
"Bersabarlah sebentar lagi makananmu datang, dan setelah itu kau harus tertidur" Ucap Alex.
Bela kembali mengangguk setuju.
*drettt, drettt, drettt* dering ponsel Alex berbunyi. Dia segera mengangkatnya.
"Halo sayang, " Alex mengangkat telepon dan menjauh dari Bela. Dia keluar sebentar untuk menerima panggilan itu.
Beberapa menit kemudian Alex masuk dengan membawa wajah yang sangat sumringah. seperti mendapatkan jakpot dalam hidupnya. Dia segera mendekat pada Bela untuk mengatakan sesuatu.
Ternyata pacar alex yang sedang berada di Amerika akan pulang ke Indonesia karena kuliah sedang libur. Itu sebabnya Alex tersenyum dengan sangat gembira.
"Kau tau bahwa pacarku akan pulang ke Indonesia, dan aku sangat merindukannya" Jelas Alex pada Bela sambil tertawa kegirangan.
Sudah 3 tahun lebih mereka tidak bertemu tapi tetap menjalani hubungan jarak jauh. Meski di belakang Alex suka bermain wanita, tapi hatinya tetap setia dengan satu wanita yang menjadi cinta pertamanya. Dan wanita diluar hanyalah pemuas nafsunya.
Bela ikut bahagia saat melihat senyum Alex, karena hal itu juga membuat Bela terhibur. Di saat luka seperti ini, Bela membutuhkan hiburan yang cocok dengannya yaitu Alex.
"Aku ingin bertemu dengannya kak" Ucap Bela secara perlahan sambil menahan rasa sakit.
"Aku akan membawanya kesini jika dia sudah datang ke Indonesia" Sahut Alex dengan lembut, sambil mengelus kepala Bela.
Kedekatan mereka tidak bisa di ragukan lagi, pasti seseorang merasa bahwa ada rasa cinta dalam diri mereka berdua. Namun rasa cinta itu bukan tentang pasangan kekasih melainkan seorang kakak dan adik.
Bela juga bersyukur karena masih ada Alex yang sangat peduli padanya di saat dia harus tinggal dan menikah dengan seseorang yang arogan yaitu Bara. Tapi Alex datang seakan membantunya untuk tetap tertawa.
Tidak lama kemudian makanan yang dipesan oleh Bela sudah datang, tapi Bela hanya memakan 1 saja. Dia sengaja membeli banyak untuk di berikan pada Bara, Alex, dan sisanya untuk para ajudan yang yang berjaga.
"Apakah tubuhmu sudah membaik? " Tanya Alex pada Bela.
Alex sudah berada di kamar Bela seharian hingga malam tiba tetap saja menanyakan hal yang sama berulang kali.
"Hmm, sudah" Jawaban Bela tetap sama, dia selalu menjawab bahwa tubuhnya membaik. Padahal rasa sakit masih membekas, dan mungkin akan meghilang selama 3 hari ke depan.
Sedangkan Bara tidak terlihat batang hidungnya, dia hanya datang di pagi hari saja dan siangg, sore atau malampun tidak menjenguk Bela. Memang tuan kepala batu yang tidak memiliki perasaan.
Bela sudah terbiasa dengan hal tersebut, untungnya masih ada Alex yang menjadi tempatnya untuk berbicara dan becanda. Walaupun yang berbicara hanya sepihak yaitu Alex saja, karena Bela malas untuk berbicara.
"Bel, apa hobimu? " Tanya Alex sambil menyeret kursinya agar kembali mendekati ranjang Bela.
"Melukis"
"Benarkah?" Alex sanagt antusias mendengar hobu Bela.
Bela mengangguk.
Dia menceritakan perjalannya tentang melukis. Sewaktu kecil saat mamanya masih hidup, Bela suka melukis dan selalu ikut perlombaan kecil.
Akan tetapi dia berhenti melukis semenjak kepergian mamanya, lalu dia kembali bertemu anak jalanan namanya Roy yang menjadi sahabatnya saat dia masih tinggal di kota yang sana.
Setiap hari minggu Bela akan pergi dengan Roy untuk melukis liat di jalanan. Sebenarnya Bela bisa membelai alat lukis yang mahal, tapi dia memilih untuk berbaur dengan anak jalanan yang suka melukis dengan media seadanya.
"Tema apa yang paling kau sukai? " Tanya Alex lagi.
Dia semakin penasaran dengan Bela, karena yang dia tau Bela adalah anak nakal di sekolahnya. Dia sering bolos pelajaran dan kabur dari sekolah sehingga membuat Pras begitu marah.
"Pemandangan, alam yang di ciptakan Tuhan" Bela sangat tertarik dengan pemandangan, setiap dia naik mobil maka netranya akan tertuju pada pohon yang berjajar.
"Sangat bagus, suatu hari nanti aku ingin melihat lukisanmu" Ucap Alex. Bela mengangguk dan tersenyum sebagai tanda menyetujuinya.
Alex terlihat sangat mendukung mimpi Bela. Karena Hampir 40% kehidupan yang Bela jalani diketahui oleh Alex. Tentang Ana, El, sekolah Bela dan beberapa hal lainnya. Tapi dia tidak memberitahu tentang hal itu pada Bara.
Karena menurutnya akan sia-sia menceritakan kehidupan Bela pada Bara yang masih menyimpan dendam dengan selalu memengungkit nama Pras setiap nama Bela disebut.
Jadi Alex memilih untuk bercerita sedikit tentang Bela, selebihnya dia simpan untuk jaga-jaga apabila ada hal yang akan terjadi suatu saat nanti.
"Sekarang tidurlah, aku akan tidur di luar" Tangan Alex kembali mengusap lembut, seperti yang sering dia lakukan pada Denada saat sedang sedih dan susah untuk tertidur.
*klek* pintu tertutup rapat.
Bela segera mencari ponselnya untuk mengirim pesan pada Mario. Dirinya rindu dengan Mario karena semenjak Mario berlatih keras untuk Olimpiade, mereka berdua jarang bertemu.
Jadi rasanya sangat khawatir dengan keadaan masing-masing tapi tidak pernah menemukan jawaban karena pertemuan yang sangat terbatas. Apalagi hari ini dan hari selanjutnya, karena keadaan Bela belum juga stabil.
"Hah kenapa banyak sekali pesan Mario? " Ucap Bela bertanya-tanya pada dirinya sendiri setelah mengecek ponsel ternyata Mario mengirim pesan sangat banyak.
Bela membukanya satu per satu, ternyata Mario mengatakan ingin pamit pada Bela pagi tadi untuk pergi ke luar kota melaksanakan olimpiade kurang lebih selama seminggu.
Akan tetapi Bela tidak masuk dan membuat Mario khawatir dengan keadannya. Jadi Mario mengirimkan pesan yang cukup banyak untuk bertanya tentang keadaan Bela.
Karena dia hanya bisa mengirim untuk hari ini saja, sedangkan untuk besok dia sudah tidak akan bermain ponsel selama di asrama karena fokus untuk berlatih dan mengerjakan soal olimpiade yang diberikan.
"Bagaimana keadaanmu Bela, kenapa kau tidak masuk sekolah? aku sangat mengkhawatirkan mu" Isi pesan dari Mario yang terus berulang hingga menumpuk.
"Mario tenanglah, aku sedang ada kepentingan jadi tidak masuk sekolah. Aku harap kau tidak khawatir berlebihan karena aku baik-baik saja. Dan jangan lupa tetap fokus untuk olimpiade yang kau jalani, aku sangat senang bila kau membawa pulang kemenangan"
*ting* pesan terkirim
__ADS_1
Bela menuliskan bahwa dirinya baik-baik saja untuk mencegah kekhawatiran Mario yang dapat merusak olimpiadenya. Dia tidak mau pikiran Mario terganggu tentang keadaannya saat ini.
Bela sanhat menyayangi Mario sebagai sahabat dan juga brandon. Jadi dia tidak mau hal kecil terjadi pada sahabatnya. Dia ingin mario menggapai mimpinya yang sudah di depan mata.
Apabila Mario memenagkan olimpiade ini maka dia akan melaksanakan seleksi kembali untuk melaksanakan olimpiade Internasional yang dilaksanakan di luar negeri. Kesempatan tidak datang dua kali, maka dari itu Bela memberikan semangat pada Mario walau hanya dalam pesan saja.
"Aku harap kamu menang mario, tunjukkan kepercayaan dirimu dan kerjakan semuanya dengan tenang. Karena kau adalah pemenang sejati" Gumam Bela dalam hati.
Mereka berdua saling membalas pesan singkat hingga larut. Tidak lupa Bela juga membalas pesan dari Brandon yang merasakan kesepian saya Bela tidak masuk sekolah.
"Apakah besok kau masuk Bela? " Tanya Brandon.
"Tidak, aku ada kepentingan yang tidak bisa ditinggalkan. Mungkin beberapa hari ke depan" Bela kembali berbohong.
Dia hanya ingin masalah dalam hidupnya disimpan rapat dan tidak boleh ada yang mengetahui hal tersebut. Apalagi tentang dirinya yang sudah menjadi istri seorang lelaki di usianya yang terlalu dini.
Biarlah kehidupannya yang kelam dia simpan rapat-rapat dan kehidupan yang bahagia akan selalu dia sebarkan untuk membuat semua orang bahagia saat berada di dekatnya.
Malam larut begitu saja, Bela terlelap sambil memegang ponsel dan terlelap dengan tangan yang masih terdapat selang infus untuk membantunya pulih.
"Apakah dokter sudah memeriksanya? " Tanya Bara yang baru keluar dari kamarnya.
"Sudah, tapi dia tertidur saat dokter memeriksa dan mengganti cairan infusnya yang sudah kosong" Sahut Alex menjelaskan sedikit.
Sebenarnya Alex merasa kesal dengan Bara, karena dia tidak menjenguk Bela sedikitpun setelah apa yang telah dia lakukan pada gadis malang itu.
Tapi Alex tidak bsia berkata apapun, karena dia tau sifat ego bara sqngat besar. Dia tidak mau kehidupannya di atur oleh orang lain kecuali oleh oma.
Sebenarnya ada sedikit kepedulian dari hati Bara, tapi dia tetap saja tidak ingin menunjukan tentang kepedulian itu. Apalagi dia merasa tenang karena ada Alex yang membantunya untuk menjaga Bela.
Berhari-hari Bela bergelut dengan rasa sakit, sudah seminggu dia tidak masuk sekolah karena berupaya untuk menghilangkan bekas luka di wajahnya agar tidak ada yang mengetahui tentang apa yang telah dia alami.
"Kak, aku ingin sekolah besok" Ujar Bela yang baru saja keluar dari kamarnya dan duduk di samping Alex.
"Sekolah? Apa kau gila? " Alex menatapnya dengan heran.
"Jelas saja kau gila, karena besok hari minggu" Sambung Alex. Sejenak Bela terdiam mencerna perkataan Alex.
"Hahahahaha" Suaranya tertawa dengan kencang.
Karena sudah berhari-hari tidak sekolah membuat Bela lupa akan waktu untuk sekolah. Dia tidak tau jika besok adalah hari minggu. Jadi dia bersemangat untuk sekolah tapi yang ada mendapatkan ejekan oleh Alex.
Mendengar tawa bela, Alex juga kut tertawa dengan keras. Karena tawa yang Bela keluarkan sangat candu dan membuat orang disampingnya ikut tertawa mendengar suaranya.
"Kenapa ada hari minggu? Membuatku bingung saja" Ujar Bela
"Bodoh, hari minggu sudah ada sebelum kau lahir"
"Hahahha" Tawa mereka berdua semakin kencang, membuat Bara yang ada di kamarnya merasa terganggu.
Dia melihat kelakuan sahabat dan istrinya yang sedang asik tertawa keras di ruang tengah. Ada rasa tenang dalam pikiran Bara setelah beberapa hari tidak mendengar suara Bela berbicara apalagi tertawa.
Dan hari ini dia kembali mendengar suara itu. Selama nela sanhat bahagia dan tenang saya betdua dnegan Alex. Tawanya sangat lepas dan selalu merasakan bahwa setiap ucapan mereka adalah lelucon.
"Sudahlah jangan banyak tertawa, nanti pipimu keriput" Alex memberekian peringatan yang lucu.
__ADS_1
"Tenang saja, jika keriput aku akan menjahitnya biar kencang" Kembali suara tawa terdengar dari mulut mereka di malam itu.
Benar-benar suasana yang sangat asik bila dilihat. Akhirnya Bara kembali masuk ke dalam kamarnya dan menghiraukan tawa meraka. Padahal tadi dia berfikir jika Alex gila tertawa sendiri dnegan orang lain, ternyata orang itu adalah bela.
Bara mengurungkan niatnya untuk memarahi Alex dan dia kembali menatap ke satu tujuan yang sedang dia buat. Anggaplah membuat skenario balas dendam.
"Kak, katanya pacarmu akan datang? Tapi kenapa belum datang juga? " Sudah seminggu sejak Alex mengatakan hal itu, namun pacarnya belum datang juga.
"Entahlah, aku sudah berjamur menunggunya" Terlihat wajah putus asa Alex karena lelah menunggu sebuah kepastian yang belum terlihat adanya.
"Pantas saja kau bau" Sahut Bela spontan.
Hal itu membuat Alex sangat gemas dengan Bela, jadi dia mengejarnya dan ingin menggelitik Bela sebagai tanda hukuman karena telah berani mengoloknya.
Mereka berdua berlarian sambil bersenang-sennag, gadis polos itu seakan telah melupakan rasa sakit yang di derita kemarin. dan sekarang tawanya kembali normal.
Alex juga melihat dengan rasa bahagia, tawa Bela telah kembali setelah beberapa hari membeku karena terbaring di kamarnya. Rasanya lelucon Alex juga kembali dengan mengejar Bela yang tertawa sambil mengelilingi sofa.
"Ikutlah denganku" Tidak lama kemudian Bara menarik tangan Bela. Dia sudah berpakaian rapi seperti sedang ingin berkencan.
Alex melihat hal itu, dia sangat heran dengan sahabtanya. Beberapa jam di dalam kamar dari kemarin kemudian keluar dan menarik lengan gadis kecil dan berkata ingin keluar dengannya.
Bara juga menggunakan pakaian seperti anak muda dengan umur belasan tahun yang ingin berkencan. Menggunakan sepatu sneakers dengan celana jeans, serta didampingi kaos putih yang dibalut kemeja.
Benar-benar seperti seorang pemuda yang masih duduk di bangku SMA. Terlihat sangat lucu, padahal Bara lebih suka menggunakan jaket kulit dan baju serba hitam. Tapi kali ini terlihat sangat dia tampil berbeda
"Mau kemana tuan? " Tanya Bela penasaran, dan tangan Bara masih mencengkeram lengannya.
"Cepatlah ganti baju dan jangan banyak bicara" Ujarnya sambil mendorong Bela masuk ke dalam kamar agar segera mengganti bajunya.
Alex penasaran dengan sahabtanya, jadi dia segera menarik tangan Bara agar duduk berdua untuk menanyakan hal tersebut. Dan raut wajah Bara terlihat semakin muda saat berpakaian seperti itu.
"Kau mau mengajaknya kemana? " Tanya Alex
"Diamlah, aku ingin keluar dan kau jaga rumah ini" Sahut Bara.
"Siap bos, keluarlah dan tebus kesalahanmu dengan berkencan bersama gadis itu" Ujar Alex menggoda sahabatnya.
"Berisik" Ketus Bara membuat Alex tertawa sambil menyembunyikan wajahnya.
Pikiran Alex bertamasya tentang sahabatnya, dia berfikir bila Bara akan mengajak Bela jalan-jalan untuk menebus kesalahannya yang kemarin. Karena yang Alex tau jika Bara berdandan seperti itu, maka dia keluar sementara dari identitasnya sebagai mafia.
Lalu Bara akan berjalan-jalan untuk menikmati dunia dan menghilangkan jenuh di hatinya walau wajah dia masih tetap datar dan tidak ada ekspresi apapun yang terlintas.
~~~~ BERSAMBUNG ~~~~
__ADS_1