Antara Cinta Dan Mafia

Antara Cinta Dan Mafia
70. Cintia Hamil


__ADS_3

"Aku mau pulang, apakah kau akan terus di sini " bukan jawaban yang Ana dapat dari pertanyaan yang dia lontarkan pada Roy. Melainkan pernyataan bahwa Roy akan pergi dari sana. Roy mengambil tasnya yang berada di dalam lalu beranjak untuk pergi.


Keadaan mereka berdua selalu bertentangan, dan juga Roy sangat membenci Ana. Tapi dia juga tidak bisa menolak walaupun Ana jahat, Bela tetap saja menyayanginya sampai akhir hayat Sehingga hal itu membuat Roy terpaksa mengajak Ana mengunjungi tempat itu meski sikap Ana sedikit bertolak belakang dengan Bela.


"Tunggu, jelas saja aku ingin pergi, mana mungkin aku tinggal di sini "Ana segera berlari dan mengikuti Roy pergi.


Roy menghitung perjalanan sendiri tanpa memperhatikan Ana yang sedang sibuk dan memiliki rasa takut dengan perjalanan yang dia lalui.


Senja mulai datang tapi Ana merasakan hal aneh saat melewati persawahan dan perjalanan yang cukup jauh. Bulu judulnya seakan berdiri secara tiba-tiba, menciun aroma mistis dalam ketakutan yang bergelut dengan dirinya sendiri. Sedangkan Roy berjalan tanpa menghiraukan dirinya.


"Roy tunggulah, kenapa kau tega sekali dan meninggalkan aku " teriakan dari belakang melenting di tengah-tengah persawahan. Roy menghentikan langkahnya kemudian menoleh menatap Ana tanpa menghampirinya.


"Cepatlah, semakin kau teriak maka penghuni persawahan ini semakin mendekatimu " Roy menakuti Ana agar dia tidak terlalu banyak omong serta berjalan dengan cepat.


Akan tetapi Roy salah dengan pikiran itu karena ucapannya membuat Ana semakin takut dan merinding seakan-akan perjalanannya dan Roy sedang diawasi oleh seseorang.


"Aaaaa, Roy aku takut" Ana berlari sambil memeluk Roy karena dia merasakan ketakutan.


Sebab dirinya pertama kali melakukan perjalanan seperti itu, mungkin karena level mereka terlalu berbeda dan Ana benar-benar sangat berbeda dengan Bela dan juga Roy.


Pelukan itu membungkam bibir mereka. Roy terpaku dengan apa yang dirasa sekaligus terkejut namun seketika telah menghilangkan lamunan itu dan segera melepaskan Ana dengan paksa.


"Semakin kau teriak maka semakin pula kau memanggil penunggu di sini "jelas Roy dengan dingin lalu dia berbalik kembali melanjutkan perjalanannya sejenak.


Ana berdiam diri kemudian dia menyadarinya bahwa dia sedang sendirian lalu segera mengikuti dan berjalan lebih dekat lagi di belakang Roy.


Tidak lupa Ana menghubungi sopirnya untuk menjemput di suatu tempat tanpa sepengetahuan Roy.


"Roy tunggu "teriak Ana saat mereka sudah berada di pinggiran trotoar dan banyak kendaraan serta lampu-lampu yang menerangi taman-taman walaupun lampu itu terlihat redup.


Roy berbalik dan menatap Ana serta wajahnya masih saja terlihat dingin tidak ada kehangatan yang dia berikan untuk Ana, benar-benar wajah berbeda di saat dia menata Bela yang penuh dengan kegembiraan serta kehangatan untuk sahabatnya.


"Terima kasih untuk hari ini, kau telah membawaku untuk melihat tempat itu yang penuh dengan tawa Bela walau hanya sebuah selembar foto " Ana mengucapkan rasa terima kasih kepada Roy karena dia bersedia membawa ke tempat di mana banyak tersimpan kenangan Bela dan Roy.


Roy hanya berdiam diri dan tidak mengatakan apapun pada Ana, entah mengapa rasanya hati Roy masih sangat membenci wanita yang ada di depannya itu karena dia telah mencampakan Bela sehingga adiknya itu hidup menderita tanpa kasih sayang yang cukup.


"Sebegitu benci kah kau dengan ku Roy? Sehingga dirimu hanya berdiam diri " Tanya Ana kembali karena dia melihat Roy tidak melakukan reaksi apapun dan hanya berdiam dengan pikiran yang sedang bergulir di kepalanya.


Ana terus mengoceh namun Roy hanya berdiam diri saja. Tidak lama kemudian sebuah mobil datang menjemput Ana lalu dia berpamitan pada Roy untuk pergi, akan tetapi lagi-lagi tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Roy karena dia hanya menatap Ana tanpa bicara apapun.


Mobil itu berlalu pergi dan pandangan Roy masih mengikuti arah mobil mewah itu dengan diam. Rasanya dia tidka tahan untuk bergeming secara langsung di hadapan Ana, namun Roy masih bisa untuk menahannya.

__ADS_1


"Kau gadis yang sangat menyebalkan Ana, setiap kau bertemu dengan Bela selalu saja cacian yang kau keluarkan. Aku pikir kalian berdua hanya sebatas Junior dan senior akan tetapi kalian adalah saudara yang terlihat sangat asing "gumam Roy sambil menatap mobil Ana yang telah berlalu pergi.


Roy berjalan pulang untuk menenangkan dirinya dan terbiasa dengan kesendirian yang selalu dia rasakan. Sepanjang jalan Roy selalu tersenyum karena tempat itulah Bela dan dia selalu duduk di trotoar sambil memandangi lalu lalang mobil dan motor dengan menghisap sebatang rokok dari kejauhan sambil tertawa riang menatap perginya senja.


Kenangan akan selalu ada untuk selamanya walaupun orang yang kita rindukan telah tiada, kadang kita perlu mengingat bagaimana caranya dia tersenyum meski dirinya telah menjadi bintang dan tersenyum di atas langit sana. Tak akan pernah habis pujian dalam setiap waktu yang bergulir karena setiap kenangan yang terukir tidak akan pernah terhapus hingga kapanpun.


Ana yang berada di dalam mobil sedang memikirkan Roy. Dia merasa bahwa Roy sangat membencinya namun Ana tidak tahu pasti apa yang membuat Roy bersikap dingin padanya.


" Aku tidak akan menyerah aku akan tunjukkan bahwa pikiran Roy salah, Ana yang sekarang akan berubah" Ana menyakinkan dirinya sendiri bahwa dia akan berubah dan membuat Roy tidak membencinya lagi Ana juga ingin berteman dengan Roy untuk mengetahui bagaimana kehidupan Bela yang dulu saat dia bersahabat dengan Roy.


Banyak hal yang Ana inginkan sekarang, dia ingin merubah Ana yang dulu manja, suka belanja, suka berdandan dan akan merubah segalanya untuk menjadi terlihat sederhana.


Rumah Bara.


Bara tidak terlihat, seperti biasa setelah makan malam dia pasti akan berdiam diri di dalam kamarnya. Sedangkan Bela keluar dari kamarnya untuk mencari udara segar.


Tanpa sengaja Bela melihat Alex yang kembali termenung di bawah sinar rembulan dan di samping kolam renang. Bela menghampirinya untuk menghibur salah satu orang yang selalu mendengarkan rela yaitu Alex


"Aku rasa kau tidak suka kesunyian kak, tapi mengapa hari ini bibirmu manyun seperti itu" seru Bela dan tiba-tiba datang sembari duduk di samping Alex.


"Kau mengagetkan aku saja "sahut alex dengan menatap Bela sebentar lalu pandangannya kembali menatap langit seakan banyak pikiran yang sedang bergelut dalam matanya


"Apa kau sedang memikirkan kak Cintia?"Bela membuka pembicaraan tentang Cintia, dia tahu bahwa Alex sedang memikirkannya. Karena Bela mengetahui rahasia yang tidak pernah Alex ceritakan pada Bela.


Sedangkan sorot matanya seakan mencari jawaban tentang apa yang bergelut dalam pikiran Alex malam itu. Bela mencoba memahami Alex sejenak, dirinya terdiam untuk membicarakan hal yang seharusnya tidak ingin dia bicarakan tapi itu tentang Cintia dan Alex.


"Aku tahu bahwa kak Cintia hamil, tapi itu bukan anakmu "mata Alex terbelalak, dirinya terkejut dan langsung menatap Bela dengan tatapan membeku.


Bibirnya tidak bisa bicara apapun karena dia tidak tahu apa yang harus dibicarakan. Alex heran mengapa dalam mengetahui rahasia itu padahal dia hanya mengatakan tentang dirinya hamil pada Alex saja.


"Bagaimana kau tahu " Rasa heran pada diri Alex kembali membuatnya bertanya pada Bela.


Bela menjelaskan panjang lebar bahwa dia mengetahui pada saat Cintia tidur bersamanya dalam satu kamar. Saat membantu Cintia membereskan pakaiannya, Bela tidak sengaja melihat foto USG yang sudah berumur 3 bulan. Tidak lama kemudian secara tidak sengaja Bela melihat buku catatan Cintia yang terbuka di atas nakas setelah dia menulisnya, namun dia lupa untuk menutup kembali buku itu.


Di sana dijelaskan bahwa bayi yang dikandungnya adalah kejahatan Cintia di luar negeri karena telah menghianati cinta Alex.


"Dan kau bertengkar dengan kak Cintia bukan karena es krim, bahkan kedatangan kak Cintia adalah tentang rahasia itu begitu juga dengan kepergiannya " selama ini Bela mengetahui banyak hal tentang rahasia cinta dan Alex tapi dia memilih diam. Namun pikirannya kembali teralih saat melihat Alex sedang merenung dengan tatapan kosong.


Bela tidak tega dengan keadaan itu, jadi dia ingin membeberkan semuanya untuk membuat Alex tenang dan menghilangkan sejenak masalah itu. Bela juga berharap dirinya bisa membantu Alex keluar dari masalah percintaannya bersama Cintia.


" Kak Alex ini adalah masalah rumit untukmu, tapi cinta yang tulus itu tidak akan pergi bagaimanapun keadaannya. Aku juga tidak tahu apa yang harus dilakukan saat ini tapi aku yakin bahwa kau sendiri bisa menghadapi kenyataan dan keputusan ada di tanganmu Kak" Bela mencoba meyakinkan Alex untuk berpikiran tenang serta mengambil keputusan yang tepat.

__ADS_1


Bela sendiri juga tidak tahu bagaimana berada di dalam posisi yang begitu sulit seperti Kak Cintia dan Alex namun dirinya juga mengerti bagaimana cara menghadapi masalah tanpa harus berpikiran kosong dan berlari yaitu dengan cara mencari solusi di masalah tersebut dan tetap teguh dalam hati yang paling bersih untuk menunjukkan bahwa kita bisa menghadapi masalah tanpa harus menghindarinya.


" Benar katamu Bela, aku harus memiliki keputusan atas masalah ini " gumam Alex. Sejenak dia kembali terdiam dan merenung.


Alex mengingat perkataan kekasihnya bahwa masalah yang sedang mengelilingi pikirannya bukanlah hal disengaja, akan tetapi Cintia berkata bahwa dia melakukan hal itu dalam keadaan mabuk bukan karena suka sama suka. Karena Cintia bercerita bahwa cintanya hanya untuk Alex saja.


Alex kembali mengingat masa lalunya bahwa dia juga suka bermain wanita di klub malam beruntungnya dia adalah seorang lelaki jadi tidak akan ketahuan jika dirinya telah meniduri banyak wanita.


Sedangkan Cintya memiliki kerugian karena seorang wanita sebab saat sekali saja melakukan kesalahan maka terjadilah seperti hal buruk yang tidak pernah diinginkan.


Jadi Alex harus mencoba menjernihkan pikirannya untuk beberapa waktu lalu dirinya akan menghubungi Cintia setelah keputusan yang diambil hingga menemukan titik terang.


" Aku Bukan Pecundang, dan aku tidak akan meninggalkan orang yang aku cintai berjuang sendirian "seru Alex pada Bela sambil melentingkan senyumannya.


Bela juga ikut tersenyum setelah melihat Alex seperti memiliki semangat untuk segera keluar dari masalah tersebut walau Bela sendiri tidak tahu apa yang sedang Alex rencanakan. Bela hanya ingin menjadi sport system untuk Alex dan menjadi sahabat di saat dirinya sedang gelisah.


"Apakah tuan Bara tahu tentang ini? " tanya Bela pada alex.


"Jelas saja Bara mengetahui karena aku tidak akan pernah menyembunyikan rahasia pada sahabatku" Jelas Alex pada Bela.


Ternyata Alex sudah memberitahu Bara sebelum Cintia pergi dari rumahnya. Bara juga memberikan saran untuk melepaskan Cintia namun Alex tidak ingin mengakhiri cintanya begitu saja saat itu. Sehingga pikirannya dipeluk rasa kebimbangan yang sednag bergelut.


"Bara akan selalu menemaniku, jadi kau tidak usah khawatir" ujar Alex sambil memberikan senyuman pada Bela agar tidak membuatnya khawatir dengan keadaan Alex.


Bela merasa sedikit lega saat mendengar hal itu karena dia yakin Bara bisa menolong Alex keluar dari masalahnya. Karena yang Bela tahu Bara sangat mencintai Alex sebagai sahabatnya dan dia sudah menganggap sebagai keluarganya sendiri atau bahkan lebih dari apapun.


"Kak Aku ingin bertanya apakah kau tahu mengapa tuan bara sangat dingin padaku setelah kami berpindah ke rumah ini? " Bela yakin Alex mengetahui semua tentang Bara karena hanya dia yang sangat dekat dengan tuannya itu.


Jadi Bela mencari cara untuk mengetahui apa yang sedang terjadi pada Bara karena yang dia rasa semenjak pindah dari rumah oma ke rumah yang baru, Bara semakin terlihat sangat dingin bahkan jarang berbicara padanya.


"Kau ingin tahu kenapa? " Sahut Alex sambil menata Bela dengan tajam. Hal itu membuat Bela sangat heran dengan jawaban yang akan Alex berikan.


Sedikit hatinya sangat senang karena sebentar lagi dia mengetahui apa yang membuat Bara semakin dingin dan jarang berbicara pada Bela. Karena Bela sudah mengambil ancang-ancang untuk memperbaikinya serta membuat hubungan mereka menjadi dekat walaupun tidak seperti sepasang suami istri setidaknya Bela tidak merasa kesepian karena sikap dingin Bara.


"Ya aku sangat menginginkan jawaban itu, aku yakin kau pasti mengetahuinya Kak Alex "sahut Bela dengan antusias dan mencoba mendekatkan matanya pada Alex.


Mata Bella berada tepat di depan wajah Alex sehingga jarak wajah mereka berdua sangat dekat dan saling bertatapan. Kemudian Alex mendekatkan bibirnya pada Bela namun hal itu membuat gadis kecil di hadapannya takut Alex menciumnya karena dia trauma pada saat Bara mencium pipi Bela saat itu.


"Karena kau bau" bisik Alex membuat Bela tertawa dengan keras. Bela merasa dicurangi karena hanya tubuhnya bau saja Bara sampai tidak ingin berbicara dengannya.


"Sebegitu bau kah aku hingga tuan bara bersikap seperti itu " Gerutu Bela sambil mencium badannya karena dia merasa bahwa dirinya tidak pernah bau dan Bela juga sering mandi.

__ADS_1


" Sungguh polosan gadis ini, bahkan dia masih memiliki ketulusan hati untuk dekat dengan geng mafia yang tidak dia ketahui" Gumam Alex dalam hati.



__ADS_2