Antara Cinta Dan Mafia

Antara Cinta Dan Mafia
68. Melukis Kembali


__ADS_3

Hanya ada mereka berdua di atas atap, Ana terdiam duduk di samping Roy bersama hembusan angin yang belum pernah ana rasakan di atap sekolah.


"Bela adalah wanita paling mandiri yang pernah aku temui hingga saat ini, dan tidak akan ada yang bisa menggantikan dirinya" seru Roy membuka keheningan di antara mereka berdua.


Ana hanya terdiam mendengar perkataan itu telinganya ingin terus mendengar apa yang tidak pernah dia ketahui selama ini.


"Sepanjang hari dia selalu tertawa walaupun di depanmu dia hanya terdiam saja seperti orang yang sangat dingin" sambung Roy lalu dirinya beranjak ingin pergi dari tempat itu.


Roy Melemparkan sisa rokoknya lalu menginjaknya seperti yang biasa dia lakukan bersama Bela untuk menghilangkan jejak bahwa mereka sedang merokok di atap.


Lalu Roy membuang sampah rokok itu di tempat rahasia dan tidak diketahui oleh banyak siswa kecuali mereka yang nakal.


"Tunggu aku belum selesai berbicara denganmu " Ana menahan tangan Roy agar dia tidak pergi. Akan tetapi Roy melemparkan genggaman tangan itu dan berbalik menatap Ana.


"Jika kau ingin mencari tahu banyak hal tentang Bela, maka sepulang sekolah tunggulah aku di depan gerbang "ujar Roy pada Ana lalu dia pergi begitu saja.


Saat berbicara dengan aanawajah Roy sangat berbeda bersikap dingin dan datar tidak ada kehangatan sedikitpun. Karena Roy benar-benar membenci Ana dan El karena mereka telah menyia-nyiakan saudaranya yang sangat berharga seperti berlian.


Lalu sekarang datang secara tiba-tiba untuk bertanya tentang keseharian Bela, padahal orang yang mereka cari telah tiada di dunia ini.


Sekolah Bela


Sementara itu di sekolah Bela, guru mengumumkan akan melakukan seleksi pertama melukis pada seluruh siswa yang berminat untuk mengikutinya dan pemenang juara 1 2 3 akan didaftarkan oleh sekolah pada perlombaan melukis yang segera tiba bulan depan.


"Kenapa kau masih di sini, seleksi akan dimulai " tegur Mario saat melihat Bela masih berdiam diri di dalam kelas.


"Entahlah aku masih gugup karena sudah lama tidak melukis "ujar Bela pada Mario.


Tiba-tiba kedua bocah tengil yaitu Sela dan Brandon datang memberikan suara dan semangat untuk salah satu sahabatnya ini bahkan mereka juga membuat poster bertuliskan go Bela, go Bela. Sungguh hal lucu dan terlihat seperti mendukung Bela secara penuh di lapangan sepak bola.


"Kok masih di sini astaga padahal aku sudah membawa poster ini di tempat melukis tapi tidak melihatmu, cepatlah ayo kita ke ruangan tersebut karena melukis akan segera dimulai "ujar Brandon.


"Cepatlah jangan lemot, dan kau tenang saja bahwa kita akan mendukungmu secara penuh " Sela telah memberikan semangat pada sahabatnya untuk percaya diri dan tenang.


Lalu mereka menyeret Bela untuk masuk ke dalam ruangan tersebut terlihat wajah keraguan dalam diri Bela serta kepercayaan diri yang sangat rendah karena selama ini bola sudah meninggalkan hobinya untuk melukis.


Bahkan dia juga sudah lama tidak memegang kuas namun imajinasinya masih kental di dalam pikiran Bela.


"Aku yakin kamu menang"ujar Mario di dalam perjalanan menuju ruangan lukis.


"Lihatlah Bela kita saja memiliki keyakinan bahwa kamu menang, bagaimana bisa jika diri kamu sendiri tidak yakin bahwa kamu dapat menang salam seleksi ini" sambung Sela.


"Benar, aku harus yakin" tiba-tiba Bela berbicara dengan keras lalu dirinya berlari sekuat tenaga untuk segera menuju ke ruangan lukis kemudian dia menghentikan langkahnya lalu berbalik kepada ketiga sahabatnya itu.


"Terima kasih, tunggu kabar baikku" teriak Bela lalu dirinya kembali berlari ke dalam ruangan melukis.


Untung saja guru belum memulai seleksinya karena ada beberapa alat yang ketinggalan di gudang. Jadi Bela masih memiliki kesempatan untuk mengikuti seleksi melukis tersebut.


"Maaf Bu saya terlambat" ujar Bela.


"Tidak apa-apa, silahkan duduk karena seleksi belum dimulai" perintah Bu guru dengan lembut.

__ADS_1


Akhirnya Bela memiliki keberanian setelah mendapatkan suntikan semangat dari sahabatnya. Kini Bela hanya perlu meyakinkan dengan sangat penuh dalam jiwanya bahwa dia mampu untuk mengulang beberapa tahun yang telah hilang di masa lalu.


Mimpinya untuk menjadi pelukis terkubur karena kematian mamanya, dan sekarang dia harus bisa mewujudkan itu.


"Aku tau kau pasti takut kalah kan? Karena kau tidak memiliki bakat" ejek Dira yang duduk di belakang Bela. Selalu saja dia akan membuat ulah dengan menyebarkan kebencian serta ejekan pada Bela untuk membuat keributan.


"Sepertinya kau yang harus berhati-hati karena aku tidak akan diam untuk ini. Aku yakin pasti bisa menembus seleksi ini dan bertanding antar kota" sahutan berkelas dan santai dari Bela.


Dirinya tetap tenang dan tidak terbawa emosi karena ejekan dan hinaan dari Dira. Bela tau bahwa omongan orang seperti Dira harus dibalas dengan hasil yang memuaskan, karena percuma jika dibalas dengan ejekan pula maka ujung-ujungnya akan berakhir dengan sifat yang sama seperti Dira dan tidak ada gunanya.


Seketika Dira langsung terdiam dengan jawaban dari Bela. Wajahnya terlihat sangat kesal dan ingin memberikan pelajaran pada Bela tapi dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya kali ini. Tidak lama kemudian guru membawa peralatan mereka untuk melukis.


"Anak-anak kalian akan melukis dengan tema hutan "ibu guru mengumumkan tema yang harus mereka kerjakan dengan waktu yang sudah diberikan.


Para peserta melukis diberikan dispensasi dalam belajar karena mereka akan disaring untuk mengikuti melukis antar kota kemudian yang menang akan diikutkan dalam kompetisi melukis antar provinsi hingga melukis secara nasional.


"Baik Bu" teriak para peserta dengan semangat.


Begitu juga dengan Bela, dirinya merasa bahwa tema yang diberikan sesuai dengan kesukaannya. Bela membayangkan tentang pepohonan yang indah saat dia melalui perjalanan menuju rumah Oma yang terletak di sebuah tempat terpencil dan tersembunyi.


Bela langsung menggambarnya dengan baik, karena pepohonan itu sudah melekat pada pikiran bela. Jadi tidak ada alasan untuk tidak melakukannya sebaik mungkin.


"Sepertinya perjalanan hutan ke rumah oma cukup indah" ujar Bela dengan senyumannya sambil membayangkan perjalanan hutan dalam ketenangan.


Saat beberapa dari mereka masih mencari gambar yang pas untuk di tuangkan dalam kanvas, Bela sudah memulainya dengan baik. Karena pikirannya seperti telah menyatu dengan alam.


Waktu bergulir begitu cepat, dan pada akhirnya seleksi melukis telah selesai.


" Anak-anak, waktu telah habis silahkan kalian tinggalkan ruangan ini. Kalian bisa kembali ke kelas dan besok akan ibu umumkan hasil dari seleksi ini" Bu guru menghentikan aktivitas mereka dan menyuruhnya untuk segera kembali ke kelas. Karena bapak ibu guru akan menilai lukisan mana yang layak untuk mengikuti lomba antar kota.


Rasanya tangannya sangat kaku karena sudah lama tidak memegang kuas. Namun otaknya masih saja tetap berjalan dengan baik karena dipikirannya masih melekat tentang melukis yang baik apalagi bertemakan tentang alam.


"Aku rasa kau tidur saja di kelas, karena lukisanmu tidak akan lolos" lagi-lagi Dira datang tanpa diundang. Bibirnya selalu nyinyir tentang Bela.


Hidupnya selalu saja mengusik Bela dan merasakan benci teramat dalam. Mungkin Dira tidak pernah memiliki kehidupan yang baik karena dia selalu mengurusi kehidupan orang lain.


"Tepat sekali, badanku sangat capek setelah melukis. Aku akan tertidur di kelas, terima kasih atas saranmu" sahut Bela dengan senyuman yang menyeringai.


Lalu dia pergi meninggalkan Dira begitu saja. Wajah Dira terlihat sangat heran, pancingannya tidak pernah berhasil membuat Bela merasa rendah. Namun balasan Bela selalu membuatnya terdiam seketika.


Di dunia ini hanya ada 2 jenis orang. Satu dia yang selalu merasa benar dengan banyak bicaranya, dan satunya lagi dia yang merasa tenang tapi kebenaran yang menghampiri.


"Sial, gadis gila" gerutu Dira dengan kesal.


Dia masih tidak terima dengan jawaban Bela yang selalu santai padahal rencana Dira adalah membuat Bela marah lalu tidak fokus dengan apa yang akan dilukis serta memiliki ambisius yang besar sehingga dapat menjatuhkan dirinya sendiri.


Namun ekspektasi yang dia harapkan terlalu tinggi, karena Bela bukanlah tipe orang yang gampang terpancing.


"Hei sahabatku" Teriak Bela di depan pintu kelas. Dirinya terlalu bersemangat karena telah menyelesaikan seleksi melukis.


Dia lupa jika saat ini adalah waktu jam pelajaran telah dimulai dan di dalam kelas sudah ada guru yang mengisi namun Bela masih saja berteriak dengan semangat.

__ADS_1


Ketiga sahabatnya sudah memberi kode bahwa di depan kelas ada ibu guru yang sedang menulis di papan. Namun bila masuk begitu saja lalu berkata pada Mario, Sela dan Brandon.


"Kalian tahu aku telah menyelesaikan seleksi itu" ujar Bela penuh semangat dan bahagia. Dia berbicara dnegan leluasa seperti tanpa beban, padahl saat itu ada sepasang mata memandangi Bela dari depan kelas.


" Baguslah lalu bagaimana hasilnya? " Bela segera menoleh ke suara yang berbicara di belakangnya. Ternyata itu adalah suara ibu guru sambil memandangi Bela dengan wajah datar.


"Siap, sejak kapan ada guru di dalam kelas" seru Bela dalam batinnya sambil memberikan sedikit senyum.


" Maaf Bu saya terlalu bersemangat" Wajah Bela terlihat sangat konyol.


"Hahahah" Tertawa para siswa memenuhi ruang kelas dan melihat wajah konyol Bela yang masih kebingungan. Sungguh pemandangan yang sangat lucu.


Begitu juga dengan Sela dan Brandon, mereka tertawa paling keras diantara yang lain. Wajah Bela begitu malu saat mengingat kelakuannya yang konyol, sedangkan ibu guru menatapnya dengan tatapan tajam.


"Cepatlah duduk" bentak bu guru membuat Bela seketika duduk dan membenamkan dirinya di dalam tas. Sekaligus membuat kelas yang ramai dengan tawa kini kembali hening.


" Sial Kenapa kau tidak memberitahuku Mario" berisik Bela dengan wajah yang masih tertunduk.


"Aku sudah memberitahumu tapi kau terlalu bersemangat. Tenang saja bu guru tidak akan memarahimu dia hanya menegur " sahut Mario sambil mengangkat kepala Bela untuk mengikuti pelajaran yang sedang berlangsung saat itu.


Saat Bela menoleh pada Sela dan Brandon, mereka berdua tertawa dengan sangat puas karena kelakuan konyol Bela yang masuk tanpa aba-aba, serta berteriak dengan penuh semangat, dan membangunkan macan tidur.


"Diamlah" Bela memberikan isyarat pada Sela dan Brandon untuk diam.


Namun mereka semakin asik tertawa dengan pikirannya sendiri sedangkan Mario hanya menggeleng-geleng saja melihat kelakuan ketiga sahabatnya yang sangat konyol itu dan tidak bisa diam di saat pelajaran sudah dimulai.


Tidak lama kemudian Dira menyusul masuk dan tatapan matanya mengancam Bela seperti biasa. Seakan bibirnya bergumam untuk menghardik Bela yang berada di depannya.


Bela tidak pernah takut dengan apapun yang Dira lakukan, dia akan selalu menghadapinya walaupun tatapan Dira sedang mengancam. Akan tetapi di mata Bela, kelakuan Dira terlihat sangat konyol.


"Ada apa denganmu? " Tanya Mario saat merasakan bahwa Bela sedang tidak fokus dengan pelajaran yang dijelaskan.


"Ah tidak, aku hanya meregangkan jemariku ini" Sahutnya berbohong. Bela tidak pernah membicarakan keburukan orang lain pada sahabatnya.


Karena menurut Bela keburukan itu lebih baik disimpan sendiri saja. Bela merasa jika manusia memiliki keburukan masing-masing, namun Tuhan telah menyimpannya dnegan rapat. Jadi apa untungnya bagi dia jika membicarakan keburukan itu pada orang lain, sedangkan Tuhan sendiri melindungi keburukan dari unatnya.


Dia akan selalu menghadapi apapun tanpa harus merepotkan orang lain. Bela selalu merasa tenang walau Dira melakukan hal buruk pada Bela. Karena menurutnya mereka adalah sama-sama makhluk ciptaan Tuhan jadi tidak ada gunanya takut sesama manusia.


*tetttt* bel berbunyi, waktu pembelajaran telah habis. Sebelum pulang Bela menceritakan pada keempat sahabatnya tentang pengalaman dia melukis lagi untuk pertama kalinya.


"Kalian tau, tanganku sangat buruk saat memegang kuas. Rasanya kuas itu bukan temanku lagi, dia sperti. menolak saat aku pegang" Seru Bela saat mereka masih berada di dalam kelas.


"Memangnya tanganmu keriput? Sampai terlihat buruk begitu? " Celoteh Brandon yang membuat mereka tertawa.


"Tidak, tapi aku gugup. Aku seperti berada di antara jurang dan bingung ingin melakukan apa. Namun aku bisa menyelesaikan hingga akhir, ini semua berkat semangat yang kalian berikan"


Bela sangat berterima kasih pada sahabatnya yang telah mendorong Bela untuk tetap melangkah, walau harus melewati rasa takut dan bimbang sekalipun karena dirinya baru pertama kali kembali melukis.


"Sudah ku bilang bahwa kau bisa, hanya saja nyalimu ciut" Sambung Sela sambil memperagakan nyali Bela seperti ujung kuku dan sangat kecil.


"Siapa bilang, aku itu berani hanya saja aku pura-pura" Ujar Bela sambil tersenyum.

__ADS_1


"Huhuhuhu" Teriak sahabatnya kecuali Mario. Kegaduhan dalam kelas terjadi, padahal yang berteriak hanya 3 orang saja namun terasa teriakan itu menggelegar hingga memenuhi ruangan itu.



__ADS_2