
Ana kembali termenung dalam pagi yang cerah. Rasanya kehidupan tidak adil di saat dirinya ingin berubah namun tidak ada satupun yang ingin mendukung Ana. Serasa dunia mengusik untuk terus menyalahkan dirinya.
Para siswa di sekolah itu selalu mengenal sosok Ana sebagai gadis sombong dan angkuh karena memiliki kekayaan yang tinggi. Serta Ana tidak memiliki teman kecuali bersama dengan El atau dengan teman-teman yang hanya menginginkan hartanya namun tidak memiliki hati yang tulus.
Terkadang ada yang pernah merinding Ana dan El tapi seketika si perundung mendadak hilang dan tidak melakukan perundingan lagi pada mereka berdua. Mereka berdua berfikir jika hal itu dikarenakan si perundung takut dengan kuasa keliatannya tapi nyatanya perundung itu dibungkam oleh Bela untuk tidak menyakiti saudaranya.
"Tuhan aku mohon permudahkanlah agar aku bisa memiliki teman seperti Roy. Aku ingin memiliki kehidupan yang normal dan juga ingin merasakan bagaimana caranya bila hidup dengan keadaan yang sederhana "gumam Ana sambil memejamkan mata dan mengadahkan kepalanya untuk menatap langit.
Seakan-akan Dia berbicara pada Tuhan yang selalu setiap hari, setiap waktu bahkan setiap detik memperhatikan Ana dari atas sana. Tidak lama kemudian air matanya kembali jatuh merasakan kepiluan yang hanya sedikit saja dia tangisi, sedangkan dia rasa Bela sudah melewati banyak hal namun tetap saja air matanya selalu kering.
Karena Ana selalu melihat di saat Bela merasakan kesakitan dalam pukulan ayahnya mata indah Bela tidak pernah sembab, tidak pernah meneteskan butiran-butiran bening, dan yang terlihat dari Bela hanyalah menampilkan senyuman seakan dia selalu baik-baik saja dalam hal buruk sekalipun.
Sementara itu Roy terlihat bergumam pada dirinya sendiri sembari berjalan menuju kelasnya. Matanya selalu memberikan sorotan tajam tanpa kehangatan.
"Aku sangat benci bila mendengar namamu Ana, dan karena perbuatanmu itu telah membuat sahabatku Bela menderita seperti itu" Gerutu roy sambil berjalan ke dalam kelas.
Rasa benci dalam diri seseorang yang pendiam akan terus ada, bahkan akan menimbulkan suatu dendam. Akan tetapi untuk menghilangkan rasa benci itu sangat sulit sebab perlakuan yang pahit selalu mencekik dalam kehidupan yang tak pernah rata.
Yang terjadi dalam hatinya hanya bisa menggenggam rasa benci itu pada Ana karena Roy selalu menyalahkan bahwa kematian Bela serta kesengsaraan Bela itu semua karena Ana dan El.
Roy selalu berpikir bahwa hidup Ana dan El selalu bergelimang harta sedangkan Bela berpura-pura untuk hidup sederhana serta bermain dengan lingkungan yang penuh kebebasan bersama dirinya tanpa adanya bau kemewahan di setiap perjalanannya.
Sekolah Bela.
Baru saja Bela memasuki lorong kelas tiba-tiba ada sebuah benda yang dilemparkan mengenai kepalanya. Benda itu membuat Bela terhenti dan meremasnya, karena dia tahu siapa lagi musuh di sekolah ini tidak lain dan tidak bukan adalah Dira.
"Kau sangat pantas dipanggil pecundang, karena menyerang dari belakang dan bertujuan untuk menghancurkan seseorang. Namun kau sangat ketakutan untuk menghadapinya bukan" Bela mengucapkan hal tersebut dan tubuhnya masih membelakangi Dira.
Karena dia tahu bahwa Dira sedang bersembunyi di tembok belakang lorong yang sedang dia lewati. Kemudian Bela berbalik dan bibirnya tersenyum karena melihat kaki Dira yang nampak pada saat dia bersembunyi. Memang lemparan itu sangat sakit, tapi lebih sakit lagi jika Bela melawan kejahatan dengan kejahatan karena dirinya hanya ingin merubah Bela yang buruk menjadi Bela yang baik untuk saat ini.
"Janganlah kau jadi pengecut Dira, karena pengecut tidak pantas untuk ditempatkan dengan orang-orang yang memiliki hati yang baik" Ujar Bela kembali. Sedangkan Dira masih bersembunyi dan menyimak apa yang bila bicarakan.
Tidak lama kemudian dia memberanikan diri untuk keluar dari persembunyiannya dengan melipat kedua tangannya di depan dada serta wajahnya yang masih berlagak sombong dan diikuti oleh gengnya yang menjadi salah satu pengaruh buruk bagi sekolah, mereka berdua adalah Caca dan Tika.
Mereka selalu menuruti kemauan dari Dira walaupun sebenarnya mereka berdua tidak mau melakukan hal itu. Namun bagaimanapun mereka berdua tetaplah kacung yang selalu melakukan hal bodoh hanya untuk mengabulkan kemauan Dira.
"Sudahlah kau jangan banyak bicara Bel, Kau pikir aku takut untuk melakukan hal buruk padamu hanya karena kau dilindungi oleh Mario. Aku tidak pernah takut untuk melukaimu" kesombongan masih ada dalam diri Dira.
__ADS_1
Walaupun dia sendiri pernah dihajar oleh Bela pada saat itu di dalam kelas tapi ternyata tidak pernah ada perubahan, yang ada hanyalah keangkuhan yang ditampipkan.
Bela tersenyum dengan perkataan itu karena dia tahu orang yang bernyali besar tidak akan banyak ngomong melainkan dia akan langsung melakukan tindakan.
Dira adalah pembohong besar yang selalu mengeluarkan kata-kata omong kosongnya akan tetapi tidak pernah ada pembuktian.
"Baguslah jika kau ingin menyerangku, mungkin saat ini aku tidak ingin melawannya akan tetapi aku takut jika tiba-tiba aku gila dan menyerang kalian serta membabi buta, atau bahkan melebihi saat itu. Astaga Tuhan tolong jangan biarkan itu terjadi lagi karena aku tidak ingin mengotori tangan ini" Bela mencoba berkata serta sekaligus menakut-nakuti mereka dengan mengingatkan kejadian saat itu.
Hal itu membuat Caca dan Tika terdiam seketika. Pikirnya kembali merenungkan apa yang pernah Bela lakukan pada mereka berdua di saat di dalam kelas pada waktu itu. Begitupun dengan Dira seketika mulutnya membeku serta menelan salivanya dengan kasar karena dia tahu pukulan yang dilayanhkan oleh Bela cukup keras sehingga membuat tubuh Dira terpental jauh dan menabrak bangku-bangku dalam kelas.
Bela mencoba tenang dengan jawaban yang dia berikan melebihi kepercayaan dirinya, yang bertujuan untuk memenangkan kembali harga diri yang injak-injak oleh Dira dan gengnya.
"Aku tidak takut dengan gertakanmu Bela, aku itu bagaikan besi jadi tidak mempan jika kau sirami dengan kata-kata seperti itu " penjelasan konyol yang diberikan membuat dirinya terlihat ketakutan serta sedikit memundurkan tubuhnya agar tidak terlalu dekat dengan Bela.
" Baguslah kalau gitu, Lebih baik kau berlatih dulu biar kita sparing satu lawan satu. Oh ya untuk kalian berdua Caca dan Tika lebih baik jangan menjadi kacung lagi karena aku tahu kalian sudah tertekan" Bela mencoba memperingati Caca dan Tika untuk melakukan apa yang mereka mau.
Karena terlihat sangat jelas bahwa mereka selalu menjadi kacung Dira dan hidup mereka selalu dibayang-bayangi oleh perintah Dira yang kadang tidak masuk akal namun tetap saja mereka tidak bisa menolak.
Sebenarnya itu bukanlah hal yang ada dalam sebuah persahabatan, melainkan bersangkutan dengan kepentingan pribadi. Karena sahabat tidak akan rela menyuruh sahabatnya seperti demikian, dan mereka akan melakukan susah senang sersama bukan melakukan susah untuk mereka dan senang untuk diri sendiri.
" Apa maksudmu berkata demikian ? Caca dan Tika tidak merasa tertekan denganku, karena mereka sendiri tidak akan pernah kekurangan uang saat berteman denganku." Teriakan Dira merasa dia lah paling benar karena bisa mempererat Caca dan Tika dengan menggunakan uang serta kekuasaan ayahnya.
"Kalian berdua sebaiknya merenung, mana teman yang tulus tanpa menjadikan kacung dan mana teman yang hanya membutuhkan kalian saja untuk kesenangan dirinya sendiri tanpa harus memikirkan kesenangan kalian " ujar Bela kembali lalu dirinya berbalik untuk pergi meninggalkan mereka.
Namun Dira mencegah tangan itu karena dia tidak terima bila Bela terus mengatakan bahwa apa yang dilakukan olehnya adalah salah serta menghasut Caca dan Tika untuk tidak menjadi temannya.
Dia mencengkeram tangan Bela dengan kuat tapi dia lupa jika Bela lebih kuat dari dirinya. Bela tidak tinggal diam karena dia kembali mencengkram tangan Dira lalu memelintirnya ke belakang sehingga dia teriak dengan kesakitan.
" Lepaskan, ini sangat sakit Bela Apa kau gila " teriak Dira saat tangannya sudah terpelintir ke belakang dan Bela masih mencengkramnya.
Lagi-lagi Hal itu membuktikan bahwa omong kosong Dira hanya dikeluarkan dengan kesombongan saja namun tidak ada bukti bahwa dirinya bisa menghancurkan Bela. Bela hanya tersenyum berulang kali saat dia mendengar perkataan Dira untuk melepaskan cengkeraman tangan itu.
Sebenarnya Bela tidak ingin melepaskan karena sebagai efek Jera pada Dira, namun di lain sisi dia melihat bahwa ada seorang guru yang lewat jadi Bela melepaskan cengkraman itu karena dia tidak ingin mendapatkan masalah.
* Buk* lemparan keras Bela lakukan dengan sengaja sehingga Dira kembali terhempas di lantai bawah.
Caca dan Tika langsung sigap menolong Dira sedangkan Bela membiarkannya begitu saja Lalu dia pergi tanpa menghiraukan apapun.
__ADS_1
Siapa yang berani berbuat maka dia harus berani menanggung atas perbuatannya sendiri begitulah ucapan yang mungkin harus dikatakan pada Dira karena dia yang selalu melakukan hal buruk, dan dia juga yang harus menerima konsekuensi dari hal buruk tersebut.
" Sepertinya kau harus tenang menghadapi orang seperti dia Bela, karena percuma jika melawan dengan emosi maka dia tidak akan berubah sampai kapanpun. Sebab dia merasa bahwa dirinyalah paling hebat" Bela berbicara pada dirinya sendiri sambil menatap kaca yang ada di dalam toilettoilet lalu memberikan senyumnya.
Setelah menenangkan dirinya Bela kembali keluar dari toilet kemudian dia masuk ke dalam kelas. Tidak lupa Bela menghilangkan kejadian tadi dengan bercanda ria bersama ketiga sahabatnya. Namun seketika Bela merasa aneh saat melihat Sela terdiam seakan dia tertawa namun jiwanya kembali menghilang dan tidak ada di dalam kelas bersama mereka.
" Kenapa anak ini, biasanya dia yang paling mengimbangi celotehku. Namun mengapa sekarang dia terdiam" batin Bela terus bertanya-tanya serta tatapannya mengarah pada Sela.
Karena terlihat jelas dari sorot matanya, jika Sela memiliki masalah besar namun Bela tidak mengerti masalah apa yang sedang dihadapi oleh salah satu sahabatnya.
" Apakah kau baik-baik saja? "Bela memberanikan diri menanyakan hal itu, karena dia tidak ingin bila salah satu sahabatnya harus tertekan dengan kehidupannya sendiri dan membuatnya terjatuh dalam masalah tersebut tanpa harus memberitahu orang yang ada di sekitarnya.
* tet teett* bel kelas berbunyi jadi Bela tidak memiliki kesempatan untuk berbicara dengan Sela karena dia sudah kembali ke kursinya masing-masing tanpa menjawab pertanyaan dari Bela.
Pikiran Bela masih tidak tenang jika belum mengetahui apa yang sedang dipikirkan sahabatnya itu, karena Bela sudah tau jika memendam masalah sendiri itu tidak baik untuk pikirannya. Bahkan Bela sempat terpiruk dengan pikiran yang bergelut dalam otaknya tanpa ada sandaran.
"Mario Apakah kau tidak merasakan jika Sela menunjukkan hal aneh pagi ini" tanya Bela pada Mario di sela-sela jam pelajaran dimulai.
"Aku rasa begitu, Mungkin dia ada masalah " ternyata Mario juga merasakan hal yang sama. Karena dari tadi Mario juga melihat tatapan Sela sangat beda tidak seperti biasanya. Tatapan itu terasa kosong dan dirinya melamun tanpa kejelasan yang dapat dimengerti oleh siapapun yang menatapnya.
"Ternyata kau juga merasakan hal itu apakah kita harus melakukan sesuatu untuk mencari tahu apa yang sedang dihadapi Sela karena terlihat dari sorotan wajahnya dia sangat tertekan " Bela kembali merundingkan hal itu pada Mario, sedangkan Mario sendiri fokus menatap ke papan tulis untuk mendengar penjelasan dari guru tersebut.
" Diamlah, Aku sedang belajar mengapa kau selalu menggangguku?" Seru Mario pada Bela serta menutup telinganya karena dia merasa terganggu dengan celoteh Bela yang terus bertanya-tanya saat jam pelajaran dimulai.
"Bukankah aku dilahirkan hanya untuk mengganggumu?" Bela kembali mengucapkan hal itu dengan polos untuk menggoda Mario agar mendengarkan tentang keluhannya.
Namun usahanya gagal karena konsentrasi Mario melekat pada pelajaran yang sedang dijelaskan oleh guru di depan kelas.Tapi Bela tidak menyerah karena dia terus membicarakan tentang Sela pada Mario.
Dan hingga akhirnya Bela berhasil meluluhkan hati Mario sampai membuat bibir dingin itu tersenyum lalu juga tertawa bersamanya.
"Bela Bisakah kau serius untuk belajar?" Sontak ibu guru tersebut membenrak Bela dengan lantang saat melihat Bela dan Mario tertawa di dalam pelajarannya.
"Jika kamu tidak bisa diam maka keluarlah dari kelas saya, apa kamu dengar Bela? " sambung guru itu.
"Baiklah Bu saya salah, tapi mengapa Mario tidak ditegur juga kan saya dan Mario yang tertawa bersama Bu" protes Bela kembali mencuat saat melihat Mario menjadi anak emas dan tidak dimarahi oleh ibu guru yang sedang mengajar. Bahkan guru itu menyalahkan semua kesalahan pada Bela.
"Walaupun Mario salah tetap saja kau yang akan menjadi salah Bela, karena dirimu selalu menjadi urusan nomor satu siswi perempuan yang selalu telattelat" Jelas guru tersebut.
__ADS_1
Bela hanya bisa mendengarkan dengan tenang dan teliti walaupun dirinya tidak menyetujui tuduhan yang diberikan.