
Prabu sangat percaya diri mengatakan bahwa dirinya sudah berhasil melenyapkan ahli waris. Namun dia lupa jika ada berkas yang harus di tandatangani oleh ahli waris agar harta seutuhnya jatuh di tangan Prabu.
"Kau terlalu gegabah dengan itu tuan, karena sekarang sepertinya harta itu tidak akan pernah turun ke tanganmu sebab tanda tangan dari Bela tidak tercatat secara tertulis "jelas sang pengacara pada Prabu.
Terlihat jelas keputusasaan dalam wajah Prabu, dirinya merasa terpuruk dan tidak memiliki ujung tombak lagi untuk bangkit karena dia tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan pasti sedangkan hartanya sangat susah untuk mengalihkan nama atas dirinya. Apalagi Bela sudah tiada jadi dia tidak bisa melakukan apapun sekarang.
"Sial semuanya sialan "kesalnya meracau sendiri tidak jelas sedangkan sang pengacara segera berjalan untuk keluar.
Memang benar kata orang, bahwa hal yang dilakukan secara terburu-buru akan berujung dengan penyesalan. Sebab mereka tidak akan pernah tau hal apa yang akan terjadi selanjutnya. Maka dari itu lakukanlah dengan tenang dan baik sesuai aturan perjalanan hidup yang sedang berputar.
Sementara itu Ana segera pergi karena dia takut ketahuan apabila dirinya sedang menguping pembicaraan tersebut. Ana segera berlari ke dalam kamar dan segera pura-pura tidur seperti tidak terjadi apapun yang dia dengar tadi.
"Kenapa harus seperti ini Tuhan apakah harta bisa membutakan semua orang sehingga Dedi rela membunuh anaknya sendiri "keluh Ana pada sang pencipta seakan-akan dia mengadukan bahwa apa yang dilakukan oleh dedinya adalah hal yang sangat mengerikkan.
Bahkan Ana mengeluh jika Tuhan juga tidak adil jika harus memberikan takdir pada keluarganya dengan harta yang banyak akan tetapi semua menutup mata dan apapun yang lewat di depannya harus dihancurkan.
Sungguh penyesalan pasti akan berada di akhir, itulah yang dirasakan oleh Ana karena dia sangat-sangat menyesal telah menyia-nyiakan Bela yang begitu baik padanya bahkan dirinya juga menyesal bahwa tidak menjaga Bela dengan baik sehingga ayahnya sendiri telah berhasil mengakhiri hidup saudara kandungnya sendiri.
"Tuhan apakah ini hukuman padaku karena telah membenci orang sebaik Bela, andai aku bisa memutar waktu kembali maka aku ingin menjadi saudara paling baik untuk Bela "gumamnya sambil memeluk kesunyian dalam tangis.
Ana sengaja mengunci kamarnya karena dia butuh waktu untuk sendiri dan menenangkan hati yang sedang menjadi misteri penuh tanda tanya tentang kepiluan.
Tidak ada banyak kata yang ingin dia ucapkan karena kepedihannya sangat mendalam. Air matanya tiada henti mengalir secara bersamaan antara penyesalan dan rasa sakit dan tidak dapat terbendung lagi.
Ana ingin menghindari semuanya akan tetapi dia tidak bisa karena dirinya harus tetap tegar menghadapi waktu yang diberikan saat ini.
"Benar kata Roy bahwa aku adalah kakak paling buruk di dunia ini karena selalu mencampakanmu" ujar Ana pada dirinya sendiri setelah dia mengingat beberapa waktu yang lalu tentang ucapan Roy saat dia bertemu dengan Roy di sekolah.
Ana tahu bahwa Roy adalah sahabat Bela kemudian tidak sengaja mereka duduk berbincang setelah sekian lama Roy dan Ana bermusuhan setelah kematian Bela.
Pada akhirnya mereka memutuskan untuk duduk berdua dan berbicara secara empat mata, Roy menceritakan semuanya pada Ana bahwa Bela menyayangi kedua saudaranya walaupun dia diperlukan buruk oleh ayah serta kedua saudaranya.
Roy juga mengatakan bahwa Bela terlahir di lingkungan yang beracun karena dia memiliki saudara yang buruk salah satunya adalah Ana. Bahkan Roy menceritakan bagaimana perjuangan Bela untuk memperhatikan saudaranya agar tidak ada yang diluki oleh seseorang di dalam sekolah.
Bela juga memastikan bahwa Anna dan El baik-baik saja di sekolah bahkan dia juga menghadapi perundung yang ada di sekolah yang berani menyentuh Ana dan El.
"Aku janji akan selalu mengunjungi laut di mana tempat itu salah satu cara agar aku bisa bertemu denganmu walau hanya sebatas hembusan angin saja Bela, hikss.....hikss...."tangisan itu terus terdengar dari mulut Ana bahkan dia tidak ingin berhenti menangis setelah mengetahui kenyataan yang sangat kejam.
Ana juga berjanji pada dirinya sendiri tidak akan menceritakan hal itu pada El, karena dia takut apabila El mengetahui hal itu mulutnya akan ceroboh dan mengatakan pada semua orang bahwa dedinya adalah seorang pembunuh.
Waktu makan malam telah tiba ana segera menuju ke meja makan serta membenahi dirinya sendiri dengan wajah baik-baik saja.
__ADS_1
"Aku harus bersikap normal dan tidak boleh ada yang tahu tentang hal kejam ini walaupun aku sendiri membenci daddy "gumam Ana berbicara sendiri sambil berkaca dan memastikan bahwa tidak ada bintik air mata yang mengalir serta wajahnya terlihat tenang.
Ana segera keluar dari kamar dan duduk di meja makan sebelum Deddy dan El berada di sana. Ana mendahului mereka dan pura-pura melakukan hal apapun dengan ketenangan penuh walau hatinya sangat teriris mendengar kenyataan.
"Wah hidangan kali ini sangat nyaman ayo anakku tersayang kita makan "Ujar Prabu penuh dengan kegembiraan pada ana dan El yang sudah siap di meja makan sudah tadi.
"Bagaimana bisa daddy sebahagia dan setenang ini setelah dia menghilangkan nyawa adikku " batin Ana berseru merasakan ketidakwajaran yang ditambahkan oleh daddynya.
Padahal yang dia tahu saat awal kematian Bela daddynya sangat merasakan terpuruk ternyata sekarang dia mengerti rasa terpuruk itu adalah kepalsuan yang ditampakkan untuk menutupi kebenaran yang masih menjadi rahasia.
Setelah makan malam selesai Ana tidak banyak bicara lalu dirinya melangkah kembali ke dalam kamar. Dia mencari tahu alamat Roy agar bisa menggali lebih dalam tentang Bela yang selama ini tidak pernah dia kenali.
"Kakak sedang apa "tanya El yang tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya. Ana segera bersikap normal seperti tidak ada yang terjadi.
"Tidak aku ingin bersantai saja" Sahut Ana berbohong padahal dirinya sedang mencari tahu tempat tinggal Roy.
"Kenapa tiba-tiba aku merasa rindu dengan kak Bell, apakah kak Ana juga merasakan hal yang sama?" tiba-tiba El memecah keheningan dan berkata bahwa dirinya merindukan kehadiran Bela.
Ucapan El tidak seperti biasanya karena semenjak kematian Bela dia tidak pernah berkata bahwa dirinya rindu dan baru kali ini dia mengatakan rindu pada saudaranya.
El menceritakan banyak tentang rindu dirinya yang terpendam pada Bela. Sebenarnya El juga menyayangi Bela namun dia malu untuk mengakui hal tersebut karena dia sudah sangat tidak akrab dengan Bela.
Sepanjang malam El dan Ana bercerita banyak hal tentang kesalahan mereka yang selalu mengasingkan Bela. Padahal mereka adalah satu saudara dan hidup berdampingan mulai dari kecil. Akan tetapi pengasuhan dari ayahnya lah yang membuat hubungan persaudaraan mereka menjadi renggang.
"Iya kak, aku akan tidur disini agar pikiranku juga tidak selalu memikirkan kesalahan masa lalu pada kak Bela" sahut El menyetujuinya.
Malam itu larut begitu saja bersama pelukan hangat dari seorang kakak tertua untuk satu-satunya adik yang tersisa saat ini yaitu El. Ana berjanji akan menjaga El sebaik mungkin dan tidak akan membiarkan siapapun menyakiti El.
Pagi, di sekolah Ana.
"El, kau pergi saja ke kelasmu kakak masih ada urusan" Ana menyuruh El untuk masuk dulu ke dalam kelas karena dia sedang menunggu seseorang.
"Baiklah kak" El tidak pernah membantah perintah kakaknya, dia segera berjalan menuju ke kelas tanpa ada rasa ingin tau tentang seseorang yang ditunggu oleh Ana.
Ana menunggu Roy untuk menanyakan lebih dalam tentang Bela. Karena terakhir kalinya mereka bertemu, Roy hanya mengatakan bahwa Ana adalah kakak terburuk bagi Bela. Jadi dia merasa bersalah sekali karena mencampakkan Bela dan mengasingkannya di keluarga.
"Tunggu apakah kau melihat Roy? "Tanya Ana pada salah satu teman sekelas Roy. Dia sudah menunggunya cukup lama di gerbang sekolah namun masih tidak melihat batang hidung Roy.
"Kau salah mencari Roy di sini karena dia tidak akan lewat sini "sahut siswa lelaki tersebut. Ana langsung mengerti bahwa Roy tidak akan melewati pintu gerbang karena dia selalu telat.
Ana segera berlari ke halaman belakang tempat di mana para siswa membolos dan juga masuk kelas melewati tembok belakang karena terlambat.
__ADS_1
Namun nyatanya dia menunggu Roy sangat lama hingga pada akhirnya bel berbunyi dan dia segera masuk ke dalam kelas untuk menunggu waktu istirahat dan kembali bertemu Roy.
"Sial aku tidak menemukannya, aku tidak akan menyerah "gerutu Ana sambil berjalan ke dalam kelas.
Dia berusaha untuk menemui Roy karena banyak hal yang ingin dia ketahui tentang Bela yang tidak pernah dia tau kebenarannya.
Di waktu jam istirahat tidak biasanya Ana keluar begitu cepat seperti hari sebelumnya karena biasanya Ana selalu membaca buku atau sibuk dengan pikirannya sendiri tapi kali ini dia berlari ke kelas Roy.
Sesampainya di sana lagi-lagi Ana tidak menemukan Roy setelah menanyakan kepada beberapa temannya ternyata Roy ada di atas atap. Kembali lagi Ana berlari menuju atap hanya untuk bertemu Roy. Nafasnya berhembus secara tidak beraturan karena dia berlari terburu-buru hanya untuk mengejar Roy agar tidak menghilang lagi.
" Di sini kau rupanya, susah sekali mencarimu " teriak ana saat menemukan Roy sedang duduk menatap langit. Ana kembali mengatur nafas agar bisa kembali normal.
Roy sangat susah dicari karena dia selalu menghilang dan menyendiri. Jika tidak bolos ke sekolah maka dia akan duduk sendirian tanpa teman karena hanya Bela yang mengerti Roy dan selalu ada buatnya. Namun kini Bela telah pergi jauh dari kehidupan mereka.
"Ada apa kau mencariku, bukankah urusan kita sudah selesai saat itu " sahut Roy tanpa mengalihkan pandangannya pada Ana, dia tetap saja menatap langit sambil memegang sebatang rokok di tangannya.
"Aku tahu kau marah padaku karena telah menjadi kakak yang buruk bagi Bela namun dari hatiku yang paling dalam ingin mengetahui tentang Bela dan tidak pernah sekali aku ketahui tentang perjalanan apa yang telah dilalui adikku" Jelas Ana sambil duduk di samping Roy.
Wajahnya benar-benar menampakan kesungguhan dalam hati bahwa dia ingin sekali mencari tahu tentang adiknya itu. Hanya Roy lah yang bisa dia tanyakan karena selama ini Roy dan Bela sangatlah dekat bahkan selalu berdua kemanapun.
"Kau telat, Bela sangat menyayangi keluarganya tapi dia selalu tertawa di lingkungan ramai, sedangkan dia juga menangis dalam kesunyian. Bahkan aku sendiri tidak tahu jika Bela adalah anak orang kaya karena Bela selalu berpenampilan sederhana berbanding terbalik dengan kalian yang selalu hidup mewah" Roy mengungkapkan rasa kekecewaannya yang terpendan selama ini.
Dia mengatakan bahwa baru mengetahui jika Bela dan Ana bersaudara saat dia menghadiri pemakaman Bela saat itu. Roy juga bercerita bahwa kehancuran itu datang secara tiba-tiba dan tak pernah Roy lupakan.
Selama ini Roy merasa nyaman di samping Bela namun seketika Tuhan mengambil Bela dari kehidupannya dan membuat senyum lalu menghilang.
Namun sekarang Roy harus sadar bahwa senyum Bela saat bersama dirinya adalah kepalsuan karena sakit dalam diri Bela lebih besar dibandingkan dengan Roy.
"Percuma saja kau menanyakan tentang Bela padaku karena bidadari itu telah pergi dari dunia ini Dan sekarang aku hanya berdiam diri dalam sunyi tanpa senyum darinya lagi "tutur kata Roy lembut dan penuh penekanan namun hatinya hancur telah terkoyak oleh kenyataan yang dihadapi selama ini. Dalam tidur Roy selalu mengingat nama Bela walau dia tahu bahwa Bela tidak akan pernah kembali.
"Kau benar aku adalah saudara yang kejam karena tidak pernah tahu bagaimana kehidupan Bella yang sebenarnya padahal kami tinggal dalam satu rumah" Ana tidak bisa menahan tangisnya, air mata terus mengalir dari pelupuk matanya karena dia benar-benar merasakan kepedihan yang sangat dalam.
Bahkan Ana tidak pernah tahu jika Bela selalu mengaku anak orang sederhana pada seluruh temannya salah satunya pada Roy. Padahal Bela adalah anak konglomerat yang memiliki harta berlimpah namun dia memilih untuk menjadi orang sederhana.
"Mengapa ceritamu memilukan Bela, maafkan aku jika selama ini telah mencekik hidupmu sehingga membuat kesenangan itu memghilang" gumam Ana dalam hati sambil ikut menatap langit.
Ana sendiri tidak tahu apa alasan Bela melakukan itu yang jelas hidupnya penuh dengan rasa sepi serta kesedihan yang menyelimuti setiap hari.
Berbeda dengan dirinya dan El yang selalu hidup senang dengan harta yang tidak pernah kurang. Padahal harta itu adalah milik Bela sepenuhnya. Bahkan Ana juga tidak tau mengapa harta sebegitu banyaknya turun ke tangan Bela semua, sedangkan Ana dan El belum jelas berapa banyak harta warisan yang mereka miliki itu.
Namun sekarang pikirannya tidak lagi tentang harta, melainkan bagaimana caranya waktu bisa kembali agar Ana bisa menyayangi Bela dengan sepenuh hati untuk menebus rasa kejam yang dia berikan pada gadis itu semasa hidupnya.
__ADS_1