
Bela sengaja mengajak Mario untuk ke kebun nanti sekaligus merawat tanaman dan juga memanennya. Sementara itu di pagi ini Bela akan membantu oma seperti biasa, walaupun sudah ada suster tetap saja Bela ingin bersama oma dan mengukir momen yang tidak akan pernah terulang lagi sekaligus melepas rindu.
"Mario pukul 10.00 kita ke kebun oke" seru Bela pada Mario dan dia mendapatkan anggukan serta senyuman yang menandakan bahwa Mario menyetujuinya Bela segera pergi ke kamar oma dan membantu oma seperti biasa.
"Pagi suster bagaimana oma aku, apakah sudah cantik? " sapa Bela ramah pada suster pengasuh oma tersebut.
Walaupun dia tahu oma tidak suka jika dirawat oleh suster karena oma hanya menginginkan Bela yang merawatnya, akan tetapi tetap saja Bela menghormati pekerjaan Suster itu yang sudah melakukan kewajibannya dengan sepenuh hati untuk menjaga Oma.
"Sudah nyonya akan tetapi oma tidak mau makan jika tidak disuapin oleh nyonya " jelas suster tersebut.
Bela langsung mengambil makanan untuk menyuapi oma dengan lembut dan kasih sayang yang sangat penuh serta celotehnya yang banyak bicara membuat oma sangat senang. Oma merindukan hal itu karena Bela juga sudah lama tidak berkunjung sehingga oma ingin sekali lebih banyak bermain bersama Bela.
" Oma sudah makan dan minum obat dan sudah cerita banyak hal denganku dan sekarang waktunya oma beristirahat " Bela segera membantu oma untuk beristirahat dengan cara memijat kaki oma secara lembut sehingga oma terlelap dengan aman dan tenang.
Kegelisahan dalam diri seseorang dapat dihilangkan dengan tutur kata yang lembut dan perbuatan yang dapat melegakan hati seseorang tersebut setelah umat tertidur Bela keluar dan mencari Mario untuk berkebun.
Tidak sengaja Bela berpapasan dengan Bara yang baru saja turun dari tangga. Dia tidak tahu apakah harus berbalik ataukah terus berjalan untuk memanggil Mario karena ponsel Bela juga tertinggal di atas kamar jadi dia tidak bisa menghubungi Mario menggunakan ponsel.
" Kenapa wajahmu? Apakah ada sesuatu yang terjadi " tegur Bara dengan wajah datarnya.
" Tidak ada tuan Aku ingin mencari Mario" sahut Bela dengan ucapan yang sedikit tidak lancar lalu dia berjalan secara perlahan menuju kamar Mario.
"Tunggu" Teriak Bara membuat langkah Bela terhenti seketika.
"Ada apa tuan bukankah makanan sudah aku siapkan di atas nakas kamar? Apakah kau masih memerlukan hal yang lain" tanya Bela karena dia sendiri sudah menyiapkan makanan saat Bara masih berada di dalam kamar mandi jadi dia merasa tugasnya sudah selesai namun mengapa Bara masih memanggilnya lagi.
"Pipimu bagaimana?" Ucapan Bara kembali membuat pipi Bela menjadi merah, sedangkan bibir Bara terlihat tersenyum puas karena berhasil mengerjai gadis kecil yang telah diciumnya tadi pagi.
"Pipiku bengkak" jawaban yang tidak terduga dari Bela.
Bela melontarkan ucapan itu secara tergesa-gesa karena malu mengingat kejadian tadi. Lalu dia memilih berlari menuju kamarnya untuk mengambil ponsel sekaligus berdiam diri di sana karena kesal dengan kecanggungan antara Bela dan Bara.
Bela masih terdiam dan duduk di tepi ranjang tidak lupa dia Mengunci pintu kamar agar Bara tidak masuk dan kembali menggodanya setelah mencium pipinya tadi pagi.
"Menyebalkan, dia selalu mencari kesempatan dan membuat pipiku ternodai dengan kecupannya. Aaaa, sial" pikiran Bela kacau tidka jelas saya kembali mengingat kelakuan Bara yang selalu menghodanya.
Apalagi mengingat kecupan itu, rasanya Bela ingin membenamkan diri di dalam pasir pantai karena membuat rasa dalam hatinya semakin memburuk.
Wajah Bela terlihat sangat gelisah lalu dia memilih untuk duduk di balkon dan membatalkan berkebun bersama Mario.
"Mario maaf sepertinya kita berkebun nanti sore saja karena saat ini aku sedang tidak enak badan" Bella berkata bohong pada Mario karena dia hanya ingin ketenangan setelah wajahnya tertampar malu karena ulah Bara yang mencium tanpa meminta izin darinya.
" Baiklah, apakah kau sudah minum obat? " perhatian Mario tertuang dalam pesan, sedangkan ponselnya sudah Bela letakkan di nakas samping ranjangnya jadi dia tidak mengetahui balasan pesan dari Mario.
Di atas balkon Bela menikmati udara segar sambil menatap pada langit dengan wajah yang menyedihkan dan sangat lucu. Lagi-lagi dia bersenandung kecil walaupun suaranya sangat sumbang namun hal itu bisa menenangkan hatinya meski hanya sementara saja.
" Astaga apa yang aku lakukan bernyanyi namun tetap saja kejadian itu melekat di otakku Tuhan " keluh Bela dengan gaya tangannya meminta pada Tuhan yang sedang tersenyum di atas langit.
__ADS_1
Karena walaupun dia bernyanyi sebanyak lagu apapun tetap saja kejadian tadi melekat di otaknya dan terus berputar-putar seakan memaksa untuk mengingatnya dan terus mengingat hal mesum tersebut.
* tok tok tok* ketukan pintu terdengar jelas namun Bela tidak merasakan itu dan tetap saja duduk di balkon sambil bergelut dengan lamunannya sendiri sembari menatap langit biru.
Bahkan Bela tidak merasakan jika dari tadi ada burung dara yang hinggap di pagar balkon dan menatap ke arahnya. Karena pikirnya sedang bercampur aduk antara malu, canggung, resah, gelisah dan masih banyak lagi dan semua itu disebabkan karena ciuman dadakan yang Bara berikan.
Ketukan pintu dan teriakan Bara dari luar masih saja terdengar namun Bela tidak fokus dengan teriakan itu karena dirinya hanya berdiam diri serta melamun.
*dreeet, drettt*
Dering telepon berbunyi berulang kali hingga akhirnya Bela menyadari hal itu dan langsung mengambil ponselnya lalu mengangkat telepon dengan ragu karena itu yang menelpon adalah Bara.
"Apa kau tuli? Aku ingin masuk kamar namun kau menguncinya" Teriak Bara dalam ponsel sehingga membuat Bela menjauhkan ponselnya dari telinga karena takut gendang telinganya jebol oleh bentakan keras itu.
"Baik tuan maaf, aku tertidur" Ujar Bela kembali berbohong lalu segera membuka pintu kamarnya.
*klek*
"Maaf tuan, aku tertidur" Ujar Bela kembali.
Padahal setelah Bara melihat kasurnya, sprei masih tertata rapi dan tidak berantakan. Lalu dia hanya terdiam dan kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Bela menjauh dari Bara, dirinya memilih untuk duduk di atas balkon dan bermain dengan pikirannya sendiri. Karena kali ini dia tidak ingin melihat apapun dan mendengar apapun dari Bara. Karena rasa kecanggungan yang sangat besar.
"Ahhh, berulang kali ku tatap langit namun tetap saja merasakan hal yang sama" ujarnya sambil merebahkan kepalanya sejenak dan nersandar di kursi balkon.
Hingga akhirnya Bela memilih untuk tertidur di kursi balkon walaupun rasanya sakit tapi mungkin itu lebih baik daripada harus berdekatan dengan Bara di dalam kamar dan satu ranjang.
" Apa yang dilakukan gadis itu, selalu saja dia mencari hal-hal yang tidak masuk akal" gumam Bara saat melihat Bela memejamkan mata dengan wajahnya mendongak ke atas.
Bara mencoba tidak peduli lalu, dia juga memilih terlelap di atas ranjang dengan nyaman karena nanti sore dirinya berencana untuk pergi dari rumah oma setelah menginap satu hari.
Sore hari
"Anak ini benar-benar gila" seru Bara sambil duduk di kursi balkon yang ada di samping Bela. Sesekali Bara memandangi gadis itu yang terlelap dnegan nyaman, padahal posisinya sangat menyakitkan.
Bela masih menikmati lelapnya yang merajut mimpi walau hanya sebentar. Dirinya terlihat sangat nyaman dengan mata terpejam menikmati udara segar yang mengarah di atas balkon padahal posisi dia saat tidur sungguh tidak nyaman namun masih saja Bela terlihat sangat pulas menikmati lelapnya hari.
Dia juga tidak mengetahui jika hari sudah beranjak sore karena matanya masih terpejam dan tubuhnya masih bermain-main dalam mimpi nya sendiri.
"Enak sekali tidurku hari ini" bibirnya berseru namun matanya masih terpejam dan tubuhnya menggeliat untuk meregangkan otot-otot yang tertidur. tidak lupa tubuhnya menggeliat seakan melepaskan beban tidurnya yang telah menyakiti tubuh mungil itu karena dia terlelap di kursi.
"Aaaaaa" Bela berteriak sangat kencang saat melihat Bara yang duduk di sampingnya sambil memandangi dirinya.
"Apa yang membuatmu teriak, hentikan itu" Bara dengan sigap menutup mulut Bela. Dia terlihat kesal dan sekaligus terkejut saat Bela berteriak tanpa aba-aba. Membuat jantungnya berdebar hebat seperti mau perang saja.
"Seharusnya aku tidak berteriak jika kau tidak ada di depanku dan mengageti ku tuan " jelas Bela sambil mengelus dadanya karena dia benar-benar terkejut melihat kehadiran Bara yang duduk disamping dirinya.
__ADS_1
Lalu Bela segera pergi dan menghindar dari Bara akan tetapi tangannya dicengkram kuat oleh Bara sehingga dia menghentikan langkah Bela untuk keluar dari balkon dan terpaksa menoleh pada Bara sehingga mereka kembali bertatap-tatapan.
" Apakah kau benar-benar tidak ingin tidur denganku? " ujar Bara sambil tersenyum licik pada Bela.
Mata Bela terbelalak dan jantungnya berdegup kencang dia tidak tahu apa yang sedang dilakukan oleh tuannya sehingga berkata demikian.
Bela begitu takut jika Bara ingin menidurinya sedangkan dia sendiri tidak ingin hamil saat SMA karena mimpinya sangat tinggi. Sementara itu mereka juga memiliki ikatan pernikahan kontrak.
Bela terpaku menatap Bara tanpa berkedip sekalipun, bibirnya terasa membeku tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun.
"Kenapa? " tanya Bara kembali.
" Kau sangat jelek sekali tuan" ujar Bela yang membuat Bara terkejut dan tercengang mendengar perkataan itu.
Bukannya jawaban yang dia dapatkan melainkan ejekan dari gadis kecil yang sedang dia cengkram tangannya. Niatnya ingin mengerjain Bela namun sebaliknya Bela yang mengerjai dirinya dengan membuatnya kesal karena berkata bahwa Bara sangat jelek.
Bela tidak menunggu jawaban dari Bara tentang apapun, karena dia segera melepaskan cengkraman tangan itu lalu segera berlari menuju ke kamar oma. Karena di tempat itulah Bela merasa aman.
" Hari ini sungguh sangat sial dia sangat senang berkata hal dewasa padaku. Tuhan Aku sangat takut" gerutu Bela sambil berjalan ke kamar oma.
Sedangkan hatinya berdegup sangat kencang seakan tidak ingin berhenti, ketakutan sedang menghantuinya karena dia merasa bahwa Bara akan segera menjadi hewan buas dan melupakan perjanjian mereka sebelum nikah.
Sungguh khayalan yang sangat menakutkan mengelilingi pikiran Bela kali ini. Dia benar-benar tidak mau mendekati Bara apalagi sampai tidur seranjang dengannya lagi.
"Sebelum Bela pergi, Bela ingin bersama oma sebentar di sini saja sambil memeluk oma " ujar Bela dan langsung rebahan di samping oma sambil memeluknya dengan erat.
Dia tidak peduli Bara mencarinya yang penting sekarang dirinya sudah terhindar dari tatapan Bara yang terlihat sangat tajam dan menakutkan. Bela tidak takut dengan bentakannya tapi dia takut jika tiba-tiba Bara berbuat hal aneh pada dirinya.
Sementara itu di kediaman Prabu.
" Apa maksudmu kenapa aku tidak bisa mendapatkan warisan itu, kau bilang jika anak itu sudah tiada maka warisan itu berhak jatuh padaku" teriak Prabu dengan kesal saat sang pengacara mengatakan bahwa warisan itu belum dapat jatuh ke tangannya karena persyaratan tertentu.
" Aku memang mengatakan demikian tuan namun ada berkas yang harus mendapatkan tanda tangan dari Bela agar semua aset bisa dipindahkan atas namamu tuan " jelas sang pengacara pada Prabu yang sudah terlihat sangat kesal karena semenjak kematian Bela dirinya belum mendapatkan hak warisan itu juga.
"Jika demikian mengapa kau tidak mengatakan pada awal di saat kita bertemu di cafe" Bentak Prabu.
Prabu kembali tidak terima dengan keputusan itu karena dia merasa dicurangi sebab sang pengacara tidak mengatakan jika salah satu berkas harus mendapatkan tanda tangan itu.
"Seharusnya kau sudah mengetahui hal itu tuan tanpa aku jelaskan karena kau sendiri adalah orang yang berpendidikan bukan. Sekarang saya undur pamit dan lain kali kita akan bertemu lagi tuan" sang pengacara segera beranjak dari tempat itu dan ingin pergi dari rumah Prabu akan tetapi mereka berdua tidak tahu jika salah satu putrinya yaitu Ana sedang mendengar perbincangan mereka di ruangan Prabu.
"Tunggu aku sudah membunuhnya, lalu Bagaimana aku bisa mendapatkan tanda tangan anak itu sedangkan dia sudah mati" teriak Prabu kembali pada sang pengacara. Dia mengakui bahwa dirinya sudah memodifikasi mobil Bela agar kecelakaan karena remnya blong.
Dia juga berkata bahwa rencananya berhasil sehingga membunuh Bela akan tetapi dia tidak tahu bahwa dirinya telah kehilangan Bela dan sekaligus kehilangan hartanya sebab pengalihan harta membutuhkan tanda tangan ahli waris yang dikatakan oleh pengacara sebelumnya
"Apa? Jadi daddy yang membunuh Bela? " Ana terkejut dengan apa yang sudah dia dengar tadi. Sungguh hatinya tidak percaya bila kematian saudaranya adalah rencana dari daddynya untuk mendapatkan harta yang dimiliki oleh Bela.
Sungguh kenyataan pahit yang menusuk jantung Ana secara tiba-tiba. Dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang telah di dengarnya. Namun Ana tetap tegar untuk mendengar pernyataan daddynya sampai selesai.
__ADS_1