
Akhirnya Alex mengatakan pada kekasihnya, jika Bela adalah adiknya. Dia menganggap Bela sebagai adiknya sendiri walaupun mereka tidak ada hubungan darah. Karena Alex merasa nyaman dengan kepribadian Bela yang sangat ceria walaupun seperti anak-anak.
Sambil menatap Bela yang telah terlelap dari pantulan kaca yang tergantung di depan Alex, dia bercerita pada Cintia bahwa Gadis di belakangnya adalah wanita yang sangat kuat dan tidak pernah mengeluh.
Di dalam kehidupan dirinya selalu mengatakan tentang kebahagiaan walaupun masih memeluk rasa sakit. Dan pada akhirnya rasa sakit itu dia kalahkan sendiri tanpa bantuan orang lain.
"Hikss...hiksss...hiksss..." Tangisan kecil dari Cintia saat mendengar cerita Alex.
Dia telah salah sangka pada gadis lugu yang terlelap di belakangnya. Ternyata pikiran buruk tentang Bela adalah kesalahan besar. Karena kenyataannya Bela adalah gadis yang baik dan selalu menebarkan senyum .
"Kamu menangis?" Tanya Alex dengan tatapan heran.
"Aku merasa bersalah padanya. Maafkan aku" tatapan Cintia yang tulus pada Alex untuk mengatakan bahwa dia benar-benar menyesal.
"Sudahlah tenang saja, dia pasti tidak akan menyalahkan mu. Nanti aku akan mengenalkan mu padanya. Dia sungguh sangat lucu" sambung alex sambil tersenyum.
Setelah berkata demikian, Alex menghentikan mobilnya di pinggiran jalan yang kosong. Matanya menatap Cintia dengan senyuman penuh nafsu.
Rasanya dia tidak rela jika bibir itu dianggurkan selama mungkin. Akhirnya Alex berhasil mencium bibir itu karena kesempatan di dalam mobil tidak datang kedua kali. Dan kesempatan itu datang karena Bela masih tertidur lelap di kursi belakang.
Dua sejoli itu asik berciuman tanpa menghiraukan apapun yang sedang menatapnya. Mereka asik dengan adegan penuh dengan orang dewasa walaupun hanya berciuman saja.
Sungguh keterlaluan karena tidak bisa menahan dirinya. Tapi ini bisa dimaklumi karena mereka sudah lama tidak bertemu dan melakukan hubungan jarak jauh. Mungkin juga sudah lama tidak memanjakan dirinya masing-masing.
"Ahh sial, kau menodai mataku kak" teriak Bela saat kesadarannya sudah terkumpul setelah bangun dari lelapnya.
Alex dan Cintia terkejut lalu langsung melepaskan ciuman itu karena Bela masih anak di bawah umur dan tidak boleh melihat hal kotor di depan matanya.
Alex tersenyum puas setelah melakukan ciuman, dan rasanya dia menginginkan hal yang lebih.
Lalu mereka melanjutkan perjalanan agar lekas sampai ke rumah Bara. Karena sudah daritadi Bara menelpon Alex. Mungkin dirinya khawatir sebab mereka belum sampai juga hingga larut malam dan membawa Bela pergi bersama mereka.
Hal itu disebabkan karena Alex lupa menghubungi sahabatnya untuk mengatakan bahwa dia membawa Bela ke bandara untuk menjemput kekasihnya.
"Apa ini rumahmu sayang? " Tanya Cintia pada Alex saat mereka sudah sampai di gerbang rumah Bara.
"Bukan, ini rumah sahabatku. Dan kita akan tinggal disini untuk sementara waktu" Jelas Bara.
"Iya kak, tinggallah disini agar aku memiliki teman dan hidupku tidak kesepian" Sahut Bela dengan ramah. Membuat cintia tersenyum bahagia seakan mendapatkan sambutan hangat dari gadis kecil yang ada di dekatnya.
Mereka masuk ke dalam rumah, dan Bara sudah menunggu di ruang tengah. Bara menyuruh Alex dan pacarnya untuk duduk di ruang tengah bersamanya karena ingin membicarakan sesuatu.
Sedangkan Bela disuruh untuk masuk ke kamar agar tidak ikut campur urusan orang dewasa. Padahal dia ingin tau apa yang ingin dibicarakan. Tapis sayang dia belum cukup umur.
Akhirnya Bela hanya berdiam diri di dalam kamar dan mengambil sebuah buku serta pensil. Matanya memandangi langit dan mengingat kembali wajah mamanya. Dia ingin melakukan suatu hal yang sudah lama tidak dia lakukan.
"Aku rindu mama, mulai hari ini aku ingin menggambar banyak hal lagi seperti dulu" Ujarnya sambil menatap langit malam.
Sudah lama dia vacum dari dunia gambar semenjak mamanya pergi dan sekarang dia ingin memberanikan diri serta aktif untuk menggambar sesuatu yang ingin dia gambar.
Dipikiran Bela hanya ada sebuah keinginan. Dia ingin mewujudkan hal itu sebelum terlambat. Karena dari dulu dia hanya memikirkan omongan orang sehingga susah untuk melakukan apapun yang dia mau.
Salah satunya yaitu belajar dengan baik, dia menyesal meninggalkan belajar dan tidak mendalami ilmu dengan baik padahal otaknya mampu.
Beberapa menit dia menghabiskan waktu hanya untuk menggambar wajah mamanya dengan sempurna. Dia memutar kembali memori tentang Waah mamanya dna kebersamaan mereka sewaktu kecil.
Saat ini Bela sangat kesepian sebab dia tidak memiliki foto mamanya. Jadi dia ingin menggambar wajah itu sebagai tempat untuknya bercerita dikala sedih agar dirinya tidak terjerumus pada kepasrahan hidup.
*tok, tok, tok*
__ADS_1
"Bela, apakah kamu sibuk? " Suara perempuan terdengar jelas dari balik pintu, Bela segera membereskan semuanya lalu membuka pintu itu. Dan ternyata dia adalah Cintia.
"Kak Cintia? Apakah ada yang bisa aku bantu? " Tanya Bela dengan ramah.
"Aku akan tidur bersamamu, apakah boleh? " wajah Cintia terlihat sedikit ragu.
"Oh tentu, dengan senang hati aku akan membagi ranjang ku untukmu" Ujar Bela sambil membantu Cintia membawa barangnya.
Cintia menceritakan bahwa Bara menyuruhnya untuk tidur di kamar yang sama dengan Bela.
Bela sangat senang mendengar hal itu, karena dia merasa bahwa ada teman berbicara saat malam dan tidak kesepian lagi.
Bela juga membantu Cintia untuk menata barang-barangnya, karena rencananya dia akan tinggal di Indonesia untuk seminggu saja. Selebihnya dia akan kembali lagi ke Amerika untuk melanjutkan pendidikannya.
Dalam sekejap saja mereka sangat akrab, Bela menerima Cintia sebagai seorang kakak dan sekaligus teman. Begitu juga sebaliknya, Cintia menganggap Bela sebagai seorang adik remaja sekaligus teman bicaranya saat di Indonesia.
Cintia bercerita pada Bela bahwa dia sudah lama tinggal di Amerika, dia akan pergi ke Indonesia jika ada libur saja. Jadi dia tidak memiliki teman tetep di Indonesia kecuali Alex kekasihnya.
"Lalu bagaimana kalian bertemu? " Tanya Bela penasaran tentang hubungan Alex dan Cintia.
Cintia kembali menjelaskan bahwa mereka berdua tidak sengaja bertemu saat Alex membantu Cintia yang sedang kecopetan saat dia berkunjung ke rumah neneknya di Indonesia.
Hingga hubungan keduanya menjadi lebih baik dan hampir setiap hari bertemu. Karena saat itu Alex masih sekolah SMA. Hingga pada akhirnya keduanya menjalin hubungan spesial lebih dari seorang teman.
Sungguh cerita yang sangat menyenangkan dari kisah Alex dan Cintia. Bela mendengarkan dengan seksama hingga dia terlelap dalam malam itu begitu juga dengan Cintia yang terbaring di samping Bela.
Pagi
Mentari belum muncul, langit masih menampakkan pagi buta dan Bela sudah terbangun. Seperti biasa dirinya memasak untuk sarapan pagi.
Saat dia turun dari kasur, Cintia ikut terbangun karena terkejut dari hentakan kasur yang disebabkan oleh Bela. Sontak Cintia mengikuti Bela untuk mencuci wajahnya lalu mereka sama-sama pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan.
"Apa kau terus bangun sepagi ini? " Tanya Cintia dengan tatapan heran.
"Benar kak, aku biasanya masak di pagi dan malam. Siangnya mereka akan beli makan di luar karena aku sekolah" Jelas Bela, membuat Cintia tersenyum kagum.
"Kenapa tidak menyewa pembantu? " Ujar Cintia
"Entahlah" Sahut Bela pasrah. Karena sebenarnya Bela menginginkan pembantu di rumah itu tapi Bara menolaknya mentah-mentah.
Akhirnya mereka berdua di pagi itu beradu skil memasak. Cintia juga pandai memasak kuliner nusantara karena dia sering belajar dari neneknya.
Cintia juga merasa cocok dengan Bela, seakan dia telah menemukan patner memasak dan berbicara.
Sedangkan Bela merasa bahwa dirinya sangat damai dan tenang, karena pagi ini dia bisa pergi ke sekolah tanpa terburu-buru lagi. Sebab datangnya Cintia di rumah ini bisa meringankan Bela dalam melakukan apapun walau Cintia hanya sebentar saja.
" Kak aku ganti baju dulu ya"
"Oke siap"
Cintia mengambil alih makanan yang belum masak. Bela segera pergi ke dalam kamar untuk berganti pakaian sekolah. Tanpa mereka sadari, ternyata Alex mendekat dan ikut menemani Cintia memasak makanan di dapur.
Dirinya merasakan ada momen penting, dia juga berhayal jika sedang menemani istrinya yang memasak yaitu Cintia. Sungguh besar hayalan nya hingga dia lupa bahwa Bara juga memperhatikan Alex dari belakang.
Bara turun untuk makan pagi, dirinya melihat Alex dan Cintia yang sedang bermesraan di dapur sambil memasak selayakanya sepasang suami istri. Bara hanya bisa menggeleng karena dia sendiri tidak pernah merasakan itu.
"Tuan, apakah kau sudah lama? " Sapa Bela setelah keluar dari dalam kamar.
Sontak membuat Bara terkejut dan langsung memalingkan wajah karena sedari tadi dirinya memperhatikan Cintia dan Alex.
__ADS_1
"Aku lapar" Sahut Bara membuat Bela terburu-buru pergi ke dapur.
Saat matanya mendapati Alex di dapur, dia langsung mengusirnya agar tidak menganggu mereka memasak. Sungguh kekecewaan dari Alex karena Bela menghancurkan hayalanya.
Namun meski begitu, Alex menurut pada Bela yang menyuruhnya duduk di bangku meja makan. Sekarang mereka telah berganti tugas ibarat kedua suami yang menunggu makanan dan kedua istri sedang menyiapkan makanan pagi.
"Lihatlah ini masakanku dan kak Cintia. Kalian harus mencicipinya karena masakan kak Cintia sangat enak" Seperti biasa celoteh Bela selalu menghiasi pagi.
Dia juga menyiapkan nasi pada Bara seperti biasa. Cintia terkejut melihatnya, dia merasa bahwa Bela seakan sudah terampil sebagai seorang istri.
Tidak lama kemudian Alex juga memberikan kode agar bisa dilayani oleh Cintia. Hingga akhirnya Cintia mengikuti perlakuan Bela pada Bara dengan menuangkan nasi dan lauk di piring Alex.
Sungguh kedua sejoli yang tidak tau malu, bermesaraan di rumah Bara sedangkan sang pemilik rumah tidak memiliki kekasih sebagai pelampiasan cintanya.
"Kau terlalu mesra" Ujar Bara kecil dan berbisik pada Alex yang duduk di sampingnya.
"Kau cemburu? Sungguh kau harus menemukan cinta sesungguhnya" Ejek Alex sambil tersenyum.
Seperti biasa setelah mereka sarapan pagi, Alex mengantarkan Bela untuk pergi ke sekolah dan sekaligus bersama Cintia. Karena dia ingin mengajak Cintia untuk berjalan-jalan ke tempat yang sangat indah.
Sedangkan Bara kembali duduk di ruang tengah dan bersantai sambil menonton TV dengan senyuman yang tidak biasa kali ini. Dia terus menunggu waktu yang tepat untuk menonton sesuatu.
"Foto model terkenal tersebar di media karena tidur bersama manajernya" Berita pagi ini.
Bara tersenyum lebar lalu dirinya tertawa terbahak-bahak seakan telah menemukan kebahagiaan kembali. Dia sangat senang karena kebahagiaan itu telah datang dan dendam itu terbalaskan walau hanya langkah awal.
Dia terus tertawa sambil menonton berita. Mulutnya terus tertawa tanpa henti. Dan terlihat foto Sisil tersebar di dalam media karena telah didapati tertidur bersama manajernya.
Tidak ada yang tau siapa penyebar foto itu dan membuat karir Sisil akan segera runtuh. Mungkin menunggu beberapa jam lagi semuanya akan musnah.
"Wanita j*lang, kau akan mendapatkan semuanya. Dan sekarang masih langkah awal" Ujar Bara sembari tertawa.
Bara tertawa sangat kencang, tidak seperti di hari biasanya. Mungkin hari itu adalah kebahagiaan dalam hidupnya karena telah menghukum wanita penghianat.
Bara sendiri ternyata sudah tau jika Sisil sudah melakukan hubungan **** bebas di luar negeri. Dia berganti-ganti pasangan namun selalu ditinggalkan.
Dia juga tau jika tujuan Sisil kembali ke Indonesia adalah untuk memikat hati Bara agar bisa kembali bersama Sisil seperti dulu. Mungkin itu hanyalah mimpi gadis j*lang yang selalu tidur dengan banyak lelaki hidung belang namun ditinggalkan.
Karena Bara tidak akan menerima gadis j*lang itu sebagai kekasihnya lagi. Sebab jaman telah berubah begitu juga dengan hati telah hilang dimakan waktu
"Aku sudah bilang, jangan permainkan aku. Dulu aku mengemis agar kau tidak pergi dan sebentar lagi kau yang akan mengemis agar aku mengembalikan namamu..... Cuihhh, sangat menjijikkan" Ketus Bara sambil tertawa kegirangan.
Sementara itu di Apartemen Sisil...
*dreeeetttt, dreeeettt*
Dering ponsel terus berbunyi, tapi Sisil masih asik terlelap di samping manajernya. Mereka berdua telah bertempur semalaman dan sekarang tidak ada yang tau jika nama Sisil sudah dalam ancaman.
Dering telepon terus berbunyi, hingga akhirnya Sisil terbangun dari tidurnya dan mengambil ponsel tersebut.
Ternyata yang menelpon adalah perusahaan tempat Sisil menjadi model ambasador. Mereka memutuskan sepihak kerja sama dengan Sisil karena skandal yang telah tersebar di pagi ini.
"Apa? Tidak kalian tidak boleh begitu. Aku sudah tanda ta..... "
*tutt*Belum selesai Sisil berbicara, telepon sudah dimatikan.
Sisil segera membangunkan manajer dan mereka segera membersihkan diri dan berpakaian rapi untuk melihat apa yang menyebabkan pemutusan kontrak terjadi dari salah satu perusahan tersebut.
Setelah Sisil melihat berita dan begitu juga manajernya, mereka berdua terkejut bukan main. Karena foto mereka yang tidur bersama telah di sebar oleh orang yang tidak bertanggung jawab.
__ADS_1
Bahkan foto itu bukan hanya satu, melainkan beberapa foto yang diambil di beberapa tempat yang berbeda.