Antara Cinta Dan Mafia

Antara Cinta Dan Mafia
72. Perkara Mawar


__ADS_3

Bela memperhatikan salah satu sahabatnya yang memberikan sorotan mata pada seorang gadis cantik yang sedang berbincang-bincang bersama rekan-rekannya. Bela menghela nafas lalu dia tersenyum sembari mendekati Brandon.


"Jadi itu wanita yang kau sukai Brandon "ujar Bela saat masuk melewati lorong kelas dan terlihat Brandon sedang mengintip seseorang.


"Jangan berisik, kalau tidak aku bisa ketahuan sedang mengintipnya" sahut Brandon dengan suara kecil sambil menutup mulut Bela agar tidak berbicara terlalu keras.


Karena saat itu Brandon sedang memantau wanita yang dia sukai dari kelas sebelah. Memang wajahnya ayu dan rupawan akan tetapi sifatnya sedikit buruk karena dia selalu pamer harta dengan kesombongannya.


Namun benar kata orang cinta itu memang buta jadi Brandon selalu mengejarnya, mungkin mata Brandon tertutup cinta sehingga hanya melihat kebaikannya saja. Walaupun Bela sendiri tidak tau apa kebaikan dari gadis itu.


"Aku dengar-dengar dia sudah punya pacar "tutur Bela kembali mengingatkan Brandon bahwa gadis yang dia sukai sudah memiliki pacar.


"Mana mungkin, aku tahu jika dia jomblo " Brandon tidak percaya dengan omongan Bela. Doa masih yakin dengan pendapatnya sendiri bahwa gadis yang dia cintai masih sendiri.


"Baiklah aku akan mendukungmu, namun jika kau sakit hati aku yang akan menghajarnya lebih dulu" ujar Bela lalu pergi meninggalkan Brandon.


Sementara itu Brandon terkejut mendengar ucapan Bela yang akan memukul gadis itu jika dia menyakiti Brandon. Sedangkan Brandon sangat percaya diri bahwa dirinya tidak akan salah pilih.


Brandon sudah lama mengejar cinta gadis itu mulai dari duduk di kelas 1 yang dikenal dengan Tiara, akan tetapi selalu saja gagal karena Brandon adalah seseorang yang sangat pemalu jika berada di depan gadis yang dia sukai.


Berulang kali dia ingin menyatakan cinta namun setelah di dekatnya selalu saja gagal karena hati kecilnya berkata bahwa dia harus mundur terlebih dahulu untuk mencari waktu yang tepat. Hingga saat ini waktu tepat itu belum juga ditemukan.


"Aku yakin kau pasti jomblo dan aku akan mengejarmu sampai kapanpun" serua Brandon sambil tersenyum menatap gadis itu yang bernama Tiara. Bel masuk segera berbunyi Brandon segera pergi ke dalam kelas.


Selalu saja kesehariannya menatap secara diam-diam, terkadang Brandon juga menawarkan tumpangan saat gadis itu membutuhkan. Bisa dibilang Brandon sangat mengagumi dan sangat mencintai namun sangat disayangkan jika nyalinya terlalu kecil untuk menghadapi rasa cinta itu.


" Selamat pagi dunia "teriak Brandon saat dia masuk ke dalam kelas dan menyapa ketiga sahabatnya.


Wajah Brandon sangat berbinar-binar seakan menemukan berlian di pagi hari. Dirinya terlalu bersemangat untuk memulai hari karena sudah mendapatkan asupan yaitu menemui Tiara walau hanya dari jauh.


"Apakah dia sedang kerasukan? "Tanya Sela pada Bela saat melihat wajah Brandon sangat ceria di pagi ini.


"Seperti kau tidak tahu saja, dia habis bertemu dengan bidadarinya "sambung Bela dengan wajah yang sangat malas setelah mengucapkan itu.


Mendengar ucapan Bela, sebenarnya mereka bertiga sudah tahu bahwa Brandon sangat mengagumi Tiara. Akan tetapi Brandon tidak tahu bahwa Tiara adalah wanita ular dan sangat menyukai banyak lelaki serta suka berganti laki-laki.


Bahkan Tiara sering memanfaatkan harta mereka. Setiap kali mereka memberitahu Brandon tetap saja omongan mereka bertiga selalu dianggap berbohong oleh Brandon. Hingga pada akhirnya mereka berhenti mengingatkan sahabatnya itu, namun tetap mengawasi salah satu sahabatnya itu agar tidak terperangkap dan masuk ke dalam lubang Tiara.


"Apakah kalian ingin mendengar ceritaku?" ujar Brandon sambil menatap ceria ketiga sahabatnya.


"Tidak" Ujar mereka bertiga secara bersamaan.


Mario hanya terdiam dan tidak peduli, namun saat mendengar ungkapan dari Brandon mereka bertiga selalu kompak akan menjawab tidak. Brandon adalah salah satu sahabatnya mereka yang paling lucu, tidak pernah marah, konyol, dan yang terakhir mungkin bisa dibilang bodoh atau lemot.


Tapi mereka tidak pernah membedakan satu sama lain karena menurutnya persahabatan adalah satu dan satu untuk dibagi rata baik itu senang ataupun susah.


"Ah kalian tidak asik, baiklah aku ceritakan bahwa tadi aku bertemu....."ucapan Brandon belum selesai.


" Tidak "sahut ketiga sahabatnya lagi karena tidak ingin mendengar cerita tentang gadis itu. Mereka sudah mengetahui dengan pasti bahwa gadis itu adalah salah satu siswa yang tidak baik untuk Brandon.


"Baiklah aku akan tidur saja" Brandon kembali ke tempat duduknya lalu dia melakukan kegiatan seperti biasa yaitu memasukkan kepalanya dalam tas untuk tertidur sebelum pelajaran dimulai.

__ADS_1


"Sungguh malang nasibnya mencintai wanita yang salah" gumam Sela merasa ibah sambil menatap Brandon.


Mereka tidak tau harus berbuat apa untuk mencegah percintaan dari sahabatnya. Namun mereka juga tidak bisa melakukan secara sepihak karena takut jika hati Brandon akan terluka.


"Benar malang nasibnya, seharusnya dia mencintaimu Sela "celetuk Bela sambil tersenyum.


"Sepertinya kau harus periksa karena otakmu terkena radiasi "percakapan konyol antara Sela dan Bela lakukan.


Ucapan mereka memang tidak ada manfaatnya namun masih berkaitan tentang Brandon walau terkadang tidak ada jalan keluar dari apa yang mereka bicarakan.


Setidaknya ada sedikit bumbu penghibur untuk mengedampingkan masalah rumit yang sedang digenggaman. Karena masalah serumit apapun akan terlihat menarik jika dilakukan dengan tenang serta didampingi oleh tawa dan senyuman.


"Mario apakah kau pernah memiliki pacar? "Tanya Sela pada Mario yang sedang sibuk dengan bukunya.


Pertanyaan itu sangat konyol karena Mario belum pernah merasakan pacaran dengan wanita. Akan tetapi dia sudah memiliki cinta pertamanya yaitu Bela.


"Tidak, aku tidak pernah pacaran "sahut Mario dengan tenang dan santai.


Pernyataan Mario tidak akan membuat seseorang terkejut. Karena pikiran mereka sudah tau bahwa tidak mungkin Mario yang dingin akan memiliki pacar sebab dirinya jarang berbicara atau menanggapi apapun. Jangankan mengajak berkencan, mengajak berbicara dengan seorang wanita saja sangat susah.


Mario selalu sibuk dengan dirinya sendiri tanpa harus mengurusi orang lain bahkan tidak pernah berinteraksi dengan para siswa.


"Apakah kau mau berpacaran denganku "Sela menawarkan dirinya dengan konyol pada Mario walaupun itu hanya becanda saja, namun rasanya sangat lucu karena menggoda seseorang yang dingin tanpa interaksi apapun.


*plak* tangan Bela sangat ringan memukul kepala Sela saat mendengar penawaran dirinya untuk menjadi pacar Mario. Memang wanita di samping Bela jarang berbicara, namun setelah dia mengeluarkan suaranya maka terlihat sangat brutal karena harus berbicara konyol tanpa berfikir.


"Pertanyaanmu tidak perlu dijawab, biar waktu saja yang menjawab siapa tahu Mario menjadi pacarmu "Bela menyemangati Sela untuk memberikan harapan di suatu saat nanti Mario mengubah hatinya.


"Selamat pagi Bela, ini untukmu "Beni tiba-tiba datang dengan membawa setangkai mawar pada Bela. Seketika wajah Mario kembali muram lalu menatap dengan sorotan tajam perlakuan Beni yang memberikan setangkai bunga pada Bela.


Sedangkan Beni tersenyum kecil pada Mario seakan mengatakan bahwa dia menang di pagi ini karena telah memberikan mawar pada orang yang dia cintai yaitu Bela.


"Bagaimana kau tahu jika aku menyukai mawar?" Ujar Bela pada Beni.


"Jelas aku mengetahui itu karena saat dirimu melihat mawar rasanya senyum itu merekah di bibir manismu " Beni mencoba merayu dengan kata-kata manisnya pada Bela.


Sekaligus dia ingin merebut hati Bela walaupun itu sangat susah. Beni tidak akan tinggal diam dan tidak akan menyerah sampai kapanpun hingga hati itu jatuh ke tangan Beni.


Sementara itu Mario masih membaca bukunya namun sesekali dia mencuri pandang pada Beni yang memperlakukan Bela seakan-akan mereka adalah pasangan yang paling mesra di pagi ini. Fokus dalam diri Mario terasa hilang karena perlakuan yang begitu menyebalkan di samping dirinya.


* Gubrak * Dira tiba-tiba datang dan dengan sengaja dia mendorong Beny sehingga tangannya mengenai bunga yang dia berikan pada Bela dan bunga itu terjatuh ke lantai sehingga kelopaknya berpencaran.


Dalam sekejap saja bunga indah itu hancur berserakan. Setangkai bunga sudah menjadi bunga yang berpencar di atas lantai.


"Maaf aku tidak sengaja "wajah Dira tidak memiliki rasa bersalah sedikitpun, seakan-akan dialah wanita yang selalu paling benar.


Sela melihat hal itu dia langsung berdiri dan memegang kerah Dira serta tangannya mengepal untuk segera memukul wajah Dira.


"Tidak sengaja katamu, jelas-jelas kau datang dan langsung menabrak Beni sehingga tangannya terkena bunga itu dan menjadi hancur" Emosi Sela melonjak cepat seperti di atas ubun-ubun karena dia benar-benar membenci wanita licik itu yang selalu mengganggu dirinya serta sahabatnya.


Bela menahan tangan sahabatnya itu karena dia tidak ingin perkara hal kecil dapat membuat sahabatnya terkena masalah.

__ADS_1


"Sheila sahabatku yang paling baik dan cantik, biarkan saja dia berbuat semaunya karena apa? Karena dia sangat iri sebab tidak ada yang memberinya bunga"tutur Bela halus sambil tersenyum lembut yang sangat penuh arti pada Dira.


Kali ini Bela tidak marah padanya karena tidak ada gunanya membuang emosi pada orang seperti Dira yang sangat menyebalkan dan selalu mencari perhatian.


Sesekali perlakuan buruk dari seseorang memang lebih baik didiamkan saja kemudian dibalas dengan ucapan panas terlebih dahulu agar mereka kalah telak dengan apa yang telah mereka lakukan.


"Mari kita mulai pelajaran hari ini, silahkan kalian duduk di meja masing-masing " Ibu guru masuk ke dalam kelas sekaligus memecah pertikaian antara Dira dan Bela.


"Kau wanita menyebalkan" Ketus Beni sambil. menggeelng dan memberikan tatapan kecewa pada Dira.


Benai merasa kesal pada Dira yang membuat bunga Bela terjatuh. Sehingga bunga itu belum sempat Bela pegang dengan lembut karena kelopaknya sudah runtuh.


Bella segera ngambil bunga yang berserakan di lantai lalu dia mengelusnya dengan lembut.


"Sayang sekali kau harus hancur" gumam Bela sambil memandangi mawar itu sejenak.


Lalu menyimpannya di dalam lagi. Sementara itu Mario tersenyum karena dia sangat puas melihat bunga pemberian dari Beni hancur. Sebab itulah yang sangat dia harapkan dari tadi saat Beni. memberikan bunga pada Bela.


Mario tidak ingin Bela menerima bunga itu dari Beni. Bahkan dia mengingat pada saat itu Beni juga memberikan bunga secara diam-diam untuk Bela sehingga membuat Mario dan Bela bertengkar hanya karena setangkai bunga.


"Kenapa kau senyum" tanya Bela saat melihat lentingan senyum kecil di bibir Mario.


"Siapa bilang aku tersenyum, bibirku sedang gatal" Mario berkata bohong karena dia tidak ingin mengulangi pertengkaran untuk yang kedua kali dengan Bela hanya karena setangkai bunga.


"Baiklah, awas saja kau tersenyum di atas penderitaanku. Aku akan memukulmu" Bela memberikan tatapan tajam pada Mario, tapi tayaoan itu terlihat sangat lucu.


Pelajaran dimulai seperti biasa mereka melakukan konsentrasi dengan tenang berbeda dengan Brandon yang memilih untuk tertidur dan selalu berhasil menyembunyikan mata ngantuknya di depan para guru. Sungguh keajaiban yang unik dan hanya dimiliki oleh Brandon, karena Brandon adalah bunglon.


*tetttt* bel istirahat berbunyi, hal yang selalu ditunggu oleh siswa untuk makan dan berlari ke kantin untuk berbelanja.


"Bela untuk menebus bunga yang rusak, maukah kau makan bersamaku di kantin? " Beni kembali merayu Bela agar bisa berdua bersamanya. Dia menawarkan traktiran makan pada Bela dengan alasan menebus kesalahan bunga yang telah gugur.


Sejenak Bela terdiam lalu sorotan matanya menatap tajam pada Mario, Sela dan Brandon yang menatap Bela dengan sinis.


"Sepertinya aku ke kantin bersama sahabatku, maaf ya Ben lain kali saja" Lagi-lagi penolakan yang Beni dapatkan dari Bela. Akan tetapi Beni tidak pernah patah semangat dengan perjuangannya yang harus dia capai.


"Baiklah tidak masalah, lain kali aku akan mengajakmu" Sahut Beni lalu memilih untuk keluar kelas.


Sebenarnya dia ingin ikut makan bersama keempat sahabat Bela, akan tetapi menurut Beni itu terlalu berlebihan karena dia akan masuk ke dalam persahabatan mereka tanpa diundang. Akhirnya dia memilih untuk membatalkannya.


Sementara itu Mario kembali mengulang tawa dalam hatinya. Karena Bela lebih memilih sahabatnya daripada Beni. Hati Mario cukup lega, sebenarnya dia tidak menginginkan Bela dekat dengan beni dalam keadaan apapun.


Akhirnya mereka berempat berangkat ke kantin tanpa disadari Dira menatap dengan penuh kegembiraan diselingi senyum liciknya. Karena dia ingin selalu membalaskan dendam pada Bela sekaligus menyingkirkan Bela agar tidak terlalu dekat dengan Mario yang dia sayang.


Dira merasa disaingi semenjak kedatangan gadis yang bernama Bela itu. Mario bahkan tidak pernah berbicara sekalipun dengan Dira kecuali ada sebuah pancingan yang dilakukan agar bisa berbicara dengan Mario walau hanya sedikit.


"Bel kenapa kau masih di sini, guru seni sudah mengumumkan hasil seleksi kemarin " ujar salah satu peserta yang juga mengikuti seleksi melukis kemarin.


"Benarkah, Baiklah terima kasih aku akan segera menyusulmu" Bela segera berpamitan pada temannya untuk pergi mencari tahu tentang hasil seleksi itu. Namun pikir Sela merasa ada keanehan dan tidak nyaman akhirnya dia ikut bersamamu Bela untuk menemaninya melihat hasil seleksi tersebut.


"Aku ikut saja dengan" Ujar Sela lalu beranjak dari tempat duduk nya dan menggandeng tangan Bela dengan erat.

__ADS_1



__ADS_2