
Bela dan Sela segera menuju ke ruangan seni untuk mengetahui hasil dari seleksi melukia kemarin. Bela masuk ke dalam ruangan sementara Sela menunggunya dengan sabar di luar ruangan.
"Bagaimana hasilnya? " tanya Sela dengan penuh penasaran saat melihat sahabatnya yairu Bela keluar dari ruangan seni.
"Tidak baik " Ucapan itu terdengar lirih dari mulut Bela.
Bela menampakan wajah lesu dan memberitahu Sela bahwa dirinya tidak lolos dalam seleksi melukis dari sekolah tersebut.
Bela memaklumi itu karena dia juga baru saja kembali memulai untuk melukis setelah beberapa tahun lamanya menghentikan diri dari lingkungan lukis. Sedangkan beberapa teman lainnya pasti sudah melalui latihan yang banyak sehingga mereka lolos.
"Tidak jadi kita berpesta karena keberhasilanmu " seru Sela untuk memberikan hiburan lewat sedikit candaan pada sahabatnya itu.
"Sudahlah ayo kita pergi lagi pulang masih banyak kesempatan lain untukku belajar melukis lagi bukan " Bela kembali tersenyum dan melupakan masalah itu karena dia tahu apa yang terjadi saat ini biarlah berlalu dan apa yang akan terjadi selanjutnya harus dipersiapkan dengan baik untuk mendapatkan hasil yang terbaik.
"Astaga rupanya ada yang tidak lolos seleksi ya, makanya jangan sok-sokan bisa melukis. Paling-paling gambarnya kayak anak SD "Dira tiba-tiba datang bersama gengnya lalu mengejek Bela yang sedang berdiam diri karena gagal dalam seleksi tersebut.
"Hahaha, kasihan sekali besti" mereka mengejeknya dengan keras. Ucapan yang sangat mengasikkan bagi mereka sehingga menimbulkan tawa di atas penderitaan orang lain.
"Kau ini "Sela mulai geram dan tangannya mengepal ingin menonjok Dira, akan tetapi Bela menahannya karena percuma saja menonjok Dira tidak akan mengembalikan dirinya menjadi lulus dalam seleksi tersebut.
Bela memberikan isyarat dan menggeleng pada Sela agar tidak terpancing emosi pada orang seperti Dila.
"Lain kali belajar dulu gih di TK atau di SD , hahaha " lagi-lagi Dira mengejek dengan senang saat melihat kegagalan dari Bela, di seleksi seleksi awal ini hatinya benar-benar bahagia karena musuh bebuyutannya tidak lolos dalam seleksi tersebut.
"Kau memang berbakat, tapi bukan hanya melukis melainkan juga menyindir orang. Sebaiknya kau lebih cocok ikut debat deh" seru Bela pada Dira lalu dia mengajak Sela pergi, sedangkan Dira sakit hati dengan jawaban yang Bela berikan.
Lagi-lagi dirinya merasa kalah karena omongan Bela selalu benar dan tepat. Dira banyak berbicara dan selalu menyindir orang-orang yang ada di sekitarnya bahkan tidak segan-segan untuk merundung mereka yang lemah.
Untung saja kali ini Bela memiliki ketenangan hati yang baik karena dia tidak ingin ada pertengkaran di lingkungan sekolah. Sebab Bela ingin berubah menjadi lebih baik dari Bela yang dulu.
"Kenapa aku menahanku, biarkan saja aku memukul kepalanya "gerutu Sela tidak setuju dengan perlakuan Bela saat dia menahan tangannya yang siap menghantam Dira.
"Sudahlah lupakan saja, orang seperti itu akan jatuh dengan sendirinya lebih baik kita ke kelas hubungi Mario dan Brandon " ajak Bela sambil merangkul sahabatnya dengan akrab. Semakin hari mereka berdua semakin dekat seperti perangko yang susah untuk dilepaskan.
Persahabatan yang baik adalah mereka yang mampu mengikuti kehidupan sesuai dengan waktu. Walaupun awalnya bergulir dengan canggung, namun semakin lama akan mengikuti waktu sehingga membuat mereka menjadi terbiasa.
"Baiklah ayo kita ke kelas" Selansegera menghubungi Brandon dan Mario agar segera pergi ke kelas, sesampainya mereka di sana Sela menceritakan bahwa Bela telah gagal dalam seleksi tersebut.
Mario dan Brandon mencoba menguatkan Bela padahal Bela sendiri terlihat sangat tenang sebab dia mengerti bahwa dirinya pantas mendapatkan kegagalan karena telah lama tidak memegang kuas dan juga kanvas untuk melukis.
Jadi kegagalan awal adalah sebagai bukti bahwa masih ada perjuangan di lain waktu dengan belajar dari kegagalan tersebut serta berjuang lebih banyak lagi untuk mendapatkan hasil yang terbaik.
"Memangnya kau gambar apa Bela? " tanya Brandon dengan wajah penuh penasaran dengan lukisan Bela.
"Aku menggambar hutan dengan senja "jelas Bela.
"Bagaimana bisa menggabungkan senja dengan hutan, sedangkan di sana kau tidak meletakkan serigala" ujar Brandon dengan santainya.
"Hahaha, "mereka bertiga tertawa dengan keras kecuali Mario dengan menunjukkan giginya namun suaranya kecil.
__ADS_1
"Kali ini aku setuju dengan Brandon kau harus meletakkan serigala kalau bisa letakkan juga Brandon dimakan serigala" sambung Mario dan lagi-lagi hal itu membuat tawa mereka berempat kembali.
"Sepertinya ide Mario bagus, aku juga memihak padamu Mario "sambung Sela karena merasa ucapan Mario benar.
" Sudah, aku meletakkan singa di tengah hutan" seru Bela kembali membuat tawa mereka semakin menjadi-jadi.
Dan lagi-lagi hal itu kembali membuat mereka bahagia dengan dunia yang diciptakan sendiri. Sebenarnya mereka hanya menghibur Bela agar tetap semangat dan tidak putus asa dengan seleksi yang baru saja gagal.
Sementara itu Dira yang baru masuk ke dalam kelas semakin kesal karena matanya tidak melihat kesedihan yang dia dapatkan dari wajah Bela melainkan dia tertawa riang seakan merayakan kemenangan bersama ketiga sahabatnya.
"Sialan, dia gadis sialan. Aku sudah membuatnya kalah, tapi tetap saja dia tertawa dan seperti tidak terlihat menderita saja" Gumam Dira dengan memberikan tatapan bengis.
Dira juga sangat kesal bila melihat Bela terus melekat bersama Mario sehingga otaknya terasa ingin menyemburkan api cemburu.
Memang orang iri tidak akan pernah ada habisnya untuk melakukan kejahatan pada seseorang apabila dia merasa gagal maka hatinya tidak akan merasakan ketenangan.
Namun demikian sebaliknya, jika sekali saja dia berhasil maka terasa dirinya telah terbang setinggi mungkin. Akan tetapi saat dia tidak bisa melakukan apa yang dia inginkan maka pikirannya selalu merasa gelisah. begitulah yang akan terjadi pada Dira, karena dia hanya memiliki rasa kebencian pada Bela.
"Tidak lolos seleksi aja sok-sok an tertawa, lebih baik kau bersedih karena dirimu tidak bisa mengikuti lomba melukis "sindir Dira pada Bela.
Seketika mereka berempat langsung menatap Dira dengan sinis seakan-akan ingin membuat persidangan dan Dira adalah tersangkanya.
Sorotan tajam kembali diberikan secara bersamaan, begitu juga dengan Mario tidak ada raut wajah tenang akan tetapi sorotan mata yang menandai Dira.
" Semakin hari mulutmu semakin kotor, seharusnya kau harus mencucinya "ujar Mario sambil menatap datar pada Dira.
"Kenapa kamu mengatakan begitu, aku kan hanya menyatakan kebenaran "Sahut Dira kembali manja pada Mario dan tangannya mencoba merangkul lengan Mario akan tetapi penolakan lagi yang dia dapatkan. Sebab Mario merasa jijik dengan Dira yang selalu berkata kasar serta sombong.
Mendengar perkataan Dira itu tidak segera pergi dari hadapan Mario dengan wajah manyumnya. Di lain sisi dia senang karena Bela tidak lolos Seleksi, dia selalu sedih karena Mario tidak pernah membuka hati untuknya.
Namun Dira tidak pernah putus asa karena dia selalu memiliki kepercayaan yang tinggi bahwa Mario akan segera jatuh di tangannya. Awalnya dia hanya mencintai Mario karena penasaran dengan lelaki dingin sepertinya akan tetapi semakin hari cintanya semakin tumbuh dan memiliki ambisi untuk mendapatkan hati Mario.
"Duduklah cepat, jangan memenuhi pandnaganku" Bentak Mario pada Dira yang membuat gadis itu terdiam dan duduk seketika.
Sementara itu Sela, Bela dan Brandon menahan tawanya lalu tiba-tiba tawa itu pecah saat Mario menyuruh Dira duduk sehingga dia terbungkam. Tanpa perlakuan apapun hanya ucapan seperti itu saja Dira kena mental. Akhirnya dia berdiam diri dengan wajah manyunnya dan rasa kesal di wajahnya.
"Minumlah aku tahu kau tidaklah menang dalam seleksi bukan, jadi segarkan saja pikiranmu "Beni datang membawa segelas minuman pada Bela. Dia memberikan perhatiannya sehingga membuat Mario semakin dirundung dengan rasa cemburu.
"Terima kasih " Tutur Bela dengan ramah, kemudian Beni memberikan wajah gembiranya lalu duduk dengan senang. Karena setiap pemberian yang dia berikan untuk Bela, selalu dihargai oleh gadis yang dia cintai yaitu Bela.
Pulang sekolah Bela memiliki rencana, dia ingin pergi ke suatu tempat untuk mensurvei bagaimana caranya dia bisa kembali ke tempat kota lahirnyan hanya untuk menebus kerinduan pada Roy.
Saat bel dibunyikan seperti biasa mereka jalan berempat keluar dari kelas lalu berpencar di depan gerbang kecuali Mario yang akan melakukan les di ruang guru karena beberapa minggu lagi Dia harus mengikuti lomba olimpiade nasional.
"Kalian hati-hati ya "teriak Bela pada Sela dan juga Brandon.
"Kau juga harus hati-hati "mereka berdua melambaikan tangan dan menjawab dengan senyuman pada Bela.
Setelah melihat langkah sahabatnya pergi, bela kembali berfikir untuk mencari cara agar dia bisa menemui Roy yang telah lama dia rindukan.
__ADS_1
"Aku harus naik apa ya biar bisa mencari tahu terminal terdekat agar bisa kabur dari kota ini "ku membela berbicara sendiri dan berunding dengan dirinya sendiri.
Dia tidak tahu bagaimana caranya keluar dari kota ini dan bisa menuju ke kotanya. Karena Bela Baru kali ini berada di luar kota dan sungguh hal yang asing baginya. Tidak lama kemudian terlihat Beni yang baru saja keluar dari parkiran dengan gayanya seperti biasa bersama motor yang dia bawa.
Bibir merah tersenyum saat melihat benibeni mdmbuat Bela merasa bahwa Tuhan mengirimkan jawaban dari pikiran yang belum dia selesaikan.
"Beni tunggu, kau mau ke mana " Bela segera berlari dan mencegat motor beni.
"Yang jelas aku pulang Bela, mau ke mana lagi" tutur Beni halus dan lembut disertai dengan senyuman pada Bella.
"Ikutlah denganku" Ajak Bela pada Beni dan dia langsung menaiki motor Beni dan berbonceng di belakangnya. Beni tidak menolak hal itu justru dia semangat dan senang karena orang yang dicintainya berboncengan bersamanya.
Beni tersenyum membayangkan film romantis bersama Bela sungguh hal yang menguntungkan di siang-siang saat pulang sekolah. Beni merasa bahwa tadi malam dia mendapatkan mimpi indah dan sekarang baru diwujudkan oleh Tuhan.
Sungguh kebahagiaan yang membuat hati Beni berbunga-bunga, dirinya berfikir bahwa Bela akan mengajaknya ke suatu tempat favorit yang sangat indah dan berbicara hanya empat mata tanpa adanya gangguan dari Mario.
"Aku rasa Bela akan membawaku untuk berkencan" Gumam Beni dalam hati sambil memberikan senyuman disepanjang jalan.
Kepercayaan dirinya sangat meningkat, karena selama ini dia sangat menyukai Bela. Namun tiba-tiba pikiran bahagia itu berubah menjadi buruk. Saat Beni mengingat beberapa waktu yang lalu dia pernah mengantar Bela ke rumahnya dan bertemu suami Bela yang kejam. Berulang kali dia mendapatkan ancaman agar tidak mendekati Bela lagi.
"Sebentar, bagaimana jika dia membawaku ke rumahnya? Apakah aku harus mati di tangan suami Bela? Astaga Tuhan" Keluh Beni dalam hati.
Mendadak wajah Beni terlihat gelisah dan pucat. Dia takut apabila bertemu dengan suami Bela yang sangat kejam. Terlihat jelas dari dia hanya yang penuh amarah serta dingin tanpa memiliki kehangatan apapun.
Apalagi sorotan matanya seperti harimau yang sesuai lapar. Mendadak tubuh yang dingin saat kembali mengingat bahwa di rumah Bela terdapat beberapa penjaga dengan tubuh yang gagah dan melindungi rumah Bela.
Sedikit Beni memiliki rasa trauma, karena pada saat Bela sakit waktu itu Beni sempat berkunjung namun dia mendapatkan pengusiran yang sangat kejam dari para penjaga di rumah Bela serta suami Bela.
"Beni, Beni" Teriakan Bela tidak di dengar oleh Beni.
*buk* pukulan keras mendarat pada punggung Beni sehingga membuatnya terkejut.
"Ada apa Bela? " Sahutnya dengan teriakan pula, karena suara motor mengaung di telinga mereka sehingga berbicara kecil tidak akan terdengar jelas oleh lawan bicaranya.
" Apa kau tahu di mana Terminal "tanya Bela.
" Iya tahu, Memangnya kenapa? " sahut Beni. Bel hanyaa tersenyum dengan hal itu akhirnya dia menemukan terminal terdekat.
"bawa aku ke sana, Aku ingin jalan-jalan mengitari terminal. " ucap Bela secara antusias. Akhirnya Beni membawa Bella ke Terminal sekaligus dia mencari Kesempatan agar bisa dekat dengan bela walaupun hanya sebentar saja di atas motor.
Beni melakukan banyak cara agar Bela semakin dekat dengannya mulai dari rem mendadak, menyuruh Bela untuk pegangan dan berbicara tentang banyak hal walau terkadang omongan mereka tidak nyambung.
Karena kebisingan kendaraan membuat pendengaran mereka terganggu. Akan tetapi hal itu membuat Beni sangat senang sebab dia memiliki banyak waktu untuk bersama Bela kali ini.
Sesampainya di terminal Bela kembali tersenyum seakan telah melihat sedikit dari tampang tujuannya. Lalu dia tidak turun kemudian meminta Beni untuk kembali berkeliling di jalanan kota.
Sementara itu Alex sudah lama menunggu di depan sekolah akan tetapi dia tidak melihat kedatangan Bela juga. Alex mencoba menelpon ponsel Bela namun tidak ada jawaban, dia juga menelpon Mario dan sama saja tidak ada jawaban juga.
"Lagi-lagi dia tidak ada di sekolah" Gumam alex sambil menatap gerbang sekolah dengan lesu.
__ADS_1