunlah, tuan bangunnnn" Teriaknya keras.
Suaranya mengganggu tidur Bara pagi ini, tubuhnya menggeliat sedang mengumpulkan nyawa. Sedangkan gadis di balik pintu terus mengetok dan berteriak dengan panik.
Bara sangat kesal mendengarkan hal yang ribut. Apalagi hari masih pagi buta dan Bela sudah ribut tidak karuan. Dirinya segera bangkit dan mencuci wajahnya untuk memandang dunia dengan jelas walau baru bangun tidur.
"Tuann bangunlah"
"Sungguh siap gadis itu, dia telah menganggu tidurku" Ketusnya setelah keluar dari kamar mandi.
\*klek\* pintu terbuka secara tiba-tiba. Tangan Bela yang terus menggedor kini mendarat di dada Bara seakan ingin mengebor hatinya.
"Ah tuan maaf" Ucapnya dan langsung menurunkan tangannya.
"Apa? " Bentak Bara dngan kesal.
"Tuan, oma tidak ada di kamar. Aku sudah mencarinya tapi tidak ada" Wajah Bela terlihat snagat panik dan bicaranya patah-patah.
"Kau cari dimana? " Ujar Bara mengikuti permainan Bela. Dia pikir Bela mempermainkan didinya, namun nyatanya Bela lupa dengan kepindahan mereka ke rumah baru tanpa oma.
__ADS_1
"Disekitar ini" Dengan percaya dirinya Bela mengatakan mencari oma di sekitar rumah tapi tidak ada.
\*plak\*
"Aduh, kenapa kau memukul kepalaku tuan"
"Bodoh, kita sudah pindah" Kesal Bara.
Sejenak Bela terdiam lalu kembali melihat sekelilingnya dan benar saja rumah itu bukan kediaman Baratha melainakn rumah yang baru kemarin mereka tempati.
Setelah itu wajahnya mengarah pada Bara dan menampilkan senyuman kecil sambil menggaruk-garuk kepalanya karena dia telah sadar apa yang dilakukannya pagi ini.
"Hehe, sepertinya aku lupa tuan. Maafkan aku" Dia meringis sambil turun ke lantai bawah dan segera masuk ke dalam kamar untuk bersiap diri.
Bara mengernyitkan senyum sedikit di ujung bibirnya. Dia merasa bahwa gadis itu memang masih anak-anak akan tetapi memiliki kasih sayang dan tanggung jawab yang cukup besar.
Buktinya saja Bela masih mengingat untuk mengurus oma di pagi hari seperti yang dia lakukan di hari-hari biasa. Karena perhatiannya yang sangat tinggi dan tulis, dia sampai lupa dan membawa perhatian itu ke rumah yang baru.
"Gadis bodoh" Gumamnya lalu menutup pintu.
Hari ini Bara juga bersiap-siap untuk melakukan pemantauan perkembangan sisil. Dia sudah memiliki rencana yang disusunnya secara rapi bersama Alex untuk menghancurkan wanita itu.
Pagi ini Bela tidak memasak, dia hanya membuat bubur instan untuk mempercepat waktu agar tidak terlambat ke sekolah.
Mereka berdua makan dengan tenang di meja makan tanpa ada suara sedikitpun. Setelah semuanya beres, waktunya untuk mereka melakukan aktivitas masing-masing.
"Tuan" Bela kembali. memanggol Bara.
"Apa? "
"Bagaimana dengan sekolahku? Dengan siapa aku harus berangkat?"
Bela tidak terbiasa berangkat sekolah sendiri, karena di rumah yang lama ada supir pribadi yang mengantar Bela dan menjemputnya saat pulang.
" Lihatlah di meja ruang tengah, aku sudah meletakkan uang dan ponsel baru untukmu" Ucap Bara sambil menunjuk ke sebuah bingkisan.
Secara diam-diam Bara membelikan ponsel baru untuk Bela. Dia hanya ingin Bela menggunakannya untuk menghubungi Bara agar tidak terjadi hal yang seperti kemarin.
Mendengar hal itu Bela langsung pergi ke ruang tengah untuk melihat ponsel yang Bara belikan. Wajahnya sangat senang dan dia kembali meloncat kegirangan seperti anak kecil saja.
"Yeyyy, akhirnya aku punya ponsel" Wajahnya yang polos selalu menggemaskan saat tersenyum.
Akhirnya dia merasakan kembali memegang ponsel setelah beberapa lama dia hidup tanpa media sosial. Mata Bela melihat ponsel seakan melihat kehidupan baru.
Karena dia merasa tidak kesepian lagi setelah memiliki ponsel. Dia juga berfikir memiliki teman yang bisa dihubungi dari ponsel agar tidak merasa sendiri.
"Tuan Terima kasih" Ucapnya sambil memeluk lengan Bara.
~~~~ BERSAMBUNG ~~~~
__ADS_1