Antara Cinta Dan Mafia

Antara Cinta Dan Mafia
82. Kecupan Yang Mengejutkan


__ADS_3

Bara sangat benci dengan sebuah penolakan, dia tidak suka jika apa yang di inginkan olehnya dibantah dan tidak mau dituruti.


"Sekali lagi kau menolak perintahku mungkin tangan ini akan kembali menyiksamu " Bara kembali memberikan ancaman pada Bela.


Ucapan Bara sangat tegas akan menghancurkan Bela apabila dia tidak menerima perintah serta menyangkal permintaan yang Bara inginkan. Mau tidak mau Bela harus menerima karena dia sudah terlanjur masuk dalam lubang singa yang begitu kejam.


Meski dia tidak tahu bahwa rumah itu adalah sebenarnya lubang derita yang akan dia jalani untuk masa depannya jika dirinya masih bertahan di rumah itu dan tidak memilih keluar.


Memang rumah itu terlihat damai dan tenang tapi Bela tidak tahu dibaliknya bahwa pemilik rumah itu yaitu Bara ingin membalaskan dendam serta menyiksa Bela lebih tepatnya untuk menyerang mentalnya agar hancur berkeping-keping hingga ke masa depan yang telah dipersiapkan untuk menghancurkan kehidupan gadis itu.


"Oke baiklah, apa maumu sekarang tuan dan apa yang bisa aku lakukan untuk memenuhi perintahmu" tutur lembut bela penuh dengan rasa yang sangat terpaksa untuk menuruti kemauan Bara walau dirinya sedang bergelut dengan rasa lelah dan letih baik fisik maupun hatinya.


"Aku ingin kau masak makanan untukku saat ini karena perutku sangat lapar" perintah Bara pada Bela. Dia hanya meminta untuk di masakan makanan saja padahal Bara sendiri tahu jika tubuh Bela sedang lelah setelah pulang sekolah.


Namun kemauannya tidak bisa ditolak sehingga Bela menurutinya dan segera memasak tanpa berganti baju. Sebelum masakan itu selesai, Bara menunggunya di meja makan sambil memandang gadis itu. Sedangkan pikirannya sedang bergelut dengan tanda tanya yang cukup banyak setelah melihat sikap Bela yang tidak ceria setelah pulang sekolah.


" Kenapa kau terlihat murung sepulang sekolah? " Sedikit perhatian Bara berikan saat Bela sedang sibuk memasak namun wajahnya masih terlihat murung.


" Aku sedang lelah " sahut Bela dengan singkat lalu dia kembali melanjutkan untuk memasak.


Beberapa menit kemudian Bela telah selesai memasak dan menyiapkan hidangan tersebut di depan Bara lalu dirinya bergegas untuk pergi ke kamarnya untuk istirahat sebentar.


"Kau mau ke mana"seru Bara kembali mencegah Bela untuk pergi dari hadapannya lagi.


"Aku sudah memasak tuan jadi tolong Biarkan aku istirahat" tutur lembut Bela meminta secara halus pada Bara dengan menyatukan kedua tangannya untuk memohon pada tuan arogan itu. Namun nyatanya tetap saja Bara tidak ingin jika gadis itu kembali pergi.


"Duduklah makan bersamaku" perintah Bara pada Bela.


Bela tidak bisa menolaknya jadi dia menarik nafas secara perlahan lalu menghembuskannya dengan kasar kemudian duduk di meja makan serta melayani Bara seperti biasa.


Bela juga menikmati hidangan tersebut tanpa banyak bicara seperti biasa sedangkan Bara menatap pemandangan itu dengan pikiran yang aneh karena Bela yang setiap harinya terlihat sangat riang kini mendadak jadi lesu seakan-akan dia memiliki banyak beban dalam pikirannya.


Bara berpikir bahwa tidak mungkin sekolah membuatnya lelah karena dia sendiri yang meminta untuk dicarikan sekolah agar memiliki teman namun saat ini nyatanya Bela mendadak jadi muram setelah pulang sekolah.


" Apakah kau ada masalah di sekolah?" Bara kembali bertanya walau sekedar basa-basi tapi hatinya sungguh ingin tahu tentang masalah gadis itu.


Pertanyaan Bara membuat Bela heran karena biasanya tuan arogan yang berada di depannya itu tidak pernah banyak bicara di saat makan atau bertemu dengan Bela.


Tapi kali ini Bara memberikan banyak pertanyaan pada Bela walaupun satu pertanyaan saja belum dijawabnya dengan tuntas.


"Tidak ada tuan aku hanya kelelahan karena mungkin terlalu banyak tugas " sahut Bela berbohong.


Karena tidak mungkin dia berkata bahwa pikirannya sedang bergelut dengan masalah kedua orang itu yaitu Beni dan Alex. Pasti jika Bela Berbicara jujur maka Bara akan kembali menghajar teman sekelasnya itu yaitu Beni.


Sebab Bara tidak ingin melihat Bela dekat bersama lelaki lain kecuali dirinya, terkadang Bara juga terlihat cemburu saat melihat kemesraan antara alex dan Bela walaupun itu hanya sekedar sebagai kakak dan adik saja. Apalagi melihat Bela bersama orang lain, mungkin amarahnya melonjak dengan cepat.


"Jika kau banyak masalah maka ceritalah padaku, Dan aku akan mengatasinya hingga masalah itu hilang" ujar bara memberikan tatapan yang meyakinkan pada Bela untuk membantunya keluar dari masalah.


Bela terdiam dan matanya terbelalak karena dirinya sangat terkejut sebab Bara terlihat seperti orang lain, karena di hari biasanya dia tidak pernah memperlakukan Bela seperti itu. Bahkan perkataan yang ingin Bela dengar itu terasa mustahil tapi kali ini ucapan perhatian itu datang dari bibir Bara tanpa dia sadari.


" Tidak tuan aku hanya lelah saja " tutur Bela kembali lembut untuk meyakinkan Bara bahwa dirinya baik-baik saja.

__ADS_1


Terlihat Bara mengangguk kecil dan melanjutkan untuk menghabiskan makanannya. Sementara itu Bela makan secara perlahan dan sesekali matanya menatap Bara dengan heran.


Lalu sejenak bibirnya tersenyum kecil karena dia merasa jika Bara kembali memberikan perhatian yang selama ini Bela rindukan setelah pulang dari rumah oma. Hatinya sedikit bahagia sehingga dengan lahap Bela menghabiskan makanannya.


"Aku sangat senang dengan perhatianmu tuan, aku berharap perhatian itu selalu kau berikan di setiap waktu" gumam Bela dalam hati sembari melihat Bara dengan senyuman lebar.


"Apa kau sudah selesai makan tuan? " Tanya Bela dengan lembut, setelah dirinya sudah selesai makan dan melihat Bara juga menyelesaikan makanannya.


"Apa kau buta? " Sahut Bara.


Baru saja dia berkata baik dengan menampilkan perhatiannya, namun beberapa detik kemudian sifat itu berubah ke setelan pabrik yang membuat Bela kembali lesu mendengar perkataan kasar Bara.


"Iya, aku sudah melihatnya tuan" Ujar Bela dan segera beranjak dari tempat duduknya untuk membereskan meja makan. Bela segera meletakkan piring kotor dan sisa masakannya untuk di makan Alex nanti malam.


Karena hanya Alex yang belum makan setelah dia datang mengantarkan Bela. Bela tau jika Alex ada masalah dengannya tadi, jadi Bela membiarkan Alex menyendiri untuk merenungkannya dalam sunyi.


"Kau mau kemana? " Tanya Bara saat Bela selesai membereskan meja makan lalu dia ingin pergi. Sedangkan Bara masih duduk di meja makan dengan tenang.


"Aku ingin memanggil kak Alex untuk makan tuan" Sahut Bela.


"Tidak usah, nanti dia akan turun sendiri. Kau kemarilah" Bara menyeret tangan Bela dan meletakkannya di atas pangkuannya seperti sepasang kekasih yang ingin memadu kasih di meja makan saja.


Sontak Hal itu membuat Bela kembali terkejut karena berada di atas pangkuan tuan arogan yang selalu berkata kasar padanya. Belum sempat Bela berbicara, Bara mencium bibirnya secara cepat spontan tubuh itu terpaku dan terbelalak menatap Bara walau hanya kecupan saja tapi rasanya darah Bela mendidih dan tubuhnya bergetar hebat.


* Cup*


"Tuan" Teriak Bela saat dia tersadar dari lamunannya.


Bara tidak banyak bicara karena dia langsung meninggalkan Bela begitu saja tanpa harus mempertanggung jawabkan perbuatannya yang mengecup bibir gadis itu sembarangan.


"Tuan, kau membuatku kesal" Bela ingin marah namun nyatanya kembali lagi dia tidak bisa marah.


Bela sendiri bingung dengan perasaannya antara senang ataukah marah setelah mendapatkan kecupan itu. Karena tubuhnya tidak bisa menyangkal jika kecupan itu membuat aliran darahnya begitu cepat serta detak jantungnya berdebar begitu kencang. Tapi gadis kecil itu belum mengerti ala itu cinta.


"Sungguh sangat menyebalkan, tuan mengapa kau menciumku" Teriak Bela lalu dia segera mencuci Bibirnya di wastafel seakan bisa menghilangkan bekas kecupan dari Bara. Bela menggosoknya menggunakan sabun sambil mengoceh karena dia paling tidak suka jika Bara menciumnya lagi.


"Sial, sungguh sial. Untuk yang kedua kalinya dia menciumku, ahhh tuan kau sungguh menyebalkan" Rengek Bela dengan wajah yang begitu kesal sambil membersihkan wajahnya.


"Lebih baik kau begitu, daripada diam seperti batu" Teriak Bara dari atas tangga.


Rupanya daritadi Bara tidak langsung masuk kamar namun dia memperhatikan Bela yang mengoceh dengan dirinya sendiri sambil membasuh wajahnya.


Sontak teriakan bara mengalihkan pandangan Bela dan tertuju pada Bara yang sedang berdiri di atas. Bela memberikan wajah kesalnya pada Bara, tapi hal aneh terjadi lagi karena Bara tersenyum kecil lalu kembali masuk ke dalam kamarnya.


"Apa dia tersenyum padaku? Apakah itu mimpi?" Bela bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


Ada rasa yang masih belum dapat dipercaya dalam hatinya saat melihat Bara tersenyum kecil padanya. Padahal biasanya Bara memberikan wajah dingin yang kaku, tapi kali ini dia memberikan senyuman kecil pada Bela seakan menghangatkan es yang sedang membeku dalam diri tuan arogan itu.


Kemudian Bela kembali fokus untuk menyelesaikan pekerjaannya yaitu mencuci piring karena dia tidak mau berlarut dalam pesona yang diberikan oleh tuan arogan itu.


Selesai melakukan pekerjaannya, Bela segera mengganti baju lalu pergi ke kamar Alex.

__ADS_1


* tok tok*.


" Kak Alex keluarlah karena kau belum makan " Walaupun Bela masih marah pada Alex, namun dirinya tetap saja perhatian.


Bela tidak mau jika Alex kelaparan di dalam kamarnya. Karena Bela merasakan bahwa kelaparan itu sangat tidak nyaman apalagi tertidur dalam keadaan lapar pasti saat bangun-bangun serasa tidak makan dalam satu tahun. Bela terus mencoba membangunkan Alex namun pintu itu belum saja terbuka.


"Baiklah jika kau tidak ingin makan, tapi aku sudah menyiapkan makanan di meja makan mungkin nanti kau akan lapar kak " Seru Bela.


Sebenarnya hari masih tidak terlalu malam namun Bela sudah selesai memasak dan makan malam karena permintaan Bara.


Sementara itu Alex tetap saja berdiam diri di dalam kamar. Sedangkan Bela berfikir jika kakaknya itu tidak ingin keluar karena sedang merenungi Apa yang sedang didebatkan antara Bela dan Alex di perjalanan pulang tadi.


"Mungkin Kak Alex membutuhkan ketenangan terlebih dahulu, jadi aku tidak akan mengganggunya" gumam Bela sambil berjalan ke dalam kamarnya.


Bela segera mengeluarkan beberapa buku yang akan dia pelajari sebagai persiapan untuk ujian akhir semester atau ujian kenaikan ke kelas 3. Bila memang tertinggal jauh dalam mata pelajaran tersebut, namun tekadnya untuk belajar lebih baik serta meminta bantuan pada Mario.


Akhirnya dia berhasil menguasai beberapa pelajaran yang sudah berlalu karena pribadi Bela sendiri adalah siswa yang mudah memahami serta bekerja keras untuk mendapatkan hasil yang terbaik.


Hingga pada akhirnya dia telah berhasil mengejar ketertinggalan tersebut dan akan mempersiapkannya sebagai bentuk ujian akhir yang segera diadakan beberapa minggu lagi.


*klek* pintu kamar Bela terbuka, Bara masuk tanpa permisi.


"Tuan, kau sedang apa? " Tanya Bela dengan tatapan heran.


Namun bara tidak menjawabnya melainkan menyeret Bela untuk keluar dari kamar tersebut. Bela terus menolak karena dia harus belajar.


"Tuan aku ingin helajar, mengapa keu menyeret ku seperti ini? " Bela terus menahan tarikan Bara, akan tetapi kekuatannya tidak bisa mengimbangi kekuatan dari Bara.


"Ikut aku" Ketus Bara tanpa banyak bicara. Lalu dia kembali menyeret Bela hingga masuk ke dalam mobil. Bela tidak tau kemana Bara akan membawanya pergi.


Padahal waktu sudah menujukkan pukul 8 malam. Bela tidah bisa menolaknya walaupun hatinya sangat tidak setuju dengan apa yang dilakukan oleh tuannya itu. Namun Bela harus menuruti perintah tersebut sebelum Bara marah karena sebuah penolakan.


Seperti biasa di dalam mobil Bara fokus menyetir tanpa banyak suara sedangkan Bela terlihat tidak mengerti apa yang akan dilakukan oleh tuannya.


Namun kali ini Bela mencoba menjaga jarak karena dia takut bila Bara melakukan hal-hal konyol yang dapat merugikan dirinya. sesekali Bela memandangi wajah Bara namun tidak ada yang aneh dari tatapannya melainkan hanya perilaku Bara yang aneh tiba-tiba mengajaknya keluar dan masuk ke dalam mobil.


"Memangnya kita mau kemana tuan" akhirnya Bela mengeluarkan ucapan yang penuh dengan rasa penasaran tersebut karena dia tidak tahu kemana Bara akan membawanya pergi.


" Sakan di luar"sahut Bara singkat.


"Makan di luar? Bukankah kita sudah makan tadi sore " sambung Bela karena dia tidak setuju saat Bara mengajaknya makan di luar sebab mereka berdua sudah makan bersama tadi sore.


"Tutuplah mulutmu jangan banyak bicara" perintah Bara dengan penuh penekanan.


Akhirnya Bela kembali terdiam dan memilih menyadarkan kepalanya yang penuh dengan pikiran tidak karuan. Bela memilih untuk tertidur agar dapat menghilangkan banyak masalah yang masih belum menemui titik terang. Tapi nyatanya menutup mata saja dia tidak bisa karena takut jika serangan dari Bara datang secara mendadak.


"Tuan sebenarnya aku ingin belajar karena ujian sudah dekat, bagaimana kalau kita makan di rumah saja dan aku masak makanan untukmu lagi? " Bela memberikan tawaran pada Bara serta membujuknya pulang. Karena yang Bela inginkan adalah belajar, bukan bersenang-senang dengan makan di luar rumah serta melupakan kewajibannya sebagai seorang siswa.


"Tidak, diamlah. Dan ikuti apa yang aku mau" Lagi-lagi Bara menyuruh Bela terdiam. Karena dia hanya ingin ketenangan dan membuat suasana bersama Bela di malam yang cerah.


__ADS_1


__ADS_2