Antara Cinta Dan Mafia

Antara Cinta Dan Mafia
50. Putus Asa


__ADS_3

Sambil menunggu Bela, Bara dan Alex duduk di ruang tengah dengan kesunyian sambil menikmati cerutu. Tidak lama kemudian Bela keluar dari kamarnya dengan pakaian seperti biasa, tidak jauh beda dengan pakaian Bara.


Setelan kemeja dan celana jeans yang dia miliki. Karena selama ini Bela hanya memiliki pakaian yang pernah dibelikan Bara saat itu saja.


"Cepatlah" Ketus Bara.


Bela hanya menurut perkataan Bara tapi dia tidak tau kemana dirinya akan dibawa pergi oleh tuannya. Pikirnya masih menatap Bara dengan aneh karena tidak ada angin dan tidak ada hujan dia mengajaknya pergi.


Sedikit ada rasa trauma dalam diri Bela akibat pukulan Bara yang dilakukannya terakhir kali. Dia juga menjaga jarak dan tidak ingin terlalu dekat dengan tuannya, karena Bela hanya merasa aman bersama Alex di dalam rumah itu daripada bersama Bara.


"Kak, aku pergi dulu" Ujar Bela tanpa suara hanya membuka mulutnya saja.


"Oke" Sahut Alex dengan kelakuan yang sama. Walaupun pamitan Bela tanpa suara, tapi dia tau dengan apa yang diucapkan oleh Bela.


Di dalam perjalanan Bela kembali melihat di sekeliling, dia menatap tataan pohon yang diantara gedung kaca yang begitu mewah. Udara bercampur aroma polusi asap kendaraan.


Berbeda sekali dengan pikirannya saat ini yang masih mengingat indah pemandangan saat dirinya berada di rumah oma. Karena disana dia bisa melihat persawahan, pegunungan dan juga pohon hijau dengan rimbun.


Sedangkan disini beda suasana, karena tempat ini hanya ada pepohonan yang tertanam di tengah jalan raya dan juga di pinggir trotoar. Kebanyakan gedung-gedung besar yang dia lihat.


"Tuan, apakah kita akan mengunjungi oma? " Tanya Bela pada Bara.


"Tidak" Sahut bBara singkat "


"Sayang sekali, aku rindu dengan oma. Bagaimana kabarnya, dan apakah oma meminum obat secara teratur? Aku ingin memeluknya" Gumam Bela memberikan gambaran sedikit tentang oma pada Bara.


Bara heran dengan gadis di sampingnya, dia baru mengenal oma tapi kepeduliannya tentang kesehatan oma melebihi segalanya. Bahkan terlihat jelas dari sorot mata Bela yang mengatakan tentang kerinduan pada oma.


Bara tidak mengerti mengapa gadis yang sangat dia benci sangat menyayangi oma nya. Padahal Bara sudah sering menyiksa batin dan fisiknya, tapi kasih sayang dan perhatian yang diberikan Bela pada oma tidak pernah pudar.


"Diamlah, aku sedang menyetir" Ujar Bara untuk menghentikan Bela menceritakan isi hatinya tanpa dia sadari.


Bara tidak bisa jika ada seseorang yang bercerita tentang kepeduliannya pada oma. Apalagi orang itu sering dijadikan bahan balas dendam oleh Bara.


Kehidupannya seakan terasa dalam kebimbangan. Antara membenci atau berdamai dengan rasa dendam yang masih belum terbalaskan. Seakan setiap saat terdengar tanda tanya tanpa jawaban yang tidak jelas.


Dengan adanya bertahan Bara untuk menyuruh Bela diam, gadis itu seketika diam dan enggan berbicara lagi dengan tuannya. Dia masih sibuk menghitung berapa banyak kendaraan yang lewat dan membuat polusi sebanyak ini.


"Bagaimana bisa bumi akan sehat, jika manusia banyak yang egois dengan membangun rumah kaca, polisi udara di mana-mana, pepohonan banyak yang ditebang. Dasar manusia, gara-gara perbuatan mereka lapisan ozon akan menipis" Tutur Bela dalam hati sembari melihat gedung-gedung yang menjulang tinggi.


Baru kali ini Bela berfikir sedalam itu, padahal dia sudah hidup belasan tahun lamanya di bumi tapi tidak pernah berfikir secara dalam tentang keadaan bumi yang mulai memburuk.


Mungkin otaknya memang bergeser dan ingin menjadi manusia yang lebih baik dengan mempelajari banyak ilmu pendidikan dan mengamalkannya di tengah-tengah masayarakat.


Seakan dirinya ingin membuktikan bahwa perkataannya kali ini benar ingin menjadi siswa yang berbudi pekerti dan teladan dengan melakukan belajar secara sungguh-sungguh. Sungguh perubahan yang signifikan.


"Sebentar, kenapa tidak dari dulu saja aku begini. Walaupun ayah membenciku tapi setidaknya aku bisa menunjukkan bahwa aku bisa lebih pintar dari Ana dan El" Argumentasinya kembali berputar dalam batinnya.


Dia masih bergelut dengan pikirannya sendiri karena tidak mampu memanfaatkan waktu saat ada di rumah ayahnya dulu. Dia berfikir bahwa perilakunya sangat salah karena telah menyia-nyiakan pendidikannya.


Bela yang sangat pintar harus merelakan kepintarannya karena tidak dihargai dan memilih untuk menjadi siswa paling bandel dan selalu bolos. Mungkin sekarang pikirannya sudah beranjak dewasa.


"Turunlah... "


"Turunlah" Berulang kali Bara memerintahkan Bela untuk turun karena mereka telah sampai. Tapi gadis itu masih bergelut sendiri dengan pikirannya.


*tinnnn*

__ADS_1


"Astaga" Sontak Bela terkejut sehingga berteriak sangat kencang.


Bunyi klakson yang sangat keras membuat Bela benar-benar terkejut. Dia langsung memegangi jantungnya, rasanya jantung itu berdegub dengan kencang karena belum siap menerima bunyi sekeras itu.


Lalu matanya menatap Bara dengan tajam seakan ingin mengatakan mengapa dia membunyikan klakson itu, tapi nyatanya dia tidak bisa mengatakan apapun dan hanya bisa terdiam dengan amarah.


"Apa? " Bentak Bara dengan keras.


"Kau... Kau.. Ahh, kenapa membunyikan klakson" Akhirnya kata yang terbata-bata bisa keluar dengan jelas juga dari mulut Bela.


"Kau tuli? Aku menyuruh mu turun karena kita sudah sampai" Jelas Bara dengan tatapan kesal.


Bela melihat sekeliling ternyata mereka sudah berada di sebuah parkiran mall besar. Bela langsung turun dari mobil dan menunggu Bara untuk mematikan mobilnya. Dia tercengang melihat mall besar yang begitu indah sekaligus membuat Bela bahagia, karena Bara sudah membawanya untuk yang kedua kalinya.


Sedikit ada senyum di gadis itu, hatinya merasa senang karena melihat ada sebuah kebaikan dari tuannya untuk mengajaknya berjalan-jalan.


Dia tidak mengharapkan untuk dibelikan sesuatu, tapi dia hanya ingin merefresh otaknya yang sangat jenuh karena sudah seminggu lebih di dalam kamar dan terbaring dengan selang infus


"Aah sial, dia meninggalkanku" Gumam Bela dalam hati saat melihat Bara pergi meninggalkannya dan berjalan sendirian masuk ke dalam mall.


Bela segera mengejarnya dan mengekori Bara dari belakang. Baru saja masuk ke dalam mall, dia langsung tersenyum dengan senang. Pandangannya mengarah ke setiap sudut untuk memastikan dia menemukan kesenangan kembali.


Bara menyuruh Bela untuk memilih baju lagi seperti waktu itu sebagai baju ganti di rumahnya. Tanpa banyak bicara Bela mengambil baju yang dia inginkan, tidak lupa baju untuk Bara walaupun baju sebelumnya yang dipilihkan oleh Bela tidak pernah dipakai.


Sedangkan Bara keluar sebentar dari toko tersebut meninggalkan Bela. Tanpa disadari ternyata Bara menjauh dari toko itu dan Bela masih sibuk dengan bajunya.


"Sepertinya sudah cukup" Gumam Bela sambil menuju ke kasir.


Setelah menyerahkan semua barangnya ke kasir, Bela baru menyadari ternyata Bara tidak ada di dalam toko. Matanya terus mencari sekeliling ternyata tidak menemukan tuan arogan yang dia cari.


"Kak barangnya letakkan disini sebentar ya, soalnya aku mau cari suamiku" Ujar Bela penuh dengan wajah yang menunjukkan belas kasih.


"Baiklah, saya akan menghitung jika suami anda sudah datang kak" Jawab sang kasir dengan ramah.


"Terima kasih Kak"


Untung saja toko itu baik dan membiarkan Bela pergi sebentar untuk mencari Bara. Bela keluar dari toko dan harus mengelilingi mall besar dan mencari Bara.


Lagi-lagi dia meninggalkan ponselnya di rumah, barang yang seharusnya sangat penting digunakan untuk keadaan darurat seperti ini. Memang dasar gadis muda yang pikun.


"Siall, kemana aku harus mencarinya. Sedangkan aku lupa membawa ponsel" Gumamnya menggerutu sendiri sambil menatap semua sudut untuk menemukan Bara.


Rasanya benar-benar lelah, kaki Bela terus menyusuri mall besar dan dia naik turun tangga tapi tidak menemukan Bara juga. Akhirnya dia memilih untuk beristirahat sejenak.


Tiba-tiba matanya tidak sengaja melihat Bara sedang jalan berdua dnegan seorang wanita muda. Terlihat umur Bara dan wanita itu terpaut sama tapi Bela tidak mengenalnya.


"Enak sekali dia meninggalkan aku sendirian dan sekarang berjalan dengan seorang wanita dan meninggalkanku sendirian di dalam toko baju" Ketusnya sangat kesal.


Bukan kesal karena cemburu, tapi kesal karena dia sudah memilih baju dan ingin membayar ke kasir tapi tidak memiliki uang sama sekali. Sedangkan Bara asik berduaan dengan wanita lain.


Sejenak Bela menyandarkan diri di tempat duduk dengan rasa resah. Pikirannya mencoba mengolah pandangan yang baru saja terlihat secara langsung.


Dan sekarang otak dan hati mulai memberikan argumen pada dirinya tentang bagaimana kehidupan yang sedang di jalani hanya sebagai pajangan dan status palsu saja.


"Memang aku tidak pernah pantas untuk dicintai siapapun" Ucap Bela menyendiri di kursi khusus pengunjung.


Dia menyandarkan kepalanya di tembok dan mengingatkan atas apa yang sudah dialami selama hidupnya. Mengingat tentang kekerasan dan rasa sakit yang datang bertubi-tubi.

__ADS_1


Jika mengingat tentang kasih sayang, sangat jelas bahwa hidupnya tidak akan pernah di penuhi oleh kasih sayang. Bela sempat berfikir jika dia akan mendapatkan kasih sayang setelah keluar dari rumah ayahnya, namun nyatanya penyiksaan semakin parah.


"Tuhannn, kenapa tidak ada kebahagiaan dalam hidupku Tuhan" Teriaknya kecil sambil menjambak rambutnya sendiri.


Hatinya telah lelah dan hanya bisa mengadu. Tempat bersandar saja dia sudha tidak punya, lalu kemana lagi harus bersandar dan mengadu terus terang hanya kepada tuhannya.


Bela memejamkan mata untuk menenangkan dirinya sendiri sambil mengingat kenangan terindah bersama mamanya, senyumnya masih sangat lepas. Sedangkan sekarang dia banyak tersenyum kepalsuan.


Kelelahan dalam menjalani kehidupannya sendiri. Ingin berlari namun hidupnya telah terbelenggu dan tidak mungkin bisa lepas, kecuali ada kata nekat di dalamnya.


"Terserah lah" Ucap pasrah memikirkan kehidupan, sekaan dirinya telah menyerah.


Bela segera pergi ke parkiran untuk masuk ke dalam mobil. Tapi dia lupa jika kunci mobilnya ada di Bara dan pintunya terkunci jadi dia tidak bisa masuk.


Akhirnya Bela duduk di tepian parkiran, duduk bersimpuh di atas lantai dan berselonjor. Bela memilih untuk mencari tempat sepi untuk menenangkan hatinya dan menyandarkan tubuh lemah itu ke tembok beton.


Ingin rasanya mulutnya meraung dengan kesal, tapi kenyataannya tidak bisa. Dia hanya membutuhkan waktu untuk sendiri, karena di pikiran Bela hanya mengetahui bahwa dia memang benar-benar sendiri.


"Ma, kenapa mama pergi secepat itu. Bela tidak bisa menghadapi dunia sekejam ini" Air matanya kembali mengalir deras dalam kesunyian. Meraung dalam kesunyian yang hanya di dengar oleh udara saja.


Dia memeluk lututnya sambil membenamkan wajahnya yang penuh deraian air mata. Lagi-lagi hatinya nyaman bila menangis dalam kesepian tanpa ada yang mengetahui.


Harapan hidup hanya menjadi bayang-vayang dirinya. Tapi dia tidak pernah tau harapan apa yang akan terkabul setelah dia menjalani semua rasa pahit itu. Yang jelas semua mengenggam ketidakpastian.


Gadis malang, menangis sendirian di sudut tempat parkir mobil. Dia merasa dirinya sangat menyedihkan karena selalu masuk dalam sebuah lingkaran hitam yang tidak pernah menuangkan kasih sayang sedikit saja.


"Memang sebenarnya mati lebih baik" Ujar Bela dengan tatapan putus asa yang sangat dalam.


Dia segera menghapus air matanya, mencari tempat yang cukup tinggi. Terlihat parkiran 3 tingkat, dia segera berlari ke atap parkiran dengan rasa sakit yang dibawanya.


Hidupnya terasa sudah tak berarti lagi tanpa seorang mama yang membimbing jalannya kehidupan Bela. Dia sudah menyerah dengan kehidupan pahit yang selalu saja mengerubungi waktunya.


Sesampainya di atas, tubuhnya merasakan kencangnya hembusan angin dari sembarang arah. Matanya terpejam sejenak dan mengingat memori indah walau itu hanya sedikit.


Di pikirannya terlintas perjalan dirinya bersama Roy. Karena hanya Roy yang mampu menenangkan hati resah itu dan mampu memberikan tawa. Akan tetapi sekarang sudah hilang dan tidak sama dengan masa itu.


"Ini yang terbaik" Ujar Bela sambil merentangkan tangannya dan mengambil ancang-ancang untuk melompat.


Rasa putus asa telah menguasai hati yang lemah. Tidak ada lagi yang dapat dipertahankan dalam sebuah tempat asing dalam hidupnya saat ini. Sungguh mengakhiri hidup adalah keputusan singkat untuk mengakhiri derita sekaligus.


"Jangan, jangan" Teriak seseorang dari belakang dan langsung memeluk Bela dengan erat, dia tidak membiarkan Bela meloncat bebas dan mati konyol di hadapannya.


"Lepaskan, waktuku sudah habis" Sahut Bela dengan emosi. Rasanya sudah tidak ada kekuatan untuk bertahan di dunia yang keras baginya. Mental Bela telah melemah secara perlahan.


"Apa yang ingin kau dapatkan, jika ada masalah bukan begini caranya" Teriak wanita itu mencoba untuk mencegah Bela melakukan hal buruk.


Bela segera menoleh ke belakang, dan ternyata dia adalah Sela.


Teman sekelasnya yang tidak banyak bicara namun memiliki kepedulian yang sangat tinggi. Bela tidak menyangka jika bertemu Sela dalam keadaan putus asa seperti itu.


"Kau kenapa? Jangan sia-siakan hidupmu" Ujar Sela sambil memeluknya.


Kaki Bela terasa sangat lemas, dia duduk bersimpuh kembali dalam dekapan Sela. Rasanya hati Bela sudah benar-benar hancur mencari pijakan yang kini telah tak berarti.


Pikirannya lemah dan otaknya tidak bisa berfikir jernih serta tidak dapat berjalan dengan baik sehingga memilih jalan pintas seperti itu karena pikiran negatif yang sedang menguasai dirinya.


__ADS_1


__ADS_2