
Tiba-tiba mata Bela tertuju pada sepatu Bara. Dia tidak bisa melihat sepatu yang tidak terikat lalu bebas berkeliaran sehingga menyebabkan seseorang akan terjatuh. Jadi dengan susah payah Bela membungkuk dan membenarkan tapi sepatu Bara.
"Tali sepatumu. Lepas, jika tidak diikat maka akan terjatuh. Dan jika terjatuh maka akan mempermalukan diri sendiri" Ucapnya lagi.
Bara hanya terdiam dengan rasa heran pada dirinya. Dia merasakan kenyamanan saat berjalan dengan gadis kecil disampingnya ini.
Karena selama dia berpacaran dengan Sisil, tidak pernah ada rasa perhatian mulai dari awal menjadi sepasang kekasih hingga akhirnya putus.
"Kenapa anda masih diam, ayo kita jalan-jalan lagi" ujar Bela.
Bela mengajaknya untuk jalan-jalan menikmati suasana yang ada. Bahkan gadis ini tidak pernah merasakan ketakutan pada sikap dingin Bara, walau terkadang bentakannya membuat terkejut dan ketakutan mendadak.
Tepat di sebuah taman mereka berdua duduk dan menikmati indahnya pertengahan kota. Banyak tanaman bunga yang membuat Bela ceria memandanginya.
"Hmmm tuan, aku ingin es krim. Apakah aku boleh meminta uang? " Keheningan terpecah saat Bela menginginkan es krim di samping jalan.
Bara segera mengeluarkan kartu dari dalam dompetnya. Karena di dia tidak memiliki uang lembaran, hanya beberapa item kartu yang menghiasi.
"Ini" Ujar Bara memberkkan kartu ATM pada Bela.
"Tidak semua orang jualan menerima kartu tuan. Aku hanya menginginkan uang, tapi kalau tidaa tidak ada ya tidak apa-apa" sahut Bela denagn wajah kecewa karena menunda keinginan makan es krim.
Bela pasrah dengan keadaan itu, karena dia tau saat ini dirinya hanya menumpang dan tidak baik meminta uang pada seseorang. Apalagi orang itu dingin seperti Bara, karena dia tidak akan peka.
Bela hanya terdiam dan duduk di samping Bara. Tatapan Bara merasa tidak nyaman saat Bela yang suka mengoceh kini terdiam. Pikirnya berputar dan segera melakukan hal untuk membuat gadis di sampingnya menjadi senang.
"Mau kemana? " Tanya Bela saat melohat Bara beranjak dari tempat duduk dan ingin bergegas pergi.
"Diamlah disini, aku akan segera kembali" Sahut Bara.
Tapi hati Bela merasa tidak nyamann, karena dia takut bila Bara meninggalkan Bela sendirian dan membuatnya sebagai seorang gelandangan.
"Tuan yang tampan, apakah aku boleh ikut? " ujar Bela menampilkan wajahnya yang penuh dengan kesedihan.
"Diamlah disini, sebelum aku naik pitam" Bentak Bara membuat Bela menelan salivanya dalam-dalam.
"Baiklah" Sahutnya kecil.
Bara segera pergi untuk mencari mesin ATM terdekat. Dia ingin menarik uang tunai karena merasa tidak tega melihat gadis kecil itu murung hanya karena es krim.
Beberapa menit kemudian Bara kembali dan segera menyerahkan uang tersebut agar Bela membeli es krim keinginannya.
"Ini" Ucap Bara sambil memberikan setumpuk uang pecahan seratus ribuan.
"Hah? Aku hanya meminta 20 ribu saja, mengapa kau memberiku 2 juta? " Mata Bela terbelalak, karena uang yang Bara berikan terlalu banyak.
"Belanjalah" Perintah Bara dengan sedikit penekanan.
Bagaimana bisa berbelanja sebuah es krim dengan menggunakan uang 2 juta. Memang Sultan itu bebas dengan kemauannya sendiri.
Bela tidak tau apa yang akan dia lakukan dengan uang yang ada di tangannya. Karena uang itu sangat banyak, padahal Bela hanya menginginkan es krim bukan penjual es krimnya.
"Aku hanya membeli es krim bukan membeli penjualnya tuan" Ujar Bela dengan polos.
"Baiklah, aku mengambil ini saja" Bela mengambil selembar uang seratusan. Lalu dia bergegas membeli es krim yang diinginkan.
Terakhir kali dia makan es krim bersama Roy, namun itu hanya tinggal kenangan karena mereka sudah berada di tempat berbeda. Bahkan dia ingat betul es krim kesukaan Roy saat itu.
Bela memberikan salah satu es krim pada Bara namun ditolaknya. Bara mengatakan bahwa dia tidak menyukai es krim dan tidak mau memakannya.
"Hanya orang bodoh yang tidak suka es krim" Sindir Bela dengan kecil setelah mendapatkan penolakan dari Bara.
"Kau menyebutku bodoh" Ketus Bara dengan nada agak tinggi.
"Heheh, tidak tuan. Aku pikir kau harus merasakannya. Karena rasa es krim ini pasti sangat enak" Sahut Bela.
Dia langsung membukakan bungkus es krim untuk Bara, lalu diberikan padanya. Bela terus mengoceh agar Bara memakan es itu. Dan pada akhirnya dia mencicipi juga.
"Bagaimana, enak bukan? " Ucap Bela dengan rasa kepercayaan dirinya.
__ADS_1
"Biasa saja" Sahut Bara dengan enteng.
"Berarti dirimu tidak menyukai rasa vanila. Cobalah punyaku rasa coklat, pasti anda menyukainya.
Bara menurut dan ikut merasakan es krim coklat yang Bela pegang. Rasanya benar-benar beda, karena baru kali ini Bara melihat seorang gadis yang melakukan hal itu tanpa memikirkan apapun.
Mereka berdua terus saja berbicara dan bersenang-senang memandangi keindahan taman. Bahkan Bela membeli banyak jajanan dan membuat Bara ikut merasakannya.
Mereka terlena dengan kebersamaan itu hingga lupa jika senja segera pergi. Mungkin ini yang dirasakan, bila mereka berdua dan asik sendiri maka akan lupa segalanya. Lalu Bara mengajaknya pergi karena hari menjelang malam.
"Aduh" Saat berjalan, Bela tidak sengaja terjatuh. Ternyata ada sebuah paku yang menembus di sepatunya.
Bela mengerang kecil saat paku itu menusuk kulitnya. Dia hanya teriak biasa dan tidak terlalu histeris, dan wajahnya terlihat sekali menahan rasa sakit yang sungguh benar.
"Kita harus segera ke rumah sakit" Ucap Bara saat melihat kejadian itu.
"Tidak usah tuan, ini bisa diobati dengan alkohol dan di perban saja" Bela tidak ingin merepotoan Bara. Dia mencoba menenangkan lelaki di sampingnya agar tidak terlalu khawatir.
Sedangkan wajah Bara terlihat sedikit cemas. Wajah dingin yang dia bawa selama ini berubah menjadi kecemasan saat melihat paku yang menempel di kaki Bela.
"Aaaaa, nih kan sudah bisa aku cabut" Ujar Bela sambil memperlihatkan tangannya yang sigap mencabut paku walau dia harus menjerit. Bara terkejut melihat hal itu, karena dia melihat gadis bar-bar di hadapannya.
Bela benar-benar gadis gila, karena dia mencabut paku itu tanpa rasa sakit apapun. Hanya menjerit sebentar lalu kembali ke setelan normal.
"Bodoh, darahmu mengalir" Bentak Bara.
Dia segera mengeluarkan sapu tangan dari kantongnya dan membalutkan pada kaki Bela agar darah itu tidak mengalir kembali.
Bela tertegun melihat pemandangan di depan matanya. Seorang tuan arogan memasangkan sapu tangan untuk membalut luka pada kaki seorang gadis kecil.
"Kita harus ke rumah sakit" Teriak Bara dengan tegas.
"Tidak tuan, luka ini sangat kecil besok pasti akan sembuh" Penolakan terus berulang.
Bela sangat tidak mau bila dirinya dibawa ke rumah sakit. Karena menurutnya luka itu hanya sedikit dan pasti akan segera sembuh.
Bela terdiam mendengar hal itu. Lalu mata Bela menatap ke arah Bara sambil memberikan senyuman. Hati Bela merasakan kebahagiaan karena merasa sikap Bara berubah.
Akan tetapi dia tidak tau jika Bara melakukan itu untuk kepentingannya sendiri. Karena jika Bela terinfeksi maka akan semakin parah dan menegbabkan Bara dimarahi oleh oma. Jadi dia sebisa mungkin untuk mencegah hal itu.
"Engkau mengkhawatirkan aku? Sungguh pemandangan indah bagiku tuan" Tanya Bela dengan tatapan yang riang.
Rasa heran tercipta di hati Bara saat gadis kecil di depannya mencoba merayu. "Diamlah" Sungut Bara kembali terbakar walau hanya sedikit.
Bara langsung berjongkok di depan Bela, namun Bela masih terdiam karena tidak tau apa yang akan dilakukan oleh tuannya itu.
"Naiklah"Ujar Bara saat tubuhnya sudah membungkuk sempurna di hadapan Bela. Namun Bela melotot dan tidak langsung naik karena dia sangat terkejut melihat tuan arogan bersikap hangat seperti itu.
"Tidak tuan aku bisa berdiri" Bela segera bangkit untuk menunjukkan bahwa dia baik-baik saja.
"Lihatlah aku bisa berdiri kan" Baru saja beberapa langkah dia berjalan, lalu kakinya ternyata masih sakit. Dia juga tidak menggunakan sepatu membuat kulitnya bergegsakan langsung dengan kerikil.
"Isss kenapa sakit sekali" Batin Bela saat dirinya merasakan sakit luar biasa di kaki yang terluka.
"Cepatlah naik jangan banyak drama" Benarkah Bara kembali.
"Tidak, aku masih bisa berjalan" Ego yang sama kembali diberikan oleh bela, dia tidak ingin menyusahkan orang lain. Apalagi dirinya canggung bila di gendong Bara.
"Jika kau tidak naik ke punggungku, maka aku akan pulang dan meninggalkanmu sendirian" Suara Bara cukup nyaring, membuat langkah Bela berhenti.
"Hehe, aku hanya becanda. Baiklah aku naik di punggungmu" Bibirnya meringis palsu, dia hanya tidak mau ditinggalkan oleh Bara dan membuat dirinya hilang arah di lingkungan kota ini.
Sejenak Bela berdiri, memandnagi tubuh besar di depannya yang sedang berjongkok. Dia masih ragu untuk naik ke punggung Bara atau tidak, tapi kakinya sudah merasakan sakit. Sepertinya kerikil kecil sudah masuk dalam luka Bela.
"Cepatlah" Bentak bara
"Iya, iya tuan. Astaga ternyata kesabaran setipis tisu" Gerutu Bela.
Dia langsung naik ke punggung Bara, seperti seorang kakak yang menggendong adiknya. Tidak seperti seorang suami yang menggendong istrinya.
__ADS_1
Wajah Bara juga dingin, sedangkan wajah Bela terlihat ceria dan masih pecicilan. Tidak akan ada orang yang menyangka jika pasangan itu adalah sepasang suami istri.
"Orang aneh, kadang marah tidak jelas kadang perhatian. Entahlah, mungkin dia salah obat" Gumam Bela dalam hati sambil memandangi rambut Bara.
Bara menggendong Bela ke dalam mobil lalu mereka berdua segera menuju ke rumah sakit. Disana dokter memberikan perawatan untuk kaki Bela, ternyata luka tusukan dari paku cukup dalam.
Dokter menanganinya dengan baik, sedangkan Bara menunggu di luar ruangan. Tidak lama kemudian kaki Bela sudah di jahit dan di perban.
"Keluarga saudari Bela silahkan masuk" Bara segera masuk dan duduk di ruangan dokter. Mereka berdua berbicara tentang Bela, sedangkan Bela masih terbaring santai.
"Untung saja anda segera membawanya kesini, jika tidak maka kakinya akan tetanus. Saya sudah melakukan penangan dengan baik dan saudari bela membutuhkan penyembuhan" Jelas dokter pada Bara.
"Baik dok"
"Apakah anda kakaknya? " Tanah dokter pada Bara.
"Hmm, iya saya kakaknya" Sahut Bara dengan senyuman paksa.
Pengakuan yang mengejutkan di dengar Bela, ingin rasanya dia tertawa mendengar ucapan Bara. Karena menurut Bela itu hal yang lucu. Saat di rumah dia menganggap istrinya dan saat di luar dia menganggap Bela adiknya.
"Baiklah, ini resep obat yang harus di tebus"
"Baik dok, Terima kasih"
Tanpa banyak bicara lagi Bara menggendong Bela dan membawanya ke dalam mobil. Tidak peduli seberapa banyak Bela menolak namun bara tetap menggendongnya karena tidak mau menunggu jalan Bela yang lama.
Perhatiannya sedikit dia berikan walaupun hati Bara masih sama tidak merasakan hal itu. Pikiran Bara hanya melindungi gadis yang sudah menjadi istrinya hanya untuk oma bukan hal lain.
Dia segera menebus obat di apotek rumah sakit. tidak sengaja dia melihat Sisil keluar dari rumah sakit itu juga. Sebenarnya bara tidak peduli, tapi rasa angin taunya masih ada saat melihat sisi keluar dari dokter kandungan.
"Rupanya dia sudah tidak suci, dasar wanita b*nal* " senyum kecil terlukia di bibir Bara.
Sebegitunya dia benci dengan sisil, karena masa lalu yang kelam. Pikirannya masih sama ingin membalas dendam pada Sisil secara perlahan. Dan akan menghancurkan Sisil hingga ke ujung akarnya.
Setelah melihat Sisil pergi, Bara juga ikut pergi dan masuk ke dalam mobil lalu pulang bersama Bela. Saking lelahnya bela tertidur pulas di dalam mobil.
Rumah Baratha
"Turunlah, sudah sampai" Gertakan itu masih belum membuat Bela terbangun.
Sejenak Bara terdiam lalu memandangi wajah indah gadis yang ada di sampingnya. Terlihat jelas walaupun sudah terlelap aura cantiknya masih terpancar.
Bara menatapnya dengan wajah datar, tidak ada kebahagiaan ataupun kebencian. Tiba-tiba Bela terbangun dan mereka saling bertatapan serta beridiam dengan suara hatinya masing-masing.
"Apakah aku seburuk itu sehingga tuan memandanginya tanpa berkedip? " gumam Bela memecahkan keheningan dalam setiap tatapan.
"Kau ini, kita sudah sampai" Ketus Bara sambil memalingkan wajahnya.
"Turunlah" Perintah Bara.
"Baiklah" Bara membukakan pintu, Bela segera turun dengan kaki satunya masih dia angkat karena tidak mungkin harus menyentuh tanah dan keadaan terluka seperti itu.
"Suamiku, apakah engkau meninggalkan istrimu seperti ini? " Tutur lembut Bela sambil meringis kecil.
Sepertinya dia sedang mengerjai Bara, tuan arogan itu seketika langsung berhenti dan melihat Bela yang masih berdiam diri.
Wajahnya terlihat kusut tapi tidak menampakkan amarah, hanya kekesalan saja. Sepertinya Bara tau jika saat itu gadis kecil di hadapannya sedang memerlukan bantuan karena kakinya tidak memungkinkan untuk berjalan.
“cih, apa lagi? " Bara berdesis kesal.
"Lihatlah, engkau tidak membelikan aku tongkat jadi aku tidak bisa jalan dengan kaki yang di jahit bukan? " Jelas Bela sambil menunjukkan kakinya yang terluka.
Bara mengerti dengan perkataan itu, dia langsung menggendong Bela seperti seorang suami yang perkasa dan menjaga istrinya dari bahaya apapun.
"Bara, ada apa dengan istrimu" Tanya Klara saat melihat Bela melekat dalam gendongan Bara.
"Kak, kenapa dia? " Sambung Mario juga ikut mengkhawatirkan Bela. Bara hanya diam tidak menjawab dan langsung membawa Bela ke kamarnya.
__ADS_1