
Rasa hari bukan tentang persahabatan saja, akan tetapi tentang bagaimana kita menghargai seseorang yang ada di samping kita serta menyayanginya dengan sepenuh hati walau beramal dari kata tidak kenal menjadi keluarga.
"Aku akan menjadi sahabatmu Mario, dan aku tidak akan meninggalkanmu" Ujar Brandon sambil memeluk Mario dan tidak ingin melepaskannya.
Terlintas senyum Mario yang tidak biasa, dirinya merasakan kehangatan untuk pertama kalinya dari Bela danbBrandon. Padahal mereka sudah bersahabat beberapa bulan terakhir dan baru kali ini Mario tersenyum lebar karena sahabatnya Brandon dan Bela.
Bela juga ikut terharu melihat semuanya. Berharap mereka akan terus menjadi sahabat untuk selamanya. Dan saling menjaga satu sama lain hingga suatu saat di masa depan.
"Apakah aku boleh bergabung menjadi sahabat kalian? " Seketika semuanya terdiam saat melihat Sela tiba-tiba berdiri di depan mereka.
Brandon melepaskan pelukan itu dari Mario, lalu dirinya menatap Bela. Mario juga terlihat membeku karena ada siswa lain yang mendengar pembicaraan mereka. Padahal Mario sudah menyembunyikan penyakitnya, tapi kali ini banyak yang mengetahui rahasia itu.
Bela juga berdiam diri seakan dia mengingat bahwa dirinya telah menerima Sela untuk menjadi sahabatnya agar dia bisa menyimpan rahasia Bela yang hampir memb*nuh dirinya sendiri.
Semuanya masih terdiam dan belum ada jawaban. Rasanya tatapan itu penuh kesunyian dan tanda tanya dalam benak masing-masing. Mengapa gadis di hadapannya ingin bersahabat dengan mereka, padahal selama ini Sela tidak pernah akrab dengan mereka.
"Sebaiknya kalian Terima dia untuk menjadi sahabat kita, karena dia sudah tau dengan penyakit Mario" Bisik Bela kecil saat mengajak Brandon dan Mario untuk berunding.
Mario dan Brandon mengangguk, karena penyakit Mario adalah hal yang besar jika tersebar maka semua rencana Mario berantakan. Apalagi mereka belum tentu bisa menerima semua tentang kekurangan Mario.
Akhirnya kesepakatan telah ditentukan, mereka bertiga menerima Sela untuk masuk ke dalam pertemanannya. Apalagi selama ini Sela adalah siswa yang tidak banyak berbuat ulah karena dirinya selalu sendirian.
Dan sekarang persahabatan mereka semakin ramai, ada 4 orang yang terdiri dari 2 wanita dan 2 pria.
Sebenarnya persahabatan bukan berapa banyak orang yang mengisi di dalamnya, tapi berapa banyak yang bertahan dari sebuah kekurangan yang ada pada masing-masing setiap orang. Dan seberapa lama dia akan menyatu dalam kesetiaan.
"Kau sudah bergabung dengan kami, tapi ingat jangan membicarakan hal ini pada orang lain" Peringatan keras dari bela untuk sela.
"Oke, aku akan menyimpannya rapat-rapat. Begitu juga tentangmu" Sahut Sela membuat Bela ketar-ketir. Mata Bela langsung melotot pada Sela dan dia membalasnya dengan senyuman saja.
"Dia? Tentang apa? " Tanya Brandon penuh dengan rasa penasaran. Matanya mendekat sambil menyelidiki pada Bela dengan tatapan menyelidik.
"Aah sudahlah, ayo ke kelas. Sebentar lagi bel berbunyi" Ujar Bela sambil menyeret paksa mereka untuk menutupi pertanyaan yang sedang terlihat misterius.
Akhirnya mereka berempat kembali ke kelas dengan mulut terkunci atas rahasia yang tadi. Untuk menghindari curiga, mereka tertawa sambil berbicara banyak hal.
Apalagi Bela yang selalu menjadi sorotan nomor satu karena setiap pembicaraannya mengundang cara agar orang ikut berbicara dan menikmati apa yang sedang dirundingkan. Karena tawa Bela sangat khas untuk dinikmati.
Sesampainya di dalam kelas mereka terkejut melihat keadaan kelas kacau dan Dira babak belur. Kecuali Bela, dia hanya tersenyum dan duduk dengan wajah biasa saja seperti tidak terjadi apapun.
"Kau kenapa? Apakah kau belajar make up? " Ejek Brandon saat melihat luka lebam pada Dira.
"Diamlah" Bentak Dira dengan wajah kesal.
Sontak hal itu membuat satu kelas tertawa termasuk Mario, walaupun dia hanya tersenyum saja setidaknya giginya terlihat.
Mereka semua tertawa karena selama ini Dira bisa disebut sebagai pembuat onar di kelas dan membully mereka yang mendekati Mario atau yang tidak sesuai dengan perintahnya.
Dan sepertinya hal itu akan berakhir karena Bela telah berhasil mengalahkan Dira bersama gengnya. Sungguh keajaiban yang patut di rayakan. Akan tetapi Mario dan Brandon tidak mengetahui jika babak belur di wajah Dira disebabkan oleh sahabatnya sendiri.
Dira hanya bisa terdiam, mungkin di pikirannya sangat kesal dan akan mencari cara lain untuk dapat mengalahkan Bela agar dia tidak di olok-olok lagi oleh teman sekelasnya.
*tetttt* bel pulang berbunyi, semua bersiap diri untuk bergegas pergi meninggalkan sekolah yang penuh dengan rumus pitagoras.
"Tumben sekali dia diam dan tidak banyak bicara, biasanya selalu mengoceh tidak jelas saat ada aku" Batin Bela merasa aneh saat melihat Beni yang selalu aktif berubah berdiam diri.
Sifatnya tidak seperti biasa yang selalu banyak omong dan tertawa lepas. Tapi kali ini seperti ada tekanan dalam hidupnya dan seketika menjadi anak yang pendiam.
__ADS_1
Suasana itu juga menguntungkan bagi Bela, jadi dirinya juga tidak merasa terganggu oleh Beni. Karena dia juga butuh ketenangan dari Beni dan harus menjauh darinya agar Bara tidak marah kembali saat melihat Bela bersama abeni.
"Kau akan les tambahan lagi hari ini? " Tanya Bela pada Mario.
"Iya, begitulah hidupku" Sahutnya dengan tenang.
Hampir setiap hari Mario disibukkan dengan matematika. Seakan dia kehilangan masa mudanya untuk bersenang-senang. Namun ada baiknya juga, karena dengan matematika Mario akan kesulitan berfikir bagaimana keluar dari soal yang sulit. Bukan berfikir bagaimana keluar dari hidup yang sulit.
Sedangkan Brandon juga pulang seperti biasa menggunakan motornya bersama wanita yang sedang dia incar. Bisa dibilang dia lagi melakukan pendekatan pada wanita kelas sebelah, tapi sayang karena hubungannya masih di gantung.
Sedangkan Sela juga akan pulang bersama supirnya, dan arah rumah Sela dan Bela berlawan arah jadi dia tidak bisa ikut menumpang bersama mobil Sela.
"Kau pulang dengan siapa? " Tanya Sela yang berjalan berdampingan bersama Bela.
"Seperti biasa, aku sudah ada jemputan" Sahut Bela dengan sumringan.
"Pacarmu? "
"Bukan"
"Lalu? "
"Kakakku" Dengan bangganya Bela mengakui bahwa Alex dan Bara adalah kakaknya. Bukan suami dan sahabat suaminya. Karena Bela terlihat lebih mudah dari mereka berdua.
Akhirnya Sela pulang terlebih dahulu Berpamitan pada Bela. Sedangkan dia masih menunggu Alex untuk menjemputnya. Karena di depan sekolah tidak ada mobil Alex yang terparkir, sepertinya dia sudah telat datang.
Saat menunggu kedatangan Alex, Bela melihat Beni mengendarai mobilnya. Dia pergi begitu saja tanpa menyapa Bela, tidak seperti seperti biasa. Wajahnya terlihat murung sangat berbeda dengan wajah yang ditampakkan di hari-hari biasa.
Sungguh hal yang lucu dan menggemaskan, akan tetapi membuat Bela sedikit penasaran dengan Beni yang berubah dalam sekejap saja. Apalagi Bela sudah lama tidak masuk sekolah dan tidak pernah melihat Beni sebelumnya.
Karena dia sudah seminggu lebih tidak masuk dan melihat wajah Beni muram seperti menyimpan suatu hal yang tidak ingin dia ceritakan.
Beni yang ceria berubah menjadi pendiam, ingin rasanya Bela mendekati dan bertanya ada apa tentang dirinya yang berubah secara drastis.
*tinnnn*
"Astaga, kak Alex sialan" Gerutu Bela saat mendengar klakson Alex yang begitu kencang sehingga membuat dirinya terkejut.
"Cepat masuk" Teriak Alex
"Oke siap" Bela segera masuk ke dalam mobil. Rasanya seperti di jemput oleh kakaknya sendiri.
"Kak" Ujar Bela mengawali pembicaraan.
"Apa? Ada sesuatu di sekolah? Apakah guru menegurmu karena kau sudah lama tidak masuk sekolah? " Ternyata Alex lebih cerewet dari Bela. Sungguh pasangan adik kakak yang sangat cocok.
Bela tersenyum menatap Alex, pikirannya sangat senang karena baru kali ini merasakan seorang pelindung yang berstatus sebagai seorang kakak. Walaupun mereka berbeda darah dan keturunan.
Bela merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Karena dalam hidupnya tidak pernah merasakan kasih sayang yang tulus seperti Alex, walaupun yang tidak Bela tau bahwa Alex seorang bajingan yang memangsa banyak wanita untuk memuaskan nafsunya.
"Aku senang kenal denganmu kak, aku merasakan kebahagiaan karena memiliki seorang kakak sepertimu. Karena di kehidupan sebelumnya aku tidak merasakan kebahagiaan seperti itu" Jelas Bela.
Seketika Alex terdiam, karena dia tau bagaimana kehidupan yang Bela jalani dulu. Bela yang menjadi anak tengah sungguh sangat memilukan karena tidak memiliki kasing sayang.
Baik kasih syang dari seorang ayah ataupun kedua saudaranya. Jadi Alex juga merasakan kesedigan saat mendngar cerita tentang Bela yang mengingat masa lalunya.
Dia juga tau jika Bela sangat tomboy, tapi dia tidak pernah tau jika Bela juga sering menangis pilu bila mengingat kenangan saat sendiri dan hanya ditemani hayalan malam tentang mamanya yang telah lama menghilang dan dianggap sudah tiada.
__ADS_1
"Aku akan selalu berjanji untuk selalu menjagamu" Ujar Alex sambil memegang tangan gadis itu. Kali ini bukan tentang cinta, melainkan tentang perasaan sepi dalam diri Bela membuat Alex sadar bahwa gadis itu benar-benar memiliki kesedihan yang terpendan.
Sebenarnya Alex tidak sependapat dengan Bara untuk menyakiti Bela hanya sebagai alat balas dendamnya pada keluarga Pras. Karena Bela sudah sangat menderita di kehidupan sebelumnya bersama keluarga Pras.
Dan sekarang dia akan kembali menderita untuk mengadapi Bara yang memiliki sifat kejam dan arogan tanpa pengampunan. Bahkan dia juga tidak tega melihat Bela dipukuli untuk terakhir kalinya dengan alasan Bara melarang Bela untuk berteman dengan siswa lelaki.
Padahal apa yang dikatakan Bara hanyalah alibi untuk menyembunyikan bahwa dia melakukan kekejaman itu sebagai balas dendamnya yang di susun secara perlahan.
Sesuatu yang dipeluk oleh kehampaan pasti akan lemah. Dimanapun itu tanpa terkecuali. Ingin rasanya Bela menangis tapi malu dihadapan Alex takutnya ditertawakan. Jadi dia memilih diam dan menatap langit-langit luar yang sedang berjalan.
"Kita ke bandara sebentar ya" ujar Alex memecah keheningan yang menyelimuti pikiran Bela.
"Untuk apa ke bandara? Apakah tuan Bara akan mengirimku lebih jauh lagi?" Pikir Bela bertanya-tanya, dan selalu beranggapan apa yang dilakukan Alex adalah suruhan Bara.
"Ah tidak, aku menjemput pacarku. Dia akan pulang yuhuu" teriak Alex kegirangan di dalam mobil.
Bela tersenyum lebar saat mendengar kabar baik itu, dirinya ikut merasakan kebahagiaan yang Alex berikan. Dan mereka berdua terus berbicara sambil bercerita di sepanjang jalan menuju ke bandara.
Sesampainya di bandara, Alex masih menunggu kedatangan kekasihnya. Dia mengingat jelas wajah itu agar tidak salah orang. Dengan kesabaran yang tinggi, matanya tertuju pada setiap orang yang turun dari pesawat berjalan melalui lorong untuk keluar.
Akhirnya beberapa menit kemudian Alex bertemu dengan pacarnya yaitu Cintia. Senyum ayu itu masih sama dan kembali memikat hati Alex yang layu. Dan wajahnya seakan memancarkan air beraroma untuk membangkitkan rasa layu itu.
"Cantik sekali kak, aku sangat menyukainya" celetuk Bela sambil tersenyum melihat kedatangan Cintia.
Mereka berdua berpelukan seperti sepasang kekasih yang tidak bertemu beberapa tahun. Memang sih tidak bertemu beberapa tahun, tapi mereka lupa jika tempat itu adalah bandara.
Hampir saja Alex berbuat mesum dengan mencium Cintia, untung saja Bela mencegahnya dengan memegang bibir Alex yang ingin nyosor begitu saja di keramaian umum. Memang dasar lelaki mesum hehe.
"Ah kau menganggu kesenanganku Bela" ketus Alex dengan mata menyelidik dan seakan dia kehilangan nikmatnya saat itu. Karena Bela dia kehilangan nafsunya saat ingin menciun Cintai.
"Sabar kak, disini ramai. Malu dilihat orang" ujar Bela sambil memberikan kode keadaan sekitar.
Alex langsung mengerti dan membawa kekasihnya pergi masuk ke dalam mobil. Di sepanjang jalan menuju mobil, wajah Cintia selalu muram menatap Bela. Mungkin dipikirannya Bela adalah kekasih baru Alex.
Dia terus enggan berbicara pada Bela. Padahal dari tadi Bela dan Alex terus mengoceh hingga masuk ke dalam mobil pun tidak berhenti untuk mengoceh hal yang kecil hingga di perbesar.
"Kenapa kamu diam saja?" Tanya Alex pada Cintia.
"Kau asik dengannya" sahut Cintia ketus seakan berbicara tentang kecemburuan.
Akhirnya Alex menyadari jika kekasihnya sibuk memperhatikan Bela dengan wajah masamnya. Seakan dia mengatakan sangat cemburu dengan gadis cantik yang duduk di belakang mereka sambil memainkan ponsel dan bersenandung kecil.
"Kamu cemburu dengannya?" Tutur Alex lembut sambil menggenggam tangan Cintia. Cintia menjawabnya dengan anggukan manja. Alex tersenyum dengan kecemburuan itu, karena dia merasa jika Cintai sangat mencintainya sehingga dia snahat cemburu pada Bela.
"Ah sungguh sangat disayangkan jika kamu cemburu dengannya" sambung Alex.
"Ya karena dia cantik " ketus Cintia lagi. Dia tidak terima jika ada Bela di dalam mobil, Cintia merasa jika Bela lebih cantik dan muda daripada dirinya.
Sedangkan Bela hanya sibuk menatap ponselnya tanpa menyadari jika dirinya sedang dalam pembicaraan Alex dan kekasihnya tentang kecemburuan.
Mereka terus berdebat dan ternyata Cintia cemburu melihat kecantikan Bela sehingga takut jika Alex terpincut olehnya. Apalagi Bela masih muda karena saat itu dia masih menggunakan seragam sekolah.
Sungguh kecemburuan yang lucu dan tanpa alasan yang mendasar. Pantas saja Dira sangat takut jika Mario dekat dengan Bela, karena kecantikan alami dari tubuh Bela terpancar indah tanpa olesan make up.
"Hahahaha" bukan jawaban yang diterima Cintia dari Alex, melainkan tertawa kencang karena kekasihnya berkata demikian.
__ADS_1