
Bela mencari berbagai cara untuk berbincang-bincang dengan Bara. Dia memberikan perhatiannya layaknya seorang istri sungguhan.
"Tuan" Suara lembut dari Bela sambil memandangi wajah Bara yang terlihat sangat lesu.
"Apa? " Bentaknya dengan kesal.
"Apakah engkau sudah makan? " Bela takut jika Bara belum makan.
"Sudah" Sahut Bara singkat.
"Syukurlah, jika kau ingin mandi silahkan saja karena aku telah menyiapkan air hangat untukmu" Tutur lembut Bela selalu diselingi dengan tawa.
Bela sangat perhatian, dia tau bahwa dirinya adalah istri kontrak. Namun dia tidak akan lupa tugas seorang istri sesungguhnya harus dijalani. Karena pikirnya mengatakan bahwa hal ini sebagai upaya untuk belajar jika nanti mendapatkan suami sungguhan di masa depan.
Segera ia beranjak ke tempat tidur. Mengistirahatkan diri dengan penuh lelah di malam itu. Mencoba tenang menyambut pagi dengan jajaran embun yang akan menyapa tenang esok hari.
"Apa tujuanmu sekolah? " Teriak Bara pada Bela.
Baru saja matanya terpejam sebentar, suara Bara menggema di ruangan dan telah membangunkannya. Saat membuka mata ternyata Bara telah selesai mandi dan berpakaian untuk tidur.
Bara mendekati Bela, betapa terkejutnya ia saat Bara duduk di ranjang yang sama. Bela segera duduk dan menjauh dari jangkauan Bara. Dia tidak ingin berdekatan dengan tuannya.
"Aku? Jelas tujuanku untuk belajar dan mencari teman tuan" Sahutnya ringan dengan sedikit menjelaskan.
"Teman mesra maksudmu? " Bara meringis kecil saat mengingat lelaki tadi pagi yang merangkul Bela seperti pasangan saja.
Sejenak Bela terdiam lalu mengingat apa yang dimaksud dengan teman mesra. Pikirnya kembali memutar waktu, ternyata teman mesra yang dimaksud adalah Brandon.
Tangan brandon sempat merangkul Bela, dan hal itu juga yang dibahas oleh Bara. Rupanya bahasannya tentang rangkulan Brandon belum selesai juga. Bela sedikit tersenyum lalu menatap Bara.
"Apa tuan cemburu dengan lelaki itu? " Dengan tenang Bela menanyakan hal tersebut pada Bara.
"Cemburu? " Senyum licik kembali terlintas di wajah Bara.
Bara beranjak dari ranjang dan mendekat pada Bela. Dia memegang erat pipi gadis kecil itu lalu langsung menindihnya. Mata Bela terbelalak, tubuhnya tidak bisa bergerak karena tindihan yang cukup kuat.
Matanya terpaku saat sorotan mata Bara menatap Bela dengan licik. Jantungnya berdegup kencang karena takut terjadi hal yang tidak dia inginkan. Tangannya mencengkeram selimut seakan ingin segera lari dari tindihan itu namun tidak bisa.
"Kenapa kau terlihat takut, bahkan aku hanya menindihmu saja" Jelas Bara sambil menyeringai dengan penuh tanya.
"Ti.. Ti... Tidak tuan" Ucapnya terpatah-patah.
Suara nafas bersama secara bergantian dengan hembusan cukup kencang. Tidak bisa dipungkiri bahwa dirinya sangat ketakutan. Dia takut bila Bara berbuat hal yang tidak dia inginkan sepert yang telah disepakati di awal perjanjian.
Bela bingung hal apa yang ingin dia lakukan, sedangkan tangan Bara masih mengelus lembut wajah Bela yang terlihat masih menampakkan ketakutan mendalam. Tangan itu membelai rambut halus dengan senyuman khasnya.
"Maaf tuan, aku hanya berteman dengannya tidak lebih" Bela mencoba meminta maaf secara berulang, karena dia tau jika senyum Bara adalah kemarahannya.
"Berteman? Dengan rangkulan yang mesra? Itu hal konyol yang aku lihat" Sahut Bara sambil menepuk kecil pipi Bela.
Bela menelan salivanya dengan kasar. Tangannya juga ingin mendorong tubuh Bara namun tidak akan bisa karena tubuh itu cukup kuat.
"Baiklah, aku akan menyelesaikannya sekarang" Ujar Bara.
"Ehmm, jangan tuan jangan" Teriak Bela ketakutan akan hal yang ingin Bara lakukan padanya. Pikiran mesum kembali terlintas, dia takut bila Bara mempe*kosanya.
*brak*
"Aaaa, aduhhh" Teriak Bela sambil menahan tubuh Bara.
Bara memaksa untuk mencium Bela, namun gadis kecil itu tidak rela dengan perlakuan yang kasar seperti itu. Kakinya dengan sigap menendang Bara sehingga dia terjatuh dan tersungkur di atas lantai.
Bara kesakitan karena bela menendang kejantanannya dengan keras. Ada sedikit rasa lega dan juga rasa bersalah secara bersamaan dalam diri Bela.
"Maaf tuan aku tidak sengaja, hehehe" Bibir Bela menyeringai sehingga giginya terlihat sedikit.
"Kau pikir aku becanda ha? " Bara kembali mendekat, dan sekarang dia menjambak rambut Bela dengan kuat.
Cengkeraman erat dari tangannya hanya membuat bela tersenyum kecil. Dari dalam lubuk hatinya lebih baik dipukuli daripada di perko*sa oleh Bara.
Melihat senyuman itu Bara semakin mencengkeram kuat rambut Bela seakan ingin melepas semua rambut itu dari kulit kepalanya.
Namun Bela masih terdiam dengan senyum kecilnya. Rasa sakit itu selama sudah terbiasa dalam diri Bela jika mengingat masa lalunya yang sangat kelam dengan semua perlakuan yang pernah dia dapatkan.
*plak, plak, plak*
"Sekali lagi kau bermain dengan lelaki maka aku akan menghabisimu" Tangan Bara melemparkan tamparan yang cukup banyak.
Beberapa tamparan mendarat di pipi mungil tanpa peduli sakit yang dirasa oleh gadis itu. Terlihat merah lebam di pipi Bela sebelah kiri dan kanan. Namun masih belum ada teriakan kesakitan dari mulut Bela.
Bara terus berbicara tentang apa yang harus Bela jauhi, yaitu seorang lelaki. Karena yang bisa mendekatinya hanyalah Bara dan tidak boleh ada lelaki lain dalam hidup Bela kecuali dirinya.
Sungguh tidak adil, sedangkan Bara mendekati banyak wanita di klub tanpa sepengetahuan Bela. Sedangkan istri kecilnya dilarang mendekati lelaki manapun walau hanya sekedar teman sekolah.
"Kau tau tuan, dulu aku selalu berani dan melakukan banyak hal dengan teman lelaki kecuali tidur bersama atau pacaran. Aku tidak pernah ada rasa pada mereka, begitu juga denganmu" Ucap Bela kembali tersenyum.
Bara segera membalikkan badan dan menatap Bela dengan sorotan tajam. Tatapan itu seakan tidak mau lepas dari wajah Bela. Dia heran, padahal tamparan itu cukup membuat beberapa wanita takut namun tidak dengan istri kecilnya itu.
__ADS_1
Diakhiri dengan senyuman, bela mengatur posisi untuk terlelap dalam bekas luka di tubuhnya. Dia tertidur membelakangi Bara.
Rintik hujan mulai turun seakan menandakan rasa sakit yang membkas namun tertahan karena sudah terbiasa. Bersama hembusan udara dingin di sisi hujan, Bela tertidur dengan tenang tanpa keluhan.
"Apakah dia batu? Mengapa tidak menangis?" Bara duduk di sofa sambil memandangi Bela yang telah terlelap.
Dirinya bahkan tidak bisa tertidur setelah memukuli Bela dengan keras. Ada rasa bersalah yang cukup besar dalam dirinya karena tangan itu kembali menyentuh gadis kecil yang polos dan tidak tau apapun.
Hanya karena lelaki dan rasa cemburu dia tega memukuli Bela seperti hewan saja. Bekas tangan masih terlihat jelas namun jeritnya membeku tak bersuara. Bahkan hanya senyuman yang terlintas dari bibir kecil Bela.
"Andai saja kau tidak dekat dengan lelaki lain, mungkin aku tidak akan memukulmu" Gumam Bara kembali dalam hati.
Dirinya terus memandangi tubuh Bela, bahkan matanya sangat susah untuk terpejam. Pikirnya terus bertanya-tanya tentang kebenaran atau kesalahan yang telah dia perbuat pada gadis kecil yang lugu tapi menyebalkan.
*jeeeedaaaaarrrrr*
*jedarrrrrrrrrrr* Suara petir bersautan dengan keras.
"Mama, jangan tinggalkan Bela ma. Bela takut sendirian ma, mama mengapa hidup Bela selalu sendiri" Teriak Bela tak menentu.
Gemuruh badai dan kilat menyambar dengan keras. Mata bela terpejam, mulutnya meracau tentang kerinduan, dan tubuhnya meringkuk dalam ketakutan.
Bukan hanya sekali petir itu bersautan namun berulang kali suara keras itu terus menyambar hingga membuat gadis itu takut dan memeluk kesendirian dalam tangis tanpa suara.
Bela sangat takut dengan suara sambaran petir dan gemuruh yang cukup keras. Jika dalam takutnya dia akan selalu memanggil mamanya yang telah tiada. Karena selama ini hanya mama kandung Bela yang selalu memeluk Bela bila hujan telah tiba. Sebab Bela snahat takut dengan petir.
"Mama, Bela takut ma. Ma jangan lepaskan tangan mama" Tangisan dalam ketakutan, suara terus meracau namun dirinya masih terbaring dalam alam mimpi dan enggan untuk membuka mata.
Bara terkejut melihat pemandangan itu, dia langsung terbangun dari tempatnya dan berdiri di samping Bela. Awalnya dia tidak peduli, namun semakin lama jeritan Bela membuat hatinya ibah dan tidak tega dengan tangisan itu.
Hatinya juga merasa heran karena melihat Bela menangis dan meringkuk dalam ketakutan hanya karena sebuah petir. Sedangkan dengan tamparan dia hanya tersenyum seperti tidak terjadi apapun.
"Tenanglah, kau aman sekarang" Bara menemani Bela dan tidur disamping gadis itu sambil mengelus lembut rambutnya.
Berharap Bela tenang dan tidak merasakan ketakutan lagi. Tangan Bara tidak berhenti untuk mengelus rambut dan juga tangan Bela secara bergantian. Dengan sentuhan yang diberikan Bara seakan gadis kecil ini tidak lagi meraung ketakutan.
Sejenak dirinya mendadak tenang dan tidak ada lagi suara tentang rasa takut karena saat petir dan gemuruh kembali datang, tangan Bara dengan sigap menutup telinga Bela agar agar tidak menganggu tidurnya.
Dan sekarang posisi mereka seperti seorang ayah yang sedang menidurkan anaknya. Bela juga terlelap dengan tenang dalam dekapan hangat Bara. Seakan-akan dirinya merasa aman dalam dekapan mamanya walau terlihat asing pada tidurnya.
Pagi
"Siapa ini yang memelukku? Apakah mungkin tuan sialan itu? " Gumamnya dalam hati.
Bela segera membuka mata secara perlahan dan mencoba untuk melepaskan diri dari rangkulan tangan dengan otot yang cukup besar. Ternyata yang merangkulnya adalah Bara, dan mereka tidur seranjang semalam.
Bela menelan salivanya dengan kasar, dia ingin segera berdiri dari ranjang tapi tidak bisa karena kaki Bara dengan kuat menindih kaki Bela yang masih dalam selimut.
"Tuannn bangun lahh" Jeritnya dalam kepanikan membuat Bara terkejut dan langsung loncat dari tempat tidur.
"Ada apa? " Sahutnya dengan terkejut dan menatap dalam kecemasan.
Sekarang sorotan kedua mata saling menatap satu sama lain. Belum ada pembicaraan dari mereka dan terlihat diam seribu bahasa. Bela masih mengerutkan dahi sambil menatap Bara.
Sedangkan Bara menatap Bela dengan tenang karena dia tau apa yang dilakukannya tadi malam hanyalah untuk membuat Bela tenang dalam tidurnya dan tidak terganggu oleh getaraan petir.
"Ada kecoa" Ucap Bela berbohong untuk menghilangkan kecanggungan mereka.
"Mana? " Tanya Bara panik.
"Tadi di atas tubuhmu"
__ADS_1
"Sial, kamar ini sudah kotor. Aku akan menyuruh pelayan untuk membersihkannya nanti" Lalu Bara kembali ke ranjang untuk tidur.
Padahal tidak ada kecoa satupun tapi Bela malu jika mengatakan bahwa mereka berdua telah tidur di ranjang bersama semalam. Bela segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan merenung tentang hal apa yang terjadi semalam.
Sedangkan Bara tersenyum sambil memejamkan mata karena dia tau bahwa kecoa adalah kebohongan besar yang dibuat untuk menutupi kecanggungan karena telah tertidur di ranjang yang sama.
"Gadis itu, dia pikir aku bodoh. Terlihat wajahnya ketakutan karena telah tidur bersamaku, sebegitu hebatnya diriku ini? Ah sudahlah, aku mau tidur lagi" Gumamnya berbicara sendiri.
Bara kembali tidur untuk menikmati minggu pagi dengan bersantai. Sedangkan Bela membersihkan diri sambil mengunci pintu dengan sangat rapat karena takut Bara tiba-tiba masuk.
Setelah selesai Bela melangkahkan kaki secara perlahan dan melihat Bara terlelap lalu dirinya melangkah untuk keluar dari kamar.
"Untunglah dia masih tertidur. Aku akan keluar dari kamar ini" Gumam Bela dalam hati sambil. melangkah tanpa suara.
"Kau mau kemana? " Teriak Bara menghentikan langkah Bela.
"Kenapa dia bangun" Batin Bela berseru.
"Mau ke kamar oma tuan, apakah anda membutuhkan sesuatu? " Tanya Bela dengan lembut.
"Ya, baju ganti pagi ini" tuturnya.
Bela segera mencari baju ganti dan menyiapkannya tanpa menoleh ke arah Bara. Rasa takut dan malu bercampur jadi satu, memang tidak ada hal yang terjadi semalam karena baju mereka masih utuh menempel di badan. Tapi Bela merasa canggung saat mengetahui mereka tidur dalam satu ranjang.
Tanpa dia sadari Bara melihatnya dari belakang sambil tersenyum kecil. Dia merasa lucu saat melihat Bela tergesa-gesa menyiapkan pakaian tidak seperti biasanya.
"Sudah tuan ini bajunya, aku akan ke bawah dulu" Ujar Bela tanpa menoleh.
"Tunggu" Bara mendekat.
Dia langsung merangkul Bela dari belakang. Karena terkejut, tangan Bela langsung memelintir dan berbalik menatap Bara.
"Aaa, kenapa kau memelintir tanganku" Ketus Bara.
"Karena aku tidak ingin kau peluk, bukankah sudah ku bilang jangan memeluk atau berbuat macam-macam denganku. Aku hanya istri pura-puramu dan tidak akan menjadi istri sungguhan" Jelas Bela denagn nada kecepatan suara yang tinggi.
Amarah Bela melunjak karena perjanjian di awal hanyalah menjadi istri bohongan untuk menyenangkan hati oma. Dan hal itu disetujui oleh mereka berdua. Tapi ternyata Bara sudah melanggar.
Tanpa Bara sadari dirinya sudah menyukai Bela karena sikap ceria dan selalu menjadi wanita kuat, lebih tepatnya dia menganggap Bela adalah Denada walau tidak sama namun bisa menghilang kerinduan Bara padanya.
Bahkan Bara juga merasakan perubahaan yang sangat besar di rumah ini semenjak kehadiran Bela.
~~~~ BERSAMBUNG ~~~~
__ADS_1