Antara Cinta Dan Mafia

Antara Cinta Dan Mafia
80. Beni Bolos Sekolah


__ADS_3

Bela mendengarkan ucapan Alex dengan baik dan tenang. Setiap kalimat dia perinci untuk masuk ke dalam pikirannya. Lalu Alex membicarakan tentang Bara yang sebenarnya adalah seseorang penyayang dan memiliki perhatian untuk orang yang dicintainya. Alex juga berkata jika Bara tidak membenci Bela.


Sontak ucapan Alex membuat Bela terkejut dan tersenyum pada Alex. Bela kembali mendapatkan harapan bahwa Bara tidak membencinya karena perkataan Alex menjelaskan bahwa Bara menyayanginya walau sebagai istri pura-pura.


Sebenarnya Bela tidak tahu apa perbedaan antara cinta dan sayang namun yang dia tahu rasa sayang itu akan diberikan melalui perhatian yang khusus meski Bela belum mendapatkan sama sekali kecuali dari mamanya yang sangat dia sayangi.


Di sekolah


" Bela tunggu, aku ingin berbicara denganmu" Sela yang datang dari belakang segera mengejar Bela dan menghentikannya. Karena dia ingin membicarakan suatu hal yang penting pada Bela.


" Tenanglah, memangnya ada apa sehingga pagi-pagi sekali kau terlihat sangat aneh dan gugup" Seru Bela saat melihat tingkah sahabatnya.


"Apa kau tahu jika sebenarnya dirimu masuk seleksi, akan tetapi Dira melakukan kecurangan dengan mencoret lukisanmu sehingga terlihat sangat tidak menarik" jelas Sela pada Bela.


Bela masih tidak mengerti apa yang dimaksud oleh sahabatnya itu karena yang dia tahu Pengumumannya sudah keluar kemarin sedangkan Bela tidak masuk dalam list peserta yang akan dibawa dalam perlombaan melukis antar kota.


"Bukankah kemarin sudah keluar jika aku tidak lolos dalam seleksi melukis tersebut" Bela mencoba mengingatkan Sela bahwa kemarin sudah jelas-jelas pengumuman itu keluar dan Bela tidak lolos.


Lalu Sela menjelaskan bahwa Sebenarnya dia bisa saja lolos jika saja lukisan itu tidak dirusak oleh Dira karena Dira telah membuat lukisan Bela menjadi tidak beraturan. Dira mencoret beruang yang berada di tengah-tengah hutan sehingga membuat lukisan Bela sangat jelek bahkan terlihat tidak beraturan.


"Biarlah lagi pula aku belum terlalu mahir lagi untuk melukis, karena aku memulainya dari awal kembali dan perlu membutuhkan belajar yang lebih tinggi lagi " Bela tidak mempermasalahkan hal itu karena dia sendiri juga tidak yakin dengan hasil lukisannya sebab dirinya kembali terjun untuk melukis Setelah sekian lama Bela memilih vakum.


Sikap bodo amat dan tidak peduli ditampakkan dari wajah Bela. Sebab tidak ada gunanya lagi untuk protes karena pengumuman resmi sudah dikeluarkan dan tidak ada kesempatan lagi untuk Bela masuk dalam klub seni tersebut.


Namun hal itu tidak dibenarkan oleh Sela karena terlihat wajahnya sangat geram dan tidak akan membiarkan Dita merusaknya begitu saja. Bahkan Sela memberikan semangat pada Bela untuk menjadi manusia yang penuh percaya diri akan bakat yang sudah dia miliki.


"Aku harus memberinya pelajaran" amarah Sela mulai tersulit, dia ingin beranjak pergi menemui Dira dan menghajarnya. Tapi tangan Beal segera menahannya untuk mencegah terjadinya keributan.


"Tidak usah, biarlah dia senang dengan perilaku buruknya itu" Bela kembali menanggapi dengan tenang.


"Lebih baik kalah secara terhormat bukan kalah seperti ini karena dicurangi" Ketus Sela dengan wajah marah.


Sela tidak ingin sahabatnya sendiri dicurangi oleh orang lain karena dia tahu bahwa Bela memiliki bakat yang terpendam walau dirinya kembali memulai melukis setelah sekian lama berhenti, akan tetapi lukisannya terlihat sangat indah karena Sela sudah melihatnya sendiri.


"Tenanglah di sini tidak usah terburu-buru, biarkan dia jatuh dengan sendirinya dan aku akan tetap mengikuti lomba melukis yang lain" Bela mencoba menenangkan Sela yang sedang emosi. Namun nyatanya sahabatnya itu tetap ingin pergi menemui Dira.


Bela kembali mencegahnya namun tetap saja Sela terus melaju dengan amarahnya dan melepaskan genggaman dari Bela tersebut.


Sungguh Sela benar-benar tidak merelakan hal itu karena sudah dari dulu Dira sangat kejam pada orang lain salah satunya pada siswa yang lemah. Dan bahkan Sela sendiri sudah sangat membenci Dira dari dulu namun sekarang waktunya adalah pembalasan.


" Woi gadis sialan" teriak Sela saat melihat Dira yang sedang bermain-main bersama gengnya, dia langsung mendekat dan mencengkram kerah Dira dengan erat bahkan tangannya mengepal ingin segera menamparnya.


Untung saja Mario dan Brandon datang kemudian Bela menyusul, lalu dengan sigap mereka menggenggam tangan Sela untuk menenangkannya. Karena mereka tahu jika tidak digenggam maka Sela akan menampar dengan keburutalan bahkan lebih brutal dari Bela.

__ADS_1


"Lepaskan Bela dia yang sudah membuat ulah padamu, dan aku tidak akan membiarkan itu " Sela terus memberontak dengan wajah yang masih penuh amarah.


"Maksudmu dia berbuat ulah apa pada Bela? " Mario juga ingin mengetahui hal apa yang dibuat oleh Dira pada Bela sehingga membuat salah satu sahabatnya begitu marah saat itu.


" Kau tahu Mario dia merusak lukisan Bela agar tidak bisa masuk ke dalam seleksi dan mengikuti lomba antar kota tersebut "jelas Sela pada Mario.


Saat mendengarkan hal itu Mario merasa perbuatan Dira sudah keterlaluan bahkan dirinya juga memberikan sorotan mata tajam seperti siap menerkam Dira yang di depannya.


"Jangan percaya Mario Dia tidak memiliki bukti, aku sendiri tidak tahu mana lukisan Bela" Dira mencoba membela dirinya dengan mengeluarkan perkataan yang jelas saja itu tidak pernah mengandung kebenaran.


" Kau masih saja berbohong, sedangkan aku sudah memiliki bukti " ketus Sela dan tangannya masih mencengkram Dira. Kemudian Brandon mencoba melepaskan cengkraman Sela tersebut agar tidak menimbulkan masalah.


Apabila cengkeraman kuat tangan itu terlihat oleh guru maka masalah akan datang menghampiri dan Sela bisa masuk ke ruang guru untuk diberikan bimbingan atau bahkan bisa mendapatkan skorsing karena mengancam sesama siswa.


"Lepaskan dulu tanganmu biar kita berbicara baik-baik saja "kali ini pikiran Brandon cukup dewasa karena dia memikirkan nasib sahabatnya apabila melakukan kekerasan seperti itu lagi dan dilakukan di luar kelas maka akan dapat menimbulkan perhatian dari beberapa guru yang lewat.


Tutur lembut Brandon mencoba menenangkan suasana yang sedang memanas, walau dia tidak tau darimana harus memulai untuk mengambil kesimpulan dari perdebatan itu.


"Tunjukkan saja buktinya Aku tidak takut" Dira tetap berpegang teguh dengan pendiriannya dan wajahnya menampilkan sangat angkuh seakan mengatakan bahwa dia tidak takut dengan ancaman yang Sela berikan.


Apalagi Dira sangat percaya diri bahwa dia tidak akan mendapatkan bukti tersebut karena pemeriksaan lukisan hanya dilakukan oleh juri bukan oleh orang lain.


"Lihatlah wajahmu cukup percaya diri dan sekarang aku akan memberikan kejutan untukmu" Sela segera mengambil ponselnya dan dia fokus mencari sesuatu di dalamnya.


Tidak lama kemudian Sela menampilkan sebuah foto bahwa benar adanya jika Dira mencoret foto beruang yang berada tepat di tengah-tengah hutan dari lukisan Bela. Seketika Dira tidak bisa berkata apapun karena bukti sudah jelas nyata dan sekarang pembelaan dari dirinya tidak bisa diperkuat lagi.


Dia juga berkata bahwa yang mencoret lukisan itu bukanlah dirinya melainkan orang lain. Padahal sudah jelas-jelas di foto tersebut Dira mencoret lukisan itu dengan senyuman liciknya Bahkan tatapannya seakan-akan dia sangat puas melakukan hal itu.


"Kau benar-benar spesialis orang yang sangat licik, pantas saja banyak yang membencimu karena kau tidak layak untuk dikagumi " Perkataan Mario benar-benar penuh dengan penekanan.


Hatinya sangat marah saat melihat Dira memperlakukan Bela seperti itu. Dirinya juga sudah muak atas semua kelakuan Dira yang sangat menjijikkan, bahkan Mario yang selalu diam kini telah membuak suara atas isi hatinya yang menyimpan keburukan Dira.


Padahal ketiga sahabatnya sudah membuat Bela percaya diri untuk memenangkan seleksi tersebut agar bisa ikut dalam perlombaan yang akan diadakan.


Namun nyatanya Bela kembali dipatahkan oleh kelicikan yang dilakukan oleh Dira. Maka dari itu Mario sangat marah besar, untung saja dia hanya ingin menampar akan tetapi tetap saja Bela selalu menjadi penengah diantara mereka.


"Sudahlah, mungkin aku harus belajar lagi. Dan mungkin bukan waktunya aku untuk ikut dalam perlombaan itu jadi tenang saja masih banyak perlombaan lain di luar sana dan aku janji bahwa tidak akan berhenti dan menyerah begitu saja dalam melukis " Bela mencoba untuk meyakinkan bahwa keberuntungan belum berpihak padanya, lalu dia segera menyeret ketiga sahabatnya untuk masuk ke dalam kelas karena dia tidak mau adanya keributan.


Kali ini Bela benar-benar lelah dengan semua keadaan, dia ingin mencoba untuk bertahan dengan ketenangan walau sebenarnya hal itu menyakitkan.


Kenyataan yang tidak sesuai dengan harapannya sungguh menyayat hati Bela namun dia harus tetap tegar dan menjalani kehidupan dengan senyuman serta tawa walau hatinya terkadang masih menangis.


" Kenapa kau masih membelanya, aku sudah ingin menamparnya tadi "ketus Sela dengan wajah yang sangat kesal karena tadi dia ingin menghajar Dira dengan meluapkan amarahnya. Namun nyatanya Bela mencegah sahabatnya untuk melakukan itu sehingga amarahnya tertahan hingga saat ini.

__ADS_1


"Jaga emosimu, jika tidak kau akan masuk ruang bimbingan nanti " seru Bela mencoba untuk mengingatkan kembali pada Sela karena dia tidak mau jika sahabatnya salah tingkah dan membuat dirinya masuk ke ruang guru hanya untuk diceramahi serta diberikan peringatan.


"Benar daripada kau masuk ruang bimbingan lebih baik masuk kantin kita makan lebih banyak hahaha "sambung Brandon dengan wajah konyolnya yang membuat mereka semua tertawa dengan kegirangan.


Tidak lama kemudian jam pelajaran akan dimulai namun Bela tidak mendapati Beni di dalam kelas. Biasanya setiap pagi Beni akan selalu menghampirinya walau hanya sekedar basa-basi namun kali ini bangku Beni kosong dan tidak menampak batang hidungnya.


Sebelum guru datang Bela mengambil ponselnya untuk mengirim pesan pada Beni akan tetapi pesan itu belum dibalasnya karena nomor Beni tidak aktif.


"Ke mana dia, Apakah dia sakit" gumam Bela dengan cemas sambil menata ponselnya.


" Untuk apa kau mencarinya, sudah pasti seperti biasa dia akan bolos sekolah " sahut Mario yang mendengar ucapan dari Bela. Bela tidak setuju dengan ucapan Mario tersebut karena menurutnya Beni tidak akan berbuat demikian.


" Jangan pernah berpikiran negatif dahulu, Siapa tahu dia sedang ada kesusahan atau lagi sakit " Bela kembali memberikan pikiran positifnya karena dia yakin Beni tidak akan bolos sekolah karena sebentar lagi mereka akan mengadakan ujian kenaikan ke kelas 3.


Seketika Mario terdiam karena dia merasa bahwa Bela sedang berpihak pada Beni membuat hati Mario tidak nyaman mendengarkan hal itu.


Jadi mata Mario kembali fokus untuk membaca buku sembari menunggu guru yang akan mengajar di jam pertama.


Di jam istirahat Bela masih memeriksa ponselnya namun tetap saja tidak ada balasan dari Beni walaupun pesannya telah tersampaikan. Akhirnya dalam menelpon Beni meski berkali-kali telepon itu tidak dijawabnya namun Bela tetap saja memaksa untuk melakukan panggilan ulang.


"Kau ke mana, Mengapa tidak menjawab teleponku"terlihat wajah cemas dari Bela saat memikirkan tentang Beni. Dia terus melakukan panggilan ulang berkali-kali sambil bergumam agar Beni mengangkat panggilannya.


Padahal dia sendiri tidak pernah ada rasa pada Beni, namun seketika Beni menghilang dan tidak mengganggunya sehari saja rasanya ada yang aneh. Jadi Bela mencoba untuk menghubungi Beni meski hanya sekedar bertanya apa yang sedang terjadi karena dia tidak masuk sekolah dan juga tidak mengirimkan surat izin.


*Drettt, drett* dering ponsel yang masih belum diangkat juga oleh Beni. Akhirnya dia memutuskan untuk mengangkatnya setelah mendengar sering ponsel tersebut yang selalu berbunyi.


"Halo, kau dimana Ben? " Bela meninggikan suaranya, untung saja Bela menelpon Beni saat berada di dalam kamar mandi. Telepon yang daritadi hanya berdering, akhirnya diangkat juga oleh Beni.


"Halo cantik, tumben sekali menelpon ku. Apakah kau merindukanku? " Beni tidak menjawabnya, namun dia malah memberikan ucapan gombal pada Bela seperti biasa.


"Diamlah, Kenapa kau tidak masuk" Bentakan Bela penuh amarah karena Beni tidak masuk sekolah tanpa alasan sedikitpun.


"Aku sedang ada acara keluarga jadi tidak bisa masuk kelas "sahut Beni.


Bela memaklumi hal tersebut Lalu dia tidak marah lagi pada Beni. Bahkan mengatakan pada Beni bahwa dirinya harus tetap mengirimkan surat izin agar tidak ditulis *tanpa keterangan* oleh guru yang sedang mengajar karena absensi akan berpengaruh untuk kenaikan kelas.


Jadi Bela tidak mau jika Beni memiliki masalah kenaikan kelas hanya karena absensinya tidak baik. Walaupun dia sendiri adalah murid baru.


" Baiklah kau jaga diri baik-baik jika besok dirimu masih belum masuk sekolah tolong tuliskan surat" pesan Bela pada Beni.


"Asik rupanya kau sudah mulai perhatian padaku, jantungku rasanya berdebar kencang "ujar Beni penuh kesenangan saat menerima perhatian yang tulus dari Bela.


Walaupun yang dia tahu perhatian itu hanya untuk kenaikan kelas dirinya tapi yang penting perhatian itu diberikan secara langsung oleh Bela dan mengkhawatirkan dirinya karena tidak masuk dalam kelas.

__ADS_1


" Anak ini, aku sudah khawatir tapi dia asik tertawa dengan menjawab pertanyaanku " kesal Bela saat keluar dari kamar mandi setelah selesai menelpon Beni. Lalu dia menyusul ketiga sahabatnya yang ada di kantin.



__ADS_2