
Sementara itu di studio pemotretan, Sisil melakukan gaya yang sangat elegan untuk terlihat menarik. Dia selalu memiliki gaya apapun agar produk yang dia pegang saat ini bisa menjadi produk andalan yang mampu menarik pelanggan, serta dirinya akan menjadi model terkenal.
"Aku ingin berhenti, aku haus" Sisil segera meninggalkan pemotretan dan beristirahat.
"Baiklah nyonya" Asistennya selalu menjadi bulan-bulanan sisil, dia penurut namun selalu saja dilakukan semena-mena.
Sisil adalah pribadi yang sangat manja, dan permintaannya harus selalu dituruti. Sisil selalu berbuat seolah-olah dirinya adalah ratu, tapi dia lupa untuk menghargai orang lain disisinya.
*pyarrr*
"Kenapa airnya hangat, aku ingin air dingin" Tangan Sisil sangat ringan, apalagi melemparkan benda yang tidak sesuai dnegan keinginannya.
"Maaf nyonya, aku akan mengambinya kembali" Ucap asistennya dengan sabar dan segera pergi.
"Cepat, aku tidak ingin menunggu lama" Teriaknya dengan nada memerintah.
Sifat yang tidak bisa di rubah sampai kapanpun. Dia akan selalu berbuat sedemikian rupa dimanapun tempat yang akan dia pijaki. Berbuat semaunya seperti dunia ini adlah milik dirinya.
Sisil asik dalam kehidupan pemotretannya tanpa menghiraukan dunia luar, dan dia juga tidka menyadari bahwa ada yang sedang mencintainya dari jarak. kejauhan.
"Lihatlah bara, dia sudah masuk ke perangkap kita. Kejutan yang kau katakan akan berubah manis sebentar lagi" Seru Alex berbisik dekat dengan Bara sambil memantau kegiatan Sisil.
Sepasang mata telah menatap tajam pada seorang model dengan sifat buruknya. Melakukan orang kecil semena-mena, tanpa dia sadari bahawa dirinya selalu di awasi.
Ternyata saat ini sisil menjadi model iklan produk yang Bara geluti. Dia tidak tau hal itu, bahwa Bara memiliki perusahaan kecil yang dia bangun sendiri untuk menutupi bahwa dia adalah bos mafia.
Dia sengaja membangun perusahaan makanan agar para musuh tidak mengetahui jati dirinya yang sebenarnya.
"Selangkah lagi aku akan membalaskan dendam ini alex" Senyuman licik kembali terlintas di bibir Bara.
"Aku mendukungmu Bara, apapaun yang kau inginkan maka aku akan siap melakukan itu. Aku juga sudah muak dengannya" Sambung Alex sambil menatap kebencian pada wanita yang menyakiti sahabatnya.
Alex dan Bara pergi meninggalkan tempat itu. Bara menyerahkan semuanya pada asisten yang memegang perusahaan dengan menyembunyikan nama Baratha untuk menutupi indentitas aslinya. Dia sengaja memberikan Sisil masuk ke dalam perusahaannya dan melakukan kerja sama.
Disanalah tempat Bara untuk membalaskan dendam pribadi yang masih membara pada sisil. Dia tidak akan melupakan dengan mudah perbuatan Sisil yang membuat kehidupannya hampir hancur berantakan.
"Ayolah, kita ke bar" Senyum Bara kembali menyeringai.
Sedikit demi sedikit akan dia wujudkan impiannya untuk balas dendam pada gadis ****** yang telah merusak kebahagiannya saat itu.
Kediaman Baratha
"Selamat sore oma" Suara menggelegar yang telah dihafal oleh penduduk rumah Baratha.
Semua orang mengenali suara itu, karena setelah kehadiran Bela di rumah itu membuat suasana sunyi kembali terisi. Rumah terasa hidup kembali, karena semenjak kepergian Denada rasanya sangat senyap tanpa suara walau hanya bertegur sapa saja.
"Bibi, oma kemana? " Teriak Bela dengan girang pada ketua pelayan di rumah ini.
Dirinya sudah sangat akrab dengan semua pelayan, salah satunya bi Ati. Dia adalah ketua pelayan yang ramah, menyayangi Bela karena sifatnya ceria serta ramah pada siapaun. Bahkan bi Ati kagum dengan kesopanan yang Bela miliki.
"Oma ada di kamar non, sini bibi bantu membawakan tas" Bi Ati ingin mengambil tasnya, namun Bela menolak itu.
"Ah bibi, tenang saja aku masih bisa kok" Bela menolaknya dengan ramah.
Sebelumnya dia menolak tawaran pak Taryo untuk membawakan tasnya, dan sekarang dia kembali menolak bi Ati untuk membawakan tasnya. Mereka pikir sangat kasihan karena Bela harus menggendong tas sekolah dan berjalan menggunakan tongkat.
"Tapi non"
"Sudah bibiku tersayang, aku masih bisa. Oh iya satu lagi, panggil saja aku Bela"
Bi ati terdiam, bagaimana bisa dia memanggil istri tuannya dengan sebutan nama. Rasanya hal itu tidak mungkin dilakukan, karena dia takut dengan tuan bara.
Namun bi Ati menolaknya walaupun Bela terus memaksa. Bi Ati memberitahu alasannya karena dia takut bila tuannya marah mendengar hal tersebut. Akhirnya Bela menyetujui keputusan bi Ati.
Bela segera pergi ke kamar oma, disana dia bermain degan oma dan masih dalam keadaan menggunakan seragam sekolah. Oma sangat senang, katanya pagi ini merasakan kesepian karena Bela bersekolah.
Namun oma memaklumi hal tersebut, karena dia juga ingin menantunya memiliki ilmu yang lebih tinggi, bahkan oma juga ingin Bela menjadi orang yang berkualitas lalu memiliki anak dan penerus keluarga baratha.
"Nanti oma ingin kamu memiliki anak bersama Bara setelah kamu lulus sekolah" Oma membuka pembicaraan disaat mereka asik bercanda dan tertawa.
"Uhuk,,, uhuk,, uhuk" Bela tersedak ludahnya sendiri setelah mendengar ucapan oma.
Menelan saliva dengan kasar adalah cara Bela menenangkan diri. Dia terdiam karena tidak tau harus menjawab apa. Selama ini oma hanya mengetahui bahwa pernikahan mereka adalah nyata padahal ini hanyalah rekayasa yang akan dijalankan hingga 2 tahun ke depan.
"Hati-hati, minumlah ini" Ujar oma sambil memberikan segelas air.
"Hmm, iya oma. Sepertinya oma harus istirahat dulu. Dan Bela ingin berganti baju " Bela mencari alasan agar oma tidak membicarakan tentang seorang anak.
"Iya benar, dan kamu juga harus istirahat karena wajah mulus ini terlihat lelah" Sahut oma sambil mengusap lembut wajah Bela.
Bela segera pergi ke kamarnya dan mengganti baju. Dia bersiap diri untuk mengikuti makan malam. Setelah semua selesai, Bela berdiam diri di kamar memikirkan tentang pembicaraan oma.
"Apakah oma akan kecewa bila nanti perjanjian ku dengan Bara sudah habis? " Pikranya bertanya-tanya dalam kesendirian.
Dia termenung di dalam kamar, sedangkan Bara masih belum pulang juga. Perkataan oma mengganggu ketenangan yang ingin dia miliki. Sehingga semua sirna saat perkataan seorang anak itu keluar dari bibir oma.
"Tidak, tidak, jalanku masih panjang dan tidak ingin memiliki anak" Giumam Bela tidak jelas. Tangannya meracau rambutnya sendiri hingga berantakan.
"Sepertinya aku harus tidur, tapi tuanku belum datang" Wajahnya mencemaskan kedatangan Bara yang belum pulang.
Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam, Bela ingin segera tidur agar pikirannya terhindar dari kalimat yang diucapkan oma. Namun nyatanya dia masih belum bisa terlelap selama Bara belum datang.
__ADS_1
*tok, tok, tok*
"Apa dia sudah pulang? " Dengan sangat hati-hati dia beranjak dari tempat tidur untuk membuka pintu.
*klek*
"Mario? " Bela terkejut karena melihat Mario berdiri di depan pintunya.
"Bel, apakah kau mau belajar malam denganku? " Penawaran yang keluar dari mulut Mario terlihat sangat gugup.
Mario ingin dekat dengan Bela dan jalan satu-satunya adalah mengajaknya belajar bersama. Mario tidak ingin kesepian lagi, karena kehadiran Bela selalu membawa suasana ceria.
"Boleh, dengan sneng hati" persetujuan dari Bela membuat Mario senang.
Mereka berdua melakukan belajar bersama di ruang tamu. Terlihat Mario sangat sabar mengajari Bela, karena hampir semua mata pelajaran yang dia lihat tidak ada satupun dapat menjawab.
Ini semua diakibatkan oleh kemalaaan Bela di masa dahulu. Dirinya menyesal karena menghiraukan mata pelajaran. Benar kata orang, seseorang pandai itu bukan keturunan melainkan tekun belajar. Maka dari itu Bela ingin bersungguh-sungguh.
"Oh jadi begini, apakah ada cara lain lagi? " Tanya Bela setelah Mario menjelaskan beberapa rumus untuk menyelesaikan jawaban soal matematika.
"Tidak ada, kerjakan saja ini biar nanti aku mengajarimu lagi" ucap Mari.
Bela mengangguk dan mengerti lalu melakukan perintah Mario.
Saat malam beranjak larut, Bara datang dengan membawa lelah. Saking asiknya Bela belajar, dia tidak merasakan jika Bara sudah pulang.
Sedangkan Bara hanya terdiam dan sesekali melihat keakraban adiknya bersama sangvistri. Hatinya sedikit kesal karena Bela asik belajar dan tidak menyambut kedatangan Bara. Dengan kesal Bara segera naik dan masuk ke dalam kamar.
*klek*
Beberapa menit kemudian Bela menyusul setelah dia melihat bahwa mobil Bara sudah terparkir di garasi saat dia mengeceknya.
"Tuan apakah kau sudah mandi? " Tanya Bela pada Bara yang duduk santai.
"Sudah" sahutnya singkat.
"Aku lelah sekali hari ini di sekolah, tapi aku sangat senang disana banyak teman-teman yang mengajakku bermain jadi rasanya aku tidak bosan lagi" ocehannya kembali bersuara untuk menceritakan apa yang dia dapatkan di sekolah.
Tanpa di suruh Bela menceritakan semua kejadian yang ada di sekolah. Lelah di tubuh Bara seketika menghilang saat mendengarkan cerita Bela. Dirinya memandangi laptop seakan menghiraukannya namun telinganya masih terbuka.
"Ahh sudahlah, kau tidak mendengarkanku. Mulutku capek berbicara sendiri" wajah Bela terlihat lesu karena Bara tidka memperhatikan dia bercerita.
Setelah beberapa menit die mengoceh tentang keseharainnya di sekolah namun tidak ada tanggapan dari Bara. Serasa berbicara dengan dinding yang diam tak berkutik. Bela memilih untuk diam dan segera beristirahat.
"Dasar gadis aneh" Bibir Bara tersenyum kecil melihat kelakuan istri kecilnya. Dia yang mengoceh sendiri dan dia pula yang merasakan lelah.
Di ruang makan
"Mario aku ingin berangkat sekolah denganmu pagi ini, apakah kau mengijinkan? " Bela meminta ijin pada Mario untuk berangkat bersama. Tapi dia lupa meminta ijin pada suaminya sendiri.
"Iya, silahkan" Bela tersenyum dengan senang.
Senyuman itu dilirik oleh Bara, entah kenapa rasanya dia tidak ingin Bela terlalu dekat dengan Mario.
Bela sangat senang karena mario menerima ajakannya untuk jalan ke sekolah bersama-sama. Jadi dia merasa ada teman ngobrol di dalam mobil. Karena hari ini pak Taryo dalam kondisi tidak enak badan.
"Tidak, kau berangkat denganku" Ketus Bara menyambar kegembiraan Bela.
"Tapi.... " sahut Bela penuh ragu untuk membantah.
"Kau istriku bukan? " Tanya Bara yang membuat Bela mengangguk.
Klara tersenyum melihat kelakuan anak sulungnya, dia merasakan bahwa anak sulungnya memiliki perasaan dengan istri kecilnya.
Akhirnya Bela berangkat dengan Bara ke sekolah, dia tidak ingin istri kecilnya terlalu dekat dengan Mario. Padahal Mario adalah adik kandungnya sendiri.
__ADS_1
"Pagi yang indah" Bela mengeluarkan sedikit wajahnya dari mobil.
"Apa kau ingin mati? " Tegur Bara dnegan keras saat meluat kelakuan Bela.
"Tidak" Sahut Bela singkat.
"Cepat masukkan wajahmu sebelum truk menghantam dan menghilangkan kedua bola matamu" Perintah Bara dengan penuh emosi. Bela menurutinya dan sgera memasukkan kepalanya kembali ke dalam mobil.
"Tuan, kenapa kau dan mario tidak akur? Bukankah kalian saudara sekandung? " icap Bela.
Bara menatap Bela dengan tajam. Dari sebuah tatapan itu Bela mengerti. Jika hal itu adalah sesuatu pribadi dan tidak boleh dibicarakan. Bela merasa dirinya sangat lancang, tapi dia penasaran dengan semuanya.
"Hmm baiklah, jika kau tidak mau berbicara" Bela. memutuskan menarik kembali ucapannya.
Hingga sampai ke sekolah Bara masih diam tanpa sepatah katapun. Bela segera turun dari mobil namun Bara masih memperhatikannya dari seberang jalan. Dirinya tidak lekas pergi karena ingin melihat kelakuan Bela pagi ini.
"Hai Bel selamat pagi" Sapa siswa lelaki yang juga baru datang dan langsung merangkuk Bela sebagai tanda pertemanan mereka.
"Hai brandon, pagi" Sahut Bela dengan ramah.
"Yuk masuk bareng" Ajak Brandon
"Oke" Mereka berdua ssgsra masuk ke dalam sekolah.
Bela hanya terdiam dan mengikuti Brandon. Karena dulu dirinya sudah terbiasa dengan rangkulan itu bersama Roy. Rasnaya ingin kembali ke tempat dimana dia dengan roy bersama.
Rangkulan itu juga di lihat oleh Bara. Tatapannya tajam, membuat dahinya mengekrut kesal. Nafasnya mendengus kejam, dia merasa Bela adalah wanita murahan juga. Berfikir bahwa bela ingin bersekolah hanya untuk mencari teman lelaki saja.
Di dalam kelas seperti biasa, bela belajar dengan tenang walaupun ada gangguan dari Dira yang selalu cemburu karena Mario semakin dekat dengan Bela. sedangkan dia masih saja merasa di campakkan.
\*pyar\* dentingan jelas terjatuh di atas lantai. Mengisahkan kecahan kaca dari tumpahan jus tersebut.
"Kau sengaja? " Ucap bela beranjak dari tempat duduknya saat tangan Dira sengaja menyenggol gelas saat Bela menikmati makanan di kantin.
"Upsss, maaf gak liat" Menampakan wajah menyebalkan. Lagi-lagi dia datang membawa kekacauan dan ingin menghancurkan ketenangan Bela di kantin.
\*brak\*
Mereka pikir Bela akan terdiam dan menerima atas cacian serta hinaan yang diberikan. Mungkin tabrakan kecil cukup membuat Dira kapok, dan sekarang dia bersimpuh di lantai.
"Upsss sorry, aku gak lihat" Bela tersenyum dan membalas perkataan Dira dengan hal yang sama.
"Ahh, sial. Kurang ajar kau" Amarah keluar dari mulut Dira namun Bela tidak peduli.
Lebih baik meninggalkan biang kerok sekolah daripada terus meladeninya. Bela bodo amat dengan teriakan Dira yang masih duduk di lantai karena teman-temannya berusaha membantunya.
Semua orang menatapnya dengan gemuruh tawa. Bela pergi sambil tersenyum kecil, padahal Dira yang memancingnya terlebih dahulu namun dia juga yang terjatuh. Rasanya sangat lucu, apalagi ditambah raut wajah Dira yang menyedihkan.
__ADS_1
~~~~ BERSAMBUNG~~~~