Antara Cinta Dan Mafia

Antara Cinta Dan Mafia
45. Balas Dendam Dira


__ADS_3

Bela mengenal Bara sebagai lelaki yang tidak pernah tertawa, sedangkan saat Bela melihat foto-foto dalam kamarnya saat itu dia melihat jelas bahwa Bara memberikan senyum dalam setiap lembar foto yang terpajang jelas menghiasi kamar.


"Apakah aku boleh ke makam Denada? " Tanah Bela pada Alex.


"Tunggu waktunya saja, aku akan mengajakmu. Jika sekarang aku tidak bisa, karena Bara melarang siapapun pergi ke makam adiknya kecuali keluarga Baratha" Bela mengangguk mengerti dengan penjelasan yang Alex berikan.


Hatinya memiliki harapan untuk bertemu dengan Denada walaupun hanya pusaran tanah yang dihiasi oleh batu nisan. Setidaknya Bela ingin mengetahui rasanya di dekat Denada.


Mungkin suatu hari Alex akan membawanya agar Bela merasa puas dengan pertanyaan yang meliputi Denada dalam pikirannya.


Sekolah


"Terima kasih Kak, nanti tidak usah di jemput ya biar aku pulang sendir" Bela melambaikan tangan pada Bara.


"Lagipula aku tidak akan menjemputmu Bel, wekkk" Ejek Alex di dalam mobil. Spontan membuat lambaian tangan Bela terhenti.


"Ahh memang menyebalkan, awas saja tidak ada jatah makan nanti" Ucapan Bela penuh ancaman sambil memberikan wajah merajuk pada Alex.


"Hehehe, becanda lah. Urusan makan itu urusan hidup Bel" Seketika bibir Alex tersenyum dengan ketakutan jika Bela benar-benar tidak memasak makanan untuknya.


Alex sudah terbiasa dengan makan yang dimasak oleh Bela. Jadi dia tidak ingin membeli makanan lain di luar rumah, karena makanan tersebut masih kalah jauh dengan masakan Bela yang sangat lezat.


"Lagipula aku tidak akan memasakkan untukmu kak,, wekkk. Hahahah" Bela membalas ejekan Alex, lalu dirinya langsung pergi dan berlari ke dalam sekolah.


"Ah anak itu, rasanya dia menghilangkan masalah dalam hidupku. Membag sifatnya mirip dengan Denada"


Alex pergi meninggalkan sekolah, dalam perjalanan pikirnya terbayang kembali tentang Denada.


Gadis kecil yang cantik, baik, ramah dan selalu menjadi temannya tertawa. Alex dan Denada sangat dekat, bahkan mereka lebih dekat daripada Denada dengan Bara. Setiap hari pasti ada alasan untuk membuatnya tertawa.


Namun saat kepergian Denada, langit rasanya seperti hancur. Dunia Alex juga begitu, tidak ada lagi alasan dia menginap di rumah Bara, tidak ada lagi tempat tertawa saat dirinya mengalami masalah. Karena tempat itu sudah musnah bersama kepergian Denada dalam persemayaman abadi.


Dan kini Alex melihat sesuatu yang tidak asing dalam diri Bela. Dia merasa menemukan kembali sosok Denada yang telah hilang. Rasanya Denada terlahir kembali walau tidak seutuhnya. Namun hatinya masih tetap mengingat Denada dalam kesunyian.


"Terima kasih Tuhan, engkau telah mengembalikan Denada ku untuk menemani tawa ini walau dia dalam bentuk orang yang berbeda" Ujarnya sambil menyetir mobil.


Nama Denada tidak akan pernah hilang dari hatinya, namun dia juga membutuhkan kehidupan dengan bertemu seseorang yang memiliki sifat seperti Denada. Salah satunya yaitu bela.




Sementara itu di dalam kelas Bela merasa kesepian, karena Mario sibuk untuk mempersipakna diri dan berlatih beberapa lembar soal Olimpiade. Karena sebentar lagi Mario akan segera pergi untuk mengikuti kompetisi.



"Hei, bolehkah aku duduk sini? " Beni menawarkan diri untuk duduk di bangku kosong dekat Bela.



"Hmm maaf, bangku ini sudah ada yang punya" Bela tidak ingin duduk dengan Beni, karena dia hanya berpihak pada Mario. Lagipula Bela tidak merasa dekat dengan Beni yang berstatus sebagai siswa baru.



"Siapa? Bangku ini kan kosong jadi lebih baik aku isi saja" Beni masih memaksa untuk duduk di dekat Bela.



Bela hanya bisa menarik nafas dalam-dalam karena kata penolakan tidak berarti bagi Beni yang sangat keras kepala jika sudah menginginkan sesuatu.



"Etsss, siapa bilang kosong. Aku yang duduk disini sekarang" Bela tersenyum saat melihat Brandon dengan sigap menduduki tempat di sebelahnya.



Hal itu membuat Beni kesal karena setiap dia ingin dekat dengan Bela selalu saja kalah karena Brandon dan Mario menghalanginya di setiap kesempatan yang dimiliki olehnya.



Brandon sudah tau daritadi, jadi dia tidak ingin sahabatnya duduk dengan Beni. Karena Bela pernah berkata bahwa dia tidak suka dekat dengan orang asing, kecuali dirinya sudah nyaman.



Untung saja rasa peka dalam diri Brandon tidak menghilang. Sehingga bisa menyelamatkan sahabatnya dari tekanan orang asing. Karena Bela belum mengenal Beni lebih dalam, jadi dirinya masih kurang nyaman didekat Beni.



"Anak pintar" Bisik Bela sambil tersenyum pada Brandon.



"Aku sudah tau isi pikiranmu, jadi tidak akan aku biarkan orang asing merebut kursi ini" Sahutnya sambil membalas senyuman Bela.



Setiap gerakan Bela selalu saja ada yang mengawasinya, siapa lagi kalau bukan Dira. Si biang kerok yang sangat membenci Bela karena dekat dengan Mario.



Apalagi semenjak Beni datang, dia juga merasakan kebencian yang berlipat ganda karena seorang Beni yang tampan mengejar musuh bebuyutannya yaitu Bela.



"Dasar cewek caper, sok cantik lagi" Ketusnya sambil menatap Bela. Rasa iri tidak akan pernah berhenti dari hatinya. Karena nama Bela sudah dijadikan daftar hitam dalam kehidupan Dira.



Saat jam pelajaran dimulai, guru memberikan soal di depan. Dan kebetulan Bela yang ditunjuk untuk mengerjakannya. Soal itu cukup sulit, tapi dengan kecerdasan Bela tidak ada yang sulit jika mau belajar.



Dengan tenang Bela mengerjakan soal itu di papan, merak asemua tercengang karena Bela berhasil mengerjakan tanpa mengalami kesulitan.



"Bu sudah" Ujar Bela sambil memberikan tersenyum.


__ADS_1


"Benarkah? Sebentar saya cek dulu" Dengan satu tatapan saja ibu guru mengecek hasil kerja Bela. Dan ternyata sola itu benar.



"Bagus Bela, benar. Baru beberapa bulan kamu disini tapi sudah mampu menyesuaikan diri dengan pelajaran yang ada" Pujian untuk Bela dari ibu guru.



"Terima kasih bu, karena saya sangat ingin belajar dengan lebih baik lagi" Bela selalu menyambutnya dengan ramah dan senyuman.



"Bagus Bela, silahkan duduk. Ayo beri tepuk tangan untuk teman kalian"



\*prok, prok, prok\*



Tepuk tangan yang sangat meriah mengiringi keberhasilan Bela menjawab soal. Di lain sisi Dira tidak setuju jika Bela harus menerima pujian didepan kelas, pikirnya melayang membuat Dira sangat susah bersaing dengan Bela.



Kebenciannya terus saja meningkat, karena dia hanya ingin Bela menjadi yang terakhir dan dibenci oleh seluruh sekolah agar bela bisa menjauh dari Mario.



\*brak\*



Gertakan tangan Dita sangat kerasa sehingga membuat semua perhatian tertuju padanya. Dira mengejutkan kelas dan membuat tubuhnya panas dingin, karena kegeraman yang menguasi otaknya dia harus menggebrak meja tanpa sengaja.



"Dira, kamu kenapa? Apakah kamu tidak setuju dengan jawaban Bela? " Tanya bu guru sambil menatap Dira.



"Ti.. Tidak bu, saya hanya.. "


"Cepat kamu maju dan kerjakan soal nomor 4" Karena ulahnya sendiri dia harus mengerjakan soal yang sama sekali tidak masuk di dalam otaknya.



"Sial, ini semua karena Bela" Gumam Dira dalam hati dan sejenak dia menoleh pada Bela yang terlihat melemparkan senyuman untuk Dira.



Ingin rasanya Dira mengumpatkan banyak kata-kata. Yang pertama untuk Bela karena mendapatkan pujian di dalam kelas oleh guru dan seluruh siswa.



Yang kedua untuk Bela juga karenanya tangan Dira menggebrak meja tanpa disadari. Sebab telah di kuasai oleh kebencian. Dan yang terakhir umpatan ingin dia berikan untuk Bela karena tersenyum saat Dira maju ke depan kelas.




\*tetttt\*



Bel istirahat berbunyi, Bela segera pergi dari kelas bersama Brandon. Seperti biasa mereka berdua ingin pergi ke kantin untuk mengisi perutnya yang sedang kosong.



"Bel, bagaimana bisa kamu mengerjalan soal yang sulit itu? " Tanya Brandon penasaran, karena dia yang sudah mengikuti pelajaran dari awal tapi masih belum paham dengan soal tersebut.



"Ah itu, karena Mario yang selalu membantu untuk mengajariku tentang soal-soal yang ada" Jelas Bela.



Padahal itu hanya alasan saja, karena kebenarannya adalah Bela memang pintar dari lahir dan dia juga secara diam-diam mempelajari ketertinggalannya. Tapi dia sengaja menyembunyikan kepintarannya karena hanya membutuhkan kasih sayang dari sang ayah.



Dan sekarang berbeda lagi urusan dan tempat, karena Bela ingin menunjukkan seberapa jauh otaknya berfikir agar bisa mengikuti semua mata pelajaran yang ada.



Sedangkan belajar dengan Mario adalah sebuah alasan yang dibuat agar selalu bisa dekat bersama Mario dan membuat adik iparnya itu tersenyum dari sifat dinginnya.



"Baru kali ini aku melihat Mario mau mengajari seseorang" Ujar Brandon heran, karena yang dia tau Mario tidak suka mengajari orang lain walaupun dirinya pintar.



"Maksudmu? " Tanya Bela karena belum paham dengan ucapan Brandon.



"Iya, karena Mario siswa terbaik di kelas dan juga memiliki sifat dingin, jadi semua orang tidak ada yang berani mendekat. Jangankan minta mengajari soal, di dekati saja dia menghindar" Jelas Brandon.



Sebegitu dinginkah Mario sehingga dia tidak memiliki teman hingga duduk di bangku kelas 2. Pikir Bela berjanji pada dirinya sendiri untuk mengembalikan senyum dan tawa Mario seperti dulu lagi.



Setelah menikmati makanan di kantin, Bela dan Brandon hendak masuk ke kelas. Namun terlihat sorakan ramai di lapangan basket yang membuat Bela ingin menuju ke sana untuk melihat dan menghilangkan rasa sumpek dalam dirinya.



Ternyata ada beberapa siswa yang asik bermain basket dengan menunjukkan beberapa skilnya. Salah satu yang ada di lapangan adalah Beni, permainan basketnya cukup membuat Bela tertarik.

__ADS_1



"Wah permainan bola basket bagus banget si Beni main juga lagi main Bel" Ucap Brandon yang berdiri di sampingnya.



"Iya, jago juga dia main" Kali ini Bela setuju dengan Brandon karena menang kenyataan yang terlihat, beni sangat jago bermain basket. Walaupun itu hanya pertandingan dadakan yang dilakukan oleh para siswa saat istirahat.



Mata mereka sibuk memperhatikan permainan, tanpa disadari ada sepasang mata yang sudah menetapkan Bela menjadi targetnya untuk balas dendam. Dia adalah Dira yang sudah menatap Bela sedari tadi saat mereka berdua datang dan menonton pertandingan.



Bibir Dira tersenyum, dia sudah mencari cara yang ampuh untuk melakukan balas dendam pada Bela. Terlihat sebuah bola basket menganggur di hadapannya.



"Sekarang waktunya, aku akan membuat otakmu geser" Batinnya berseru dengan licik. Dia sudah mengunci pemain yang memegang bola dan akan melakukan syuting di dalam ring.



Dira membidik pemain yang sudah bersipa-siap. Dia segera melemparkan bola basket pada tangan pemain itu agar lemparan pemain tersebut meleset dan mengenai kepala Bela.



\*bluk\*



"Awas" Perhitungan yang tepat membuat semua orang berteriak pada Bela untuk menghindar.



Setelah Dira melemparkan bola basket pada pemain yang sedang asik bermakn di tengah lapangan, dan bola dari siswa lelaki itu melesat dan menuju ke arah Bela.



Semua berteriak kencang untuk mengingatkan bahwa Bela harus menjauh karena bola basket akan mengenainya. Bela sudah pasrah karena tidak ada waktu untuk menghindari.



Untung saja ada sebuah tangan yang sigap menangkap bola itu dan melindungi Bela dengan tangannya. Dia adalah Beni yang memperhatikan Bela dari tadi.



\*buk\* bola terjatuh tepat dalam tangkapan tangan Beni.



Semua mata terpanah melihat aksi Beni yang sangat sigap. Beberapa siswa yang bermain juga meminta maaf karena keteledorannya melemparkan bola sembarang.



Sedangkan Dira semakin kesal, dia segera pergi dari lapangan karena bola itu tidak mengenai target balas dendamnya yaitu Bela.



"Ah sial, kenapa harus ada Beni sih" Ketusnya mengoceh sendiri sambil beranjak pergi dari pinggir lapangan.



"Etsss, kau pikir aku tidak melihatnya bahwa tanganmu sengaja melemparkan bola agar syuting Diki meleset dan mengenai Bela" Ucap wanita di hadapannya yang menghadang Dira untuk pergi.



Dia adalah Sela teman sekelas mereka. Sela memang tidak selalu bermain dengan Bela, akan tetapi dia mengerti bahwa hal yang salah tidak boleh dilakukan dan hal yang benar harus diperjuangkan.



Maka dari itu saat Sela melihat Dira melakukan hal itu, dia langsung menegurnya. Apalagi sekarang Dita hanya berjalan sendiri dan tidak bersama gengnya.



"Apaan sih, jangan sotoy deh" Sahutnya dengan tatapan kesal.



"Dira, Dira, aku tau jika kau menyukai Mario tapi bukan berarti kau menghalalkan segala cara untuk menyakiti Bela bukan. Sudah terlihat jelas bahwa kualitas mu sangat rendah" Ejek Sela sambil tersenyum puas.



"Maksudmu? "


"Masih bertanya lagi? Makanya belajar itu di resapi, jangan masuk telingak akan dan keluar telinga kiri. Kan jadinya kolot" Ujar Sela kembali.



Sela memang tidak banyak bicara, akan tetapi jika dia bertindak maka semua akan terbungkam dengan sendirinya.



Ucapannya sangat tajam bagaikan pedang yang menghunus langsung hingga tembus ke lubuk hati paling dalam. Dan ucapannya adalah racun bagi lawan yang sedang berdebat dengannya.



Pantas saja Sela sering memenangkan lomba debat bahasa Indonesia. Ternyata kualitasnya tidak main-main menghadapi lawan yang pandai. Apalagi menghadapi lawan seujungng kuku seperti Dira.



"Tutup mulut sampahmu itu" Ketua Dira.



"Jika aku mulut sampah, lalu kau sampahnya kan? " Jawaban Sela sangat santai sehingga kembali membuat Dira semakin kesal



Perdebatan yang cukup mencekam antara Dira dan Sela yang berselisih paham atas tindakan jahat yang dilakukan oleh Dira pada Bela.

__ADS_1



~~~~ BERSAMBUNG ~~~~


__ADS_2